Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Istri kecilku


__ADS_3

"Om nggak usah nikahin aku, aku akan mengabdi seumur hidup sama om sebagai pelayan untuk menggantikan uang ratusan juta itu."


Usai mendengar ucapan itu dari mulut Aira, Mondy pun langsung masuk ke dalam kamar tamu yang disediakan untuknya.


Mondy pergi tanpa bicara apapun kepada Aira. Ia tersinggung mendengar permintaan gadis itu yang enggan untuk menikah dengannya dan memilih menjadi pelayan.


Mondy menggeleng, ia tidak akan membiarkan Aira hanya sebagai pelayan. Ia tidak mau gadis itu nantinya pergi darinya jika dirasa sudah cukup membayar.


"Nggak, Ai. Kamu nggak perlu mengganti uang itu. Aku mencintaimu, dan kamu harus menjadi milikku." Ucap Mondy dengan menggebu-gebu.


Mondy bicara dengan begitu mudah, namun saat di depan Aira ia merasa sangat sulit untuk mengungkapkan perasaanya.


Gengsi membuat Mondy terlihat seperti pria yang tidak pernah menyukai Aira, padahal dibalik sikap dingin dan galaknya, ada cinta untuk Aira seorang.


Tengah malam, Mondy keluar dari kamarnya. Ia berharap Aira sudah tidur, dan dirinya bisa pergi ke kamar orang tua gadis itu.


Mondy mengetuk pintu kamar ibu dan bapak Aira, dan ternyata mereka berdua belum tidur. Keduanya sedang asik bicara soal uang yang Mondy berikan.


"Nak Mondy, belum tidur. Apa butuh sesuatu, mau ibu bangunkan Aira?" tanya ibu Aira bertubi-tubi.


Mondy memasang wajah datar. "Jangan ganggu tidur Aira." Kata Mondy tegas.


Bapak dan ibu Aira saling pandang. "Lalu ada apa nak Mondy datang malam-malam?" tanya bapak Aira.


"Besok saya mau menikah dengan Aira, jika kalian tidak bisa membuat saya menikahi Aira, maka kembalikan semua uang saya." Jawab Mondy menjelaskan tujuannya.


Kedua orang tua Aira terkejut, pasalnya mereka mendengar pembicaraan Aira dan Mondy tadi di teras. Mereka jelas mendengar bahwa Aira tidak mau menikah.


"Tapi, Nak. Bukankah Aira tidak mau?" tanya ibu Aira.


"Ya, tapi saya tetap mau menikah dengannya. Saya mau dia menjadi milik saya, karena saya mencintainya." Jawab Mondy dengan sungguh-sungguh.


Ibu dan bapak Aira tersentak, mereka tidak menyangka Aira bisa dicintai oleh pria kaya seperti Mondy.


"Kalian bisa kan menikahkan saya dan Aira besok?" tanya Mondy mengulang pertanyaan nya.


"Bisa, kami akan siapkan semuanya." Jawab keduanya kompak.


Mondy manggut-manggut, ia hendak pergi namun tidak jadi karena masih ada kalimat yang ia lupakan.

__ADS_1


"Jangan pernah berani mengatakan bahwa saya mencintai Aira. Saya tidak mau dia tahu dari orang lain." Ucap Mondy penuh penekanan.


"Baik, tapi uang anda tidak akan diambil kan saat kami menikahkan kalian?" tanya ibu Aira ragu-ragu.


Mondy tersenyum remeh, ia tidak tahu bahwa di kampung seperti ini ada orang yang sangat tergila-gila pada uang, bahkan sampai merelakan putrinya.


"Tentu saja tidak, asal kalian juga tidak mengganggu hidupnya." Jawab Mondy yakin.


"Ya sudah, besok kami akan menikahkan kalian. Nak Mondy jangan khawatir dan istirahat saja." Ucap bapak Aira dengan penuh senyuman.


Mondy pun pergi, ia masuk ke dalam kamar tamu dan meninggalkan pasangan suami istri yang sama-sama gila uang.


Namun Mondy cukup senang, ia akan menikahi gadis itu tanpa persetujuan dari Aira yang tadi sempat menolak.


Dalam hati kecil Mondy, ia bertanya-tanya. Apakah Aira tidak memiliki perasaan yang sama dengannya sampai-sampai tidak mau ia nikahi.


Pertanyaan itu memutari kepala Mondy sepanjang malam, sebelum akhirnya ia tertidur.


