
"Probabilitas Jaya Kusuma sebagai ayah biologis dari Aira Liviana adalah 100%."
Kalimat itu tertulis dengan cetakan tebal diatas kertas putih, berikut data lengkap yang menunjukkan bahwa papa Jaya benar-benar ayah biologis Aira atau Thalia.
Mama Saras tampak syok. Antara terkejut dan bahagia karena putrinya ternyata masih hidup dan mereka dipertemukan kembali.
"Pa, anak kita Thalia. Putri kita, dia putri kita!!" Ucap mama Saras dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Papa Jaya mengangguk singkat, ia mengusap-usap punggung sang istri lalu memeluknya.
Papa Jaya sama bahagianya mengetahui bahwa Aira benar-benar anak kandungnya. Aira atau Thalia, putrinya.
"Hiks … mama mau ketemu Aira, mama mau peluk dia, Pa." Ucap mama Saras dengan tergesa-gesa.
"Tenang, Ma. Kita bicarakan pelan-pelan, Aira bisa syok jika tahu kenyataan ini." Tutur papa Jaya lembut.
"Tapi mama nggak sabar, Pa. Mama mau ketemu Thalia, mama sudah kangen sekali dengannya." Ucap mama Saras.
"Belasan tahun kita terpisah, jadi bukankah wajar jika mama mau segera bertemu Thalia." Tambah mama Saras.
Papa Jaya manggut-manggut, tanpa bicara apapun lagi ia pun mengajak istrinya untuk pergi ke apartemen Aira dan Mondy.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan mereka yakin jika kemungkinan Tristan sebentar lagi akan pulang yang mana hal itu juga membuat Mondy segera pulang.
Namun karena mama Saras yang tidak sabar ingin bertemu Aira, papa Jaya tidak bisa menolak apalagi mereka sudah terpisahkan selama belasan tahun lamanya.
"Hiks … Thalia, Mama datang Nak!" Lirih mama Saras seraya menyeka air matanya.
Pasangan suami istri itu keluar dari kamar mereka dan berpapasan dengan Alea yang baru saja turun dari kamarnya.
Alea tampak bingung melihat ibu mertuanya menangis, dan terlihat seperti orang yang terburu-buru.
Alea lantas mendekat. "Ma, ada apa?" Tanya Alea khawatir.
Mama Saras menatap menantunya, tanpa menjawab ia langsung melenggang pergi begitu saja meninggalkan wanita berbadan dua itu.
Papa Jaya berdehem. "Tidak ada apa-apa, Nak. Jangan khawatir ya, katakan pada Tristan kami ada urusan sebentar." Jelas papa Jaya lembut.
"Benar, Pa? Maksudku apa semua benar baik-baik saja atau aku perlu menghubungi mas Trisya?" Tanya Alea memastikan.
Papa Jaya mengangguk mantap. "Semua benar-benar baik, Nak. Jangan khawatirkan apapun ya, papa pergi dulu." Jawab papa Jaya lalu segera pergi meninggalkan Alea.
Alea berjalan sampai ke depan rumah, melihat mertuanya itu pergi bersama dengan sopir yang mengendarai mobilnya.
Alea mengusap-usap perutnya, ia seperti tidak percaya akan ucapan mertuanya. Alea yakin ada sesuatu yang mama dan papa mertuanya sembunyikan.
Meski demikian, Alea tetap tidak berani untuk ikut campur. Alea hanya berharap apapun urusan mertuanya, semoga bisa lancar.
"Baby, doakan oma dan opa mu ya." Bisik Alea sembari menatap perihnya, seakan bicara pada bayi dalam kandungannya.
Alea pun memilih untuk pergi ke dapur dan melihat makan malam apa yang disiapkan untuk suami dan mertuanya.
__ADS_1
Sampai di dapur, Alea merasa lelah dan memilih untuk duduk di kursi meja makan.
"Bi, tolong buatkan jus ya. Aku tiba-tiba merasa lelah." Ucap Alea seraya mengatur nafasnya.
"Itu biasa, Nona. Kondisi hamil besar memang membuat kita lebih cepat lelah." Balas pelayan itu dengan sopan.
Alea manggut-manggut, ia pun merasa jika dirinya lebih cepat lelah. Tepatnya beberapa hari belakangan, saat kandungannya sudah semakin membesar.
"Mami tuh nggak sabar kamu lahir, Nak." Bisik Alea penuh senyuman.
Alea menerima jus yang sudah dibuatkan untuknya. Ia menenggak hanya sedikit sebab telinganya mendengar suara mobil.
Alea lekas bangkit, ia berjalan cepat agar bisa menyambut kepulangan suaminya dari kantor.
"Dor!!" Teriak Alea saat dirinya tepat sekali berpapasan dengan suaminya.
Tristan terkejut, ia bahkan sampai memegangi dadanya. Ingin marah tidak bisa, apalagi melihat tawa lepas sang istri yang menghilangkan rasa lelahnya seharian ini.
"Kamu kaget nggak?" Tanya Alea penuh semangat.
