Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Ngidam sesuatu


__ADS_3

Alea menanti kepulangan suaminya sambil menikmati potongan apel di ruang tamu. Ia sudah tidak sabar suaminya pulang, sebab dirinya sedang menginginkan sesuatu sejak tadi, namun enggan meminta lewat telepon.


Seorang pelayan datang membawakan segelas jus untuk Alea.


"Nona, ini jusnya." Tutur pelayan itu dengan sopan.


Alea manggut-manggut. "Iya, Bi. Makasih ya," balas Alea ramah.


"Sama-sama, Nona. Saya permisi." Pelayan itu pun pergi dari hadapan Alea dan melanjutkan pekerjaannya yang lain.


Alea meletakkan piring berisi potongan apel di meja, ia lalu mengambil jus alpukat itu kemudian meminumnya sedikit.


Alea bangkit, ia tiba-tiba merasa mual saat jus alpukat itu baru menyentuh ujung lidahnya.


Alea berlari ke arah dapur, ia mual-mual sambil mencuci mulutnya. Nafas Alea tampak terengah-engah. Ia menyandarkan tubuhnya di meja dapur, lalu mengambil segelas air mineral.


Selesai minum, Alea mengusap-usap perutnya dengan gerakan lembut dan penuh kasih sayang.


"Sabar ya, Sayang. Kita tunggu papi pulang dulu, nanti kita cari apa yang kamu mau." Bisik Alea penuh senyuman.


Semenjak hamil, teman Alea adalah janin dalam kandungannya sendiri. Ia selalu mengajak bayinya berbicara meski ia tahu bahwa ia tidak akan mendapat balasan.


"Kita tunggu papi lagi di luar ya." Ucap Alea lalu segera melangkah untuk kembali ke ruang tamu.


Saat Alea sampai di ruang tamu, ia terkejut melihat ada seorang wanita yang paling ia hindari belakangan ini atas perintah suaminya.


Alea memelankan langkahnya, namun ia tetap berjalan menghampiri ibu mertuanya. Meski ia belum diakui, tapi rasa hormat Alea tidak akan pernah hilang.


"Mama." Sapa Alea sopan.


Alea hendak mencium punggung tangan mama Saras, namun seperti biasa ia langsung di tolak.


Mama Saras bangkit dari duduknya dengan tangan terlipat di dada. Ia menatap tajam istri dari putranya itu.


Bagi mama Saras, Alea hanya istri Tristan dan bukan menantunya. Sampai kapanpun ia tidak akan mengakui Alea sebagai menantu keluarga Kusuma.


"Berapa kali saya bilang, jangan pernah panggil saya dengan sebutan mama. Saya bukan ibu kamu!" kata mama Saras dengan galak.


Alea menelan gumpalan salivanya, ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Alea berusaha untuk tetap tenang dan sabar.


"Mama mau minum apa, biar aku buatkan?" Tanya Alea dengan sopan.


Mama Saras menatap tajam Alea, ia berdecih melihat bagaimana wanita itu bersikap. Baginya, semua yang Alea lakukan hanya sebuah sandiwara.

__ADS_1


"Saya tidak mau basa-basi disini, saya hanya ingin meminta padamu agar meninggalkan putra saya." Jawab mama Saras tegas.


Alea terkejut, ia bahkan reflek memegangi perutnya yang tiba-tiba kram. Alea memang suka begini ketika syok, ia akan merasakan perutnya mengencang.


"Ma?" tegur Alea dengan tatapan tidak menyangka.


"Saya akan kasih berapapun yang kamu mau, asal tinggalkan Tristan. Pergi dari kehidupan anak saya!!" Kata mama Saras dengan sorot mata yang tajam.


"Ma, aku sedang hamil anak mas Tristan. Aku hamil cucu mama, bagaimana bisa mama tega mengatakan ini?" tanya Alea pelan dan terdengar sesak.


"Nggak usah kaget begitu, sejak awal kamu tahu bahwa saya tidak menyukai kamu, apalagi jika harus mengakui sebagai menantu." Timpal mama Saras dengan kejam.


"Tapi aku sama mas Tristan saling mencintai, Ma. Aku dan mas Tristan hidup bahagia bersama." Cicit Alea dengan kepala tertunduk.


Mama Saras berdecih. "Ya, kamu pasti bahagia karena berhasil membuat putraku melawan. Kamu pasti senang kan setelah tahu Tristan meninggalkan perusahaan!" sarkas mama Saras.


