Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Tamparan Firda


__ADS_3

Firda menghela nafas, ia lelah sekali harus bekerja, namun jika tidak bekerja ia tidak punya uang.


Kakinya terus melangkah dibawah terik matahari pagi yang sangat terang dan hangat. Memang menghangatkan, namun itu membuat Firda tambah lelah.


Kenapa bus umum tidak datang ke rumahnya saja ya, sehingga ia tidak perlu jauh-jauh berjalan ke halte. Eh, tapi dia siapa meminta bus umum datang ke rumahnya?


"Kerja capek, nggak kerja nggak bisa jajan seblak." Gumam Firda seraya menyeka keringatnya dengan tisu.


Firda hampir sampai di halte, namun langkahnya itu terhenti kala ada sebuah mobil yang berhenti di samping trotoar tempatnya berjalan.


Firda mengangkat bahunya acuh, ia kembali melanjutkan langkah. Sayangnya langkah Firda harus kembali terhenti saat ada yang memanggilnya.


"Firda." Panggil seorang pria yang sudah rapi dengan setelan ke kantor.


Firda menoleh, ia menahan nafas sejenak melihat siapa sosok yang tadi memanggilnya. Firda tidak tertarik untuk menyahut, ia lebih memilih untuk pergi.


"Firda!" Fade segera mengejar lalu memegang tangan Firda, mencegah gadis itu untuk pergi.


"Lepaskan." Firda menepis kasar tangan Fade yang memegang tangannya.


"Apa kita saling mengenal? Tolong jangan ganggu saya, Tuan." Tambah Firda dengan wajah datarnya.


Fade kembali memegang tangan Firda. "Bisa kita bicara sebentar?" pinta Fade pelan dan memohon.


Firda tidak menjawab, ia hendak melepaskan tangan Fade apalagi bus umum tujuannya sudah datang. Namun ia tidak berhasil melepaskan cekalan di tangannya, sampai-sampai bus pun pergi.


Firda harus menunggu lagi sekitar 10-15 menit, dan ini semua karena pria yang kini masih memegang tangannya.


"Lepaskan tangan saya, anda mau apa sih!" geram Firda.


Ucapan dan bentuk penolakan Firda benar-benar membuat Fade sadar jika gadis memang seperti tidak mengenalinya.


Firda benar-benar membuktikan ucapannya untuk menganggap bahwa mereka tidak saling mengenal.

__ADS_1


"Aku ingin bicara berdua denganmu, aku mohon." Pinta Fade lembut.


Hukum karma itu memang berlaku. Dulu Firda yang selalu memohon begini, dan lihatlah sekarang. Fade tampak memohon untuk bisa bicara dengan gadis yang dulu ia cuekin bahkan ia hina habis-habisan.


Firda menghela nafas. "Tidak ada yang perlu dibicarakan, lagipula kita tidak saling mengenal, Tuan." Balas Firda.


Fade menggelengkan kepalanya. "Tidak saling kenal? Jelas-jelas kita pernah–" Ucapan Fade terhenti saat Firda mengangkat tangan dan memintanya diam.


"Saya tidak tahu apa tujuan anda mengganggu saya di pagi hari yang cerah ini, tapi yang jelas saya benar-benar sangat tidak suka. Lebih baik anda lepaskan tangan saya dan pergi." Ucap Firda dengan formal.


Fade tetap menggelengkan lagi. "Maaf, tapi aku ingin bicara hal penting denganmu." Pria itu lalu menarik tangan Firda untuk masuk ke dalam mobilnya.


Firda berusaha untuk memberontak, namun tenaganya tidak bisa mengalahkan tenaga Fade. Dengan kekuatan penuh dan tidak memiliki cara lain, Firda akhirnya menampar wajah Fade dengan keras.


"Jaga sikap anda, Tuan. Saya hanya menampar anda, lain kali jika anda masih mengganggu saya, mungkin saya akan lapor pada polisi." Tegas Firda.


Gadis itu mendorong tubuh Fade yang menghalangi jalannya, kemudian ia berlari kecil menuju bus yang syukurnya datang lebih cepat.


Firda meninggalkan Fade dengan pria itu yang masih mematung di tempatnya. Pria tampan yang kini sedang memegangi wajahnya yang terasa sakit akibat tamparan gadis cantik tadi.


