
Tristan sampai di rumah sakit, ia melihat sang papa enggan melepaskan genggaman tangannya sama sekali dari tangan mama Saras.
Tristan mendekati sang mama yang masih belum sadarkan diri sejak semalam. Melihat banyak alat medis di tubuh sang mama, membuat darah Tristan semakin mendidih.
Ia begitu kesal dan emosi pada Linda. Apa yang mama Saras alami sekarang itu karena perbuatan Linda, semua karena Linda.
Jika saja ia tidak tinggal di negara hukum, sudah pasti Tristan akan membunuh Linda di depan umum dengan tangannya sendiri.
Kesalahan Linda bukan hanya kali ini, tapi sudah berulangkali.
Ya, memang Tristan akui bahwa dirinya juga bersalah. Mungkin kondisi mama Saras sekarang juga karena dirinya yang telah ketahuan selingkuh.
Namun jika saja Linda tidak membongkar semua itu secara tiba-tiba, pasti keadaan sang mama akan baik-baik saja. Tapi apa, wanita itu seperti tidak takut dengan ancamannya.
Tangan Tristan yang menggenggam besi brankar dengan kuat sampai mencetak urat di tangannya tentu saja dilihat oleh papa Jaya.
Ia menatap wajah putranya yang terlihat mengeras, sudah dipastikan apa alasannya.
"Kamu tidak bisa hanya menyalahkan Linda, Tristan." Ucap papa Jaya tiba-tiba.
Seakan paham apa yang ada dipikiran Tristan, papa Jaya langsung membuka suaranya untuk menasehati putranya.
Tristan tidak menyahut, ia hanya menatap sang papa dengan tatapan datarnya. Tristan memiliki sleep eyes, sehingga ia selalu terlihat judes dengan tatapan tajam.
"Walaupun papa akui Linda itu bersalah, tapi papa juga tidak membenarkan tindakan yang kamu lakukan, Tristan." Tambah papa Jaya dengan tegas.
Papa Jaya bangkit dari duduknya, ia mendekati jendela di kamar rawat istrinya sehingga ia bisa melihat pemandangan dari atas sana.
"Tinggalkan wanita itu, Tristan." Ucap Papa Jaya tanpa menatap putranya.
Tristan membalik badan, ia menatap sang papa dengan kerutan di wajahnya, tanda bahwa ia bingung dan aneh akan ucapan sang papa.
"Apa maksud papa?" tanya Tristan masih berusaha mengulur jawaban atas ucapan sang papa tadi.
"Wanita simpananmu, tinggalkan dia!" jawab papa Jaya seraya membalik badan dan kini saling menatap dengan putranya.
Tristan tersenyum mendengar ucapan sang papa barusan. Senyuman yang Tristan yakini akan membuat sang papa kebingungan.
"Kenapa kamu tersenyum begitu, Tristan?" tanya papa Jaya.
__ADS_1
"Aku merasa lucu dengan ucapan papa." Jawab Tristan di barengi dengan tawa kecil.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan Alea sampai kapanpun, dia cintaku dan juga istriku." Tambah Tristan dengan penuh rasa bangga.
Terlihat raut keterkejutan di wajah papa Jaya. Pria paruh baya itu kaget bukan main mendengar kata terakhir yang diucapkan oleh Tristan barusan.
"Tristan, apa maksudmu. Kamu sudah menikah dengannya?" tanya papa Jaya semakin tinggi nada bicaranya.
Tristan menghela nafas, ia tidak ingin menjawab pertanyaan dari sang papa yang nantinya malah membuat keributan.
Tristan tidak mau jika sang mama sampai terganggu dengan suaranya dan juga suara sang papa.
Papa Jaya tiba-tiba tersenyum remeh, ia mendekati putranya dengan tangan terlipat di dada.
"Papa semakin yakin bahwa wanita itu adalah wanita tidak baik, karena jika dia adalah wanita baik-baik, maka dia tidak akan mau menikah dengan pria beristri sepertimu." Kata papa Jaya dengan entengnya.
"Dia wanita bayaran kan, dia pasti menggodamu untuk mendapatkan uang, lalu menjerat mu dengan sikap baik yang sebenarnya hanya kepura-puraan." Tambah papa Jaya semakin menjelekkan Alea.
Tristan mengepalkan tangannya, ia berusaha untuk sabar dan menahan amarahnya. Tristan tahu etika, apalagi saat ini mereka berada di rumah sakit.
"Wanita itu adalah wanita murahan, Tristan!" Seru papa Jaya.
