Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Akhir ketiga pasangan (End)


__ADS_3

Tanpa terasa bertahun-tahun telah berlalu. Kehidupan keluarga Tristan dan Alea semakin bahagia dengan putra mereka yang semakin menggemaskan.


Alkano, bocah berusia 3 tahun itu semakin membuat semua keluarganya gemas padanya. Tubuh gemuk dan kekakuan yang pecicilan selalu berhasil mengundang gelak tawa semua orang.


"Alkano, mami disini." Ucap Alea yang sedang bersembunyi di balik meja.


"Mami mami mami …" Alkano tak berhenti memanggil Alea dan mencari kesana kesini.


Alea terkekeh, beginilah hari-harinya bersama putranya ketika sang suami bekerja. Alea akan menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang.


"Alkano, cari mami!!" Ucap Alea lagi sambil terus mengintip ke arah putranya.


Alkano terlihat celingak-celinguk, hal itu semakin membuat Alea tak bisa menahan tawanya.


Alea hendak melangkah pelan menuju putranya, namun tiba-tiba ia merasakan pelukan dari belakang.


"Ketahuan, Mami." Ucap Tristan semakin mengeratkan pelukannya.


Ucapan Tristan membuat Alkano ikut menatapnya. Bocah itu langsung berlari dan memeluk kaki Alea.


"Mami ketahuan." Ucap Alkano dengan sedikit kurang jelas.


Alea menekuk wajahnya, menatap suaminya dengan tajam. Alea berusaha melepaskan pelukan suaminya, namun Tristan malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Mami ketahuan gara-gara papi, Al." Ucap Alea.


Bocah itu menoleh lalu meminta untuk di gendong oleh Tristan. Hal itu membuat Tristan melepaskan pelukannya, dan beralih menggendong putra pertamanya itu.


"Mami ketahuan gara-gara papi." Ucap Alkano cadel.


Tristan terkekeh. "Terus gimana dong?" Tanya Tristan ikut bergaya seperti anak-anak.


"Sekarang papi yang jaga, aku akan ngumpet sama mami." Jawab Alkano.


Tristan dan Alea sama-sama tertawa, putra mereka memang pandai sekali bicara dan mengatur seseorang.


"Baiklah, papi akan cari. Ayo sana," tutur Tristan, lalu menutup matanya.


Alea tersenyum, ia mengajak Alkano untuk bersembunyi di balik tangga yang tidak jauh dari posisi suaminya.


Setelah beberapa saat, Tristan pun membuka mata dan mulai menoleh kanan kiri.


"Alkano, Mami. Papi cari kalian ya," ucap Tristan.


Alkano tertawa, hal itu membuat Alea menepuk jidatnya. Mana ada orang sedang bersembunyi malah tertawa. Alhasil mereka ketahuan oleh Tristan.


"Ketemu!!!" Ucap Tristan dengan penuh senyuman.


Alkano semakin tertawa, namun Alea justru geleng-geleng kepala. Wanita itu membiarkan anak dan suaminya bermain, sementara dirinya akan membuat minum.

__ADS_1


Alea pergi ke dapur, dan mengambil segelas jus. Lalu setelahnya ia kembali ke ruang tamu.


"Mas, minum dulu." Tutur Alea lembut.


"Makasih, Sayang." Ucap Tristan seraya menerima dan menenggak minuman itu sampai setengah gelas.


Alea ikut duduk bersama suami dan anaknya. Sore hari begini mereka memang biasa menonton televisi.


"Kamu mau mandi? Aku siapin bajunya ya?" Tawar Alea.


"Nggak usah, Sayang. Aku nanti ambil sendiri, kamu temani Al disini saja." Jawab Tristan lembut.


Tristan mengusap kepala sang istri, lalu ia pun bangkit dari sana. Tristan pergi ke kamar untuk mandi dan mengganti pakaiannya.


"Suka banget nonton ini sih?" Tanya Alea.


"Warna biru, Mami." Sahut Alkano sambil menunjuk ke arah televisi.


"Kamu suka warna biru?" Tanya Alea dan bocah itu menganggukkan kepalanya.


Alea terkekeh, ia menangkup wajah bulat putranya, lalu mencium kedua pipinya bergantian.


Ketika masih asik menonton televisi, tiba-tiba seseorang datang dan langsung memanggil Alkano.


"Abang Al!!" Suara cadel itu terdengar memenuhi rumah Alea.


Alea menoleh ke asal suara, ia tersenyum lalu bangkit dari duduknya. Rupanya yang datang adalah Aira bersama suami dan putranya.


