
Sepulang dari rumah Tristan, Mondy pun langsung ke apartemen miliknya. Apartemen miliknya, bukan milik Tristan lagi. Ingat! Ia sudah tinggal sendirian lagi sekarang, jadi satu kamar pun cukup.
Sampai di apartemen, Mondy langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih diri dan istirahat. Besok ia harus kembali bekerja seperti biasanya.
Saat sudah berdiri di bawah shower dan siap menyabuni tubuhnya, ia malah terkejut kala mencium bau vanilla dari sabun cair yang ada di tangannya sekarang.
"Ini milik Aira kan." Ucap Mondy.
Mondy hendak mencuci tangannya dan mengganti dengan sabun miliknya, namun setelah ia pikir-pikir lagi bau vanilla tidak buruk, bahkan sangat memanjakan indera penciuman.
Mondy pun mengusap sabun itu ke seluruh tubuhnya. Aroma yang dikeluarkan oleh sabun berhasil mengingatkan Mondy pada Aira.
Ya, Mondy selalu mencium bau ini setiap pagi dan sore hari. Aroma yang selalu membuat Mondy memejamkan mata karena terlalu menikmatinya.
"Sedang apa kamu sekarang, Ai. Apa hidupmu sudah jauh lebih baik setelah pergi dariku." Ucap Mondy tanpa sadar.
Mondy meletakkan kedua tangannya di tembok kamar mandi, kepalanya menunduk, membiarkan air shower terus berjatuhan ke tubuhnya.
"Aku merindukanmu, Ai." Lirih Mondy dengan posisi yang belum berubah.
Mondy menyugar rambutnya yang basah, lalu ia pun memilih untuk menyudahi acara mandinya dan keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya.
Mondy mengambil pakaian di dalam lemari untuk ia kenakan, lalu setelahnya ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk milikinya.
"Ternyata gadis itu cukup membuat hidupku berubah." Gumam Mondy dengan tatapan mengarah ke langit-langit kamarnya.
Mondy menghela nafas lelah, ia tidak tahu bagaimana harus bertindak. Aira sudah pergi, bahkan secara terang-terangan mengatakan siap untuk menikah dengan kakek-kakek.
Mondy terkesiap, ia bangkit dari posisinya yang rebah dan kini berubah menjadi duduk.
"Aira akan menikah, apa gadis itu benar-benar melakukannya?" tanya Mondy seorang diri.
Mondy lalu tersenyum miring sambil geleng-geleng kepala. "Tidak mungkin. Aira tidak akan mungkin menikahi kakek tua itu, aku yakin." Sambung Mondy setelah beberapa saat.
Mondy mengacak-acak rambutnya, ia benar-benar sial karena terus memikirkan Aira disaat gadis itu sudah pergi jauh.
"Eh tapi nggak mungkin!" sarkas Mondy tiba-tiba.
"Nggak mungkin aku menyukai gadis ceroboh sepertinya." Kata Mondy lagi-lagi mengikuti gengsinya.
__ADS_1
Mondy menghela nafas, ia akhirnya memilih untuk pergi saja ke ruang tamu dan mengerjakan beberapa tugas yang Mondy berikan padanya.
Sebelum mulai bekerja, Mondy memilih untuk membuat kopi dulu. Setelah membuat kopi, pria itu pun melangkah menuju ruang tamu dimana sudah ada laptop dan beberapa berkas menunggu.
Mondy mencicipi kopi buatannya. "Tidak seenak buatan Aira." Ucap Mondy.
Mondy berdecak, lagi-lagi gadis itu yang ia ingat dan ingat.
Sementara Mondy sedang uring-uringan memikirkan Aira, gadis yang sedang dipikirkan kini malah sedang sibuk mencuci piring di dapur.
Ya, saat ini Aira sedang mencuci piring di dapur bekas kakak dan kedua orang tuanya makan malam.
Aira bahkan belum sempat makan, ia hanya memasak untuk makan malam, lalu mencuci piring. Aira sudah biasa begini, itulah alasan kenapa Aira dulu sangat bahagia karena di bawa pergi oleh Mondy.
Aira menghela nafas, ia menyeka keringat yang mulai membasahi dahinya dengan pergelangan tangan, sebab tangannya sedang penuh busa.