"Sangat kaget, Sayang." Jawab Tristan lalu memeluk tubuh istrinya.
Alea terkekeh, ia melepaskan pelukan suaminya kemudian meraih tas kerja Tristan.
"Sudah makan?" Tanya Tristan seraya merapikan rambut istrinya.
"Mana ada aku makan jam segini, aku kan makan bareng kamu." Jawab Alea dengan manja.
"Yaudah, kita makan sama-sama nanti ya. Aku ada yang mau diomongin dulu sama Mondy." Tutur Tristan.
Alea menoleh ke belakang dan melihat Mondy, kemudian beralih melihat suaminya lagi.
"Mas, jangan lama-lama ya. Kasihan, Aira pasti sudah menunggu di rumah." Tutur Alea mengingatkan.
Tristan mengusap kepala sang istri lalu mengangguk. "Iya, Sayang." Balas Tristan paham.
"Nona, permisi ya." Pamit Mondy lalu pergi mengekori Tristan.
Alea memilih untuk duduk di ruang tamu sambil menunggu suaminya, ia bosan seharian di kamar teru.
***
Sementara itu di tempat lain, mama Saras begitu tergesa-gesa untuk sampai di apartemen Aira. Ia benar-benar ingin memeluk dan mendekap erat tubuh putrinya yang telah terpisah dengannya belasan tahun.
"Ma, sabar." Ucap papa Jaya.
Mama Saras menekan bel apartemen Aira tanpa menyahuti ucapan suaminya. Ia menanti dengan perasaan yang tidak sabar dan ingin segera memeluk putrinya.
Tidak lama kemudian pintu terbuka, tampak Aira baru ssja selesai mandi. Terlihat dari rambutnya yang masih di gulung handuk.
"Tuan dan Nyonya, kalian–" ucapan Aira yang kebingungan seketika terhenti tatkala mama Saras tiba-tiba memeluknya erat.
__ADS_1
Aira kaget, ia reflek membalas pelukan ibu dari majikannya dulu dan memberikan usapan di punggung pelan.
Pelukan mama Saras kian mengerat saat dirinya bisa merasakan bahwa sang putri membalasnya.
Mama Saras rindu ini, ini adalah hal yang paling dinantikan sejak beberapa tahun silam, namun suaminya selalu mengatakan bahwa putri mereka telah tiada.
Kenyataanya, Thalia masih hidup sebagai Aira. Mereka dipisahkan secara sengaja oleh pesaing bisnis suaminya.
"Nyonya, ada apa?" Tanya Aira memberanikan diri.
Mama Saras melepas pelukannya, ia memegang wajah Aira lalu turun ke bahu dan memeluknya kembali. Hal itu sontak membuat Aira semakin bingung.
"Ma, lepaskan. Aira kebingungan, kita jelaskan dulu pelan-pelan ya." Tutur papa Jaya pada istrinya.
Aira menatap papa Jaya. "Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya." Tutur Aira sopan.
Mama Saras dan papa Jaya lekas masuk, mereka duduk di sofa yang beberapa hari lalu mereka duduki juga untuk meminta sampel.
"Saya akan buatkan minum dulu, sebentar." Kata Aira, namun dilarang oleh mama Saras.
"Jangan, Nak. Tidak perlu, kami hanya ingin bicara, tidak perlu repot." Timpal mama Saras.
Aira hanya bisa menurut, ia duduk di hadapan pasangan suami itu itu dengan tatapan yang semakin bingung.
"Lebih baik kamu baca dulu ini ya." Tutur papa Jaya memberikan laporan hasil DNA.
Aira menerimanya, ia lekas membuka dan membaca isinya. Terlihat wajah bingung wanita itu, sebab sebelumnya tidak pernah melihat laporan hasil tes DNA.
"Maksudnya apa, Tuan?" Tanya Aira dengan sedikit terbata.
"Aira, kamu adalah anak kami yang hilang bertahun-tahun lalu." Jawab papa Jaya.
"Ini mama, Nak. Ini mama kandung kamu," tambah mama Saras menangis histeris.
Aira menjatuhkan laporan di tangannya, ia menatap papa Jaya dan mama Saras dengan mata berkaca-kaca.
Jantung Aira terasa mencelos mendengar kenyataan yang diterimanya.
"Apa ini semua bukan mimpi?" Cicit Aira pelan.
Aira tidak percaya bahwa ia benar-benar anak kandung dari keluarga Kusuma, atau dengan kata lain ia adalah adik Tristan.
"Nama kamu Thalia." Ucap mama Saras memberitahu.
Aira bangkit dari duduknya, ia tiba-tiba saja merasa pusing bahkan sampai memegangi kepalanya.
Pandangan nya mulai kabur, tubuhnya lunglai dan hampir saja jatuh ke lantai jika papa Jaya tidak sigap menolong.
"Thalia, Nak!!!" Panggil mama Saras histeris.
NENG AIRA SIYOKKK KAYAKNYA 😭😭
__ADS_1
Bersambung..............................