Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Siapa gadis itu?


__ADS_3

Setelah di rawat selama 2 hari, akhirnya hari ini Alea sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Alea sudah sangat tidak sabar untuk pulang, ia bosan berada di rumah sakit.


Tristan tentu saja ada untuk membantu istrinya pulang. Meski pekerjaaan nya di kantor banyak, ia tetap menyempatkan waktu untuk menjemput istrinya di rumah sakit dan mengantarnya pulang ke rumah utama.


Oh iya, Tristan tidak akan mengantar Alea ke apartemen, melainkan ke rumah utama. Ia tidak mau mengambil resiko dengan meninggalkan Alea seorang diri.


Sementara ia dan Alea akan tinggal di rumah utama sampai Mondy menemukan pengawal yang cocok untuk istrinya.


"Mas, apa harus di rumah utama?" tanya Alea.


Alea sebenernya sedikit keberatan jika mereka harus tinggal di rumah utama, ia takut saja kedua orang tua suaminya sewaktu-waktu datang.


"Iya, Sayang. Aku nggak mau ambil resiko dengan meninggalkan kamu sendiri di apartemen." Jawab Tristan lembut.


"Tapi papa dan mama kamu?" tanya Alea dengan kepala tertunduk.


Tristan memegang dagu istrinya lalu mengangkatnya, ia mencium bibir Alea singkat. Seperti biasa, Tristan tidak akan malu pada Mondy.


"Jangan pikirkan soal itu, kedua orang tuaku tidak akan sembarangan datang kesana Sayang." Jawab Tristan.


Alea akhirnya manut, ia memeluk Tristan dengan erat, tidak lupa membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


Tangan Alea meraba perut, ia masih belum mengikhlaskan kepergian bayi dalam kandungannya.


"Sayang." Tristan mengusap bahu Alea lalu mencium puncak kepala istrinya.


Melihat Alea yang hanya diam membuat Tristan mengerti bahwa istrinya itu sangat takut kepada kedua orang tuanya.


Alea bukan hanya takut, tapi juga sakit hati. Bagaimanapun kedua orang tua Tristan adalah mertuanya, orang tuanya juga jadi mana mungkin ia akan melawan.


"Tapi aku masih boleh kan ajak kak Firda kesana?" Tanya Alea mendongakkan kepalanya.


"Boleh, Sayang." Jawab Tristan mengangguk-angguk.


Alea tersenyum senang, ia kembali memeluk suaminya erat.


Tanpa terasa akhirnya mereka sampai di rumah utama, ini kali kedua Alea datang kesana dan seperti sebelumnya ia akan disambut oleh para pelayan disana.


"Selamat datang, Nona muda." Ucap para pelayan dengan sopan dan kompak.


Alea tersenyum, ia menganggukkan kepalanya dengan tidak kalah sopan.


"Terima kasih." Balas Alea ramah.


"Saya dan istri saya akan tinggal disini, jadi kalian semua saya minta tolong jaga dan layani istri saya sebaik mungkin." Ucap Tristan pada semua pekerja dirumahnya.

__ADS_1


"Baik, Tuan muda." Balas semuanya dengan kompak dan serempak.


Tristan pun mengajak Alea masuk ke dalam rumah, ia membawa istrinya ke kamar utama di rumah itu.


Kamar yang sebelumnya ditempati oleh Linda sudah di bersihkan, bahkan barang-barang bekas wanita itu sudah Tristan suruh para pelayan untuk membuatnya.


Kini kamar bekas Linda sudah di kunci, tidak ada barang apapun disana.


"Aku harus berangkat ke kantor karena ada pertemuan penting, kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?" tanya Tristan seraya mengusap wajah cantik istrinya.


Alea mengangguk, sebenarnya ada pertanyaan yang ingin Alea lontarkan, namun ia ragu untuk menanyakannya, apalagi suaminya tampak terburu-buru.


"Iya, Mas. Aku nggak apa-apa kok," jawab Alea dengan suara halus.


Tristan menunduk, ia mencium bibir Alea yang terpaksa harus mendongakkan kepalanya karena Tristan berdiri.


Tristan menangkup wajah Alea, ia seakan tidak mau melepaskan pangutan bibir keduanya. Tristan rindu istrinya, namun ia sadar bahwa Alea masih sakit.


