Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Fakta baru


__ADS_3

Mondy kebingungan melihat istrinya lebih banyak diam dari biasanya, dan saat ia bertanya Aira akan menjawab bahwa dia baik-baik saja.


Mondy tentu tidak akan percaya begitu saja, ia kembali melontarkan pertanyaan pada istri kecilnya itu.


"Kamu mau jawab aku atau aku cari tahu sendiri, Sayang?" Tanya Mondy lembut.


Aira menatap suaminya, Aira paham sekali dengan nada bicara Mondy. Suara yang begitu rendah menandakan jika kesabaran pria itu mulai habis.


Aira menekuk wajahnya, ia bangkit dari duduknya lalu beralih duduk diatas pangkuan suaminya dengan posisi saling berhadapan.


Baju pendek yang Aira kenakan membuat paha wanita mungil itu terekspos. Jangan lupa tangannya mengalung dengan sempurna di leher Mondy.


Mondy menatap istrinya, walau ia sudah mulai tergoda, namun ia harus mendapatkan jawaban atas pertanyaan nya dulu.


"Jawab pertanyaan aku dulu, Sayang." Pinta Mondy dengan suara semakin rendah.


Aira menunduk, ia mencium bibir suaminya sebentar lalu memeluk pria itu dengan erat.


"Aku mau pulang ke kampung, Mas. Aku mau bicara sama keluargaku, aku nggak bisa terus diam saat mereka terus meminta uang sama kamu." Ucap Aira dengan posisi masih memeluk suaminya.


Mondy tersenyum manis, jadi ini alasan istrinya lebih banyak diam. Aira memikirkan soal dirinya yang terus saja dimintai uang oleh mertuanya.


"Sayang, aku nggak masalah soal uangnya. Asal kamu bisa hidup tenang sama aku, biarkan saja." Balas Mondy mengusap-usapnya punggung sang istri.


Aira melepaskan pelukannya, ia menatap Mondy dengan tatapan tidak setuju.


"Nggak, pokoknya aku nggak mau. Aku harus bicara sama mereka." Timpal Aira.


Mondy menangkup wajah cantik istrinya, ia menganggukkan kepalanya. Mondy sejujurnya tidak masalah dengan uang, namun ia tidak mau istrinya sedih.


"Baiklah, aku antar kamu besok ya." Ucap Mondy lembut.


Aira ikut menangkup wajah suaminya, ia kembali mencium bibir suaminya. Ia menghisap dan menggigit bibir itu seperti yang biasa Mondy lakukan.


Mondy yang sejak tadi sudah menahan lantas segera menggendong tubuh mungil itu. Ia merebahkannya dengan hati-hati lalu membuka gaun tidur berbahan satin dengan asal.


"Ahhh …"


Malam itu, Mondy dan Aira kembali mereguk kenikmatan bersama seperti malam sebelumnya.


Akhir-akhir ini, gairahh Aira mudah sekali muncul. Bahkan saat melihat Mondy keluar kamar mandi tanpa pakaian, ia sudah tergoda.


Dan malam ini juga, niatnya ingin bicara saja, tapi suara suaminya yang rendah dan lembut malah membuatnya merinding dan menginginkan sentuhan.


***

__ADS_1


Seperti yang Mondy katakan semalam, ia akan mengantar istrinya pulang ke kampung halamannya.


Mondy tidak akan membiarkan istrinya pulang seorang diri. Ia sangat mengenal keluarga istrinya, yang selalu berlaku seenaknya pada Aira.


Sampai di sana, Aira tidak disambut baik oleh keluarganya, berbeda dengan Mondy yang sangat di sanjung sebagai menantu.


"Nak Mondy, ayo silahkan duduk. Biar Aira yang siapkan minum nya ya," tutur ibu Aira dengan penuh senyuman.


Aira menatap ibunya dengan alis yang bergelombang, ia merasa aneh dan heran. Bagaimana bisa ibunya berkata begitu saat dia juga baru saja sampai.


"Saya tidak perlu minum, Bu. Lagipula seharusnya saya dan istri saya dibuatkan minum oleh orang rumah, bukan istri saya yang membuatkan nya." Ucap Mondy tanpa senyuman di wajahnya.


Aira menatap Mondy, ia memegang tangan suaminya lalu tersenyum.


Mama Aira tampak kesal mendengar menantunya membela Aira, ia dengan terpaksa meminta Ayu yang membuat minum.


Ayu mendengus, ia pun membuatkan minum untuk adik dan adik iparnya dengan terpaksa.


"Ada apa kalian kesini, Aira tidak membuat masalah kan?" Tanya bapak Aira.


Aira menatap bapaknya, ia sudah tahu bahwa kalimat inilah yang akan pertama kali keluar dari mulut ayahnya.


"Aira tidak pernah merepotkan saya, sekalipun saya memintanya untuk merepotkan saya." Jawab Mondy tanpa ekspresi.


"Lalu untuk apa kalian kesini, apa Aira mau maki-maki ibu lagi seperti kemarin?" Tanya ibu Aira dengan sinis.


