
Firda melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran tempatnya bekerja, hari ini ia akan bekerja sampai malam, dan besok pagi harus masuk pagi.
Sebenarnya melelahkan bekerja sebagai karyawan restoran begini, harus bekerja sesuai shift karena restorannya buka 24 jam full.
Walau bagaimanapun, Firda sebenarnya punya pendidikan, ia bisa saja mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, namun ia tidak pernah mencobanya karena bayaran di restoran pun sudah lumayan baginya.
"Eh, Fir. Udah datang, muka lo pucat banget." Ucap salah satu teman satu shift dengan Firda.
Firda memegang wajahnya. "Masa sih, perasaan gue nggak apa-apa. Itu perasaan lo aja kali," timpal Firda disertai tawa.
Firda pun meletakkan barang-barangnya miliknya di loker, lalu mengambil seragamnya untuk ia pakai hari ini.
Firda menatap dirinya di pantulan cermin yang ada di toilet, ia memang terlihat pucat, namun dipoles sedikit lipstik pasti penampilannya lebih baik.
"Lebih baik deh," gumam Firda kemudian menyimpan semua alat makeup nya.
Firda keluar dari kamar mandi kemudian langsung berdiri di meja kasir. Tugasnya itu bermacam-macam. Kadang jadi kasir, kadang juga jadi pelayan yang mengantarkan pesanan.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu." Sapa Firda dengan ramah pada pelanggan yang baru saja datang dan langsung menghampiri meja kasir.
Sebagai seorang yang bekerja di bidang pelayanan, sebisa mungkin Firda ramah. Sebenarnya Firda itu ramah dan penuh senyuman, akan tetapi semua itu sedikit berkurang sejak hubungannya dan Fade kandas.
Firda menggelengkan kepalanya berulang-ulang, ia sudah bertekad untuk tidak mengingat Fade lagi, jadi untuk apa ia membahasnya sekarang.
Sementara itu di tempat lain, Fade baru saja sampai di apartemen miliknya. Ia sudah sejak tadi menahan diri agar tidak langsung pulang dan memaki Linda.
Sayangnya ia ada meeting penting sehingga ia baru bisa pulang sekarang. Tangan Fade membuka pintu kamar dengan kasar, yang sontak membuat Linda terkejut.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Linda mendekati Fade dan berusaha untuk bersikap semanja mungkin.
Linda hendak memegang wajah pria tampan nya ini, namun Fade menepisnya dengan cepat dan kasar.
Perlakuan Fade yang baru saja diterimanya, tentu membuat Linda terkejut. Selama ini Fade selalu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.
"Ada apa denganmu, Dear?" tanya Linda kebingungan.
Fade masih diam, ia mengetatkan rahangnya dengan tatapan yang tidak teralihkan sama sekali dari wajah Linda yang cantik, namun ternyata sangat menjijikan.
Linda bukan hanya wanita kotor, tetapi juga wanita ular yang telah berhasil meracuni pikirannya selama ini, sampai-sampai ia menuduh dan menghina Firda habis-habisan.
"Sayang, ada masalah di kantor?" tanya Linda lagi meski sejak tadi ucapannya tidak ada yang dibalas oleh Fade.
__ADS_1
Fade mengepalkan tangannya, ia benar-benar ingin memukul wajah yang manipulatif itu dengan kasar bahkan sampai babak belur, tapi ia tidak mau mengotori tangannya.
"Pergi." Ucap Fade dengan penuh penekanan.
Kening Linda mengkerut. Fade menyuruhnya untuk pergi? Fade mengusirnya?
"Sayang, kamu ngusir aku?" tanya Linda menunjuk dirinya.
Fade mencengkram rahang Linda dengan penuh tenaga, membuat wanita itu tampak meringis kesakitan seraya berusaha untuk melepaskan cengkraman nya.
"Berhenti menyebut diriku sayang dengan bibir murahanmu itu." Ucap Fade dengan tatapan mata yang belum berubah.
"Fad, aku nggak tahu kamu kenapa tiba-tiba kaya gini. Sebenarnya ada apa?" tanya Linda dengan suara tercekat.
Fade menghempaskan tubuh Linda dengan kasar sampai terjerembab ke lantai, ia menatap wanita itu dengan sorot mata yang ingin membunuh Linda saat ini juga.
"Ada apa? Kau bertanya, hah?!" Bentak Fade di depan wajah Linda.
