
Bau masakan lezat dan menggoda menjadi sambutan bagi Alea ketika datang ke rumahnya. Benar, usai melayani napsu bejat Tristan, pria itu benar-benar mengizinkannya pulang ke rumah sang kakak sampai jam 8 malam nanti.
Alea memeluk kakaknya yang tersenyum sambil membuka kedua tangannya. Kondisi Firda sudah jauh lebih baik, dan Alea senang melihatnya.
"Kak." Lirih Alea semakin mengeratkan pelukannya.
"Bagaimana pekerjaan kamu, lancar kan?" tanya Firda lalu melepaskan pelukannya.
Alea berusaha untuk tersenyum, tidak akan ia biarkan kakaknya tahu segala permasalahannya saat ini, apalagi jika tahu tentang pekerjaan nya sebagai simpanan Tristan.
"Lancar, Kak. Tapi ya gitu, aku capek." Jawab Alea seraya mengusap tengkuknya.
Kepala Alea yang sedikit mendongak membuat sesuatu tercetak dilehernya dapat dilihat oleh Firda.
"Lea, leher kamu kenapa merah gini?" tanya Firda memegang merah-merah di leher adiknya.
Tubuh Alea menegang, ia reflek menjauhkan tangan sang kakak dari lehernya. Bagaimana bisa Alea lupa jika Tristan tadi meninggalkan tanda di lehernya.
Wajah Alea yang pucat dan berkeringat membuat Firda semakin bingung.
"Lea, itu kenapa?" tanya Firda mengulang pertanyaannya.
"I-ini, aku alergi, Kak. Ada salah satu makanan di restoran yang tidak cocok sampai membuatku gatal." Jawab Alea berbohong.
Firda mengangkat sebelah alisnya, ia bingung dengan penjelasan dari adiknya barusan. Firda menghela nafas, ia mengangguk sebagai pemutus pertanyaannya.
"Yaudah, jangan lupa minum obat ya. Kamu kan kerja, takutnya itu mengganggu penampilan kamu nantinya." Tutur Firda dengan lembut.
Alea menghela nafas lega, ia mengangguk kecil sebagai balasan atas ucapan kakaknya barusan.
"Kakak masak, Mbak Ina mana?" tanya Alea mengalihkan pembicaraan.
"Mbak Ina udah aku kasih uang, dan dia nggak kerja lagi untuk jaga aku." Jawab Firda dengan senyuman.
"Lho, kenapa? Aku mempekerjakan dia untuk bantu kakak," ujar Alea bingung dan sedikit terkejut.
"Aku nggak mau ngerepotin kamu terus, Lea. Lebih baik uangnya di tabung, lagipula aku sudah jauh lebih baik." Jelas Firda dengan penuh pengertian.
Alea menggeleng. "Harusnya kakak nggak usah mikirin itu, kakak ini masih dalam perawatan jalan." Timpal Alea pelan.
__ADS_1
"Sudahlah, aku baik-baik saja. Dan aku juga akan mulai bekerja jika nanti sudah benar-benar pulih." Ucap Firda lalu menarik tangan adiknya ke meja makan.
"Kakak masak makanan kesukaan kamu, telur balado." Ujar Firda dengan sumringah.
Alea tersenyum, ia meraih tangan kakaknya lalu menggenggamnya erat.
"Aku masih bisa nabung kok walaupun memperkejakan seseorang untuk bantu kakak." Kata Alea. Wanita itu tidak tega jika meninggalkan kakaknya yang masih dalam masa pemulihan seorang diri.
"Sudahlah, Lea. Masalah ini sudah kita bicarakan tadi, sekarang ayo makan. Kamu baru pulang kerja, pasti lapar kan." Tutur Firda seraya mengambilkan makanan untuk adiknya.
Alea tidak bisa bicara lagi, ia hanya bisa diam setelah menghela nafas pelan. Kakaknya keras kepala, sama seperti mendiang ayahnya.
"Kak." Panggil Alea.
