
Firda diseret dari tempat duduknya kemudian dihempaskan seperti Alea, wanita itu juga dipukuli oleh anak buah Linda yang berbadan besar.
Ketika kedua anak buah Linda hendak menendang perut Firda, Linda tiba-tiba melarang. Namun bukan untuk menolong, melainkan ia melemparkan sebuah pisau lipat kepada anak buahnya.
"Tusuk dia, biarkan dia kehabisan darah dan tewas perlahan." Ucap Linda dengan begitu kejam.
Alea yang saat itu sudah hampir kehilangan kesadarannya lantas menoleh, ia menatap Linda dengan penuh amarah.
"Kau benar-benar wanita jahat, aku bersumpah bahwa tanganku sendiri yang akan melenyapkanmu." Ucap Alea dengan suara gemetar menahan sakit.
Linda tertawa lepas, ia merasa sangat geli mendengar ucapan bocah itu barusan. Bagaimanapun Alea itu jauh lebih muda darinya.
"Astaga, dalam kondisi seperti ini saja kau masih berani mengancam ku. Sadarlah bahwa kau saat ini sudah hampir mati!" sahut Linda dengan kepala yang menggeleng berulang kali.
"Jika aku mati, maka kau juga harus mati!" teriak Alea dengan suara penuh rasa sakit.
Tiba-tiba pintu yang tertutup terbuka secara kasar, bahkan Linda yang berdiri di belakangnya terdorong ke depan dan terjerembab ke lantai.
"Arghhh." Teriak Linda kesakitan.
Terlihat lima orang pria berpakaian serba hitam masuk lalu langsung membekuk dua orang suruhan Linda, sebelumnya terjadi perkelahian, namun lima orang itu menang.
Bersama lima orang itu, di belakangnya ada dua orang pria yang langsung berlari masuk untuk menyelamatkan wanita mereka.
"Tristan, Fade." Gumam Linda panik.
Linda bangkit dari duduknya, ia hendak kabur namun tidak bisa karena ditahan oleh anak buah Tristan.
Firda tersenyum melihat kedatangan Fade dan juga Tristan, ia menoleh ke arah Alea lalu mendekatinya perlahan.
"Lea, lihat–" ucapan Firda terhenti ketika ia melihat adiknya itu sudah tidak sadarkan diri.
"Lea, Lea buka mata kamu." Pinta Firda menangkup wajah adiknya yang terluka.
Tristan mendekati Alea, ia begitu sakit melihat penampilan istrinya yang benar-benar berantakan. Dan hal yang membuat Tristan semakin panik adalah darah di kaki istrinya.
"Sayang, sayang buka mata kamu. Sayang," pinta Tristan seraya menepuk pipi Alea.
Alea membuka sedikit matanya, ia tersenyum melihat samar-samar siapa yang ada dihadapannya saat ini. Bibirnya hendak berucap namun ia tidak sanggup dan akhirnya jatuh tidak sadarkan diri di pelukan suaminya.
"Sayang!!" Tristan memanggil dengan air mata yang membasahi wajahnya.
Tristan tidak pernah menangis, namun hari ini ia akhirnya menangis setelah melihat wanita yang dicintainya tidak sadarkan diri.
"Tristan, cepat bawa Alea ke rumah sakit. Dia kehilangan banyak darah setelah dipukuli dua pria itu." Pinta Firda juga sambil menangis.
Tristan segera menggendong Alea, ia bisa merasakan tangannya basah ketika mengangkat tubuh istrinya.
Tristan akan mengurus Linda dan anak buahnya nanti, yang terpenting sekarang adalah istrinya.
"Mondy, jangan biarkan mereka lepas." Ucap Tristan kepada asistennya.
Mondy yang kala itu sedang menatap Alea langsung tersadar, ia mengangguk dengan sopan.
"Baik, Tuan." Balas Mondy.
Sementara itu Fade, pria itu segera mendekati Firda setelah membantu Mondy menahan Linda yang hendak kabur.
