Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Sebuah perhatian


__ADS_3

Alea keluar dari kamar untuk memasak, ia benar-benar sangat kelaparan saat ini. Cukup bersyukur karena Tristan tidak ada disana, sehingga dirinya bisa bergerak dengan bebas.


Alea pergi ke dapur, ia membuka kulkas dan mengambil telur, sosis, serta beberapa bahan makanan yang ia butuhkan.


Alea tidak akan membuat telur goreng, ia ingin memasak sop telur sosis yang sederhana dan simpel untuknya sendiri.


"Untung pak Tristan nggak pulang kesini, aku benar-benar takut padanya." Gumam Alea seorang diri.


Rasa sakit di tubuh Alea pun sudah mulai menghilang, namun bayang-bayang Tristan yang mendorongnya tanpa perasaan belum mau pergi dari ingatnya, sehingga ia masih merasa takut.


Alea nyaris mati, jika aja salah satu pecahan vas menusuk perutnya sampai dalam. Itu semua lah yang membuat Alea ketakutan pada Tristan.


Disaat sedang asik memasak, samar Alea mendengar suara dering ponselnya di dalam kamar.


Alea menghentikan aktivitasnya sebentar, lalu berlari ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Alea takut jika yang menghubunginya adalah kakaknya.


Saat Alea mengambil ponselnya, ia melihat nama Tristan di layar. Mendadak Alea gugup dan takut.


Dengan sedikit ketakutan, Alea pun mengangkat telepon dari Tristan.


"Alea, aku pikir kau sudah tidur." Ucap Tristan dari seberang sana.


"I-iya, Pak." Sahut Alea singkat.


"Aku sudah memesankan makanan untukmu, nanti diambil ya."


"Saya tidak mau, saya bisa masak sendiri." Tolak Alea pelan.


"Aku tidak suka ditolak, jadi berhenti memasak dan makan saja apa yang sudah saya pesan."


Alea hendak protes, namun Tristan sudah kembali bicara lagi.


"Setelah makan tidurlah, selamat malam."


Setelah mengetakan itu, Tristan pun mengakhiri panggilan diantara mereka berdua.


Alea menatap ponselnya, namun ia dikejutkan oleh suara bel apartemen yang terus berbunyi. Alea buru-buru membuka pintu dan ternyata memang pengantar makanan yang datang.


"Atas nama Mbak Alea?" tanya kurir itu dengan sopan.


"Benar, Pak." Jawab Alea dengan sopan.


"Ini kiriman dari mas Tristan, katanya dihabiskan ya mbak, biar cepat sembuh." Tutur kurir itu seraya memberikan makanan yang cukup banyak.


Alea tersenyum simpul, ia hanya mengangguk singkat kemudian masuk ke dalam apartemennya.


Alea membawa makanan yang jumlahnya tidak sedikit itu ke meja makan, ia tampak keheranan melihat makanan yang banyak itu sementara ia hanya seorang diri.


"Astaga, banyak sekali." Gumam Alea bingung.

__ADS_1


Andai saja ada kakaknya di sini, mereka bisa makan bersama sambil bercanda, sayangnya meraka cukup jauh jaraknya.


Alea pun mengambil es krim, ia sedang ingin makan manis setelah sejak kemarin terus menangis.


Rasa manis es krim itu tanpa sadar membuat Alea tersenyum.


"Eumm … manis banget kaya yang makan." Celetuk Alea sekedar untuk menghibur dirinya.


Alea membawa makanan itu ke ruang tamu, ia akan menikmati semua makanan itu sambil menonton drama di televisi.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan Alea tidak peduli jika dirinya akan gendut sekarang karena makan terlalu malam.


"Andai saja kenikmatan ini semua aku dapatkan atas kerja keras sebagai wanita karir, pasti akan lebih membanggakan." Ucap Alea diakhiri helaan nafas.


Dulu Alea selalu membayangkan bahwa dirinya akan bekerja di kantor, dan tinggal di apartemen mewah. Ia punya tabungan yang banyak sehingga bisa membiayai kakaknya tanpa kekurangan.


Semua itu Alea dapatkan sekarang, namun bukan atas dasar kerja kerasnya sungguh-sungguh, melainkan karena dirinya menjadi simpanan pria kaya seperti Tristan.


"Jika nanti pak Tristan sudah bosan denganku, apa masih ada yang mau menerimaku sebagai pendampingnya." Gumam Alea lagi dengan murung.


Alea sering berpikir begitu, apalagi perasaan kakaknya. Apa yang akan dirasakan oleh seorang kakak yang membesarkan adiknya dengan sungguh-sungguh, sekarang justru adiknya malah menjadi wanita simpanan orang.


Alea menatap makanan didepannya dengan nanar, Alea jadi tidak berselera makan setelah berperang dengan pikirannya.