"Aku minta sama ibu, bapak dan mbak. Jangan pernah meminta uang lagi sama suami aku, dia sudah memberikan banyak uang sebelumnya pada kalian." Ucap Aira dengan tegas.


"Kurang ajar sekali kamu, Ai. Suamimu saja tidak keberatan!" Sahut Ayu ketus.


"Iya, maksud kamu apa? Lagipula nak Mondy tidak marah. Dan lagi, ibu nggak minta uang sama kamu, ibu minta sama menantu ibu." Tambah ibu Aira.


"Tapi menantu ibu itu suami aku." Sahut Aira tidak mau kalah.


"Aku bukan nggak bolehin kalian minta uang, tapi seharusnya kalian tahu diri. Kalian seenaknya meminta seakan mas Mondy adalah bank kalian." Tambah Aira semakin berani.


Ayu mendekat, ia mencekal lengan adiknya, namun buru-buru di tepian oleh Aira.


"Mbak udah nggak bisa berbuat seenaknya sama aku." Ucap Aira dengan sedikit tinggi.


Ibu Aira bangkit dari duduknya. "Bagus kamu, mentang-mentang sudah menikah dan mendapatkan pria kaya, kamu jadi kurang ajar!" Seru ibu Aira.


"Aira, seharusnya kamu yang tahu diri. Kami sudah membesarkan kamu," ucap bapak Aira pelan, namun tetap menusuk ke hati.


Aira menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca, beginilah hidupnya selama ini. Ia akan selalu terpojok, tidak ada yang membelanya.

__ADS_1


"Aku tahu, Pak. Aku sangat berterima kasih pada kalian, tapi hal ini bukan berarti kalian bisa memanfaatkan suami aku. Dia orang lain Bu, Pak. Dia bukan anak kalian yang bebas kalian mintai uang!" Ucap Aira dengan air mata yang sudah mulai berlinang.


Mondy mendekati istrinya, ia sejak tadi diam karena ingin membiarkan Aira mengatasi keluarganya. Mondy akan bertindak saat mereka sudah kelewat batas.


"Sayang." Bisik Mondy mengusap-usap punggung istrinya.


"Memang pantas kamu kami culik, Ai. Sejak bayi, kamu memang nggak pantas menjadi anak keluarga kaya." Ucap ibu Aira.


Di saat emosi, mulutnya mengucur sebuah kalimat yang tidak seharusnya diucapkan. Sebuah fakta yang tersembunyi selama bertahun-tahun.


Aira menatap ibunya. "Maksud ibu apa?" Tanya Aira.


Ibu Aira melipat tangannya di dada. "Kamu itu kami culik, sejujurnya kamu adalah anak keluarga kaya." Jawab ibu Aira tersenyum sinis.


Aira semakin menangis sesak mendengar penuturan ibunya. Jadi dia tidak dibuang oleh keluarganya, tetapi sengaja di pisahkan.


"Kenapa kalian jahat sekali hah!" Mondy membentak.


"Diam kamu. Kamu tidak usah ikut campur!" Balas ibu Aira menunjuk wajah Mondy.


"Ibu, Bapak. Siapa keluargaku?" Tanya Aira sambil menangis.


"Kami tidak akan mengatakannya." Jawab bapak Aira yang juga sejak tadi diam.


Mondy menatap satu keluarga itu dengan tajam.


"Tidak masalah, saya bisa menemukan semua identitas nya dalam waktu beberapa jam, dan kalian akan saya pastikan masuk penjara atas kasus penculikan." Ucap Mondy dengan tegas dan yakin.


"Jangan berani mengancam orang tuaku, seharusnya kau bersyukur karena orang tuaku mau merawatnya dan bukan membuangnya ke jalanan." Ayu menyahut tidak terima.


Ayu lalu menatap Aira. "Kau benar-benar tak tahu terima kasih, Ai. Orang tuaku membesarkan mu dengan susah payah, tapi begini balasanmu." Ucap Ayu dengan sinis.


Aira memegang kedua sisi tangan kakaknya.


"Apa? Selama ini aku hidup hanya menerima siksaan kalian, bahkan kalian rela menjualku. Itu bukan sebuah budi yang harus di balas!" Sahut Aira.


"Seharusnya kalian membuang ku saja di jalanan, setidaknya aku tidak harus bertemu orang-orang jahat yang memisahkan anak dari keluarganya." Tambah Aira sambil menunjuk kakak dan kedua orang tuanya.


Ayu melayangkan tangannya, hendak menampar Aira, namun buru-buru di tahan oleh Aira.


"Jangan pernah berani menyentuhku lagi, Ayu." Tekan Aira lalu menghempaskan tubuh Ayu agar menjauh darinya.


Mondy senang melihat istrinya tidak diam saat di tindas, ia suka Aira yang bisa melawan perlakuan keluarganya.


EUMMM ... MAKIN PENASARAN 😕

__ADS_1


Bersambung........................


__ADS_2