
Alea sedang berjemur di teras rumah sambil mengusap-usap perutnya yang sudah besar. Alea meninggalkan Tristan yang sedang mandi karena tergoda akan panasnya matahari pagi.
Dokter mengatakan jika berjemur di bawah sinar matahari pagi sangat baik untuk janin dalam kandungannya.
"Hmmm, enak ya baby. Sudah berapa hari kita nggak berjemur, mami sampai ninggalin papi kamu yang masih siap-siap." Ucap Alea seorang diri.
"Nona Alea, ini susunya di minum dulu." Seorang pelayan datang dan langsung memberikan susu hamilnya.
Alea tersenyum ramah, lalu segera menenggaknya hingga habis. "Terima kasih, Bik." Ucap Alea.
"Sama-sama, Nyonya." Balas pelayan itu kemudian pergi dan membawa gelas kosong nya masuk ke dalam rumah.
"Anak mami, kok diam aja. Baby masih bobok?" celetuk Alea menatap perutnya.
"Alea." Alea sontak menoleh mendengar seseorang memanggilnya. Tampak papa Jaya duduk di kursi roda dengan mama Saras di belakangnya.
"Papa, Mama." Alea bangkit dari duduknya lalu mendekati kedua mertuanya.
Sayangnya kaki Alea tanpa sengaja menyandung selang air yang ada di sana, membuat wanita itu hampir saja terjatuh.
Mama Saras dan papa Jaya ikut terkejut, bahkan mama Saras langsung mendekati Alea.
"Kau bodoh ya, masa selang air di bawah tidak lihat. Di mana matamu hah!" ocehan mama Saras langsung menyerang indera pendengaran Alea.
Alea yang masih terkejut berusaha untuk tetap tenang, ia mengusap-usap perutnya lalu menatap mama Saras yang menatapnya tajam.
"Maaf, Ma." Kata Alea pelan.
"Maaf maaf, kamu hampir saja membahayakan nyawa cucu …" mama Saras menggantung ucapannya lalu berdehem singkat.
"Susah jika bicara pada wanita yang hanya tahu uang." Ketus mama Saras melanjutkan ucapannya.
Alea lagi-lagi hanya bisa tersenyum, ia tidak mungkin melawan dan sampai membuat mertuanya sampai membencinya.
"Mama ini gimana sih, Alea hampir jatuh malah kamu marahin." Tegur papa Jaya geleng-geleng kepala.
Papa Jaya lalu menatap menantunya. "Kamu tidak apa-apa kan, Nak?" tanya papa Jaya penuh perhatian.
Kepala Alea mengangguk. "Iya, Pa. Aku baik-baik saja," jawab Alea.
Tidak lama kemudian Tristan keluar dari rumah, ia mencari-cari keberadaan Alea karena ingin sarapan di temani oleh istri tersayangnya.
"Sayang." Panggil Tristan lembut.
"Bilang sama istri kamu itu, kalo apa-apa lihat pakai mata." Ketus mama Saras.
__ADS_1
Tristan mengerutkan keningnya. "Ada apa sih, Ma?" tanya Tristan.
"Aku hampir jatuh terpeleset selang air ini." Alea menjawabnya dengan suara pelan, Alea takut Tristan akan memarahinya.
Tristan langsung meraba tubuh istrinya, memegang dari bahu lalu turun sampai ke lengan.
"Kamu nggak apa-apa kan tapi, Sayang?" tanya Tristan penuh kekhawatiran.
"Iya, Mas. Aku nggak apa-apa kok," jawab Alea tersenyum manis.
Tristan menghela nafas, ia harus segera berangkat ke kantor, namun sebelum itu ia harus sarapan dan memastikan istrinya juga sarapan.
"Aku harus berangkat ke kantor, mau temani aku sarapan?" tanya Tristan penuh kelembutan.
"Buat apa kamu minta izin, itu sudah kewajiban nya. Bahkan seharusnya dia itu memasak, jangan mentang-mentang ada art jadi santai dan melupakan tugas sebagai istri." Mama Saras kembali menyahut.
"Ma." Tegur papa Jaya pelan.
Mama Saras memilih untuk diam daripada berdebat lagi dengan suamimu. Ia kesal sekali pada Alea, wanita itu selalu menjadi penyebab pertengkaran nya dengan suaminya.
Tristan langsung menarik tangan istrinya, ia mengajak Alea untuk masuk ke dalam dan tidak mau memperdulikan ucapan mamanya.
