
Tubuh Alea Tristan rebahkan di atas ranjang king size di kamarnya. Baju mereka yang basah tidak dipedulikan sama sekali jika nantinya akan membuat ranjang ikut basah.
Tristan hanya tinggal membuka bathrobe dan celana saja untuk polos, sementara Alea banyak.
Dengan tergesa-gesa Tristan membuka atasan basah yang digunakan Alea, kemudian melemparnya asal. Kini Alea sudah nyaris bertelanjang dada di depan Tristan.
"P-pak, kita mau ngapain?" tanya Alea, entah bodoh atau apa. Alea tiba-tiba bertanya hal yang sudah ia ketahui jawabannya.
Tristan mengerem, ia tidak menjawab pertanyaan Alea dan malah membuka celana milik wanita itu. Kini Alea hanya memakai ********** saja.
"P-pak." Cicit Alea tanpa menatap Tristan.
Tristan hanya tersenyum manis, ia lantas ikut membuka bathrobe, namun celananya belum sehingga kini Tristan bertelanjang dada.
"Alea, lihat saya!" pinta Tristan, namun lebih ke sebuah perintah.
Alea memejamkan mata, ia menoleh ke arah Tristan lalu perlahan membuka matanya. Kini pandangan Alea dan pria di atasnya saling bertemu.
Tristan mencium kening Alea, lalu turun ke kedua pipi wanita itu.
"Kamu cantik sekali, Alea." Bisik Tristan seraya terus menciumi wajah Alea.
Alea tidak membalas, ia hanya terus memejamkan matanya dan tanpa sadar melingkarkan tangannya di leher Tristan.
Alea meremat rambut belakang Tristan saat ciuman pria itu berpindah ke bibirnya yang seksi dan terasa manis.
__ADS_1
Tristan mencium Alea dengan begitu dalam dan penuh hasrat. Di pagi hari setelah berenang begini, gairahh Tristan benar-benar tersulit.
Tristan sudah tidak bisa lagi menahannya. Berhari-hari mereka disana, dan akhirnya hari ini Tristan bisa kembali menjamah tubuh Alea, wanita simpanannya.
"Ahhh." Lenguh Alea saat Tristan mencetak tanda, sambil bermain dengan di dadanya.
Tristan tersenyum senang, ia selalu suka setiap kali mendengar Alea melenguh dengan penuh kenikmatan.
Alea membuka dan memejamkan matanya, begitu berulang-ulang. Terlalu menikmati apa yang Tristan lakukan pada tubuhnya saat ini.
"Kamu cantik, Alea. Apa kamu sadar hal itu?" tanya Tristan seraya membuka penutup dada Alea lalu membuangnya sembarangan.
Kini pemandangan yang begitu indah terpampang di depan wajah Tristan. Hal yang tidak pernah Tristan ingin lakukan bersama istri sah nya, justru selalu ingin ia lakukan bersama wanita simpanannya.
"Ahhh." Teriak Alea saat Tristan sudah seperti bayi kehausan.
Sejak Alea melakukan hubungan ini untuk pertama kalinya, sejak saat itulah ia menjadi wanita yang normal. Wanita yang selalu menginginkan sentuhan. Meskipun begitu, Alea tentu tahu cara mengendalikannya.
"Alea, aku sangat merindukan semua ini." Bisik Tristan dengan penuh kelembutan.
Tristan lalu membuka seluruh kain yang tersisa di tubuh masing-masing, sehingga kini mereka berdua dalam keadaan sama-sama polos.
Alea memejamkan matanya, ia tidak pernah berani melihat milik Tristan yang terlalu besar dan ia khawatirkan tidak akan muat untuk masuk ke dalam goa pribadinya.
"Argh, Alea. Sempit sekali!" Geram Tristan dengan nafas yang semakin memburu.
__ADS_1
Hal yang sama pun dirasakan oleh Alea. Wanita itu sampai mencengkeram otot bisep Tristan untuk melampiaskan rasa nikmat yang menderanya.
Tristan tidak langsung memacu tubuhnya, ia menunduk dan kembali mencium bibir Alea demi mengalihkan rasa sakit yang mungkin Alea rasakan.
"Ahh." Desahh Alea saat Tristan menghentak semakin dalam miliknya.
Mengetahui bahwa Alea sudah mulai menikmati, lantas Tristan menaikkan kecepatan tubuhnya untuk mereguk kenikmatan bersama dengan wanita cantik di bawahnya.
"Ahh, Azzalea!!" teriak Tristan penuh rasa puas.
Sementara itu di tempat lain, tampak seorang wanita sedang duduk di halte dengan pikiran yang kacau. Wanita itu beberapa hari lalu baru bertemu dengan orang dari masa lalunya, namun karena kesalahpahaman, membuat mereka menjadi seperti sekarang.
Firda, wanita itu menatap kosong jalanan di hadapannya. Ia mengingat segala bentuk perlakuan dan cinta yang ditunjukkan oleh Fade saat masih kuliah dulu.
Firda menunduk, ia sedikit menangis mengingat bahwa kisah manis mereka harus kandas karena sebuah tuduhan besar.
Firda menyeka air matanya. Selama ini ia terus berusaha untuk melupakan Fade dan segala sikap manisnya, namun sangat sulit.
"Firda, tenanglah. Mungkin dia memang bukan untukmu." Kata Firda pelan.
Firda pun berusaha untuk tetap tegar dan semangat. Tidak lama kemudian bus yang ia tunggu datang, membuatnya langsung naik untuk sampai di tempat kerjanya.
Firda harus tetap semangat meskipun hatinya resah dan berantakan usai bertemu dengan Fade lagi. Hidup harus tetap berjalan, ia butuh uang untuk menghidupi dirinya dan juga menabung untuk adiknya.
GUYS , MAAF YA CUMA UPDATE SATU BAB. LAGI SIBUK DI RL😫
__ADS_1
Bersambung.............................