
Karena pria tadi, malam ini Tristan gagal romantisan dengan Alea. Namun hal itu tidak menutup Tristan untuk putus asa, ia masih memiliki banyak hal yang akan ia tunjukkan kepada Alea.
Kini mereka berdua sedang ada di love anchor, keduanya sedang memilih barang-barang yang akan mereka beli untuk dibawa sebagai oleh-oleh.
"Pak, baju ini cocok kan untuk pak Mondy?" tanya Alea menunjukkan sebuah kaos hitam yang menurut Alea bagus.
Tristan segera merebut baju itu, ia menyipitkan matanya melihat Alea yang mengingat Mondy bahkan sampai mau membelikan baju.
"Tidak." Jawab Tristan ketus.
Alea mengerutkan keningnya, ia heran melihat Tristan yang tiba-tiba saja seperti orang marah, padahal ia sedang tidak melakukan apapun.
"Anda kenapa, Pak?" tanya Alea.
"Biar aku yang membelikan Mondy oleh-oleh, kau cukup beli untuk dirimu sendiri dan kakakmu." Jawab Tristan ketus.
Meskipun heran, Alea tidak banyak protes. Ia akhirnya membeli barang-barang untuknya sendiri, dan tentu saja untuk kakaknya juga.
Tristan sendiri menggerutu, kenapa Alea harus selalu mengingat tentang Mondy. Tristan tidak suka, Alea hanya boleh mengingat satu pria, yaitu dirinya.
"Pak, baju ini cocok untuk anda. Boleh saya belikan?" tanya Alea menunjukkan sebuah kemaja berwarna army.
Tristan yang tadi menggerutu, tiba-tiba saja tersenyum lebar. Hal itu tentu saja membuat Alea ikut tersenyum, meksipun heran.
Tristan menjatuhkan keranjang pakaian yang ia pilih dan akan ia beli ke lantai, lalu mendekati Alea.
Tristan menarik tengkuk wanita itu dan mencium bibirnya dengan dalam, namun cukup singkat karena Alea memukul bahunya.
"Ini tempat umum, Tristan Sagara!" kesal Alea sampai berani memanggil Tristan dengan namanya saja.
Tristan terkekeh, ia mencubit kedua pipi Alea dengan gemas. Bukan hanya ekspresi wajahnya saja yang membuat Tristan gemas, tapi juga cara wanita itu memanggilnya.
"Kau tahu? Dirimu sangat menggemaskan." Ucap Tristan lalu mencium sudut bibir Alea dengan cepat.
"Pak!" Tegur Alea kesal.
"Apa, Sayang?" tanya Tristan dengan suara yang deep voice.
Alea memilih untuk mencari barang lain, daripada ia meleleh seperti ice cream jika terus mendengarkan ocehan Tristan.
Baik Alea maupun Tristan segera membayar belanjaan mereka. Semua belanjaan itu tentu saja dibayar oleh Tristan, sementara Alea tidak dibiarkan untuk mengeluarkan uang sepeserpun.
"Pak, terima kasih." Ucap Alea tersenyum lebar.
"Untuk apa?" Tanya Tristan seraya memakai seatbelt nya.
"Untuk malam ini." Jawab Alea.
Tristan menggeleng, ia tidak mau menerima ucapan terima kasih sekarang, karena dirinya masih memiliki banyak kejutan lagi.
"Jangan sekarang, masih ada beberapa hal yang harus aku tunjukkan, sekaligus aku akan menjawab pertanyaan mu sebelum kita ke restoran tadi." Ucap Tristan lalu mengemudikan mobilnya meninggalkan parkiran.
__ADS_1
Alea mengerutkan keningnya, ia mencoba mengingat pertanyaan apa yang ia tanyakan sebelum ke restoran tadi.
'Kapan anda bosan dengan tubuh saya?'
Alea ingat, itulah kalimat pertanyaan yang ia lontarkan kepada Tristan tadi.
"Sudah mengingatnya, Sayang?" tanya Tristan dengan wajah yang menyebalkan.
"Iya, Pak. Saya ingat," jawab Alea mengangguk singkat.
Tristan tersenyum simpul, ia benar-benar akan memberikan jawaban atas ucapan Alea tadi. Ia akan memberikan jawaban sejujur-jujurnya.
Mobil Tristan berhenti di pinggiran pantai, ia sebenarnya kesal pada dirinya sendiri, sebah sejak awal mereka datang, hanya pantai dan pantai yang mereka kunjungi.
Tristan awalnya ingin mengajak Alea mengeksplore wisata di Bali, namun waktu yang mereka miliki tidak banyak.
Tristan keluar dari mobilnya tanpa mengatakan apapun, ia duduk di kap mobilnya dan menunggu Alea menyusul untuk keluar.
Benar saja, tidak lama kemudian Alea keluar dari mobil dan menyusul Tristan. Ia hendak duduk seperti Tristan, namun tidak bisa karena dress yang ia gunakan berbahan licin.
Tristan tertawa melihat usaha Alea yang ingin duduk di kap mobil sepertinya, namun tidak berhasil. Hal itu membuat Alea langsung menekuk wajahnya.
Tristan segera turun, ia meletakkan kedua tangannya di sela-sela ketiak Alea, lalu mengangkatnya untuk duduk di atas kap mobil.
