Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Melakukan kesalahan lagi


__ADS_3

Tampak seorang pria sedang berdiri dengan tangan terlipat di dada. Sorot matanya yang tajam dan menusuk akan membuat siapa saja gemetar ketakutan, terkecuali gadis yang saat ini sedang memasak di dapur.


Gadis itu tampak begitu cekatan memasak makanan untuk majikannya yang baru selama satu minggu ke depan.


Pria itu mendekati si gadis, ia tetap melipat tangannya di dada.


"Aira." Panggil Mondy.


Gadis bernama Aira itu menoleh, ia terkejut melihat majikannya sudah ada disana dengan tatapan dingin dan gestur tubuh yang menambah ketampanannya.


"Om udah pulang, aku sudah memasak untuk Om." Ucap Aira menunjuk meja makan yang sudah tersedia beraneka menu masakan.


Mondy menatap ke meja makan, disana tampak banyak makanan yang Mondy akui terlihat sangat menggoda dan membuatnya tergiur.


"Siapa yang menyuruhmu masak, saya hanya memberimu perintah untuk bersih-bersih kan?" tanya Mondy menyipitkan matanya.


Aira melepaskan apron pink yang dikenakannya, bahkan Mondy dibuat heran oleh Aira yang entah darimana mendapatkan apron lucu itu.


"Kalo aku nggak masak, nanti Om makan apa?" tanya Aira dengan wajahnya yang polos.


Aira menatap ke sekitar rumah Mondy, lebih tepatnya apartemen milik pria itu. Setelahnya, Aira kembali menatap Mondy, bahkan sedikit memajukan wajahnya.


"Om, selama ini tinggal sendiri. Terus Om makan apa? kan nggak ada yang masakin." Tanya Aira penasaran.


Mondy memegang kening Aira dengan jari telunjuk lalu mendorongnya perlahan agar menjauh dari wajahnya.


"Kamu kira kita tinggal di zaman apa? Ada ojol yang siap antar makanan kita." Jawab Mondy sewot.


Aira manggut-manggut, jawaban Mondy memang benar dan tidak salah sama sekali.


Mondy mendengus, ia hendak pergi ke kamarnya namun Aira kembali bicara padanya.


"Eh tapi, makan makanan luar terus tidak bagus untuk kesehatan Om!" Ujar Aira mengingatkan.


"Saya juga tahu, tidak perlu menggurui saya." Balas Mondy lalu segera pergi meninggalkan Aira.


Aira menatap kepergian Mondy, ia hanya mengangkat kedua bahunya tanpa menghentikan Mondy sama sekali.


Ia akan membiarkan pria itu untuk mandi dan bersih-bersih sebelum makan malam nanti.


"Kalo dilihat-lihat, om Mondy kece ya. Hihihi," gumam Aira berceloteh seorang diri.


Sementara itu ditempat lain, tampak seorang gadis dan seorang pria yang sedang makan di salah satu rumah makan emperan.


Si wanita tampak biasa saja malah di tempat seperti itu, namun si pria terlihat tidak biasa datang apalagi sampai menikmati makanan di pinggir jalan.


Firda menyunggingkan senyuman, ia berharap Fade mau pergi dan meninggalkannya. Sungguh! Ia kesal sekali tatkala pria itu datang dan langsung menyeretnya untuk makan malam bersama.


Awalnya Firda menolak, namun paksaan pria itu membuatnya tidak berkutik. Alhasil Firda menerima ajakan Fade, dengan syarat ia yang menentukan tempat makannya.


"Jika kau tidak bisa makan di tempat seperti ini, maka pergi saja." Ucap Firda dengan penuh senyuman.

__ADS_1


Fade menatap gadis tercintanya, ia tersenyum tipis ketika sadar bahwa Firda tampak kesenangan dengan ketidaknyamanan yang ia rasakan sekarang ini.


"Tidak sama sekali, aku nyaman. Aku sudah katakan bukan, bahwa aku akan ikut makan dimana pun asal bersama kamu." Sahut Fade berusaha untuk biasa saja.


"Kau yakin?" tanya Firda mengangkat kedua alisnya.


Fade tidak bicara, pria itu malah mengulurkan tangannya lalu menyeka noda makanan di sudut bibir gadisnya.


"Yakin, Sayang." Jawab Fade lembut.


Firda mendengus, ia memutar bola matanya jengah setiap kali mendengar panggilan Fade untuknya.


Dulu ia selalu tersipu malu, sekarang pun sama eh maksudnya tidak. Firda tidak suka dipanggil sayang oleh Fade, mungkin.


Firda memutuskan untuk melanjutkan makan malamnya tanpa mau peduli pada Fade yang masih betah menatapnya.


"Fir." Panggil Fade.


Firda hanya berdehem, ia tidak berucap apapun atau menatap pria itu.


"Kamu itu cantik, cantik banget malah." Celetuk Fade tiba-tiba.


Firda menatap Fade, ia menyipitkan matanya dengan penuh kecurigaan tatkala mendengar ucapan manis pria itu.


"Cantik? Benarkah?" tanya Firda manggut-manggut kecil.


"Ya, aku bicara jujur Sayang." Jawab Fade.


