Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Menjenguk Fade


__ADS_3

Alea sampai dirumah sakit, ia juga datang dengan membawa buah-buahan untuk Fade. Tidak mungkin Alea datang dengan tangan kosong. Alea juga membawa makanan untuk kakaknya.


Alea mengetuk pintu ruang rawat Fade, lalu setelahnya ia barulah masuk ke dalam ruang rawat itu.


Saat Alea masuk, ia melihat kakaknya sedang duduk sambil memegangi tangan Fade yang sedang tertidur.


Alea memperhatikan kakaknya yang masih belum sadar akan kehadirannya, padahal ia sudah mengetuk pintu sebelumnya.


Mungkin Firda terlalu larut dalam pikirannya sendiri, sehingga tidak mempedulikan sekitar, termasuk Alea yang datang saja ia tidak tahu.


Alea memberanikan diri untuk berjalan mendekati kakaknya, ia lalu memegang bahu Firda.


"Kak." Panggil Alea pelan.


Firda berjingkat kaget, ia bahkan sampai bangkit dari duduknya lalu memegangi dadanya dengan mata terpejam.


"Lea, kamu bikin aku kaget." Kata Firda dengan nafas yang terengah-engah.


Alea tersenyum, ia meletakkan buah-buahan yang ia bawa di atas meja kecil sampai brankar lalu kembali menatap kakaknya.


"Lagian kakak juga, masa aku datang nggak sadar. Padahal aku udah ketuk pintu juga," balas Alea geleng-geleng kepala.


Firda menatap adiknya bingung, benarkah Alea sudah mengetuk pintu? Tapi mengapa ia tidak sadar sama sekali jika adiknya itu masuk.


"Emang iya, kok aku nggak dengar suara apapun?" tanya Firda tampak tidak percaya.


"Jadi maksud kakak aku ini masuk dengan menembus dari pintu, begitu?" tanya Alea bergurau.


Firda terkekeh, ia memukul lengan adiknya pelan.


"Aww …" Ringis Alea tanpa sengaja. Pukulan kakaknya itu pelan, tapi yang membuatnya kesakitan adalah memar akibat mama Saras tadi.


"Lho, sakit banget ya pukulan aku?" tanya Firda aneh.


Alea menggeleng, ia lalu tertawa demi menutupi ekspresi wajah kesakitan nya.


"Kalo jalan sendiri hati-hati ya, kamu gampang diculik kayaknya, Kak." Celetuk Alea bergurau.


Firda berdecak, rupanya ia sedang di bercandai oleh adiknya. Firda tidak tahu saja jika Alea memang benar-benar kesakitan karena ibu mertuanya.


"Kak, apa kau sudah makan?" tanya Alea mengalihkan pembicaraan.


"Belum, niatnya sih sekarang, tapi Fade nggak ada yang jagain." Jawab Firda menatap sebentar Fade yang tertidur.


Alea manggut-manggut, ia tahu bahwa kakaknya dituntut tanggung jawab sehingga tidak bisa pergi meninggalkan Fade begitu saja.


"Sekarang ada aku kan, kau bisa makan dan aku akan menjaga Fade disini." Kata Alea seraya menyodorkan sebuah tas berisi makanan.


Firda menerima makanan dari adiknya. "Aku titip Fade sebentar ya, aku akan makan diluar." Ucap Firda.


Alea manggut-manggut. "Siap." Balas Alea.

__ADS_1


Firda pun keluar dari ruang rawat Fade dengan membawa makanan dari adiknya. Firda akan makan dengan cepat, karena ia tidak mau merepotkan adiknya.


Setelah Firda keluar dari ruang rawat itu, Alea pun memilih untuk duduk di sofa yang berhadapan dengan brankar dimana Fade sedang tertidur.


Melihat wajah Fade, seketika membuatnya teringat pada pekerjaan yang pria itu berikan kepadanya. Sebuah pekerjaan ekstrim yang sejujurnya enggan Alea terima, namun demi keselamatan kakaknya ia rela melakukan itu.


