Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Malam Firda dan Fade


__ADS_3

Jika bukan karena pertemuan penting, Mondy pasti memilih untuk mengajak Aira berpelukan di atas ranjang.


Usai aksi ciuman di dapur dan terus berjalan sampai ke kamar, Mondy terpaksa harus menyudahi aksi romantis itu karena teringat pada tugasnya.


Sial sekali memang, disaat sedang bermesraan dengan istri kecilnya, ia malah harus ditugaskan pergi ke sebuah pertemuan.


Namun Mondy tahu bahwa ia masih bisa melakukan itu lain kali, sekarang Aira adalah istrinya sehingga mereka akan selalu bertemu.


"Pak Mondy, saya akan tanda tangani surat kerja sama ini. Asal anda mau berkenalan dengan putri saya," ucap calon rekan bisnis Tristan ini.


Mondy melonggarkan dasinya, ia menatap pria tua di hadapannya ini lalu tersenyum tipis.


"Maaf sekali, Tuan. Saya sudah menikah." Balas Mondy dengan wajahnya yang sedikit datar.


Pria tua itu tampak terkejut, ia lalu melirik ke arah jari manis Mondy yang tidak terdapat cincin.


"Ah benarkah, maaf sudah lancang. Tapi saya tidak akan bicara seandainya ada cincin di jari anda," kata pria itu itu.


Monday melirik tangannya, ia baru sadar jika dirinya belum beli cincin kawin. Aira sudah memakai cincin yang mendiang ibunya titipkan, sehingga hanya perlu cincin untuknya sendiri.


Pria itu bernama Bayu itu mengambil pulpen dan langsung menandatangi surat kerja sama nya.


"Kerja sama ini sebagai permintaan maaf saya kepada istri anda, karena saya hampir membuat suaminya berkenalan dengan wanita lain." Ucap pak Bayu dengan tawa kecil.


Mondy tersenyum tipis. "Terima kasih, Pak. Istri saya pasti senang," kata Mondy lalu mengulurkan tangannya.


Pak Bayu dan Mondy saling berjabat tangan, lalu mereka berpisah karena pekerjaan mereka sudah selesai.


Wajah Mondy berseri-seri ketika ingat bahwa dirinya sudah menikah. Ia sudah memiliki istri yang akan selalu menyambutnya sepulang bekerja.


Mondy melirik jam di tangannya, ini sudah pukul 3 siang. Mondy harus ke rumah Tristan dan bicara soal kerja sama ini, lalu setelahnya baru pulang ke apartemen.


"Sabar, Mon. Kau bisa menemui istrimu setelah pekerjaan ini selesai." Gumam Mondy gusar sendiri.


Sementara itu di tempat lain, di sebuah rumah mewah. Terlihat sepasang kekasih yang baru saja merubah status mereka menjadi suami istri beberapa jam lalu.


Kini pasangan itu datang untuk meminta restu pada kedua orang tua mereka.


"Papa sudah katakan bahwa papa nggak akan pernah setuju, jadi papa nggak akan berikan doa baik untuk kalian!" ucap papa nya Fade lalu pergi begitu saja.


Firda terlihat berusaha menahan air matanya, ia kuat karena Fade ada untuknya.


Suaminya itu selalu bisa membuat ia kuat dan tegar. Firda masih beruntung karena mamanya Fade sedikit bisa menerima dirinya.

__ADS_1


"Semoga pernikahan kalian bahagia, dan mama akan berusaha untuk bicara pada papa ya." Tutur ibunya Fade lembut.


"Terima kasih, Ma." Balas Firda seraya mencium punggung tangan mertuanya.


"Terima kasih, Ma. Tapi maaf, aku tidak peduli papa akan memberi kami restu atau tidak, yang jelas aku akan selalu bersama istriku." Ujar Fade seraya menggenggam tangan istrinya.


Mamanya Fade manggut-manggut. "Semoga kamu bahagia selalu ya, Nak. Mama akan dukung kamu selama itu bisa membuat kamu bahagia." Tutur wanita cantik itu.


Karena dirasa sudah selesai, Fade dan Firda pun memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. Keduanya terkejut saat berpapasan dengan Zian yang keluar membawa koper.


"Pak Zian, anda mau kemana?" tanya Firda.


"Aku akan pergi, Fir. Aku akan mencari tempat tinggal lain. Aku nggak mau mengganggu kalian yang baru menikah." Jawab Zian menjelaskan.


Zian mengulurkan tangannya pada Fade. "Selamat atas pernikahan mu, Fad." Ucap Zian tulus.