__ADS_1
Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan ia dekap dengan sangat erat. Firda tidak menolak, namun juga tidak membalas.
"Kita ke rumah sakit ya, wajah kamu luka dan ini semua." Ucap Fade dengan suara gemetar.
"Aku nggak apa-apa, Fad. Tapi adik aku, dia terluka parah." Balas Firda menangis.
Fade kembali memeluk Firda, ia lalu menggendong gadis itu dan mengajaknya pergi dari sana.
Sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu, Fade menatap Linda dengan tajam dan penuh kebencian.
"Kau akan mati dengan cara lebih sakit dari apa yang sudah kau lakukan pada Firda dan Alea, Linda." Ucap Fade penuh penekanan.
Linda mengepalkan tangannya, ia berteriak memanggil Fade dan meminta dilepaskan namun sayangnya tidak ada yang mau mendengar teriakan itu.
"Bawa mereka." Ucap Mondy pada anak buah Tristan.
Alea dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh Tristan, ada Fade dan juga Firda yang mengekor di belakangnya tadi. Saat ini Alea tengah ditangani oleh dokter.
Tristan sangat menyesal telah terlambat datang, ia memukul tembok yang ada di sana guna melampiaskan rasa kesalnya.
Linda tidak sebodoh yang ia kira, wanita itu membuang ponselnya ke sebuah tempat, sehingga saat dilacak Tristan dan anak buahnya tertipu.
Linda juga memakai plat nomor palsu sehingga Tristan tidak bisa melacak keberadaan mobil itu. Namun dengan usaha anak buahnya, Tristan berhasil menemukan tempat dimana Linda menyekap istrinya.
Tristan berusaha untuk bergerak cepat, tapi ia tetap terlambat dan kini istrinya sedang ditangani dokter karena keadaannya yang tidak baik-baik saja.
"Aku akan membunuh mereka semua!!" ucap Tristan hendak pergi, namun Fade buru-buru menahannya.
"Tristan! Ingatlah istrimu sekarang, kita bisa mengurus wanita itu nanti. Sekarang Alea lebih penting!" Ucap Fade berusaha menahan kepergian Tristan.
Tristan menepis tangan Fade, ia duduk di kursi tunggu lalu menjambak rambutnya sendiri.
Firda berjalan tertatih, ia berusaha untuk mendekati Tristan dengan dibantu oleh Fade yang memapahnya.
"Ini semua salahku, aku yang tidak bisa menjaga Alea. Maafkan aku, Tristan." Ucap Firda lirih.
Tristan tidak menyahut, ia hanya diam dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Tristan benar-benar hancur melihat keadaan istrinya tadi.
"Tristan, aku yakin Alea baik-baik saja." Tutur Fade seraya menepuk bahu pria yang sebenarnya adalah musuhnya.
Karena penculikan inilah mereka mau bekerja sama, jika tidak pasti mereka berdua tidak akan saling bicara seperti ini.
Firda yang menangis membuat Fade ikut sedih, ia memegang pipi Firda yang tampak merah dan sudah dipastikan itu adalah bekas tamparan.
"Kamu juga harus diperiksa dokter, Fir. Kita periksa sekarang ya," tutur Fade lembut.
Firda menggeleng, ia tidak mau kemana-mana sebelum mendengar kabar tentang kondisi adiknya.
Tidak lama kemudian pintu ruang periksa Alea terbuka, hal itu membuat Tristan bangkit lalu mendekati dokter dengan cepat.
"Dokter, bagaimana istri saya?" tanya Tristan tergesa-gesa.
Dokter menghela nafas, ia lalu menatap Tristan dan juga dua orang lainnya yang ada disana.
"Kondisi nyonya Alea kritis, ia kehilangan banyak darah dan butuh transfusi secepatnya." Jawab dokter menjelaskan dengan raut wajah sedih.
"Darah saya sama dengan adik saya, Dok." Ucap Firda dengan cepat.
__ADS_1
Dokter mengangguk. "Kita akan melakukan pemeriksaan dulu sebelum melakukan transfusi darah ya." Balas Dokter.