Benar memang kata pepatah bahwa dunia itu sempit, karena kenyataannya Fade pernah memiliki hubungan dengan kakaknya.


Belum lagi target Alea dulu ternyata adalah orang dari masa lalunya, dan terakhir Linda, wanita itu juga pernah berhubungan dengan Fade dan Tristan sekaligus pelaku yang telah mencelakai kakaknya.


Mereka berlima seakan terus berputar dalam sebuah lingkaran, namun untungnya sekarang Linda sudah tidak ada. Walaupun Fade lupa ingatan, setidaknya tidak akan ada lagi yang bisa meracuni pikiran pria itu.


Alea ikut berdoa demi kehidupan kakaknya yang lebih baik. Jika memang Firda ditakdirkan bersama Fade, maka Alea memohon kepada Tuhan agar segera menyatukan mereka bersama. Tapi jika bukan jodohnya, maka pisahkan mereka dengan cara baik-baik.


"Kau tahu, Fad. Kakakku sudah cukup menderita selama ini. Apa sampai sekarang dia harus terus menderita karena kau yang lupa ingatan?" gumam Alea dengan tatapan tertuju pada Fade.


Alea bangkit dari duduknya ketika melihat pergerakan dari Fade, lalu tidak lama kemudian matanya terbuka.


Tatapan Fade seperti mencari-cari sesuatu, dan saat mata pria itu melihat Alea, keningnya mengkerut.


"Siapa kau?" tanya Fade menyipitkan matanya.


"Dimana Firda, kenapa dia tidak ada disini. Dia benar-benar wanita yang tidak bisa di beri kepercayaan." Tambah Fade menggerutu.


Alea menelan gumpalan salivanya, ia berusaha untuk tidak tersinggung dengan kata-kata Fade yang sedang mencibir kakaknya.


"Aku Alea, aku adiknya Firda. Saat ini Firda sedang makan, karena dia belum makan apapun sejak pagi." Jelas Alea dengan nada yang tenang.


"Kakakku mungkin sebentar lagi akan selesai, jadi selama dia belum kembali, katakan padaku jika butuh sesuatu." Ucap Alea lagi.


Fade lagi-lagi hanya diam, ia bahkan menatap ke arah lain. Pria itu enggan menatap Alea sama sekali, dan tentu Alea biasa saja.


Saat Alea hendak duduk, tiba-tiba saja pintu ruang rawat itu terbuka. Bukan Firda yang masuk, melainkan pasangan suami istri yang Alea ketahui sebagai orang tua Fade.


"Kau Alea kan, adiknya Firda?" tanya mama Fade mengingat Alea.


Alea tersenyum. "Benar, Nyonya." Jawab Alea sopan.


"Dimana Firda, kenapa kau disini?" Kini giliran papanya Fade yang bertanya.


"Wanita itu tidak bisa memenuhi tugasnya dengan benar, Pa, Ma. Lagipula bagaimana bisa kalian membiarkanku berada disini bersama wanita itu." Fade menyahuti pertanyaan dari sang papa.


"Wanita seperti apa?" tanya Alea, ia tampak tidak bisa menahan pertanyaannya.


Fade hanya tersenyum culas, senyuman yang akan menyulut emosi siapapun jika melihatnya.


"Fad, jaga bicaramu." Tegur mama Fade pelan.


Alea menarik nafas lalu membuangnya perlahan, ia hampir lupa bahwa pria yang sedang berbaring itu baru saja kecelakaan dan kehilangan ingatannya.


"Maafkan saya, Tuan dan Nyonya. Saya hampir lupa dengan kondisinya," ucap Alea.

__ADS_1


"Saat ini kakak saya sedang makan, sejak pagi dia belum memakan apapun. Dia begitu fokus menjaga putra kalian, sampai-sampai melupakan dirinya sendiri." Tambah Alea, saat bicara Alea menatap Fade sebentar.