Tristan duduk di meja makan, begitupula dengan Alea.
"Kamu harus makan, aku pokoknya nggak berangkat kalo kamu belum sarapan." Kata Tristan.
Sementara itu di tempat lain, di rumah Mondy dan Aira. Tampak wanita itu sedang membantu suaminya bersiap-siap.
Mondy beberapa kali mengambil kesempatan untuk menggoda dan menjahili istri kecilnya.
"Mas, diam deh." Ucap Aira saat merasakan tangan Mondy mengusap-usap pinggang dan semakin turun ke bawah.
Mondy tergelak. "Kenapa sih, bukannya kamu suka?" tanya Mondy semakin jahil.
Aira tidak bicara, wanita itu merapikan kemeja dan memakaikan jas di tubuh sang suami.
"Jadi kamu dan tuan Tristan sudah akan kembali ke kantor lagi?" tanya Aira basa-basi.
"Heumm … ayahnya tuan Tristan sakit, dia butuh tuan untuk mengurus perusahaannya. Bahkan sekarang mereka tinggal di rumah tuan dan nona." Jawab Mondy bercerita.
Alea manggut-manggut. "Dan orang tua tuan? Apa dia sudah menerima kak Alea?" tanya Aira.
Aira memikirkan kakak angkatnya, ia masih ingat pernah mendengar gosip para pelayan yang mengatakan jika Alea tidak diterima sebagai menantu.
Aira kasihan pada kakaknya, ia tahu Alea adalah gadis yang baik, jadi ia tidak setuju jika orang tua Tristan memusuhinya dan tidak menganggap sebagai menantu.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Sayang. Itu bukan kapasitasku lagi." Jawab Mondy.
Aira manggut-manggut, ia hendak mengantar suaminya sampai ke depan apartemen, namun ponsel Mondy tiba-tiba berdering.
Mondy tidak langsung menjawab, pria itu melihat siapa yang menghubunginya pagi-pagi.
"Siapa, Mas?" tanya Aira.
Mondy menatap istrinya, ia ragu untuk mengatakan pada istrinya.
"Mas?" panggil Aira.
Aira mengambil ponsel Mondy dari tangan pria itu, ia melihat nama mbaknya di sana. Aira menatap Mondy penuh pertanyaan.
Aira lalu lekas mengangkat panggilan itu.
"Halo, Nak Mondy. Nak, boleh tidak ibu minta uang. Uang yang kamu berikan kemarin sudah habis."
Aira terkejut, jadi orang tuanya masih meminta uang pada suaminya, padahal Mondy sudah memberikan banyak uang sebelumnya.
"Bu, mas Mondy bukan bank. Ibu tidak bisa terus meminta uang pada suami aku, aku malu, Bu." Aira menyahut.
"Aira, ibu nggak ngomong sama kamu. Kasih ponselnya ke suami kamu."
Aira tidak mengindahkan ucapan ibunya, ia langsung menutup panggilan itu dan baru memberikan ponsel suaminya kembali.
"Sayang, aku bukan maksud nggak mau cerita. Aku–" ucapan Mondy terhenti saat Aira menggelengkan kepalanya.
"Maafin aku, Mas. Aku dan keluargaku hanya bisa merepotkan kamu terus." Lirih Aira menundukkan kepalanya.
Mondy lekas memeluk istrinya, andai bukan karena harus ke kantor, mungkin Mondy akan mengajak istrinya bicara dan menjelaskan semuanya. Tapi ia hampir terlambat.
"Kita bicara setelah aku pulang ya. Tolong jangan pikirkan apapun." Tutur Mondy lembut.
Aira melepaskan pelukan suaminya. "Baiklah, Mas." Balas Aira menyeka air matanya yang hampir menetes.
Aira mengerti, suaminya ini sudah hampir terlambat datang ke rumah utama untuk menjemput tuan Tristan dulu.
"Aku berangkat, Sayang." Mondy mencium kening istri kecilnya, lalu pergi meninggalkan apartemen mereka.
Aira menghela nafas, ia benar-benar merasa malu pada suaminya. Keluarganya masih saja meminta uang, padahal jelas-jelas Mondy sudah memberikan banyak sekali uang.
"Aku harus bicara pada mereka." Gumam Aira.
SABAR YA, ALEA DAN AIRA 🥺
__ADS_1
Bersambung...........................