"Gara-gara kamu, Tristan sampai berani memutuskan hubungan kekeluargaan dengan orang tuanya. Dari situ saja sudah bisa dilihat, bahwa kamu bukan wanita baik-baik." Tambah mama Saras.


Alea memegangi dadanya yang semakin sesak. Ia juga semakin terkejut mendengar bahwa Tristan meninggalkan perusahaan bahkan sampai memutus hubungan kekeluargaan.


"Ma, aku bahkan nggak tahu mas Tristan melakukan itu semua." Ucap Alea menjelaskan.


"Halah! Tidak ada penjahat yang akan mengaku. Sudah, lebih baik pergi dari sini dan dari kehidupan putraku. Aku akan menikahkan dia dengan gadis baik-baik, bukan sepertimu." Usir mama Saras.


Bagaimana bisa mama Saras tega memintanya dirinya yang sedang hamil untuk pergi. Bahkan secara terang-terangan mama Saras mengatakan mau menikahkan anaknya dengan gadis lain.


"NYONYA KUSUMA!!!" Suara tegas penuh amarah itu berasal dari arah pintu.


Mama Saras menoleh ke belakang, ia tidak takut dengan tatapan putranya, justru ia malah tersenyum lebar lalu berjalan mendekati Tristan.


"Nak, mama kangen." Ungkap mama Saras lalu memeluk putranya.


Tristan mendorong pelan mama Saras agar menjauh, ia tidak membalas ucapan ibunya dan langsung menghampiri Alea.


"Sayang." Panggil Tristan kepada sang istri yang terus menundukkan kepalanya.


"Aku nggak apa-apa, Mas." Lirih Alea berbisik.


Tristan mengusap air mata Alea, ia lalu memeluk tubuh itu dengan erat.


"Sudah, tenanglah. Ada aku, Sayang." Bisik Tristan seraya mengusap punggung sang istri.


Tristan lalu menatap Mondy, ia memberikan kode pada asisten pribadinya itu.

__ADS_1


"Nyonya besar, silahkan keluar." Ucap Mondy sopan.


Mama Saras menatap Mondy penuh amarah. "Berani sekali kamu mengusir saya!" ucap mama Saras kencang.


"Saya hanya menjalankan perintah, Nyonya." Balas Mondy singkat.


"Lancang! Kamu lupa saya–" ucapan mama Saras terhenti karena Tristan bicara.


"Pergi dari rumah saya, Nyonya terhormat. Jangan pernah datang lagi kesini jika tujuan anda hanya ingin membuat istri saya tertekan." Potong Tristan penuh penekanan.


Tatapan Tristan terus menatap wajah sang istri, namun mulutnya bicara begitu ketus pada wanita yang merupakan ibu kandungnya.


"Tristan, kamu membela wanita itu daripada mama?" tanya mama Saras tidak menyangka.


"PERGI!!!" usir Tristan, kali ini ia menatap mama Saras dengan tajam.


Mama Saras semakin membenci Alea, ia menyalahkan semua yang terjadi ini adalah karena wanita itu.


Mama Saras pun pergi meninggalkan rumah Tristan dengan perasaan kesal, ia akan membuat Alea dan Tristan berpisah.


Sementara Tristan, ia masih berusaha untuk menenangkan sang istri. Ia mengusap-usap punggung Alea dengan penuh kasih sayang.


Alea sendiri menangis tanpa suara, namun ia bersyukur karena kram di perutnya perlahan mulai hilang.


"Sayang, perutnya sakit nggak?" tanya Tristan penuh rasa khawatir.


Alea menyeka air matanya lalu menggeleng.


"Nggak kok, Mas." Jawab Alea serak.


Alea lalu memeluk Tristan. "Kamu kemana aja, aku nungguin mau minta sesuatu." Bisik Alea.


Tristan tersenyum. "Mau apa, Sayang?" tanya Tristan.


Alea melepaskan pelukannya, ia menarik nafas lalu membuangnya cepat. Alea melirik ke arah Mondy yang masih setia ada di sana.


"Aku tiba-tiba ngidam, mau di peluk Aira." Jawab Alea.


"Hah?!"


WADUH, ADA YG BAKAL KETEMU NIH...


Bersambung.............................

__ADS_1


__ADS_2