Meski rasanya sakit, namun Zian berusaha untuk berbahagia demi sepupunya. Mulai hari ini ia akan berusaha untuk melupakan Firda.


Fade membalas jabatan tangan sepupunya. "Terima kasih, Zi." Balas Fade.


Zian menatap Firda, namun tidak berniat untuk menyalami tangannya. Zian tidak mau membuat Fade cemburu.


"Selamat juga untukmu." Ucap Zian lagi.


Ya, sikap inilah yang membuat Zian tertarik pada Firda. Gadis itu bukan hanya cantik, tapi lembut dan sangat penyayang.


Zian menyesali takdir yang mempertemukan dirinya dengan Firda secara terlambat. Firda adalah milik sepupunya.


"Zian, pakailah apartemenku. Kau bisa tinggal disana selama yang kau mau." Ucap Fade.


Zian tersenyum senang. "Terima kasih, Fad. Aku tidak bisa menolak." Celetuk Zian mengundang gelak tawa dari pasangan suami istri itu.


***


Selesai makan malam, Firda dan Fade memutuskan untuk langsung ke kamar mereka. Ya, kamar yang akan keduanya tempati sebagai pasangan baru.


"Sayang, bisa tolong laptop aku?" Pinta Fade pada Firda yang baru saja beranjak dari meja rias.


Firda tersenyum, ia mengambil laptop suaminya yang ada di atas meja lalu memberikannya pada Fade.


"Ini, M-mas." Tutur Firda sedikit gugup saat menyebut panggilan baru itu.


Fade tertawa senang, ia menarik tangan istrinya untuk duduk lalu mencium tangan yang masih digenggamnya itu.

__ADS_1


"Gemesin banget." Ujar Fade gemas.


Firda terkekeh, ia menangkup wajah Fade lalu memberikan usapan penuh kelembutan disana.


"Dasar pandai merayu." Cibir Firda.


Firda hendak bangkit, namun Fade kembali menarik tangannya sehingga ia jatuh menimpa tubuh suaminya.


"Mas, kamu keberatan nanti." Ucap Firda hendak bangkit, namun ditahan oleh Fade.


Fade memegang dagu Firda, ia lalu mencium bibir istrinya tanpa permisi. Ini bukan ciuman pertama bagi keduanya, tapi ini ciuman pertama setelah mereka menikah.


Firda tidak akan menolak, ia sudah menantikan hari dimana dia bisa berbuat lebih dari sekedar berciuman dengan Fade.


"Aku senang banget kita sudah menikah. Sekarang kamu istriku," bisik Fade.


Firda pastinya merasakan hal yang sama, ia juga bahagia jika mengingat bahwa kini dirinya adalah istri dari pria yang teramat dicintainya.


Firda mengubah posisinya, yang yang tadi telungkup, kini berubah duduk di atas tubuh Fade.


"Mau melakukan hal yang kita nantikan?" tanya Firda berbisik mesra.


Fade tertawa, ia kembali menyatukan bibir nya ke bibir istrinya. Tangan Fade tak bisa diam, ia meraba tubuh istrinya mulai dari pinggang lalu naik ke leher.


"Ahhh … Fade!" Suara itu akhirnya keluar dari mulut Firda saat tangan suaminya hinggap di dadanya.


Fade terkekeh, ia beralih mencium leher Firda dan tidak lupa meninggalkan jejak disana. Tangan Fade makin terampil guna membuka kancing piyama istrinya.


Firda tidak masalah berbuat gila seperti tadi, ia tidak malu untuk mengajak 'main' duluan. Firda tidak mau menunda kegiatan ini, apalagi dirinya tahu bahwa Fade sudah sangat menginginkannya.


"Ahhh, Fadhhhh …" lenguhan semakin menjadi-jadi saat bibir Fade hinggap di dadanya yang sudah terekspos entah sejak kapan.


"Sayang, aku pelan-pelan ya. Janji pelan-pelan," bisik Fade dengan nafas terengah-engah.


Firda mengangguk percaya, ia tahu bahwa Fade tidak akan mungkin menyakiti dirinya.


Akhirnya malam itu Firda berhasil melepaskan sesuatu yang sudah ia jaga selama bertahun-tahun. Ia melakukannya dengan Fade, suaminya.


Hubungan suami istri ini mereka lakukan diatas status yang halal, sehingga tidak ada dosa di dalamnya.


KALIAN COBA BACANYA SAMBIL DUDUK DIATAS KOMPOR BIAR MAKIN PANAS 🤗


Bersambung........................

__ADS_1


__ADS_2