Ia membawa semua makanan itu ke dapur dan memasukkannya ke dalam kulkas. Setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya untuk tidur.


Keesokan harinya, Alea memutuskan untuk datang ke kantor. Ia tidak mau jika karyawan di kantor akan menggunjingnya lagi karena kembali tidak masuk-masuk.


"K-kalian, sejak kapan disini?" tanya Alea terkejut.


Tristan tersenyum simpul. "Selamat pagi." Sapa Tristan tanpa menjawab pertanyaan dari Alea.


Alea hanya mengangguk kaku, ia lalu melirik ke arah Mondy yang hanya diam saja. Itu sudah biasa, dan Alea tidak aneh sama sekali. Tapi ada yang berbeda dari pria itu, matanya merah dan sedikit sayu.


"Pak Mondy, anda sakit?" tanya Alea spontan.


Mondy menatap Alea, sungguh manis sekali gadis cantik itu. Alea bukan hanya cantik, tapi begitu perhatian.


"Pak, ayo ikut saya. Biar saya buatkan anda teh," ajak Alea seraya berjalan melewati Tristan begitu saja.


"Dia baik-baik saja, Alea. Kau tidak perlu seperhatian itu!" tegur Tristan tampak tidak suka.


"Saya juga akan membuatkan anda teh." Kata Alea tanpa menyahuti ucapan Tristan sebelumnya.


Alea pun pergi ke dapur, meninggalkan Tristan dan Mondy yang masih berdiri di sana.


Tristan menatap Mondy, ia menyipitkan matanya dan memang benar bahwa asistennya itu tampak berbeda.


"Kau sakit?" tanya Tristan mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Tidak, Pak. Saya baik-baik saja," jawab Mondy sopan.


Tristan hanya mengangguk kecil, ia pun berlalu meninggalkan Mondy untuk menyusul Alea ke dapur.


Sepeninggalan Tristan, tanpa sadar Mondy tersenyum. Senyuman yang tidak pernah ia perlihatkan pada siapapun, karena tidak pernah ada yang berhasil membuatnya tersenyum selebar ini.


Alea adalah gadis pertama yang membuatnya bisa tersenyum lebar.


"Kau memang sangat berbeda, Azzalea." Gumam Mondy pelan.


Mondy pun ikut pergi ke dapur, ia melihat dua gelas teh sudah tersajikan di atas meja makan, dan Tristan sudah duduk manis disana.


"Pak, boleh?" tanya Mondy meminta izin.


"Duduk saja, Pak." Bukan Tristan yang menjawab, melainkan Alea.


Mondy pun akhirnya duduk di kursi, ia mengambil teh buatan Alea lalu meminumnya. Rasa manis dari teh yang tidak terlalu pekat membuat pusingnya perlahan hilang.


Semua keadaan ini tentu saja karena ia mabuk-mabukan semalam akibat frustasi memikirkan Alea. Dan ia tidak menyangka jika Alea juga lah yang membuat rasa pusingnya lelah dengan membuatkan teh.


"Alea, semua makanan ini?" tanya Tristan tiba-tiba.


"Iya, Pak. Saya tidak bisa menghabiskannya semalam," jawab Alea tanpa menatap Tristan.


"Kalo begitu kenapa sekarang kau ambil, kenapa tidak dibuang?" tanya Tristan dengan enteng.


"Kita tidak bisa membuang-buang makanan, Pak." Jawab Alea singkat.


Tristan menghela nafas, ia hanya bisa diam mendengar suara Alea yang terdengar tidak bersahabat.


Tristan tidak mau membuat Alea kembali menjaga jarak yang jauh darinya, setelah pagi ini ada sedikit perubahan pada gadis itu.


"Pak Mondy, anda sudah sarapan?" tanya Alea tiba-tiba.


Mondy bersorak senang, namun ia pandai menutupi rasa itu dengan wajah datarnya.


"Alea, kenapa sejak tadi aku begitu perhatian padanya?!" tegur Tristan.


"Saya hanya bertanya, Pak. Saya tidak bermaksud apapun," timpal Alea menjelaskan.


"Bohong! Kau menyukai Mondy kan?" Sarkas Tristan langsung tembak.


Alea mengangkat wajahnya, ia menatap Tristan dengan penuh kekecewaan. Mudah sekali mulut Tristan itu mengambil kesimpulan.


"Terserah apa pendapat anda." Balas Alea dengan lugas.


Alea meraih tas selempang miliknya, ia pun langsung pergi meninggalkan apartemen begitu saja.


Alea memilih untuk naik taksi daripada meladeni perkataan Tristan yang tidak masuk akal sama sekali.

__ADS_1


WADUH, CEMBURU PAK TRISTAN??


Bersambung.................................


__ADS_2