Giovan, putra Aira dan Mondy. Selisih usia dengan Al sekitar satu tahun, bocah itu tidak kalah tampan seperti Alkano.


"Dia merengek ingin main kesini, Kak. Untung saja rumah kita tidak terlalu jauh." Kata Aira lalu duduk di depan Alea.


"Biasa main bersama, jadi gini deh." Sahut Alea terkekeh.


"Kakak benar, karena itulah mungkin kami akan pindah di sebelah rumah kakak." Sahut Mondy.


"Lhoo, iya?" Tanya Alea dan suami istri itu kompak menganggukkan kepalanya.


Mondy dan Aira sudah memutuskan untuk pindah ke rumah yang berada di sebelah rumah Tristan dan Alea. Alasannya sederhana, agar putranya bisa main kapan saja tanpa menangis.


"Bagus dong, kita jadi lebih dekat. Walaupun beda blok, tapi lumayan jauh nggak bisa jalan kaki dari rumah kamu kesini." Kata Alea.


Rumah Alea dan Aira memang hanya beda blok saja, tapi karena perumahan itu cukup besar jadilah mereka lumayan jauh juga jika jalan kaki.


"Kak Tristan kemana, Kak?" Tanya Aira.


"Sedang mandi, dia pulang langsung diajak main sama anaknya tadi." Jawab Alea.


Orang tua itu mengobrol, sementara anak-anak mereka asik bermain di lantai, tentu lantainya di alasi karpet berbulu.

__ADS_1


***


Tiga hari kemudian, sesuai ucapan Mondy dan Aira waktu itu, mereka pindah ke sebelah rumah Alea dan Tristan.


Kini rumah baru mereka telah ramai dengan para keluarga. Mama Saras, papa Jaya bahkan Firda bersama suami dan anaknya pun datang.


"Jadi kapan mau nambah anak, Lea?" Tanya Firda pada adiknya.


"Belum, Kak. Kenapa buru-buru, Al masih kecil." Jawab Alea.


"Nggak dong, Al udah pantas dapat adik." Sahut Aira.


Alea hanya tersenyum saja, ia tidak terlalu memaksakan diri untuk punya anak lagi, dan suaminya pun mendukung keputusannya.


"Sayang, Fahri haus kayaknya. Kamu bawa susu formula?" Tanya Fade seraya menggendong putranya.


"Bawa kok, sini." Jawab Firda.


Fahri, putra pertama Fade dan Firda yang usianya 2 bulan lebih tua dari Gio. Bocah itu juga biasa bermain dengan Al dan Gio.


Ya, anak-anak mereka laki-laki, karena itulah Alea diharapkan hamil kembali lalu bisa memberikan anak perempuan ditengah saudara laki-laki semua.


Ketika masih asik berbincang, tiba-tiba Tristan datang sambil membawa Al yang menangis. Bocah itu rupanya terbentur meja saat mengambil mainan di kolong.


"Ssttt, nggak boleh nangis. Anak laki-laki itu harus kuat, katanya mau jadi kayak papa." Tutur Alea sambil mengusap kening putranya.


"Terus ini kenapa nih nangis?" Tanya Aira pada putranya.


"Ikut nangis lihat Al nangis." Jawab Mondy seraya duduk di sebelah istrinya.


"Yang kena meja Al, yang nangis dua-duanya, yang nyusu Fahri. Mereka ini," ucap Tristan geleng-geleng kepala.


"Lhoo, cucu mama pada kenapa? Kok udahan main nya?" Tanya mama Saras yang baru saja mengganti pakaiannya.


Mama Saras dan papa Jaya memang berniat untuk menginap di rumah baru putri mereka.


"Biasa, Ma." Jawab Alea.


"Nggak bertengkar kan?" Tanya papa Jaya.


"Nggak dong, Pa. Jangan sampai ada yang bertengkar." Jawab Tristan.


"Cukup papanya saja yang musuhan." Sahut Fase seraya melempar tatapan tajam pada Tristan.


Mereka semua sontak tertawa, sudah bukan hal aneh melihat Tristan dan Fade yang masih suka saling sindir dan melempar tatapan tajam, namun meski begitu mereka juga kadang bisa akur.


Kehidupan 3 pasangan itu sama-sama bahagia. Cobaan masing-masing berhasil mereka lewati, dan kini saatnya mereka tertawa bersama anak-anak mereka.


END✨

__ADS_1


EKSTRA PART NYUSUL YAAA😙


__ADS_2