
Aira menatap Mondy takut dan ragu, ia benar-benar ingin kabur dan pulang kampung naik bus saja daripada diantar oleh Mondy.
Sejak tadi bahkan Mondy tidak bicara apapun, meski pria itu tetap mematuhi perintah bosnya.
Alea melambaikan tangannya kepada Aira yang sudah ada di dalam mobil dan tentu saja Aira membalas lambaian tangan majikannya.
"Hati-hati, Mon. Cepat kembali ya," ucap Tristan pada asisten pribadinya itu.
"Baik, Tuan." Balas Mondy mengangguk singkat.
Setelah selesai pamitan, mobil hitam milik Mondy yang dihadiahkan oleh Tristan pun keluar dan meninggalkan area rumah utama.
Perasaan Aira semakin tidak menentu, ia bahkan memilih untuk menatap jalanan saja daripada menatap Mondy yang pasti memasang wajah dingin.
Aira jadi menyesal beberapa hari ini berusaha untuk menghindari pria itu. Tapi Aira punya tujuan melakukan itu semua, ia tidak mau jika dirinya berat meninggalkan Mondy.
Kalian semua pasti tahu bahwa Aira melabuhkan cintanya kepada Mondy, sosok pria yang usianya terpaut 8 tahun lebih tua darinya.
Entah bagaimana, Aira sendiri tidak sadar. Sikap Mondy yang terkadang dingin dan perhatian, justru berhasil meruntuhkan tembok hati Aira yang selama ini belum pernah terbuka.
Ya, selama 19 tahun hidupnya, Aira tidak pernah berpacaran atau kencan, kenapa? Tentu saja karena ia sibuk membantu orang tuanya bekerja sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah.
Aira itu benar-benar super sibuk, ia tidak akan pernah dibiarkan untuk santai oleh keluarganya, apalagi untuk berpacaran.
Di mata para tetangga, Aira adalah anak tiri keluarganya, karena ia selalu diperlakukan tidak adil. Kakaknya selalu saja mendapatkan apa yang tidak dapatkan oleh Aira, termasuk kasih sayang.
__ADS_1
Apa Aira mengeluh? Tidak, Aira bahkan tidak pernah berucap 'tidak' setiap kali orang tua atau kakaknya menyuruhnya melakukan sesuatu. Bahkan salah satunya adalah saat dirinya diminta menikah dengan kakek-kakek saja ia tidak menolak, meski ia akui apda akhirnya ia kabur.
Aira menghela nafas, ia sudah siap menerima semua itu kembali. Aira siap dijadikan budak oleh keluarganya ataupun dinikahkan dengan kakek-kakek. Ia tidak akan kabur lagi, karena baginya semua itu sia-sia.
Mungkin benar bahwa Aira sedikit mendapatkan kebahagiaan setelah bertemu Mondy, tapi itu semua hanya sesaat, untuk apa? Itu hanya meninggalkan rasa sesak di dada Aira.
Mondy tidak akan pernah mungkin membalas perasaannya. Pikir Aira.
"Om … maksud saya pak Mondy. Anda bisa menurunkan saya di terminal, saya akan naik bus saja." Ucap Aira menatap Mondy sebentar.
Pria itu hanya diam, tidak mengatakan apapun sama sekali. Mondy hanya fokus menyetir mobilnya saja.
"Pak, saya tahu anda keberatan. Jadi turunkan saya, saya akan pulang naik bus." Kata Aira lagi.
Mondy menoleh sebentar, memberikan tatapan yang tajam kepada Aira yang terus saja bicara.
Aira menelan gumpalan salivanya, ia menghela nafas lalu kembali menatap Mondy.
"Anda bisa bilang bahwa saya memaksa, lalu–" ucapan Aira terhenti saat Mondy menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Berhenti bicara! Sudah saya bilang bahwa saya tidak akan melanggar perintah bos saya hanya demi keinginanmu saja." Ucap Mondy dengan tegas.
Aira takut ketika melihat tatapan Mondy yang tajam, ia akhirnya manggut-manggut dengan kepala tertunduk.
"Baik, maafkan saya." Lirih Aira pelan.
__ADS_1
Mondy memukul stirnya, ia pun kembali melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman Aira tanpa bicara apa-apa.
Aira pun hanya diam, gadis itu terus menatap jalanan dari jendela. Perasaan Aira saat ini hanya bisa pasrah, ia tidak mau Mondy kembali marah.
Aira tidak mau terus membuat pria itu emosi. Sejak awal bertemu, yang ia lakukan hanya terus membuat Mondy marah dan murka dengan ucapan atau pun kesalahannya.
Mungkin hari ini adalah hari terakhir ia bertemu Mondy, karena itulah ia tidak mau membuat kesalahan. Setidaknya satu kali ini, satu kali saja ia tidak membuat salah ataupun membuat Mondy marah.
Justru saat ini, Aira malah ingin meminta maaf dan terima kasih pada pria itu. Setidaknya karena Mondy, nyawanya bisa terselamatkan.
"Pak, maafin saya ya." Ucap Aira.
Mondy tidak menyahut, pria itu hanya melirik Aira sedikit sebelum menatap lurus ke depan.
"Selama ini saya selalu membuat kesalahan dan membuat anda marah, saya sangat menyesal. Saya tidak bisa melakukan apapun selain meminta maaf." Tambah Aira dengan tulus.
"Saya juga terima kasih sama anda, karena anda telah menyelamatkan nyawa saya waktu itu, dan memberikan pekerjaan serta tempat tinggal untuk saya. Anda orang yang baik, Pak. Saya hanya bisa berdoa, semoga anda bahagia selalu." Kata Aira lagi.
Mondy benar-benar hanya diam, ia menyimak setiap kata dan kalimat yang gadis itu ucapkan kepadanya. Terbesit rasa tidak rela ketika tahu bahwa saat ini dirinya tengah mengantar Aira pulang ke kampung.
Pikiran Mondy sudah berputar sejak tadi pagi, memikirkan bagaimana nantinya Aira akan menikahi kakek-kakek seperti yang pernah gadis itu ceritakan.
Mondy menghela nafas, ia berusaha menepis semua perasaan itu.
"Tidak! Untuk apa kau memikirkannya, Mon. Lagipula memang dia siapa, dia bukan siapa-siapa, bahkan kau juga tidak mencintainya." Batin Mondy, terlihat raut wajah ragu saat hati kecilnya mengucapkan kalimat terakhir.
__ADS_1
Bersambung........................