"Aira!!!" teriakan itu berasal dari arah kamar kakaknya.
Aira menghela nafas, ia meletakkan piring yang sedang ia sabuni lalu mencuci tangannya sebelum pergi ke kamar sang kakak.
"Iya, Mbak. Ada apa?" tanya Aira pelan.
Hidup Aira sudah seperti sinetron atau dongeng, bahkan tidak jarang Aira berharap akan ada pangeran yang menjemput dirinya dan membawanya pergi jauh dari sini.
"Pangeran Mondy contahnya." Batin Aira.
Aira membawa baju kakaknya ke kamar mandi, ia merendam baju itu agar tidak terlalu kotor. Sekarang ia harus menyelesaikan acara cuci piringnya.
"Aira, buatkan bapak kopi dan ibu teh." Kata ibu Aira dengan ketus.
"Iya." Balas Aira singkat.
Aira pun memilih untuk merebus air untuk membuat kopi dan teh sambil mencuci piring. Aira ingin cepat makan dan istirahat.
Setelah semua pekerjaannya beres, Aira pun membawa kopi dan teh ke ruang tamu dimana semua keluarganya berkumpul disana.
"Pak, Bu. Aku ke kamar ya, mau istirahat." Kata Aira meminta izin.
"Ya ya sana." Balas bapak Aira.
__ADS_1
"Eh jangan! Bajuku dulu cuci." Ujar Ayu dengan cepat.
"Iya, Mbak. Aku hanya tinggal menjemurnya saja," balas Aira pelan.
Ayu tidak bicara, membuat Aira akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana. Aira benar-benar diasingkan, ia bukan anak keluarga ini. Dia hanya pelayan, ya. Hanya pelayan.
Aira menjemur pakaian di belakang rumah, setelah itu ia pun kembali masuk ke dalam rumah dan buru-buru mengambil makan.
Aira begitu menikmati makan malam nya meski sederhana, ia tidak mengeluh sama sekali. Aira yang sekarang, sangat jauh berbeda dengan Aira yang Mondy kenal banyak bicara.
Aira sendiri terkadang bingung kenapa dirinya dulu sangat cepat berubah. Ia menjadi gadis bawel dan tidak bisa berhenti bicara, sedangkan di rumahnya sendiri ia malah irit bicara.
Faktor yang bisa membuat Aira lebih memilih diam tentu saja sikap keluarganya. Rasanya Aira lelah jika terus bicara dan berakhir di marahi.
Saat masih menyantap makanannya, Aira tiba-tiba terhenti dan teringat pada Mondy.
"Om Mondy apa sudah makan, apa dia akan makan di luar atau pesan online." Gumam Aira bertanya-tanya.
Aira masih sangat ingat bahwa Mondy lebih sering membeli makanan diluar daripada memasak, tentu alasannya karena pria itu tidak bisa melakukannya.
"Sebenarnya belum mau pergi, Om. Tapi karena aku nggak mau buat om repot terus, makanya aku mending pergi." Ucap Aira lagi.
"Ngomong sama siapa kamu?" tanya Ayu yang entah sejak kapan ada di belakang Aira.
Aira menoleh ke belakang, ia menggelengkan kepalanya saja guna menjawab pertanyaan dari kakaknya itu.
"Setelah makan pijat mbak." Ucap Ayu.
"Nggak, Mbak. Aku capek, mau istirahat." Balas Aira menolak pelan.
Ayu mengerem kesal, ia menggebrak meja makan tempat dimana Aira duduk lalu mencekal lengan gadis itu.
"Kamu mulai berani sama mbak, kamu lupa bahwa kamu itu cuma numpang!" Sarkas Ayu penuh amarah.
"Aku nggak akan lupa, Mbak. Tapi aku juga manusia, butuh istirahat." Jelas Aira masih dengan nada pelan dan tenang.
Ayu menepis tangan Aira kasar. "Dasar pemalas." Ketus Ayu lalu pergi.
Aira hanya bisa menghela nafas sabar, sudah biasa menerima cibiran seperti itu, meski kenyataannya Aira bukanlah orang yang malas. Ia bekerja di rumah dari pagi sampai malam hari, dan itu ia lakukan sendiri.
__ADS_1
Bersambung...........................