Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Teringat Firda terus


__ADS_3

Tengah malam Fade terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara dering ponsel. Tangannya mengambil ponsel di atas nakas, kemudian mengangkat panggilan dari nama kontak 'Linda' dilengkapi dengan emoticon hati berwarna merah.


Fade menghela nafas, ia segera mengangkat panggilan itu. Ia sudah menunggu sejak tadi, namun kekasihnya itu tidak kunjung datang.


"Kamu dimana, Linda?" tanya Fade langsung setelah jarinya menekan tombol hijau.


"Maaf, Sayang. Malam ini aku tidak pulang, temanku baru saja putus dari kekasihnya, dan dia butuh teman."


"Maksudmu kau mau menemaninya, begitu?" tanya Fade serak.


"Iya, aku akan kembali besok pagi. Boleh kan, Sayang?"


"Baiklah, jaga dirimu. Selamat malam," jawab Fade cuek lalu menutup teleponnya secara sepihak.


Fade melirik jam di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Kepalanya sakit sekali setelah dirinya minum-minum tadi malam.


Fade bangkit dari tempat tidur, ia memilih untuk ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Ia tidak akan bisa kembali tidur, apalagi kepalanya sakit begini.


"Shhh, apa yang harus aku minum untuk meredakan sakit kepala ini." Gumam Fade menjambak rambutnya sendiri.


Fade terdiam beberapa saat, ia menatap dirinya di cermin besar yang ada di hadapannya saat ini. Wajah tampan nya tampak sedikit pucat, dengan mata merah dan berair.


"Jika kamu sedang sakit kepala, minum teh jahe, Fad."


"Aku akan buatkan bubur, kamu harus makan agar pusingmu segera hilang."


Fade teringat pada ucapan Firda yang selalu menasehati dirinya ketika dirinya jatuh sakit. Firda marah, namun ia juga melayani dan merawatnya sampai sembuh.


Fade masih sangat ingat ketika dirinya dulu kepergok minum-minum dengan temannya, Firda murka bahkan mau mengakhiri hubungan mereka.


"Aku mau putus saja, berapa kali aku harus mengatakan bilang sama kamu jika alkohol itu berbahaya." Ucap Firda dengan tangan yang terlipat di dada.


Fade meraih tangan kekasihnya, ia menggenggam tangan itu lalu menciumnya berulang kali.


"Maaf, Sayang. Janji nggak lagi-lagi, tapi jangan putus. Aku nggak mau," pinta Fade dengan wajah yang memelas.


Firda menghela nafas. Entah kenapa ia sulit sekali untuk marah pada pria manja di hadapannya ini. Firda sudah bucin tololl memang jika dengan Fade.


"Tiduran." Ketus Firda.


Fade melongo. "Ngapain, kamu nggak niat bunuh aku kan?" tanya Fade dengan wajah penuh tanya.


"Kalo kamu nggak tiduran, aku bunuh beneran kamu." Jawab Firda serius.


Fade hendak bicara, namun ia tiba-tiba merasa perutnya seperti di kocok. Fade berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah.


Firda mengekor, ia memijat tengkuk kekasihnya itu dengan penuh perasaan.


Gerakan tangannya terasa lembut, namun bibirnya pedas sekali bicaranya.


"Tuh lihat! emang enak kaya gini." Ketus Firda seraya memijat dan mempuk-puk punggung kekasihnya.


"Kamu tuh nyiksa diri tahu nggak. Kalo nggak sayang sama diri sendiri, setidaknya ingat orang tua kamu, ingat aku!" Tambah Firda.

__ADS_1


Fade mencuci mulutnya sendiri, ia lalu membalik badan dan memeluk tubuh kekasihnya dengan sangat manja.


"Benar nggak lagi-lagi, Sayang. Udah dong marahnya, aku kan lagi sakit." Kata Fade.


Firda menghela nafas sabar, ia mengusap dadanya agar bisa lapang menerima segala sikap manja kekasihnya.


Firda pun membantu Fade untuk berbaring diatas ranjang, ia juga menyelimuti pria itu sampai batas perut saja.


"Pusing pasti kepalanya?" tanya Firda menebak.


Fade mengangguk dengan wajah polosnya, membuat Firda gemas dan ingin sekali menamparnya.


"Kamu kalo lagi pusing, minum teh jahe." Ucap Firda memberitahu.


"Tunggu disini ya, aku buatkan dulu sekalian sama bubur. Kamu harus makan supaya cepat sembuh!" tambah Firda lalu beranjak dari kamar apartemen Fade.


Fade menatap kepergian kekasihnya dengan senyuman lebar, ia bersyukur sekali memiliki kekasih yang sangat perhatian seperti Firda.


"Aku semakin yakin untuk membawa kamu ke jenjang pernikahan, Fir. Kamu yang terbaik, dan kamu cuma punya aku." Gumam Fade.


Fade meninju kaca di depannya hingga pecah dan menyisakan luka di tangan pria itu. Darah yang keluar mulai menetes dan sedikit menempel pada kaca yang bentuknya sudah tidak beraturan.


"Brengsekk!!" umpat Fade mengacak-acak rambutnya.


Fade kesal, entah mengapa ia harus mengingat Firda saat ini. Kenapa bukan Linda.


Fade akui memang saat berpacaran dengan Linda dulu, wanita itu tidak memiliki rasa peduli dan perhatian seperti Firda.