Alea ingin Fade tahu bahwa kakaknya sudah banyak berkorban disini. Walaupun ia akui jika kakaknya menjadi salah satu penyebab kecelakaan, namun pelaku utamanya adalah Linda.


"Ma, aku ingin Linda. Panggil saja dia kesini, pasti dia akan mau." Ucap Fade memaksa.


Alea tersenyum remeh. "Panggil di alam baka?" batin Alea.


"Karena tuan dan nyonya sudah ada disini, maka saya akan pergi untuk mencari kakak saya, permisi." Alea pun pamit untuk keluar dari ruang rawat Fade.


Saat diluar, Alea berusaha untuk mengatur nafasnya. Andai saja Fade tidak habis kecelakaan dan tidak lupa ingatan, ia pasti sudah melempar wajah pria itu dengan kursi atau meja.


"Sial, mulut laki-laki tapi tajam sekali." Gumam Alea.


Nafas Alea menggebu-gebu, entah kenapa ia akhir-akhir ini jadi emosian dengan beberapa hal yang menurutnya menyebalkan.


"Lea, kok diluar?" Firda tiba-tiba datang dan merasa bingung ketika melihat adiknya diluar.


"Iya, ada mertuamu di dalam." Jawab Alea sambil bergurau.


Firda berdecak, bisa-bisanya Alea menjawab begitu. Nikah saja belum, bagaimana punya anak.


"Kakak darimana, kenapa orang tua Fade tidak melihat kamu diluar?" tanya Alea.


"Aku baru dari toilet, mencuci tanganku." Jawab Firda menunjukkan telapak tangannya.


"Dan ini kotak makan nya, terima kasih ya Lea. Maaf aku tidak cuci, hehehe." Tambah Firda seraya memberikan tas berisi kotak makanan kepada Alea.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku akan mencucinya nanti," balas Alea menerima tas itu dari kakaknya.


Alea menarik tangan kakaknya untuk mengajaknya duduk, mumpung Fade ada yang jaga, jadi mereka bisa mengobrol lebih lama.


"Ada apa?" tanya Firda lembut.


"Kak, aku tahu kau pasti lelah kan. Sejujurnya kau kurang nyaman dengan Fade yang kembali membenci mu kan?" tanya Alea pelan.


Firda terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan adiknya secara langsung.


Firda tersenyum, ia lalu menggenggam tangan Alea dengan erat.


"Kamu ngomong apa sih, Lea. Aku nyaman kok, lagipula ini kan memang tanggungjawab aku, karena jika Fade tidak menyelamatkanku, aku pasti sudah tiada waktu itu." Jelas Firda sambil tertawa-tawa.


"Aku tahu tawa itu hanya untuk menutupi kesedihanmu, tapi aku berharap bahwa tawa itu adalah tawa kebahagiaan suatu hari nanti." Kata Alea dengan mata berkaca-kaca.


Alea sudah bahagia dengan suaminya, meskipun ia belum sepenuhnya diterima di keluarga Tristan. Sedangkan Firda, bahkan gadis itu belum sempat bahagia bersama Fade, tapi cobaan terus datang.


"Iya, Lea. Aku juga yakin, setelah badai yang aku lalui belakangan ini, setelahnya akan ada pelangi dalam hidupku. Aku akan bahagia, menyusulmu." Balas Firda tersenyum manis.


Alea pun tersenyum, ia lalu memeluk kakaknya dengan erat. Rasanya Alea masih seringkali merasa bersalah, karena meninggalkan kakaknya seorang diri. Maka dari itu, Alea sebisa mungkin tetap berada di sisi Firda, menjadi penguatnya ditengah masalah yang terus di terima oleh kakaknya.


SEMANGAT MBAK FIR, ADA MBAK ALEA YANG SELALU DUKUNG KAMU♥️

__ADS_1


Bersambung............................


__ADS_2