"Hmm." Sahut Firda seraya menarik kursi dan duduk di depan Alea.
"Suka kangen mama sama papa nggak sih?" tanya Alea tiba-tiba.
Firda yang baru saja ingin melahap makanan langsung terhenti, ia menatap adiknya yang terlihat sedih.
"Sabar ya, kasihan mereka jika melihat kita sedih disini." Bisik Firda berusaha untuk tegar.
Alea sudah tidak punya siapapun lagi selain Firda, karena itulah Alea tidak akan membuat kakaknya celaka. Alea siap melakukan apapun demi keamanan kakaknya.
"Lea, aku sudah lelah memasak ini semua. Kau tega tidak memakannya?" tanya Firda sedih.
Alea tersenyum senang, ia menganggukkan kepalanya lalu segera melahap makanan yang sudah disiapkan oleh sang kakak.
"Selalu enak." Puji Alea di suapan pertama.
"Kamu ini selalu bisa buat aku bahagia." Balas Firda gelang-gelang kepala.
Kakak dan adik itu makan dengan tenang, dan melupakan sejenak masalah yang dihadapi. Alea akan memanfaatkan waktu yang ada ini untuk mengobrol banyak hal, karena ia harus pulang nanti malam, dan tidak tahu kapan bisa bertemu seperti ini lagi.
Sementara itu ditempat lain, terlihat seorang pria sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya. Tidak tahu ada masalah apa, tapi sang mama memintanya untuk datang.
"Pak, apa kita perlu mampir ke toko bunga seperti biasa?" tanya Mondy pada atasannya.
"Ya, tentu saja. Aku tidak boleh melupakan hal itu," jawab Tristan.
__ADS_1
Mobil yang Mondy kendarai pun berhenti di salah satu toko bunga langganan Tristan setiap kali ingin menemui mamanya.
Mama nya Tristan begitu menyukai bunga, dan Tristan lebih wajib membawa bunga daripada makanan.
"Belikan bunga seperti biasa ya." Ucap Tristan pada Mondy.
Mondy mengangguk paham, ia sampai hafal berapa jumlah tangkai yang harus ia beli saking terlalu seringnya membeli buka tiap kali ke rumah besar Kusuma.
Setelah selesai membeli bunga, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka. Toko bunga yang tidak terlalu jauh dari rumah besar Kusuma membuat mereka cepat sampai.
"Tuan muda Tristan, selamat datang." Sapa penjaga rumah Kusuma.
Tristan tidak membalas, hanya Mondy yang membalas dengan anggukkan kecil.
"Tristan." Panggilan itu langsung diterima Tristan ketika dirinya baru saja sampai di rumah.
Ternyata ia sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya yang duduk santai di ruang tamu. Tristan mendekat, ia memberikan bunga yang sudah ia beli kepada sang mama.
"Mama nggak butuh bunga kamu, Tristan." Kata Saras, ibunda Tristan.
Tristan mengerutkan keningnya, tumben sekali sang mama bicara seperti ini.
"Ada apa dengan, Mama?" tanya Tristan lembut.
"Duduk, Tristan. Kami butuh penjelasan dari kamu." Pinta Jaya Kusuma, ayah Tristan.
Tristan menurut, ia duduk di hadapan kedua orang tuanya dan Mondy berdiri di belakangnya.
"Apa maksud kamu meminta cerai dari Linda, Tristan?" Tanya Saras dengan tatapan mata yang tajam.
Tristan memejamkan matanya sebentar, jadi ini alasan dirinya ditelepon secara mendadak dan diminta datang ke rumah tiba-tiba.
"Sialann, wanita itu tidak takut dengan ancamanku." Batin Tristan mengepalkan tangannya.
Tristan hanya diam, ia berusaha untuk tetap tenang meskipun hatinya benar-benar panas dan siap meledak jika ada Linda disana.
Rupanya Linda tidak takut dengan ancaman darinya. Linda benar-benar sudah menantangnya.
LAHH KOK MAKIN RUWETTš«
__ADS_1
Bersambung...................................