Perlakuan Firda tidak membuatnya marah, justru ia sadar bahwa gadis itu memang benar-benar marah padanya.


"Apa semenyakitkan itu, Fir. Sampai-sampai tangan yang dulu biasa mengusap kepalaku, kini malah memukul wajahku." Gumam Fade bertanya-tanya.


Mungkin sikap dan perkataannya selama ini sudah sangat menyakiti Firda, sehingga gadis itu sudah tidak lagi memiliki rasa kasihan padanya.


Fade sangat menyesal, ia benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan Firda saat gadis itu justru ingin memperbaiki hubungan mereka.


Fade memukul stir mobilnya, semua ini karena segala hasutan dari Linda, ia sampai menghina dan membuat gadis yang masih mengisi hatinya itu marah.


Jika saja ada seseorang yang bertanya, apakah ada gadis yang benar-benar sangat ia cintai sampai hari ini, maka ia akan menjawab dengan yakin bahwa Firda lah, hanya Firda yang benar-benar ia cintai sampai hari ini.


Lalu Linda? Kenapa dia sampai rela merebut wanita itu dari suaminya?? Karena ia merasa berhutang budi pada Linda, dulu ia selalu menganggap bahwa Linda adalah penyelamat dari wanita seperti Firda.

__ADS_1


Tapi apa, semuanya hanya sandiwara Linda saja. Wanita itu memanipulasi setiap adegan yang ia lihat waktu itu. Ia telah berbuat kesalahan, ia telah membenci dan mencaci maki orang yang salah.


Pada kenyataannya, wanita yang selama ini ia anggap baik justru sangat jahat, dan sebaliknya. Firda yang dianggap sangat jahat dan murahan, ternyata adalah gadis baik-baik.


"Aku sangat menyesal, aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu, Fir." Gumam Fade lirih.


Sementara itu Firda, saat ini ia masih duduk di dalam bus. Firda tidak henti memandang telapak tangannya yang tadi ia gunakan untuk menampar wajah seseorang.


Mata Firda berkaca-kaca, meski ia mengatakan sangat benci Fade dan melupakan bahwa mereka saling kenal, dalam lubuk hatinya tentu saja pria itu masih menjadi pemilik utama.


Firda merasa sakit, ada secercah penyesalan dalam dirinya ketika ia bertindak seperti tadi, namun Firda tidak mau jika pria itu sampai mengetahui bahwa dirinya masih menaruh perasaan pada Fade.


"Maafin aku, Fad. Tapi aku harus bertindak seperti ini, agar aku bisa benar-benar melupakan kamu." Batin Firda seraya mengusap telapak tangannya.


Bagaimanapun sikap Fade beberapa tahun ini, namun hal itu tidak membuat Firda bisa melupakan sikap manis dan lembut Fade dulu.


Ketika Alea masih belum bisa ia ajak untuk bicara serius, maka Fade lah yang siap mendengarkan keluh kesahnya.


Fade juga selalu memberikan solusi, motivasi dan inspirasi agar ia semangat dalam hidup. Firda selalu membayangkan jika mereka menikah, maka anak-anak mereka kelak pasti akan hidup dengan iringan motivasi dari Fade.


Nyatanya semua bayangkan itu kandas hanya dalam satu malam. Hubungan manis yang selalu diiringi canda tawa, berubah menjadi air mata semalam.


Semua ini karena Linda, wanita itu lah yang membuat hubungannya dan Fade kandas, dan sepertinya tidak akan bisa kembali seperti dulu.


Firda mengusap dadanya sabar, ia selalu berbisik pada dirinya bahwa ia akan mendapatkan pria lain yang lebih dari Fade.


Jika dirinya tidak berjodoh dengan pria itu, maka ia yakin bahwa Tuhan telah menyiapkan jodoh yang lebih baik lagi.


"Nggak apa-apa, jomblo nggak bikin kamu terlihat buruk." Itulah kata-kata yang biasa Firda ucapkan sambil berkaca diri di rumah.


Firda selalu iri setiap kali melihat pasangan yang datang ke tempatnya bekerja, mereka tampak romantis dan sangat manis.


Jika saja kejadian malam itu tidak terjadi, mungkin ia juga akan seperti itu, seperti pasangan pada umumnya.

__ADS_1


KAK FIRDA, AKU AJA JOMBLO TETAP FULL SENYUM 🤗


Bersambung................................


__ADS_2