Tristan yang tinggi, sementara Alea yang mungil membuat Tristan seperti sedang membantu anak kecil untuk duduk.
"Terima kasih." Ucap Alea dengan penuh senyuman.
Tangan Tristan terulur untuk menyelipkan rambut Alea yang berterbangan karena angin ke belakang telinga wanitanya.
"Kita ke pantai terus, maaf ya." Ucap Tristan dengan tatapan yang dalam.
"Nggak apa-apa, Pak. Saya suka kok ke pantai," balas Alea jujur.
"Kalo sama aku, suka nggak?" tanya Tristan menaik turunkan alisnya.
Alea tersenyum tipis, ia mengusap wajah Tristan tanpa sadar, bahkan menangkup wajah tampan itu.
"Apa pantas saya menjawab pertanyaan itu dari pria yang sudah beristri?" cicit Alea menundukkan kepalanya.
Tristan memegang dagu Alea, ia mengecup bibir Alea singkat.
"Itulah tujuanku membawamu kesini, Alea." Ujar Tristan lalu kembali duduk di atas kap mobil, di sebelah Alea.
Tristan meraih tangan Alea untuk ia genggam dengan erat.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu yang sebelumnya, tapi sebelum itu biarkan aku membagi masalahku denganmu." Kata Tristan diakhiri helaan nafas.
Alea menatap Tristan, ia menganggukkan kepalanya dengan yakin. Alea siap mendengarkan cerita dari Tristan saat ini.
"Aku tidak bahagia dengan pernikahanku, Alea. Karena itulah aku mencari kesenangan bersamamu, bersama wanita yang aku cintai sejak dulu sampai saat ini." Ucap Tristan tanpa menatap Alea.
__ADS_1
Alea tersentuh, ia menatap Tristan dengan jantung yang berdegup kencang.
"Karena penolakmu dulu, aku terpaksa menerima perjodohan dari kedua orang tuaku untuk menikahi Linda. Aku sudah berusaha untuk menerimanya, tapi sebuah kenyataan pahit aku ketahui tentang dirinya." Tambah Tristan dengan tatapan mata kosong ke arah hamparan laut.
"Kenyataan apa, Pak?" tanya Alea.
"Aku akan memberitahumu nanti, karena menurutku kau tidak perlu mengetahui hal tidak berguna seperti itu." Jawab Tristan lembut.
Alea hanya menurut, ia bertugas untuk mendengarkan Tristan cerita, bukan menghakiminya sampai-sampai ia harus mengetahui detail cerita dari pria tampan di sebelahnya.
"Aku tidak pernah menyentuh istriku, kau adalah gadis pertama yang aku nikmati. Sama halnya denganmu yang perawan, aku juga masih perjaka." Ujar Tristan dengan jujur.
Alea terkejut, ia menatap Tristan dengan tidak percaya. Tristan belum pernah menyentuh wanita sebelum dengannya??
"Aku tahu kau tidak akan percaya, tapi itulah kebenarannya. Aku bukan pria bejat yang akan bermain dengan siapa saja, aku hanya ingin bermain dengan wanita yang aku cintai, yaitu kau, Alea." Lanjut Tristan lalu menatap Alea.
Mereka saling menatap satu sama lain, bahkan genggaman tangan Tristan pun semakin mengerat di tangan Alea.
"Jika kau bertanya kapan aku bosan dengan tubuhmu, maka jawabannya tidak akan pernah. Kau wanita pertama dan terakhir yang aku nikmati." Ungkap Tristan.
Alea menggelengkan kepalanya. "Jangan, Pak." Sahut Alea tiba-tiba.
Tristan mengerutkan keningnya, ia heran melihat reaksi yang Alea tunjukkan saat ini.
"Saya tidak tahu apa yang dilakukan nyonya Linda sampai anda tidak mau menyentuhnya, tapi mau bagaimana pun dia istri anda." Jelas Alea dengan suara yang berusaha untuk tegar.
"Tidak, Alea. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri," timpal Tristan.
"Tapi nyonya Linda sangat mencintai anda." Cicit Alea menundukkan kepalanya.
"Tidak, kau salah. Kami tidak pernah saling mencintai, dia mencintai mantan kekasihnya, Fade." Ujar Tristan dengan senyuman mengejek.
Alea tentu sudah tahu bahwa mantan kekasih Linda adalah Fade, tapi darimana Tristan tahu jika Linda masih mencintai pria itu.
"Mereka berselingkuh, Alea. Ya, aku tahu bahwa aku juga berkhianat, karena itulah aku ingin mengakhiri pernikahan ku." Pungkas Tristan dengan yakin.
Alea menggeleng, ia menutup mulut pria itu dengan gerakan cepat.
"Jangan, Pak. Jangan mengambil keputusan di saat sedang marah, atau anda akan menyesalinya." Larang Alea.
Tristan menjauhkan tangan Alea.
"Aku sudah yakin." Balas Tristan.
"Dan aku ingin menikahimu." Lanjut Tristan dengan tatapan mata yang tajam, namun sarat akan cinta.
Alea terdiam, ia seperti tidak bisa mendengar apapun selain ucapan Tristan barusan. Angin pantai di malam hari, membuat matanya yang berkaca-kaca, kini benar-benar mengeluarkan air mata.
"Alea, will you marry me?"
MBAKK ALEA, TUKERAN POSISI BENTAR YUKK😫
__ADS_1
Bersambung............................