***


Selesai acara ijab qobul, Mondy langsung mengajak Aira untuk ke Jakarta. Ia sudah tidak tahu akan semarah apa Tristan karena pergi terlalu lama, namun yang jelas ia senang karena membawa status baru.


"Ai." Panggil Mondy tanpa menatap istrinya.


Aira yang sedang melamun lantas menoleh, ia menatap wajah tampan Mondy.


"Iya, Om?" sahut Aira pelan.


"Kita cari makanan dulu ya, kita berdua belum makan apapun sejak pagi kan." Jawab Mondy seraya menoleh sebentar ke arah Aira.


Aira hanya menganggukkan kepalanya singkat. Ia lalu kembali menatap jalanan dari kaca mobil.


Tangan kanan Aira meraba tangan kirinya dimana tersemat cincin sederhana yang Mondy pasangkan saat ijab qobul tadi.


Sejenak Aira merasa bahagia dengan statusnya yang baru, dimana ia merupakan istri Mondy yang sah.


Namun disisi lain, ia ingin kembali menangis jika ingat bahwa dirinya hanya dibeli oleh Mondy, bukan dinikahi atas dasar cinta.


Aira memejamkan matanya sambil memegangi dadanya tanpa Mondy sadari. Aira lebih baik menjadi seorang pelayan seumur hidup, daripada menjadi istri Mondy yang dinikahi bahkan atas dasar cinta, melainkan jual beli.

__ADS_1


Ya, disini Aira salah paham. Ia tidak tahu bahwa Mondy mencintai dirinya. Ia tidak tahu bahwa Mondy memiliki perasaan yang sama sepertinya, namun karena gengsi pria itu menjadi berat untuk mengatakannya.


Setelah perjalanan berjam-jam, Mondy dan Aira pun sampai di Jakarta. Mereka pergi ke apartemen Mondy yang hanya memiliki satu kamar saja.


"Ai, kamu mandi saja duluan. Saya mau bicara dengan tuan Tristan." Tutur Mondy pada istri kecilnya.


"Tapi dimana aku harus mandi, dan tidur nanti?" tanya Aira.


"Dimana lagi, tentu saja di kamar." Jawab Mondy lalu pergi keluar untuk menelpon Tristan.


Aira menghela nafas, ia pun membawa tas miliknya masuk ke dalam kamar Mondy. Kamar yang pernah ia masuki untuk sekedar mengantarkan pria itu sarapan.


Aira mengambil pakaian rumahan miliknya lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Saat mandi, Aira menangis sebentar. Namun itu tidak lama, Aira tidak mau dirinya putus asa, ini memang sudah jalannya. Ia harus membayar uang yang telah keluarganya ambil darinya.


Selesai mandi, Aira pun keluar. Ia memakai daster, tapi mirip seperti dress yang panjangnya selutut dan pas membentuk tubuhnya.


Aira juga sengaja membiarkan rambut panjangnya tergerai, sebab tidak ia keramas tadi.


"Sudah?" tanya Mondy yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Sudah, Om. Sekarang Om mandilah, aku akan siapkan bajunya." Tutur Aira lembut.


Mondy mengalihkan pandangannya dari ponsel ke wajah Aira. Ia nyaris menjatuhkan ponselnya ke lantai tatkala menyadari ada yang berbeda dengan Aira.


Apa karena status Aira adalah istrinya, sehingga ia menilai bahwa Aira terlihat lebih cantik dari biasanya. Bahkan sangat cantik dan manis.


Mondy menggeleng pelan, ia melemparkan ponselnya ke ranjang lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.


Mondy tidak mau berlama-lama terhipnotis oleh kecantikan istri kecilnya.


"Benar-benar cantik dan manis, bagaimana mungkin aku tidak jatuh hati padanya." Ucap Mondy di dalam kamar mandi seorang diri.


Mondy tahu ungkapan kekaguman dan pernyataan cinta itu akan sia-sia sebab Aira tidak mendengar, namun saat ini ia belum siap mengutarakan perasaannya.


Mondy takut Aira tidak menyukainya, ia takut cintanya akan ditolak oleh gadis itu. Meski begitu, suatu hari Mondy janji akan mengutarakan semuanya. Ia akan menyatakan cintanya kepada Aira, istri kecilnya yang cantik.


NEXT BAB KITA BERALIH KE PASANGAN LAIN YAKK🤗 BTW HAPPY WEDDING YA AIRA DAN MONDY 🌹

__ADS_1


Bersambung...............................


__ADS_2