"Lalu, bayi dalam kandungan istri saya?" tanya Tristan lagi.
Dokter menggeleng. "Benturan keras membuat janin dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan. Istri anda mengalami keguguran," jawab dokter.
Firda menutup mulutnya, ia berjalan menjauh dari sana untuk menangis. Firda benar-benar merasa tidak berguna, adiknya kehilangan bayinya.
"Aku tidak berguna, hiks … Alea kehilangan anaknya karena aku tidak bisa berbuat apa-apa." Firda menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
Ia tidak bisa menahan air mata ketika mendengar dokter mengatakan bahwa janin dalam kandungan Alea tidak bisa diselamatkan.
Fade mendekati Firda, ia mengusap punggung gadis itu lalu menariknya ke dalam pelukannya. Fade pun turut sedih, apalagi melihat gadis yang ia cintai kini menangis seperti ini.
"Hiks … hiks … aku nggak berguna, aku nggak bisa apa-apa disaat Alea di siksa oleh anak buah Linda." Lirih Firda dengan suara begitu sesak.
Sementara Tristan, ia tidak kalah hancurnya dari Firda. Calon ayah mana yang tidak akan sedih ketika anak dalam kandungan istrinya tidak bisa diselamatkan.
Tristan kembali memukul tembok, ia benar-benar merasa bahwa apa yang ia miliki saat ini tidak berguna karena tidak bisa menyelamatkan anaknya.
Walaupun Tristan memiliki kekuasaan dan anak buah yang banyak, tapi ia tetap terlambat untuk datang menyelamatkan istrinya.
"Arghhh, dasar kau suami tidak berguna Tristan!!" erang Tristan penuh emosi kepada dirinya sendiri.
"Tristan!!" tegur Fade buru-buru mencegah Tristan yang hendak memukul tembok lagi.
Tristan melepaskan tangan Fade, ia lalu menerobos masuk ke dalam ruang periksa istrinya. Disanalah ia melihat istrinya terbaring tidak sadarkan diri dengan selang infus di tangannya.
Tristan merasa sesak, ia perlahan mendekati istrinya lalu memegang tangan wanita itu.
"S-sayang." Panggil Tristan gemetar.
Tristan menangis dengan tangan Alea sebagai tumpuan, ia seakan sedang mengucapkan maaf kepada Alea karena tidak bisa menyelamatkan anak mereka.
"Sayang, tolong maafkan aku. Aku minta maaf tidak bisa menyelamatkan anak kita," pinta Tristan dengan lirih.
Tristan mencium kening istrinya, ia menatap wajah Alea yang terdapat bekas luka yang sudah dibersihkan oleh dokter.
"Aku janji, Sayang. Aku janji akan menghukum orang-orang yang sudah membuat kamu seperti ini dengan hukuman yang jauh lebih menyakitkan." Ucap Tristan sungguh-sungguh.
"Aku akan membuat orang-orang itu membayar mahal atas kematian anak kita, Sayang." Tambah Tristan dengan dendam yang menggebu.
"Jangan, Tristan." Ucap Firda tiba-tiba yang berada diambang pintu.
Tristan menoleh, ia menatap bingung kakak iparnya yang baru saja melarang ucapannya.
"Kau tidak boleh membunuh Linda." Kata Firda lagi.
"Apa maksudmu?" tanya Tristan mengerutkan keningnya.
"Alea bersumpah akan membunuh Linda dengan tangannya sendiri, maka biarkan sumpah itu terpenuhi." Jawab Firda dengan tangan terkepal.
Tristan menatap Alea, ia kembali menggenggam tangan istrinya. Alea sampai bersumpah akan melenyapkan Linda dengan tangannya sendiri, itu artinya rasa sakit yang istrinya rasakan sangat besar.
"Sayang." Panggil Tristan lalu mencium kening Alea lagi dengan hangat.
HUKUMAN APA YA YANG COCOK BUAT LINDA🤧🤧
__ADS_1
Bersambung.................................