
Aira menatap Mondy dengan wajah melongo antara terkejut dan tidak menyangka. Ya, ia baru saja mendengar maksud dari perkataan Mondy sebelumnya yang meminta pertanggungjawaban darinya.
Aira awalnya bingung, dan setelah Mondy menjelaskan ia malah tampak seperti orang bodoh.
"Kenapa menatap saya begitu, kamu kira saya main-main?" tanya Mondy dingin.
Aira menggeleng pelan, kepalanya terasa berdenyut-denyut mendengar suara dingin milik pria tampan dihadapannya ini.
"Pak Mondy yakin minta tanggung jawab?" tanya Aira memastikan, suaranya terdengar pelan sekali namun masih bisa didengar oleh Mondy.
Mondy maju dua langkah mendekati brankar Aira, ia memasang wajah datar dan tatapan mata yang begitu tajam.
"Kamu kira akibat benturan kemarin punggung saya baik-baik saja. Punggung saya patah, dan kamu harus rawat saya sampai saya sembuh." Jawab Mondy panjang lebar.
"Tapi anda keliatannya baik-baik saja." Timpal Aira dengan sabar.
"Keliatannya gitu, saya nggak pernah nunjukin penderitaan saya ke orang lain." Kata Mondy seadanya.
Mata Aira menatap Mondy dengan polos, ia menghela nafas dengan cepat lalu menatap Mondy kembali.
Aira ingin bicara, namun sudah keduluan Mondy yang berucap.
"Kalo kamu nggak mau tanggung jawab, saya laporin kamu ke polisi atas kasus KDAS." Ucap Mondy dengan wajah serius.
"KDAS apaan, Pak?" tanya Aira bingung.
"Kekerasan di apartemen saya." Jawab Mondy menjelaskan.
Aira menatap Mondy semakin cengo, apalagi setelah mendengar jawaban pria di depannya ini barusan.
Ada ya pasal tentang KDAS, setahu Aira adanya KDRT, yang kini sedang ramai-ramainya di kalangan selebritis.
Mondy menciptakan pasal sendiri atau bagaimana ini??
Aira hendak berucap, namun lagi-lagi dicegah oleh Mondy yang bicara duluan.
__ADS_1
"Satu lagi, kamu harus panggil saya seperti biasa." Ucap Mondy tegas.
Kening Aira mengkerut, namun sesaat kemudian alisnya terangkat sebelah.
"Memang saya biasa panggil anda apa, Pak?" tanya Aira.
"Kamu jangan pura-pura lupa ya, Ai." Bukannya menjawab, Mondy malah bicara ketus.
Aira menghela nafas pasrah, ia akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Tapi setelah saya selesai rawat anda, saya boleh pulang kan, pak?" tanya Aira memastikan.
"Boleh lah, saya juga nggak mau kamu terlalu lama disini." Jawab Mondy.
"Istirahat lah, saya mau keluar." Tutur Mondy tanpa menatap Aira.
"Mau ngapain, Om?" tanya Aira, panggilannya kembali seperti di awal mereka bertemu.
Tanpa sadar Mondy tersenyum mendengarnya, namun karena posisinya membelakangi Aira jadi gadis itu tidak bisa melihatnya.
Setelah kepergian Mondy, Aira terdiam dengan banyak pertanyaan dikepala nya. Jadi benar jika Mondy itu punggung nya patah?
Apa separah itu saat mereka jatuh. Aira pusing sekali memikirkannya, ia jadi terhambat untuk kembali ke kampung halamannya.
"KDAS, apaan tuh. Perasaan aku baru dengar." Gumam Aira geleng-geleng kepala.
Sementara itu, di rumah sakit yang sama namun di ruangan yang berbeda. Firda baru saja sampai di rumah sakit usai pulang bekerja.
Ya, habis bekerja Firda pulang untuk ganti baju dan sekarang ke rumah sakit untuk menggantikan kedua orang tua Fade menjaga pria itu.
"Kami akan pulang, jadi saya titip putra saya sama kamu." Ucap papa nya Fade.
Firda tersenyum tipis. "Iya, saya akan jaga Fade." Balas Firda sopan.
Mama Fade mengusap kepala Firda, walaupun baru bertemu beberapa kali, rasanya ia sudah bisa menilai bahwa Firda adalah gadis baik, seperti yang Fade selalu katakan.
__ADS_1
"Kamu jaga diri baik-baik ya, Nak. Saya titip Fade," tutur mama Fade lembut.
Firda hanya membalasnya dengan senyuman singkat, disusul anggukkan kepalanya dengan sopan.
Kedua orang tua Fade pun pergi meninggalkan ruang rawat putra mereka bersama gadis yang putra mereka cintai.
Kini di ruangan itu hanya tinggal Firda dan Fade.
Firda menghela nafas, ia berjalan mendekati brankar dimana Fade berbaring tidak sadarkan diri disana.
"Fad, bangun. Sampai kapan mau tutup mata." Pinta Firda pelan dan lembut.
Tangan Firda terulur untuk menggenggam tangan Fade, ia menatap wajah pucat pria yang biasa datang hanya untuk mengantar dan menjemput nya.
"Seharusnya kamu nggak selamatin aku, Fad. Seharusnya aku yang ada disini, bukan kamu." Lirih Firda menundukkan kepalanya.
Firda menangis, kedua bahunya bergetar karena menangis. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya di tangan Fade.
"Hiks … gara-gara aku, kamu kehilangan ingatan dan lumpuh sementara, Fad. Aku merasa sangat bersalah." Bisik Firda dengan suara yang bergetar.
Setiap hari, sejak Fade kecelakaan. Firda tidak henti mengucap banyak penyesalan, ia menyesal telah menolak ajakan Fade hari itu.
Pikirannya mulai berandai-andai, andai hari itu ia tidak menolak ajakan Fade, pasti pria itu baik-baik saja. Fade tidak akan ditabrak dan berakhir seperti sekarang.
"Hiks … Fad, bangunlah. Aku mohon!" pinta Firda memohon dengan sangat.
Tubuh Firda berakhir duduk di kursi yang ada di dekat brankar, ia lalu menjatuhkan kepalanya di atas brankar tepatnya di samping tangan Fade.
Firda melupakan rasa lelahnya sepulang bekerja, ia ikhlas melakukan ini semua karena ia tahu bahwa ini semua adalah kesalahannya.
Sekarang fokus Firda adalah membuat Fade sampai bisa berjalan kembali, dan mengembalikan ingatan pria itu seperti sebelumnya.
Firda tidak peduli jika Fade tidak mengingat saat-saat terakhir mereka bersama, yang jelas ia ingin Fade sadar segera dan sembuh.
MBAK FIR, SINI AKU PEYUK🥲
__ADS_1
Bersambung.................................