Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Permintaan Fade


__ADS_3

Firda menatap sinis pria didepannya ini yang sedang asik tersenyum lebar. Tampangnya yang santai seakan-akan tidak memiliki salah sama sekali.


Firda memutar bola matanya malas, ia benar-benar ingin menarik tangan pria itu dan menyeretnya keluar dari tempatnya bekerja.


"Kau sebenarnya mau ngapain sih, Fad. Aku lagi kerja!" tegur Firda kesal.


"Aku tahu, tapi kan bos kamu udah izinin kamu untuk duduk disini, temani aku." Timpal Fade dengan santai.


Sialan sekali memang, ternyata pemilik restoran yang ia miliki adalah temannya Fade sehingga saat pria itu memintanya untuk tetap disana, maka bosnya setuju.


"Tapi aku nggak enak sama teman-temanku yang lain, lebih baik kau pulang." Kata Firda lagi mengeluarkan unek-uneknya.


Sejak tadi Firda merasa tidak enak hati kepada teman-temannya yang bekerja, sementara dirinya malah duduk disini dan mengobrol.


"Pergi, Fad." Usir Firda pelan dengan nada memohon.


"Tapi aku masih mau mengobrol dengan kamu." Ucap Fade seraya memegang tangan Firda.


Firda menepis tangan Fade. "Cukup, Fad!" seru Firda dengan nada sedikit tinggi, namun hanya Fade yang mendengarnya.


"Aku menanggapi semua sikapmu belakangan ini hanya karena aku merasa berhutang budi padamu setelah menyelamatkanku, tapi jika sikapmu terus menggangguku, maka aku benar-benar menganggap bahwa kita tidak saling mengenal!" Tambah Firda panjang lebar.


Fade terdiam, ia menatap Firda dengan tatapan nanar dan rasa terkejut. Ia tidak menyangka jika Firda akan memprotes seperti ini.


"Ku mohon jangan menggangguku lagi." Pinta Firda menyatukan kedua tangannya.


Usai mengatakan itu semua, Firda pun pergi meninggalkan Fade yang masih terdiam dengan penuh keterkejutan.


Fade menatap punggung Firda yang semakin menjauh, sampai hilang di telan jarak. Firda masuk ke dalam area kitchen untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu sangat marah padaku, Fir. Selama ini tidak pernah sekalipun aku melihatmu marah-marah begini." Gumam Fade seraya mengaduk minumannya.


Fade terdiam seribu bahasa, ia seharusnya tahu diri, setelah semua ucapan dan perlakuannya tidak mungkin Firda akan memaafkan apalagi menerimanya lagi dengan mudah.


Ia pasti harus berjuang keras demi maaf dan cinta Firda lagi.


"Aku akan berjuang, Fir. Aku akan berjuang, tidak peduli seperti apa penolakan dari kamu." Gumam Fade dengan yakin.


Sementara itu di tempat lain, tampak seorang wanita yang penampilannya sudah benar-benar berantakan.


Dulunya wanita itu adalah seorang model terkenal sekaligus menantu dari keluarga terpandang, tapi lihat bagaimana penampilannya sekarang. Seperti seorang wanita gila di jalan-jalan.


Wanita itu menangis dengan tersedu-sedu, seluruh tubuhnya terasa sakit karena harus melayani 3-4 pria dalam satu hari.

__ADS_1


Tubuhnya yang molek dan indah kini berubah jauh dari kata normal. Banyak bekas-bekas siksaan dari anak buah Tristan dan pastinya kekerasan dalam berhubungan.


Linda benar-benar dijadikan budak napsu para anak buah Tristan disana.


"Hiks … tolong, tolong jangan lagi. Aku sangat lelah, biarkan aku istirahat." Ucap Linda memohon.


"Kau menangis, lalu dimana pikiranmu saat menyiksa istri bos Tristan. Seharusnya sebelum bertindak, kau berpikir dulu!" Timpal salah satu anak buah Tristan yang siap 'bermain' dengan Linda.


"Aku menyesal, tolong ampuni aku. Tolong bawa saja aku ke penjara," pinta Linda lagi memohon.


Ketiga anak buah Tristan tertawa dengan lepas. Mana mungkin mereka akan melepaskan wanita cantik seperti Linda ini, apalagi mereka dibebaskan untuk berhubungan.


"Maaf, tapi kami tidak semulia itu. Kami akan menikmati fasilitas yang bos kamu berikan." Kata salah satu dari ketiganya.


Wajah Linda berubah ketakutan, ia benar-benar merasa sangat lelah. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam karena terus melayani napsu gila anak buah Tristan.


Tapi apa daya Linda? Ia hanya seorang wanita dan sendirian, berbeda dengan anak buah Tristan yang ramai-ramai.


