
Alea begitu terkejut setelah mendengar cerita suaminya yang mengatakan bahwa Linda sudah tiada. Yang lebih membuat Alea terkejut adalah ancaman Linda yang membawa-bawa nama kakaknya.
Setelah mendengar cerita dari suaminya, Alea langsung menghubungi Firda, kakaknya. Ternyata, Firda berada di rumah sakit yang sama dengan Alea saat ini.
Kini Alea sedang duduk bersama kakaknya di depan ruang rawat intensif Fade.
Alea tidak henti mengusap punggung kakaknya yang terus saja menangis. Ia tahu bahwa Firda sangat terpukul dengan kejadian sekarang ini.
"Aku merasa sangat bersalah, Lea. Karena menyelamatkanku, dia sampai terluka parah." Lirih Firda sambil menangis.
Alea mengangguk paham, ia tahu kejadiannya setelah Firda cerita tadi.
"Aku tahu, Kak. Pasti sangat terpukul menjadi kamu, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakannya. Lagipula, wanita itu sudah tewas, dia tidak akan lagi berbuat jahat." Timpal Alea lembut.
Firda tidak membalas ucapan adiknya, ia terus menatap ruang rawat Fade dan berharap bahwa semua ini hanya mimpi.
Kalau saja ia menerima tumpangan Fade tanpa adanya perdebatan, pasti semua ini tidak akan terjadi.
Firda merasa dirinya sangat bodoh!
Ketika keduanya masih menunggu di depan ruang rawat intensif Fade, Firda dan Alea terkejut mendengar suara teriakan seseorang.
"Fade!!"
"Dimana putraku, Dokter!!"
Seorang wanita paruh baya berteriak histeris sambil memanggil Fade. Alea dan Firda sama-sama yakin bahwa wanita itu adalah keluarga dekat Fade, atau bahkan ibunya.
Wanita tua itu tidak datang sendiri, melainkan bersama pria yang dipastikan adalah suaminya. Terlihat dari bagaimana pria itu mengusap punggung si wanita sembari memintanya untuk tenang.
Firda dan Alea saling tatap sebentar, mereka lalu bangkit dari duduknya saat tatapan wanita tua itu mengarah pada mereka.
"Kau!" ucap wanita tua itu menunjuk Firda.
Firda mengulum bibirnya, ia semakin yakin jika wanita di depannya ini adalah ibunya Fade.
Dulu ketika masih pacaran dengan Fade, Firda belum pernah melihat sosok ibu Fade, secara langsung maupun tidak langsung.
__ADS_1
"Perkenalkan, saya …" ucapan Firda yang hendak memperkenalkan diri terhenti.
"Firda, kau gadis itu kan? Gadis yang selalu dibicarakan oleh putraku?" tanya wanita itu dengan jari telunjuk di depan wajah Firda.
Firda mengangguk kaku. "Benar, saya Firda." Jawab Firda pelan.
Pria disebelah wanita itu lantas maju selangkah dan menatap horor Firda.
"Jadi kau yang sudah membuat putraku seperti ini, kau yang selalu menolak cintanya kan?" tanya pria itu dengan sedikit bentakan.
"Kau kira kau siapa sampai berani menolak cinta putraku, lihat bagaimana dia sekarang. Dia terluka parah karena menyelamatkan nyawa mu!" tambah pria itu.
Firda terkejut, namun ia merasa bingung. Bagaimana bisa kedua orang tua Fade bisa mengenalnya, apa memang sesering itu Fade bercerita.
"Pa, jangan bicara begitu." Tegur mama Fade.
Wanita itu menatap Firda, ia melempar senyuman ramah kepada Firda yang masih tampak kebingungan.
"Ternyata benar kata Fade, kau sangat cantik." Ucap wanita itu sembari memegang dagu Firda.
"Fade selalu bercerita pada saya, katanya dia jatuh cinta kepada seorang gadis yang cantik dan baik. Namun dia juga mengatakan jika gadis itu menolak cintanya karena sebuah kesalahan yang ia perbuat." Tambah wanita itu bercerita.