Fade yang merupakan pengusaha sukses, muda dan tampan tidak masuk kategori pria yang Firda inginkan. Bukankah Firda sangat kejam??


"Tega banget sama calon suami." Cicit Fade menundukkan kepalanya.


Firda hanya terkekeh tanpa suara, ia tidak berniat untuk berempati sama sekali pada Fade yang menekuk wajahnya.


***


Aira mengetuk-ngetuk pintu kamar Mondy dengan harapan agar pria itu segera membuka pintu, namun sayangnya tidak.


Sudah lebih dari 5 menit pria itu tidak kunjung membuka pintu, membuat Aira harus tarik urat.


Kesal pada Mondy? Bukan. Kesal pada pintunya, kenapa juga tidak terbuka dengan sendirinya.


"Eh pintu, cepetan buka. Kenapa malah mengunci sih!!" gerutu Aira seraya menendang pelan pintu kamar Fade.


Aira manggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia ingin sekali mendobrak pintu kamar itu namun takut Mondy marah padanya.


"Om!!" panggil Aira namun tetap tidak ada jawaban.


Aira terdiam sesaat, ia tiba-tiba berpikir bahwa telah terjadi sesuatu pada Mondy. Aira langsung panik, ia kalang kabut sendiri sambil menjambak pelan rambutnya.


"Dih, kalo Om Mondy jatuh di kamar mandi terus pingsan gimana?" gumam Aira bertanya-tanya sendiri.

__ADS_1


Aira menarik nafas dan membuangnya perlahan, ia pun menjauhi pintu kamar Mondy dan mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar itu.


Setelah beberapa saat, Aira pun berlari sekencang mungkin dan hendak membenturkan tubuhnya ke pintu layaknya orang mendobrak.


Namun siapa sangka jika pintu tiba-tiba malah terbuka lebar. Aira yang tidak siap langsung membentur tubuh Mondy dan bukan pintu.


Terdengar suara gedebug yang cukup besar saat tubuh Aira menimpa tubuh Mondy sampai keduanya terjerembab ke lantai bersama.


"Awwww." Ringis Aira memegangi pinggang bagian belakangnya.


"Aira!!!" Mondy memanggil dengan penuh penekanan.


Jika kalian berharap Mondy akan memperhatikan wajah cantik Aira seperti di film dan novel romantis, maka buang jauh-jauh harapan itu.


Mondy langsung tersadar, bahkan mendorong tubuh mungil Aira yang menimpa tubuhnya.


"Apa-apaan kau hah!" bentak Mondy dengan suara lantang.


Aira segera bangkit, ia langsung menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling bertautan.


"Om, maaf. Aku nggak sengaja, maafin aku." Pinta Aira dengan lirih.


Aira benar-benar ketakutan, hari ini ia sudah diusir dari rumah utama, jangan sampai ia diusir lagi dari apartemen Mondy karena kesalahannya sekarang.


Mondy sendiri sudah bangkit dan berdiri di depan Aira, ia sedikit meringis merasakan punggung dan pinggang belakangnya yang tadi membentur lantai cukup keras.


"Kamu ngapain hah, kamu kira ini film action sampai mau mendobrak pintu?" tanya Mondy kesal.


Aira menggeleng. "Bukan gitu, Om. Aku kira tadi Om kenapa-kenapa, makanya aku mau cek tapi pintunya dikunci." Jawab Aira menjelaskan.


Mondy berdecak. "Saya bukan bayi yang bergerak dikit langsung kecengklak." Ketus Mondy lalu pergi dari kamarnya.


Aira menatap kepergian Mondy dengan wajah memelas, jangan sampai ia di usir dan disuruh tidur di jalanan karena tingkahnya kali ini.


Bersambung.................................


Guys, jangan lupa mampir ke novel terbaru aku yang judulnya 'Pesona suami yang tidak dicintai'. Kalian bisa search judul atau napen aku buat cari novelnya dan bisa juga langsung klik profil aku.


Blurb :


"Aku tidak menerima pernikahan ini. Aku nggak cinta sama kamu, apalagi di usiaku yang masih muda sudah harus mengurus seorang anak!" 


Bianca, gadis manja dan pecicilan harus dipaksa kedua orang tuanya untuk menikahi seorang duda beranak 1. 


Ia yang tidak suka akan perjodohan tentu saja menolak, apalagi ditambah dengan seorang duda memiliki anak. Bianca tidak siap menjadi ibu sambung.


Akan tetapi paksaan tetap paksaan, ia akhirnya menikah dengan pria dewasa yang merupakan tetangganya saat ia kecil.


Bianca yang tidak cinta justru sebaliknya dengan sang duda, Raka Dewangga. Pria itu mencintai Bianca sejak gadis itu masih duduk di bangku SMP.


Ia yang ditawarkan untuk menikahi anak tetangga nya dulu tentu saja tidak menolak, Raka bertekad akan membahagiakan Bianca.

__ADS_1


Akankah Bianca luluh dengan cinta Raka dan menerima semua takdirnya? Atau ia malah kabur bersama sang kekasih karena tidak siap menjadi ibu sambung?


__ADS_2