Tapi perhatian dan peduli apa gunanya jika sikap di balik itu semua sangat menjijikan.


Sakit di kepalanya masih belum, sehingga ia memutuskan untuk membuat teh jahe. Minuman yang biasa Firda buat untuk menghilangkan rasa sakit kepalanya dulu.


Fade mengambil teh jahe kemasan yang ia punya, ia yakin sekali bahwa rasanya akan beda. Sebab Firda membuat teh jahe secara alami, bukan kemasan seperti ini.


"Firda Firda Firda, lupakan gadis itu." Geram Fade dengan tangan terkepal.


Apartemen ini masih sama dengan apartemen saat dirinya dan Firda menjalin hubungan dulu, sehingga setiap tempat yang ada di apartemen itu memiliki kisah masa lalu tersendiri.


"Fad, jangan buat aku melemparkan spatula panas ini ke wajah kamu ya!"


Ucapan Firda di setiap tempat terus berputar di telinga dan ingatan Fade. Pria itu benar-benar terusan terbayang akan sosok gadis yang dulu sangat ia cintai.


Fade berusaha untuk tidak peduli, ia membawa segelas teh jahe yang telah ia buat dan meminumnya perlahan.


Benar kan, rasanya berbeda dari buatan Firda dulu.


Keesokan harinya, Fade terbangun dan mendapati dirinya tertidur di sofa ruang tamu. Ia ingat semalam habis minum teh, ia langsung jatuh tertidur bahkan sampai tidak sempat untuk pergi ke kamarnya.


Fade bangkit, ia harus segera bersiap untuk pergi ke kantor karena hari ini ia ada meeting penting dengan klien.


Saat kaki Fade melangkah menuju kamar, ia mendengar suara pintu apartemen terbuka di susul oleh suara roda yang berjalan.


"Sayang!!!" Linda membuka tangannya lebar ketika melihat kekasihnya.

__ADS_1


Fade membaik badan. Linda datang dengan koper besar di tangannya, hal yang menandakan jika wanita itu telah pergi dari rumah suaminya.


Linda mendekat, wanita itu memeluk tubuh kekasihnya dengan sangat erat, namun tidak mendapatkan balasan apapun dari Fade.


"Wajah kamu pucat sekali, kamu sudah makan?" Tanya Linda seraya mengusap wajah tampan kekasihnya.


Fade memegang tangan Linda, ia tersenyum lebar mendengar kepedulian Linda barusan. Sedikit rasa lega karena ternyata Linda masih punya perhatian untuknya.


"Belum, bagaimana jika kita makan bubur?" tanya Fade mengusulkan.


"Boleh, Sayang. Aku akan memesannya, sementara itu kamu lebih baik bersiap." Jawab Linda.


Fade mengangguk, ia pun segera pergi ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap. Sementara Linda akan memesan bubur via online.


20 menit kemudian, Fade keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi. Ia sudah siap pergi ke kantor, namun sebelum itu ia harus sarapan dulu dengan kekasihnya.


Saat sampai di meja makan, Fade melihat satu porsi bubur ayam sudah ada di sana. Linda pun ada disana sedang menunggunya.


"Ayo makan!" ajak Linda dengan antusias.


Fade duduk di depan Linda. Mereka pun menikmati bubur itu bersama-sama. Fade diam-diam menatap Linda, ia berusaha untuk menemukan sesuatu yang bisa membuat hatinya lega.


Sejak mendengar ucapan Firda kemarin, hatinya mulai resah dan tidak tenang. Ia merasa telah melakukan sebuah kesalahan, namun ia tidak tahu apa.


"Kamu semalam menginap dimana?" tanya Fade seraya menyuap bubur ke dalam mulutnya.


Linda tiba-tiba tersedak, wanita itu meraih segelas air lalu menenggaknya sampai tersisa setengah.


"Aku? Aku menginap di apartemen temanku." Jawab Linda sedikit terbata.


Fade manggut-manggut, ia tidak akan bertanya banyak hal kepada Linda, karena ia ingin sekali percaya pada kekasihnya itu, namun hatinya tidak mengizinkan.


"Apa kegiatan kamu hari ini, apa ada pemotretan?" tanya Fade lagi.


"Tidak ada, aku hanya ingun istirahat di rumah." Jawab Linda seraya memijat tengkuknya.


Fade manggut-manggut. Ia pun bangkit dari duduknya setelah sarapan sudah selesai.


Sebelum berangkat, tentu saja Linda akan memeluk dan mencium pipi kekasihnya dulu, dan dibalas Fade dengan mengecup keningnya.


Linda selalu senang setiap kali Fade menciumnya, meski hanya di kening saja. Entah kenapa pria itu selalu saja menolak jika ciuman di bibir.


"Hati-hati, Sayang." Ucap Linda melambaikan tangannya.


Fade tersenyum, ia membalas lambaian tangan kekasihnya lalu benar-benar pergi dari apartemennya.


Sebelum memasuki lift, tiba-tiba Fade mendapatkan telepon dari orang suruhannya.


"Ke kantorku di jam makan siang." Kata Fade lalu menutup teleponnya sepihak.


DUHH GIMANA YAAA KALO KEBUSUKAN LINDA TERBONGKAR 😰


Bersambung.....................................

__ADS_1


Note. Tulisan bercetak miring adalah flashback, percakapan telepon atau ucapan dalam hati yaa🤗


__ADS_2