
Alea membuka matanya saat merasakan kecupan di seluruh wajahnya, ia menoleh ke samping dimana Tristan tampak sudah rapi dengan setelan nya ke kantor.
Jangan lupakan ketampanan pria itu yang paripurna, membuat Alea reflek langsung mengusap wajah suaminya.
Alea melenguh, ia mengangkat kedua tangannya dan langsung disambut baik oleh Tristan.
Tristan menarik kedua tangan istrinya sampai terduduk, lalu wanita itu langsung masuk ke dalam pelukan suaminya.
Baru beberapa saat Alea memeluk tubuh tegap suaminya, ia langsung di buat terkejut dengan rasa mual yang menyerangnya.
Uwekkk …
Alea berlari turun dari ranjang, ia masuk ke dalam kamar mandi tanpa menutup pintu dulu. Tristan yang khawatir pun tampak ikut menyusul, ia membantu memijat tengkuk Alea.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Tristan seraya mengusap punggung Alea.
Alea mencuci mulutnya, ia menatap Tristan lalu mendorong pria itu menjauh darinya. Sebelah tangan Alea memegangi hidung, tanda bahwa ia merasa terganggu akan aroma suaminya.
"Sayang, aku?" tanya Tristan ambigu.
Kepala Alea mengangguk, ia paham dengan pertanyaan dari Tristan barusan.
"Kamu pakai parfum apa sih, baunya bikin mual." Kata Alea protes.
Alea mengambil handuk bersih yang ada di sana, ia lalu membekap mulut dan hidungnya sendiri sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi, meninggalkan Tristan yang melongo tak percaya.
Tristan masih berdiri seperti patung, ia lalu mengangkat kedua tangan bergantian sambil mengendusnya dalam-dalam.
"Perasaan nggak bau, kenapa Alea jadi aneh begini." Gumam Tristan usai mencium aroma tubuhnya sendiri.
Tristan mencium bahwa ia sangat wangi, tentu saja karena parfum jutaan mikiknya tidak akan memancarkan bau yang murahan.
Tristan menghela nafas, ia lalu segera keluar untuk melihat istrinya yang kini sedang mengambil pakaian di dalam lemari.
"Sayang, aku nggak bau sama sekali. Kamu kenapa jadi aneh?" tanya Tristan dengan nada frustasi.
Alea menoleh. "Kamu bau, aku nggak suka. Pokoknya jangan dekat-dekat sama aku!!" jawab Alea dengan nada sedikit kesal.
Tristan mendekat. "Sayang …" rengek Tristan dengan manja.
Alea menggeleng, ia lalu berjalan sambil membawa bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi. Kali ini Alea mengunci pintunya agar Tristan tidak bisa masuk.
Tristan menggaruk pelipisnya, ia dibuat kelimpungan oleh penolakan istrinya pagi ini. Jelas-jelas ia tidak bau sama sekali, kenapa Alea malah bicara aneh.
"Alea Alea … kaya ibu hamil kamu tuh." Gumam Tristan gemas sendiri.
Tristan tertawa, namun setelah beberapa saat ia terdiam menyadari ucapannya sendiri. Tristan dibuat melongo sebentar kemudian berlari ke arah meja nakas.
Tristan mengambil kalender, ia meraba tiap deret angka di kalender tersebut dengan jari telunjuknya.
"Alea, dia telat datang tamu bulanan." Gumam Tristan.
Tristan masih terdiam, namun setelah beberapa saat ia tersenyum begitu lebar. Banyak dugaan positif di kepalanya tentang kondisi istrinya sekarang.
"Sayang!!!" Tristan berteriak kencang sambil menggedor pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Apa sih, Mas. Nanti dulu, aku masih mandi." Sahut Alea dari dalam.
Tristan berjalan mondar-mandir, ia tidak sabar melihat istrinya keluar dari kamar mandi dan akan langsung ia bopong ke rumah sakit untuk memeriksa keadaannya.
Tristan sangat berharap bahwa Alea benar-benar hamil, ia dan istrinya sudah cukup menderita karena kehilangan anak. Dan sekarang, Tristan benar-benar berdoa, semoga Alea memang sedang mengandung.
Tristan duduk di pinggir ranjang, ia menggigit ibu jarinya sendiri sambil terus menatap kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Alea keluar dengan sudah berpakaian. Rambutnya tampak masih tergulung oleh handuk.
"Sayang." Tristan hendak mendekati istrinya, namun Alea menolak.
"Mas, jangan ah. Aku mual banget," pinta Alea mengulurkan tangannya, meminta suaminya untuk tetap di tempatnya.
Tristan menekuk wajahnya, ia rasanya ingin menangis saja dengan penolakan istrinya.
"Sayang, kita ke rumah sakit." Ajak Tristan dengan semangat.
Alea membalik badan sambil terus mengeringkan rambutnya.
"Rumah sakit, Mas? Siapa yang sakit, apa mama?" tanya Alea dengan penuh kekhawatiran.
Tristan tersenyum, Alea benar-benar wanita yang baik. Bahkan setelah perlakuan kasar mama Saras pada dirinya, Alea tetap mengkhawatirkan kondisi mama mertuanya.
"Nggak, Sayang. Bukan mama, tapi pokoknya kita harus ke rumah sakit." Jawab Tristan.
Alea hanya manggut-manggut, ia akan ikut kemanapun suaminya mengajak. Asal bersama Tristan, ia tidak akan takut tersesat.
Setelah mengeringkan rambutnya, dan sedikit memoles makeup, Alea pun berjalan mendekati Tristan.
Alea menggandeng tangan suaminya, ia memasang senyuman penuh semangat.