"Aku nggak lembur kok, aku langsung berangkat ya Sayang." Ucap Tristan pamit.


Alea mengangguk, ia mencium punggung tangan suaminya seperti biasa.


"Hati-hati ya, Mas. Aku tunggu kamu pulang," kata Alea.


Tristan pun pergi meninggalkan Alea di kamar mewah itu. Sejujurnya ia berat meninggalkan istrinya, namun ia harus melakukan itu karena ada pekerjaan penting di kantor.


"Mas." Panggil Alea setelah beberapa saat menunggu suaminya keluar dari rumah.


Tristan mendongak, ia tersenyum melihat istrinya lalu membalas lambaian tangan yang Alea lakukan.


"Istirahat, Sayang." Tutur Tristan dan Alea hanya tersenyum.


"Om!!!"


Alea sontak menoleh ke asal suara tatkala telinganya mendengar suara wanita dari arah yang masih bisa ia jangkau dengan penglihatannya.


Alea mengerutkan keningnya ketika melihat gadis muda berlari ke arah suaminya.


"Om? Dia siapanya mas Tristan?" gumam Alea bertanya-tanya.


Namun Alea salah, gadis muda itu bukan menghampiri suaminya tapi menghampiri Mondy yang berdiri di belakang Tristan.


"Om!!" sapa Aira dengan senyuman merekah.


Mondy melototkan matanya, ia menatap tidak enak pada Tristan dan Alea yang memperhatikan mereka dari atas.

__ADS_1


"Ada apa?" sahut Mondy dingin.


"Nggak ada apa-apa, cuma kangen aja sama Om." Jawab Aira dengan jujur dan begitu polos.


Tristan menghela nafas, ia mendongak memperhatikan istrinya yang tampak penasaran.


"Siapa?" tanya Alea tanpa suara kepada sang suami.


Tristan hanya mengangkat kedua bahunya, tanda bahwa ia tidak tahu. Itu adalah urusan Mondy, sang asisten pribadi.


"Kita harus segera berangkat." Sindir Tristan.


Mondy tersadar, ia buru-buru membuka pintu mobil dan mempersilahkan Tristan masuk.


"Halo, Tuan Tristan." Sapa Aira melambaikan tangannya.


Tristan tidak menyahut, ia langsung masuk dan menutup pintu mobilnya.


"Lanjutkan pekerjaanmu, atau aku kembalikan dirimu ke tempat dimana aku menemukanmu." Bisik Mondy mengancam.


Aira melototkan matanya ketakutan, ia langsung berlari masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.


Aira tidak mau sampai kembali dan dinikahi oleh kakek tua.


Mondy hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis yang ia temukan malam itu dan kini bekerja di rumah tuannya.


Mondy buru-buru masuk ke dalam mobil, ia harus segera sampai di kantor karena ada pertemuan penting bersama Tristan juga pastinya.


Sementara Alea, ia begitu penasaran siapa gadis yang tadi memanggil Mondy dengan sebutan om itu. Apalagi gadis itu terlihat masih sangat belia.


Alea yang disuruh istirahat oleh Tristan malah keluar dari kamar, ia berjalan menuruni anak tangga untuk mencari keberadaan gadis muda tadi.


"Nona muda, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan langsung sigap menghampiri Alea.


"Eumm, tidak. Aku hanya mau tanya, apa ada pelayan baru di rumah ini?" tanya Alea ragu-ragu.


Pelayan bernama Mirna itu mengangguk. "Ada, Nona. Pak Mondy yang membawanya kesini," jawab Mirna dengan kepala masih tertunduk.


Alea manggut-manggut. "Baiklah, terima kasih ya. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu," tutur Alea dengan senyuman ramah.


Pelayan itupun pergi meninggalkan Alea.


"Pak Mondy bawa gadis itu kesini, tapi siapa?" gumam Alea bertanya-tanya, entah kenapa ia begitu penasaran.


Alea mengangkat bahunya, ia memilih untuk kembali ke kamarnya saja. Mungkin ia akan bertanya pada suaminya nanti.

__ADS_1


BAB PERTAMA DI 2023, KALIAN HEALING KEMANA GUYS??


Bersambung...............................


__ADS_2