Ibunya Fade menggenggam tangan Firda, tatapannya begitu hangat dan teduh ke arah gadis yang teramat dicintai Fade.
"Fade sangat mencintaimu, dia selalu mengatakan bahwa ia menyesal telah mempercayai orang yang salah." Kata ibunya Fade dengan tulus.
Firda tetap diam, ia semakin merasa bersalah dan benar-benar bodoh. Entah mengapa Firda tidak bisa memaafkan Fade, bukan hanya karena tuduhan pria itu, tapi juga karena sikapnya yang licik sehingga membuat adiknya menjadi seperti sekarang.
"Saya minta maaf, Nyonya. Saya merasa sangat bersalah telah membuat Fade dalam bahaya begini." Ucap Firda menundukkan kepalanya sopan.
"Maaf saja tidak cukup, kamu harus bertanggung jawab!" kata papanya Fade dengan tegas.
"Saya pasti akan tanggung jawab, Tuan. Apa yang harus saya lakukan?" tanya Firda dengan pasrah.
Sebelum papanya Fade menjawab, seorang dokter tiba-tiba datang. Dokter itu membawa sebuah amplop besar berisi hasil Rontgen.
"Nona Firda, ini hasil Rontgen pak Fade." Ucap dokter memberikan amplop besar itu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada putra saya, Dok?" tanya mamanya Fade.
Wajah dokter tampak kebingungan.
"Mereka orang tua pasien anda, Dok." Jelas Alea, Firda tidak bisa menjelaskan karena fokus melihat hasil Rontgen di tangannya.
Dokter manggut-manggut, ia lalu menatap satu persatu orang yang ada di sana guna menjelaskan hasil yang ia bawa itu.
"Karena kecelakaan yang dialami, bagian kaki pak Fade mengalami cedera keretakan di tulang keringnya, sehingga kemungkinan dia tidak akan bisa berjalan sementara waktu." Jelas dokter kepada semua orang yang ada di sana.
Firda seketika merasa tidak bisa bernafas. Fade tidak bisa berjalan, meskipun hanya sementara tapi tetap saja pasti akan membuat pria itu merasa sangat terpukul.
"Apa!!" kejut papanya Fade.
"Tapi putra saya akan bisa kembali berjalan kan, Dok?" tanya mama Fade.
"Tentu, Nyonya. Dengan perawatan rutin dan cek secara berkala ke dokter." Jawab dokter itu.
"Kak." Panggil Alea pelan, menyadarkan Firda dari diamnya.
"Fade tidak bisa berjalan, Lea. Dia tidak bisa berjalan karena aku," ucap Firda dengan lirih.
"Satu lagi, Tuan dan Nyonya. Kemungkinan besar pak Fade akan kehilangan sebagian ingatannya karena benturan yang cukup keras. Bisa jadi ia hanya mengingat kejadian bulan lalu, tahun lalu atau beberapa tahun sebelumnya." Jelas dokter lagi.
"APA!" kali ini Firda yang bicara, ia benar-benar syok mendengar penjelasan dari dokter.
"Dokter, apa ingatan putra saya bisa kembali sepenuhnya?" Tanya papa nya Fade.
"Tentu, itu bisa terjadi melalui pengobatan atau secara alamiah. Yang jelas, tolong jangan memaksanya untuk mengingat." Jawab dokter.
Firda langsung jatuh terduduk di kursi tunggu, tangan kanannya memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.
"Kau benar-benar harus bertanggung jawab, kau harus bisa membuat putraku bisa berjalan, dan mendapatkan ingatannya lagi!" Ucap papa Fade dengan begitu tegas.
Firda tidak bicara apa-apa, gadis itu menangis sejadi-jadinya meski tanpa suara. Firda berusaha menahan suara tangisannya, meski sejujurnya ia ingin sekali berteriak sekeras mungkin.
Fade tidak bisa berjalan, dan hilang ingatan.
__ADS_1
WADUHHH, GIMANA NICH??
Bersambung.....................