Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Om bohong kan?


__ADS_3

Aira menata semua masakannya di atas meja, ia segera beranjak dari dapur untuk memanggil Mondy agar segera sarapan.


Saat sampai di depan kamar pria itu, tampak Mondy sedang berolahraga dengan mengangkat barbel di tangan kanan nya.


Aira mengerutkan keningnya, ia merasa janggal sekali dengan setiap alasan yang Mondy katakan. Tulang punggungnya retak, tapi ia masih bisa melakukan banyak pekerjaan, termasuk mengangkat benda puluhan kilogram itu.


Aira menghela nafas, ia teringat pada nona mudanya, Alea. Saat ia bercerita, tampak Alea berusaha untuk menahan tawa, dan ia berpikir bahwa semua itu hanya karena Alea merasa terhibur.


Tapi sekarang tidak, kini Aira tahu bahwa dirinya bodoh. Dirinya telah di bohongi oleh Mondy yang mengatakan jika sesuatu telah terjadi pada tulang punggungnya. Tapi apa alasan Mondy mencegahnya pergi, ia bahkan selalu di katakan sebagai gadis ceroboh dan menyebalkan.


Aira segera mengetuk pintu kamar Mondy, ia mendorong pintu tersebut sampai terbuka.


"Om, sarapan sudah siap." Ucap Aira pelan.


Mondy meletakkan barbel di tangannya lalu segera berjalan mendekati Aira.


"Ya, saya akan segera ke meja makan. Kamu makan saja duluan," tutur Mondy.


Aira tetap diam disana, ia tidak beranjak sama sekali dan malah terus menatap Mondy.


"Ada apa lagi, Ai?" tanya Mondy mengerutkan keningnya bingung.


"Om bohong kan." Kata Aira to the poin.


"Bohong soal apa?" tanya Mondy masih belum mengerti ucapan Aira.


"Om bohong soal tulang punggung Om yang retak, semua itu bohong kan. Om baik-baik aja kan, selama ini Om bisa melakukan banyak pekerjaan dengan lancar, seperti tidak merasakan sakit." Jawab Aira panjang lebar.


Mondy terdiam, ia menatap Aira yang sudah mau menangis. Entah apa yang membuat gadis itu pagi ini terlihat begitu emosional.


"Ai, apa yang terjadi padamu. Kenapa kamu bicara begitu pada saya, kamu nggak mau bertanggung jawab?" tanya Mondy.


Aira menggeleng. "Bukan itu, tapi aku merasa sudah dibodohi disini. Aku percaya bahwa Om benar-benar sakit, makanya aku tetap disini untuk bertanggung jawab. Tapi sepertinya Om udah bohong sama aku," jawab Aira tanpa menatap Mondy.


Mondy menghela nafas. "Ya, aku berbohong padamu, Ai." Kata Mondy dengan lantang.

__ADS_1


Aira menatap Mondy dengan tatapan tidak percaya, untuk apa pria itu berbohong bahkan sampai mencegahnya pulang ke kampung.


"Apa tujuan Om bohong sama aku?" tanya Aira pelan.


"Tidak ada tujuan apa-apa, saya hanya mau kamu tetap disini dan bekerja untuk saya." Jawab Mondy tanpa menatap Aira.


Aira manggut-manggut, ia salah telah berharap bahwa tujuan Mondy berbohong adalah karena menyukainya, karena kenyataannya adalah ia dibutuhkan untuk menjadi pelayan pria itu.


"Sampai kapan aku harus bekerja sama Om?" tanya Aira.


"Aku harus pulang, Om. Aku terus terbayang-bayang wajah orang tuaku yang pasti kesulitan karena aku lari dari tanggung jawab." Tambah Aira berbicara.


"Terserah sampai kapan, jika kamu mau pulang sekarang pun saya tidak akan menahannya lagi." Jawab Mondy dengan suaranya yang terkesan dingin.


"Baiklah, aku akan pulang hari ini. Aku akan berpamitan kepada tuan dan nona sebelum pergi." Ucap Aira kemudian pergi meninggalkan kamar Mondy.


Mondy menatap kepergian Aira dengan nanar, sejujurnya ia juga tidak tahu mengapa bisa ia menahan kepergian gadis itu dulu.


Mondy menghela nafas sambil geleng-geleng kepala, ia tidak mungkin tertarik pada gadis kecil itu.


Sedangkan Aira, ia sedang berada di kamarnya untuk memasukkan pakaiannya ke dalam tas. Aira tidak lupa meletakkan ponsel yang Mondy berikan diatas meja nakas.


"Sudah saatnya kamu pulang, Ai. Kamu tidak bisa terus disini," gumam Aira seraya terus merapikan pakaiannya.


Di tempat lain, tampak Firda yang sudah sibuk di dapur untuk membuat sarapan. Ia yang sudah biasa memasak sendiri tentu saja menolak saat pelayan di rumah Fade mau melayaninya.


Firda menata nasi goreng buatannya di atas meja, tidak lupa juga ia meletakkan minuman berupa jus jeruk.


"Nona, saya sudah buatkan sayur yang tadi anda minta." Ucap pelayan di rumah itu sopan.


Firda mengangguk, ia memang minta dibantu membuat sayur bayam dengan potongan wortel untuk Fade.


"Terima kasih ya, Bi." Balas Firda tidak kalah sopan.


Saat Firda masih berada di dapur, tiba-tiba Zian datang untuk mengambil minuman di dalam kulkas.

__ADS_1


"Eh, Pak." Ucap Firda mencegah Zian.


Zian menoleh, ia menatap Firda penuh rasa bingung.


"Kenapa, Fir?" tanya Zian bingung.


"Tidak baik minum soda pagi-pagi, aku udah masak sarapan. Jadi lebih baik kau sarapan dulu," jawab Firda.


Zian menatap meja makan dimana sudah tertata sarapan sederhana, namun tampak lezat.


"Boleh?" tanya Zian menunjuk ke meja makan.


Firda mengangguk. "Tentu saja, silahkan dinikmati." Jawab Firda.


Zian pun duduk di salah satu kursi meja makan, ia tidak sabar menikmati sarapan yang sudah dibuat Firda.


"Kau juga duduklah, tidak mungkin aku akan makan sendiri." Kata Zian.


Firda menggeleng. "Kau duluan saja, aku harus memberi Fade makan dulu." Tolak Firda.


"Oh iya, om dan tante. Aku akan panggil mereka," ucap Firda hendak pergi, namun ditahan oleh Zian.


"Om dan tante sudah pulang semalam, jadi mereka tidak ada." Timpal Zian memberitahu.


Firda manggut-manggut, ia tidak tahu jika orang tuanya Fade sudah pulang.


"Aku permisi ke kamar Fade dulu ya." Pamit Firda seraya membawa nampan berisi sarapan untuk Fade.


Zian tersenyum tipis, ia menganggukkan kepalanya dan membiarkan Firda pergi ke kamar Fade.


Zian lagi-lagi menatap Firda yang sudah pergi, entah mengapa ia merasa bahwa gadis itu adalah gadis yang baik. Zian tertarik untuk mengenal lebih jauh gadis itu, lagi pula om nya bilang Firda hanya istri pura-pura Fade kan.


"Semoga kita bisa mengenal lebih jauh, Fir." Ucap Zian dengan senyumannya yang manis.


LIKE DAN KOMEN NYA🌹

__ADS_1


Bersambung.......................


__ADS_2