"Selama bertahun-tahun, kau sudah menipuku Linda. Kau telah meracuni pikiranku, sehingga aku membenci dan terus menghina Firda." Imbuh Fade dengan nada semakin tinggi.
Mendengar nama Firda, sontak Linda bangkit dari duduknya. Ia menatap Fade dengan pandangan yang dibuat sesedih mungkin.
"Kamu ngomong apa, Fad. Aku nggak ngerti, kamu pasti sudah teracuni sama wanita bayaran itu kan." Kata Linda dengan begitu percaya diri.
"Kau benar-benar wanita gila, Linda. Kau jelas-jelas bersalah dan masih menyalahkan Firda." Sahut Fade dengan nafas yang memburu.
"Aku tidak tahu ilmu apa yang kau gunakan sampai-sampai membuatku sangat percaya pada wanita ular sepertimu. Kau lah yang murah, Linda. Kau wanita bayaran yang selalu bergonta-ganti pasangan hanya demi uang!" teriak Fade seraya menunjuk wajah Linda.
Wajah Linda berubah pias mendengar ucapan Fade barusan, ia mendadak tegang dan langsung mengalihkan pandangannya kemana saja demi menghindari tatapan tajam Fade.
"Kau menuduh Firda dan membuat hubunganku hancur, lalu kau hadir dan berusaha untuk mengambil posis Firda. Saat itu dan sekarang aku sangat bodoh, tapi tidak lagi." Ucap Fade lalu mencekal lengan Linda.
Linda menggeleng. "Fad, dengarkan aku dulu. Kamu salah paham, aku tidak mungkin seperti itu." Rancau Linda berusaha untuk mencegah kekasihnya mengusir dirinya.
"Lalu kau seperti apa hah? Apa lebih buruk?" tanya Fade mendorong Linda menjauh darinya.
Saat ini mereka sudah berada di luar kamar, tepatnya di ruang tamu yang ada di dalam apartemen itu.
"Fad, tolong dengarkan penjelaskan ku dulu." Pinta Linda memohon.
"Tidak akan! Aku tidak akan pernah mau mendengar kebohongan lagi dari bibirmu." Tolak Fade dengan tegas.
__ADS_1
Fade berjalan beberapa langkah mendekati Linda, ia menatap tubuh Linda dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.
Fade tersenyum merendahkan. "Sekarang aku paham, kenapa Tristan memilih Alea dibanding dirimu. Karena Alea jauh lebih terhormat, bukan sepertimu yang menjajakan tubuhmu ke banyak pria." Kata Fade menghina.
Fade tertawa lagi, ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal sebelum kembali menatap Linda yang tampak sudah ingin menangis.
"Tuhan masih sangat baik padaku, hingga dia menunjukkan sifat aslimu sebelum aku benar-benar menikahi mu. Dan pastinya, selama ini aku tidak pernah menyentuh tubuh murahanmu." Ucap Fade lagi.
"FADE!!!" bentak Linda yang sejak tadi sudah menahan diri.
"Hati-hati dengan ucapanmu, Fad. Kau belum melihat diriku yang lainnya." Ucap Linda dengan suara rendah.
Fade mengangkat kedua alisnya, ia manggut-manggut mendengar ucapan Linda yang tampak sudah murka.
"Ya, kalo begitu tunjukkan saja. Tapi tidak disini, melainkan di masyarakat." Balas Fade dengan tenang.
"Model Linda Senofita ternyata adalah seorang lacur yang menjual tubuhnya ke banyak pria. Hal itu juga yang menjadi alasan kuat Tristan menceraikannya!" kata Fade seakan membacakan sebuah berita.
Linda mengepalkan tangannya, ia berjalan beberapa langkah mendekati Fade yang tampak masih marah, namun tetap tenang.
"Percaya atau tidak, tapi penghinaan mu hari ini akan dibayar mahal oleh wanita yang kau cintai itu." Ucap Linda penuh penekanan.
Linda berjalan melalui Fade, ia hendak mengambil barang-barangnya yang belum sempat ia keluarkan dari dalam koper, sehingga tidak butuh waktu lama untuknya berkemas.
"Aku bisa mendapatkan banyak pria sepertimu dan Tristan jika aku mau, jadi jangan pikir bahwa aku akan menangis sambil memohon agar dikasihani." Bisik Linda dengan seringai di wajahnya.
"Aku tahu, karena sejatinya memang wanita murah itu mudah sekali laku." