
Tristan kembali dari rumah orang tuanya, ia pulang ke rumah yang ia tempati bersama perempuan yang tidak lain adalah istrinya, istri yang tidak pernah dianggap selama ini.
Tristan membuka pintu kamar Linda dengan kasar sampai terdengar bunyi hantaman yang keras.
"Linda!" panggil Tristan berteriak.
Tristan tidak menemukan siapapun di kamar itu, ia bahkan sudah mengecek kamar mandi dan hasilnya sama. Tidak ada siapapun disana.
Tristan mengepalkan tangannya, ia pun keluar dari kamar itu lalu kembali turun ke lantai bawah.
"Bi!!" panggil Tristan dengan nafas memburu.
Tiga orang pelayan langsung berlari dengan tergopoh-gopoh tatkala mendengar panggilan dari bos mereka.
"Kami, Tuan." Ucap salah satu dari ketiga pelayan itu.
"Dimana Linda?" Tanya Tristan pelan dengan penuh penekanan.
"Nyonya belum pulang sejak pagi, Tuan." Jawab mereka bergantian.
"Nyonya bilang beliau ada urusan, tapi tidak mengatakan kemana perginya." Tambah yang lainnya menjelaskan.
Tristan mengepalkan tangannya, ia benar-benar sangat emosi saat ini, namun Linda malah tidak ada di sana.
"Jangan biarkan dia keluar sampai saya pulang besok!" Ucap Tristan tegas.
Tristan pun keluar dari rumahnya yang besar itu, ia yakin bahwa Linda tidak akan pulang malam ini, tapi akan pulang besok.
"Kita ke apartemen." Ucap Tristan singkat.
Mondy yang berdiri di dekat pintu lantas membukakan pintu untuk bosnya, kemudian disusul olehnya yang duduk di kursi kemudi.
Mondy melirik Tristan melalui kaca ditengah mobil, ia benar-benar melihat kilatan amarah di mata Tristan, dan tentu saja itu karena Linda.
Hari ini Mondy tahu apa yang dilakukan istri bosnya itu di kantor, bahkan sampai menghabiskan waktu hampir 2 jam di dalam ruangan bosnya.
"Sial, lihat bagaimana aku akan membuat wajahnya malu di depan kedua orang tuaku." Ucap Tristan penuh penekanan.
Mobil yang Mondy kendarai sampai di apartemen, namun pria itu tidak ikut turun bersama bosnya.
"Jemput aku pagi-pagi besok." Ucap Tristan singkat, lalu pergi keluar dari mobil.
Mondy menghela nafas, ia hanya bisa mematuhi perintah bosnya saja. Mondy pun berlalu meninggalkan area apartemen mewah itu.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul 9 malam, Tristan harus memastikan bahwa Alea sudah ada di apartemen, karena waktu yang ia berikan kepada wanita itu untuk pulang dari rumah kakaknya hanya sampai jam 8 malam.
Lift terbuka saat dirinya sampai pada lantai tujuan, pria itu langsung masuk ke dalam apartemen dengan akses finger print nya.
"Alea." Panggil Tristan ditengah kegelapan ruangan.
Tristan mencari-cari stopkontak, ia lalu menekannya hingga lampu pun menyala. Keheningan langsung datang menghampiri Tristan, hal itu menandakan jika belum ada penghuni yang kembali ke sana.
"Alea." Panggil Tristan lagi.
Tristan memeriksa kamar dan kamar mandi, ternyata tidak ada siapapun disana.
Alea belum kembali.
"Kenapa semua orang membuatku kesal hari ini. Alea benar-benar keterlaluan!" geram Tristan mengepalkan tangannya dengan nafas yang semakin tersengal-sengal.
Tristan membuka jas miliknya dan melemparnya asal ke sofa, ia juga membuka tiga kancing kemejanya, dan kancing di bagian lengan, setelah itu menggulungnya sampai sikut.
Tristan pergi ke dapur, ia membuka kulkas dan mengambil minuman dingin dari sana.
"Lihat apa yang akan aku lakukan pada wanita itu nanti." Geram Tristan seraya meremass kaleng hingga tidak berbentuk.
Tristan kembali ke ruang tamu, ia duduk lalu melihat ponselnya yang tidak mendapatkan telepon ataupun pesan dari Alea yang meminta izin telat atau apapun itu.
Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu apartemen yang teebuka. Tristan menoleh, ia melihat Alea masuk dengan wajah takutnya.
Alea sendiri belum menyadari kehadiran Tristan disana, ataupun sadar akan ruangan terang padahal ia mematikan lampunya ketika berangkat bekerja tadi.
"Bagus sekali, pulang terlambat dan melanggar ucapanku." Kata Tristan tanpa menatap Alea.
Tubuh Alea menegang, ia sontak menghentikan langkahnya lalu menoleh. Saat itulah Alea sadar bahwa Tristan ada disana.
"P-pak Tristan, sejak kapan anda disana?" tanya Alea terbata dan gugup.
Tristan meletakkan ponselnya, ia bangkit dari duduknya, lalu mendekati Alea dengan tatapan tajam dan menusuk seperti biasanya.
Tristan mengambil tas yang Alea bawa lalu melemparnya ke sembarang arah. Tristan tidak peduli pada isi tas wanita dihadapannya.
"Kau melanggar ucapanku, Alea!" Bentak Tristan di depan wajah wanita itu.
Tristan mencengkram kedua bahu Alea dengan kasar, bahkan sampai membuat wanita itu kesakitan.
"M-maaf, Pak. S-saya terlalu asik dengan kakak saya, sampai lupa waktu." Ucap Alea dengan bibir gemetar dan mata terpejam.
__ADS_1
Tristan semakin mencengkram kedua sisi bahu Alea.
"Tahu diri kau, Azzalea. Kau hidup di bawah kendaliku, maka patuhi kata-kataku." Tekan Tristan mengingatkan.
Cengkraman Tristan beralih ke wajah cantik Alea. Ia mencengkram wajah itu sampai Alea meringis kesakitan.
"Shhh … sakit, Pak." Cicit Alea pelan.
"Sakit? Lalu bagaimana denganku hah?! Mamaku bicara kasar tadi, dan itu karena dirimu, sialan." Umpat Tristan semakin mencengkram wajah Alea.
Sementara Alea, ia tidak paham dengan kata-kata Tristan barusan.
"Kau tidak tahu diri, tidak tahu terima kasih dan selalu menyusahkan. Kau benar-benar membuatku kesulitan dalam segala hal!" teriak Tristan kemudian mendorong tubuh Alea dengan kasar.
Tubuh Alea terhempas ke belakang karena dorongan Tristan, bahkan tanpa sadar Tristan mendorong Alea ke arah vas besar sampai pecah dengan tubuh Alea di atasnya.
"Akhhh." Ringis Alea kesakitan ketika merasakan pecahan vas itu menusuk beberapa titik tubuhnya.
Mendengar suara itu membuat Tristan tersadar lalu menatap Alea yang tergelatak diatas pecahan vas.
"Alea." Panggil Tristan terkejut.
Tristan mendekati Alea, ia membalik badan wanita itu dan ternyata kening, tangan dan lutut wanita itu berdarah.
"S-sakit, Pak." Lirih Alea dengan tatapan lemah ke arah Tristan.
Alea lalu tidak sadarkan diri dalam pelukan Tristan semakin panik, apalagi wajah wanita itu yang sudah merah penuh darah.
"Alea … Alea, buka matamu!" Pinta Tristan menepuk-nepuk pipi Alea.
Tristan benar-benar takut dan khawatir, ia menggendong Alea dan membahayakan kamar.
"Alea, aku mohon bangunlah. Alea, maafkan aku." Ucap Tristan dengan panik.
Tristan keluar dari kamar untuk mengambil ponselnya, ia menghubungi dokter untuk datang ke apartemen dan memeriksa serta mengobati Alea.
Tristan berteriak keras, ia benar-benar tidak sadar jika wanita yang sejak tadi ada dihadapannya adalah Alea. Ia yang terbawa emosi pada Linda, melihat Alea adalah Linda sehingga ia tidak segan menyiksa wanita itu.
"Arghhhh … sialann!!" teriak Tristan mengumpat.
MBAK ALEA, SABAR YAA MENERIMA AMARAH SALAH SASARAN DARI TRISTAN 😫😫
Bersambung...................................
__ADS_1