Linda sudah tidak berdaya, ia benar-benar menjadi tawanan budak napsu untuk anak buah Tristan.


Linda menyesal, ia sangat menyesali perbuatannya yang telah menculik dan menyiksa Alea.


Kini ia harus membayar dengan mahal perbuatannya terhadap Alea, terhadap anak dalam kandungan Alea yang tidak berhasil diselamatkan.


Anak buah Tristan kocar-kacir, mereka buru-buru membenahi pakaian mereka.


"Kenapa kalian tampak ketakutan, tidak masalah. Wanita ini ada untuk melayani kalian." Kata Tristan kepada anak buahnya.


"Tristan, aku mohon ampuni aku. Tolong lepaskan aku dan bawa saja aku ke penjara." Pinta Linda memohon dengan kepala yang menyentuh tanah.


"Melepaskan mu? Membawamu ke penjara? Bukankah aku sudah mengatakannya bahwa semua itu terlalu ringan." Balas Tristan tersenyum remeh.


"Kau membuatku dan Alea kehilangan anak kami, maka aku tidak akan melepaskanmu atau membawamu ke polisi. Jika saja aku tidak memikirkan tangan istriku yang bersih, aku pasti akan membiarkan dia membunuhmu dengan tangannya sendiri." Tambah Tristan panjang lebar.


Linda semakin menangis, ia menangis dengan tersedu-sedu mendengar ucapan Tristan barusan.


Tristan berlutut, ia menatap wajah Linda dengan penuh kebencian.


"Masih ingat wajah istriku yang memohon ampun sambil menahan sakit?" tanya Tristan pelan.


Linda mendongakkan kepalanya, mata sembabnya menatap Tristan dengan penuh permohonan.


"Tatapan itulah yang akan kau dapatkan, dan rasa sakit itu juga yang akan kau dapatkan berpuluh-puluh kali lipat." Tambah Tristan diakhiri senyum simpul yang terkesan sinis.

__ADS_1


Tristan bangkit dari jongkoknya, ia hendak pergi tapi tangan Linda tiba-tiba memeluk kaki Tristan sambil memohon.


"Tristan, bunuh saja aku. Biarkan Alea membunuhku dengan tangannya. Aku tidak sanggup lagi, Tristan." Kata Linda dengan lirih.


Tristan tidak menyahut apa-apa, pria itu menghempaskan tangan Linda dari kakinya lalu pergi meninggalkan ruangan begitu saja.


"Linda Linda, kemarin-kemarin kemana saja sampai baru menyesal hari ini. Sekarang nikmatilah hukuman dari tuan Tristan." Ucap Mondy terkekeh sinis.


Usai mengatakan itu, Mondy pun segera pergi menyusul Tristan yang sudah duluan keluar.


Tristan dan Mondy pun pergi meninggalkan markas anak-anak buah mereka. Tristan harus segera sampai di rumah karena ia yakin bahwa sang istri sudah menunggunya.


"Kita mampir ke toko kue sebentar." Ucap Tristan.


Mondy hanya mengangguk menuruti, ia yakin bahwa atasannya itu mau membeli sesuatu untuk istrinya di rumah.


Sesampainya di toko kue, Tristan langsung keluar untuk memilih sendiri apa saja yang akan ia beli untuk sang istri.


"Tristan." Panggil seseorang dari belakang Tristan.


Tristan menoleh, ia tidak menyahut sama sekali dan memilih kembali kue untuk istrinya.


"Oh ayolah, kau masih marah? Bukankah kita sudah bekerja sama. Aku mohon, aku ingin minta tolong pada istrimu." Ucap Fade nyerocos tanpa henti.


Mendengar kata istri seketika membuat Tristan menoleh.


"Apa maumu?" tanya Tristan mengangkat sebelah alisnya.


"Tolong bicarakan pada Alea tentang hubunganku dan Firda." Jawab Fade.


Tristan menghela nafas, ia menggelengkan kepalanya sebagai balasan atas permintaan pria itu barusan.


"Hubungan kalian urus sendiri, jangan melibatkan Istriku." Timpal Tristan tanpa menatap Fade.


"Aku tahu, aku akan berjuang sendiri. Tapi bantuan Alea pasti akan sangat membantu," ujar Fade tetap kekeh.


"Tidak akan pernah aku biarkan istriku terlibat, hubunganmu kandas dengan Firda itu karena pembelaan mu pada wanita itu kan, maka berjuanglah sendiri." Ucap Tristan seraya mengambil kue yang ia beli dan sudah ia bayar.


"Lain kali, jangan mudah tertipu." Tambah Tristan pelan lalu kemudian pergi meninggalkan Fade yang hanya diam.


FADE, KAMU HARUS SEMANGAT!!!!


Bersambung.............................

__ADS_1


__ADS_2