Kening Tristan mengkerut, ia merasa aneh melihat perubahan sikap istrinya. Tadi tidak mau dekat-dekat sama sekali, tapi lihatlah sekarang.
"Udah nggak mual?" tanya Tristan.
"Nggak, aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba nggak mual lagi." Jawab Alea dengan jujur, ia juga kebingungan sendiri.
"Yaudah nggak apa-apa, malah bagus. Aku tersiksa kalo kamu nggak mau dekat-dekat aku." Timpal Tristan, membuat Alea tertawa pelan.
Tristan tidak banyak bicara, ia lalu mengajak istrinya untuk keluar dari kamar. Saat keduanya sudah sampai di luar, mereka berpapasan dengan seorang pelayan yang sepertinya mau datang ke kamar.
"Tuan, Nona. Ada nyonya dan tuan besar di bawah, mereka menunggu kalian." Ucap pelayan itu dengan sopan.
Mendadak senyuman di wajah Alea menghilang, kini wajahnya tampak tegang dengan mata menatap kesana kesini. Perasaan Alea tidak tenang.
"Jangan takut, Sayang. Ada aku, mereka datang kesini karena permintaanku." Tutur Tristan yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Alea.
Alea menghela nafas pelan, ia mengeratkan gandengan di tangan suaminya sebagai bentuk perlindungan yang sangat Alea butuhkan saat ini.
Tristan pun mengajak Alea, ia mengusap punggung tangan istrinya yang terasa gemetaran.
Saat sampai di lantai bawah, Alea sontak memejamkan matanya tatkala pandangannya bertabrakan dengan sorot mata tajam ibu mertuanya.
Alea dan Tristan berjalan mendekati keduanya, Alea benar-benar merasa sangat takut, bahkan rasa takutnya itu membuat perutnya kram.
__ADS_1
"Putraku tidak akan kemana-mana, kau tidak perlu terlalu erat menggandengnya." Ketus mama Saras menegur.
Alea hendak melepaskan gandengan di tangan Tristan, namun ia dilarang oleh suaminya dengan gelengan kepala.
"Maksud kamu apa, Tristan? Begitu cara kamu meminta kami datang?" ucap papa Jaya dengan nada langsung tinggi.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Tristan dengan tenang dan santai.
"Tristan, jangan lupa bahwa mama ini ibu kamu, orang yang melahirkan kamu. Kamu berani mengirim pesan kasar kepada mama hanya demi dia!" bentak mama Saras seraya menunjuk Alea.
"Dia istriku, Ma. Dia menantu Mama, menantu keluarga Kusuma." Tegur Tristan, masih dengan nada yang begitu tenang.
"Kamu nggak malu, Tristan. Perempuan ini awalnya mau menghancurkan kamu, dia mau berpura-pura menggoda dan merusak rumah tangga–" ucapan papa Jaya terhenti karena Tristan.
"Rumah tangga siapa? Aku dan Linda, rumah tangga itu memang sudah hancur sejak lama. Dan Alea, dia bukan perempuan seperti pikiran papa." Potong Tristan dengan cepat.
"Tristan! Kamu benar-benar menjadi anak yang kurang ajar, apa begini cara istrimu mengajarimu?" tanya mama Saras.
Emosi mama Saras sudah meledak-ledak saat mendapat telepon dari Tristan semalam. Putranya sendiri memarahinya hanya karena membuat tangan Alea terluka sedikit.
"Mama hanya melukai sedikit tangannya, jika saja mama hilang kendali, mama bisa membunuhnya kemarin!" tambah mama Saras dengan emosi semakin tinggi.
"MAMA!!" tegur Tristan dengan nada semakin tinggi. Sejak tadi ia menahan untuk tidak membentak sang mama, tapi pada akhirnya lepas juga.
"Apa? Kamu mau melawan mama demi perempuan murahan ini?" tanya mama Saras menunjuk Alea.
Alea menangis, ia menundukkan kepalanya tanpa berani menatap siapapun yang ada di sana.
Alea menggenggam bajunya di bagian perut, kram di perutnya semakin terasa saja, bahkan sejak semalam.
"Ma, dia istriku." Kata Tristan penuh penekanan.
"Dan dia mama kamu, Tristan. Wanita yang sudah melahirkan, membesarkan dan mendidik kamu sampai jadi seperti ini. Jadi begini balasanmu pada kami?" tanya papa Jaya.
Mama Saras mendekati Alea, ia mengepalkan tangannya dengan perasaan benci yang semakin besar.
"Kamu benar-benar wanita tidak tahu malu, wanita murahan dan perusak keluarga orang lain. Aku benar-benar membencimu, aku tidak akan pernah sudi menerimamu sebagai menantu!" bentak mama Saras dengan mata berkaca-kaca dan sarat akan kebencian.
Alea semakin menangis, ia memejamkan matanya dengan rasa sakit yang kian bertambah. Alea memegangi tangan suaminya.
"Mas, perut aku sakit … awww …" Alea terus meringis.
"Sayang, hei. Ada apa?" tanya Tristan lembut, tangannya mengusap-usap wajah cantik istrinya.
"Akhhh hiks … sakit, Mas!!" ucap Alea semakin keras.
Tristan hendak menggendong Alea, namun gerakannya langsung terhenti ketika melihat darah yang mengalir di paha dan terus ke bawah kaki istrinya.
"Sayang, tenanglah." Bisik Tristan lalu menggendong dan membawa Alea keluar rumah.
Kedua orang tua Tristan sama terkejutnya dengan putra mereka tadi saat melihat darah di kaki Alea.
"Pa, apa wanita itu sedang hamil?" tanya mama Saras, terlihat rasa takut di matanya.
"Entahlah, Ma." Jawab papa Jaya pelan.
__ADS_1
HAYOLOHHHH🥲
Bersambung................................