Tristan yang tadi menunduk kini berani menatap sang papa, ia menatap ayahnya itu dengan penuh rasa kesal dan ketidakrelaan.
"Alea adalah wanita yang baik, dia bukan wanita seperti yang papa katakan. Dia berasal dari keluarga baik-baik, dan papa tahu? Akulah yang pertama untuknya!" Tambah Tristan dengan penuh rasa bangga.
Tristan maju selangkah mendekati sang papa, ia menatap papa Jaya dengan penuh rasa kesal. Ia tidak akan membiarkan Alea di jelekkan. Karena pada kenyataannya, Alea memang wanita baik-baik.
"Aku bukan seperti papa yang mudah tertipu dengan tipu muslihat. Linda saja yang papa katakan baik, apa kenyataanya? Dia wanita murahan!" Ujar Tristan.
"Aku mencintai Alea, dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkannya, apalagi menceraikannya." Tambah Tristan dengan penuh penekanan.
Papa Jaya kalah, ia langsung terdiam mendengar setiap kalimat yang putranya ucapkan.
Namun apakah ia akan menerima Alea sebagai menantu? Tentu saja tidak. Papa Jaya cukup gagal sekali dalam memilih menantu, ia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.
"Terserah apa penilaian kamu, Tristan. Pada akhirnya, baik mama maupun papa tidak akan pernah menerima wanita itu sebagai seorang menantu!" Tegas papa Jaya dengan mata yang sedikit melotot.
Tristan memejamkan mata sebentar, ia lalu mencium kening dan punggung tangan sang mama. Tristan memilih untuk pergi daripada ia lepas kendali dan kembali membentak sang papa.
__ADS_1
"Tristan!" Panggil papa Jaya saat melihat putranya pergi.
Tristan tidak menyahut, ia benar-benar meninggalkan ruang rawat sang mama dan memilih untuk pulang ke rumah.
Tristan akan pulang ke rumah untuk mengambil barang-barang yang ia butuhkan, sekaligus mengusir wanita ular itu dari rumahnya.
Tristan pergi dengan mengendarai mobilnya sendiri, sebab ia memang tidak menelpon Mondy. Ia sudah cukup memerintahkan asisten nya itu di kantor saja.
Sesampainya di rumah miliknya yang mewah, Tristan langsung disambut oleh para pelayan di rumahnya.
"Dimana Linda?" tanya Tristan langsung.
"Kenapa kau mencariku wahai, calon mantan suami." Suara itu berasal dari lantai dua.
Tristan menatap Linda yang sedang menuruni anak tangga dengan koper besar yang tengah dibawakan oleh salah satu art di rumah Tristan.
Linda mendekati Tristan, ia tersenyum dengan lebar lalu berusaha untuk mengusap wajah tampan Tristan namun tidak berhasil. Tristan mengindar
"Kau yakin tidak mau mencicipi tubuhku sekali saja, Tristan. Kau akan menyesalinya, percayalah padaku jika kau menjawab tidak." Ucap Linda penuh percaya diri.
Tristan tersenyum merendahkan, ia menatap Linda dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.
"Pria sepertiku tidak akan sudi menyentuh wanita rendah dan murahan sepertimu, Linda. Jika diluar sana banyak yang mencicipi tubuhmu, maka mereka sama murahnya denganmu." Ucap Tristan dengan tajam.
Ucapan Tristan berhasil menusuk sampai ke hati Linda, namun wanita itu berusaha untuk biasa saja. Lagipula ia sudah memiliki pengganti.
"Keluar dari rumahku!" Usir Tristan menunjuk pintu keluar.
"Tanpa kau suruh pun, aku akan keluar Tristan. Tapi jangan lupa dengan harga gono-gini untukku, bagaimanapun aku adalah istrimu yang sah." Balas Linda tersenyum bangga.
Tristan mengangguk kecil. "Tentu saja, aku paham. Wanita haus uang sepertimu pasti akan menuntut banyak hal." Timpal Tristan dengan tenang.
"Bye suamiku, Sayang." Linda pun berlalu dari hadapan Tristan, tidak lupa ia membawa koper berisi barang-barang miliknya.
Sementara Tristan, ia senang karena wanita itu sudah pergi dari rumahnya. Tristan tidak akan keberatan jika Linda menuntut banyak hal, asal ia bisa terbebas dari pernikahan menjijikan ini.
Pernikahan yang seharusnya suci, namun ternyata sudah ternodai dengan sifat Linda yang sering bergonta-ganti pasangan.
MINGGAT GUYS SI LINDAš¤£
__ADS_1
Bersambung...............................