Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Alea dan Firda hilang


__ADS_3

Linda tersenyum dengan lebar saat melihat pria yang ia cintai memintanya untuk bertemu malam ini di salah satu kafe. Linda sangat yakin jika Fade akan mengajaknya balikan karena sadar bahwa ia jauh lebih baik daripada Firda.


Dengan percaya dirinya Linda memeluk Fade dari belakang dan melabuhkan sebuah kecupan di pipi pria itu.


"Apa-apaan kau hah!" ucap Fade dengan kesal.


Ia mengambil selembar tisu yang ada disana lalu mengelap wajahnya yang habis dicium oleh bibir murahan Linda.


Linda memutar bola matanya jengah. Tanpa mau peduli akan penolakan Fade, wanita itu dengan santainya duduk di depan pria itu.


Linda memasang wajah semanis mungkin dengan harapan bahwa Fade akan menghabiskan malam ini bersamanya. Linda bahkan memakai pakaian yang sedikit terbuka saat ini.


"Jadi mantan kekasihku, Sayang. Ada apa memintaku datang, apa kau sudah sadar bahwa aku lebih baik dari gadis kampungan itu?" tanya Linda dengan sangat percaya diri.


Fade berdecih, ia tidak tahu ada orang yang memiliki rasa percaya diri setinggi Linda. Disaat dia sudah tahu bahwa dirinya murahan, tapi Linda tetap bergaya layaknya orang terhormat.


"Percaya diri memang bagus, tapi terlalu percaya diri akan membuat orang menganggapmu gila, Linda Senofita." Kata Fade tertawa mengejek.


Linda tersenyum, meskipun hatinya sudah mulai panas dan tidak tenang. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja ketika melihat senyuman Fade yang sangat merendahkannya.


"Jadi kenapa kau mengajakku bertemu, Fad. Apa kau mulai tertarik padaku?" tanya Linda dengan wajah dibuat semanis mungkin, padahal tidak.


Fade lagi-lagi tergelak, ia benar-benar merasa terhibur dengan semua ocehan Linda barusan.


"Astaga, kenapa kau memilih jadi wanita bayaran dan bukan komedian saja." Kata Fade geleng-geleng kepala.


Linda menggebrak meja di sana, membuat beberapa pasang mata menatap mereka. Hal itu tidak membuat Fade ataupun Linda merasa malu sama sekali.


"Langsung pada intinya, Fad. Kau membuang waktu berhargaku." Pinta Linda kesal.


"Waktu berharga? Ahh aku paham, kau sudah memiliki janji dengan pelangganmu ya." Tebak Fade lagi-lagi mengejek.


Linda menghela nafas, ia berusaha sabar dan tenang menghadapi pria yang sialnya malah ia cintai sampai sekarang.


"Kau mau bercintaa denganku kan?" Tebak Linda, tangan wanita itu mulai memegang pergelangan tangan Fade.


Fade berdecih. "Dimana?" tanya Fade ambigu.


Linda tersenyum penuh kemenangan mendengar pertanyaan dari Fade barusan. Pria tampan berjas hitam itu benar-benar sangat menggoda dirinya.


"Bebas, kita bisa melakukannya di hotel atau apartemenmu." Jawab Linda seraya melipat tangan di dadanya.


Fade terkekeh lagi, ia geleng-geleng kepala seraya memijat pangkal hidungnya yang tidak gatal.


"Bukan itu maksud pertanyaannya, Linda." Kata Fade.


"Dimana itu maksudnya adalah, dimana otakmu sampai-sampai bisa berpikir bahwa aku tertarik untuk berhubungan badan dengan wanita rendahan sepertimu." Jelas Fade semakin tertawa.


"Brengsekk, jadi apa mau mu sebenarnya meminta datang!" Umpat Linda dengan sangat kesal.


Fade menatap Linda, tawanya terhenti dan kini berubah menjadi raut wajah yang begitu serius. Tangan pria itu tampak mengepal, sampai-sampai uratnya terlihat jelas.

__ADS_1


Linda menatap Fade dengan ngeri, ia sangat yakin bahwa ada sesuatu yang serius sehingga pria itu memintanya datang kesini.


"Kau yang menabrak Firda sampai dia koma, benarkan?" Tanya Fade pelan, namun seperti biasanya yang sarat akan ancaman.


Raut wajah Linda berubah pias, namun ia berusaha untuk menutupinya dengan cara mengibaskan rambutnya yang panjang.


"Apa maksudmu?" tanya Linda berpura-pura tidak paham.


"Ya atau benar." Tekan Fade tanpa memberikan pilihan tidak pada Linda.


"Apa-apaan kau ini, Fad. Aku nggak pernah melakukan hal yang kamu tuduhkan." Ujar Linda masih terus mengelak.


"Jawab pertanyaanku, sialann. Apa karena terlalu banyak berhubungan, telingamu sampai tidak berfungsi dengan baik?" tanya Fade lagi-lagi mengungkit pekerjaan Linda.


Linda mengepalkan tangannya, rasa panas di dada dan ubun-ubun nya kian bertambah sehingga semuanya siap untuk meledak kapan saja.


"Ya! Aku menabrak dan membuat Firda koma. Sejujurnya aku ingin dia tiada, kenapa? Karena aku tidak mau jika wanita itu sampai merebut mu kembali dariku!" Ungkap Linda dengan nafas yang menggebu-gebu.


"Sadar diri, Linda. Disini kau lah yang perebut, seharusnya Firda yang membunuhmu karena telah membuat tuduhan terhadapnya." Balas Fade dengan tidak kalah emosi.


Linda bangkit dari duduknya, ia melipat tangan di dada dengan tatapan yang sama tajamnya ke arah Fade.


"Lalu kau mau apa sekarang, Fad. Melaporkanku ke polisi, atau membunuhku?" tanya Linda.


"Aku tidak akan mengotori tanganku dengan darahmu yang menjijikan, dan melapor pada polisi, ku rasa itu bukan ide yang buruk." Jawab Fade tertawa kecil.


Linda terkekeh juga, ia kembali duduk dengan tangan yang menutupi mulutnya sendiri. Hal itu tentu saja membuat Fade bingung.


"Apa maksudmu?" tanya Fade mendelik tajam.


"Alea dan Firda, mereka sama-sama merebut pria yang aku miliki. Mereka berdua tidak akan bisa hidup setelah apa yang mereka lakukan padaku." Jelas Linda dengan wajah datarnya.


"Mereka berdua akan menjerit untuk yang terakhir kalinya malam ini." Tambah Linda disertai senyuman misterius.


Fade menggebrak meja. "Bangsatt, jika kau berani menyakiti Firda sedikit saja maka aku akan benar-benar membunuhmu dengan tanganku sendiri." Geram Fade dengan jari telunjuk yang mengacung di depan wajah Linda.


Linda manggut-manggut. "Hmm, setidaknya lebih baik selamatkan dia dulu." Timpal Linda kemudian pergi meninggalkan Fade begitu saja.


Fade bangkit dari duduknya, ia segera berlari keluar dari kafe dan masuk ke dalam mobilnya. Tanpa banyak basa-basi, Fade langsung tancap gas menuju restoran dimana Firda bekerja.


Rasa panik menggerogoti tubuh Fade, ia sangat takut jika Linda benar-benar menyakiti Firda lagi. Wanita itu sudah gila, pasti Linda akan membuktikan ucapannya.


30 menit kemudian, Fade akhirnya sampai di tempat tujuannya. Ia segera berlari masuk ke dalam restoran dengan tergesa-gesa.


"Firda, dimana Firda?" Tanya Fade pada salah satu pelayan disana.


"Kak Firda, sudah pulang kak. Shift bagiannya sudah habis tadi," jawab pelayan itu.


Fade menjambak rambutnya, ia kembali berlari ke dalam mobil. Kini tujuannya adalah rumah Firda, ia sangat berharap jika gadis itu ada di rumahnya.


Sementara itu di tempat lain, tampak Tristan berusaha untuk menghubungi ponsel istrinya dan kakaknya namun tidak ada yang menjawab.

__ADS_1


Ia baru saja tiba di apartemen 30 menit lalu, dan saat dirinya sampai, ia tidak menemukan istrinya disana.


Tristan berusaha untuk menghubungi Alea, ia sangat tahu jika istrinya tidak mungkin pergi tanpa meminta izin darinya.


"Alea, kamu kemana sayang." Gumam Tristan begitu khawatir.


Tristan juga meminta Mondy untuk bertanya pada tetangga sekitar unit yang mungkin saja melihat Alea keluar dari unit tadi, namun hasilnya nihil.


Kalaupun Alea pergi tanpa izin, wanita itu pasti tidak akan pergi selama ini. Alea pasti akan cepat kembali karena takut suaminya akan marah.


"Pak, apartemen ini ada cctv kan?" tanya Mondy dengan tergesa.


Sama dengan Tristan, Mondy juga panik karena Alea tidak bisa dihubungi. Walaupun Alea istri atasannya, namun secercah rasa terhadap wanita itu masih sedikit ada.


Mendengar pertanyaan dari asisten nya, Tristan buru-buru mengecek cctv melalui layar ponselnya.


Saat video hampir di putar, tiba-tiba saja ponsel Tristan mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenalinya. Tristan pun segera menjawabnya.


"Tristan, apa Alea ada?"


Tristan belum bicara, namun orang diseberang sana sudah duluan bicara.


"Siapa kau, untuk apa kau menanyakan istriku?" tanya Tristan tampak tidak suka.


"Fade, aku Fade."


"Brengsekk, kau apakah istriku hah. Kau menculiknya?" Semprot Tristan dengan emosi.


"Dengar, Alea dan Firda telah diculik oleh Linda. Mereka berdua pasti bersama karena Firda pun tidak ada di rumahnya."


"Apa?" kening Tristan mengkerut mendengar ucapan Fade barusan.


Fade pun terdengar mulai menceritakan pertemuannya dengan Linda beberapa saat lalu, dan memberitahu bagaimana wanita itu mengancam akan melukai Alea dan Firda.


Tristan geram, ia menutup teleponnya lalu melihat video cctv di ponselnya. Ternyata memang benar, dalam video itu terlihat Alea membukakan pintu dan langsung di bekap oleh orang berpakaian hitam.


"Pak, kita harus bergerak cepat. Saya akan meminta anak-anak mencari nyonya Alea." Ucap Mondy dan Tristan hanya mengangguk.


Tristan mengepalkan tangannya, ia benar-benar tidak akan mengampuni Linda jika sedikit saja ada goresan di tubuh istrinya.


"Brengsekk kau Linda!!!" teriak Tristan penuh emosi.


Tristan akan menghabisi Linda, yang terpenting sekarang adalah ia harus menemukan Alea. Istrinya itu sedang hamil, dan ia tidak mau jika Alea ataupun bayinya kenapa-napa.


Tristan merasa sangat bodoh, seharusnya ia bisa menjaga Alea dari orang gila seperti Linda, tapi ia malah sibuk bekerja.


Tristan sangat menyesali kecerobohannya dan kini membuat istrinya diculik.


DICULIK MEREKA GUYS 😫😫


Bersambung..................................

__ADS_1


__ADS_2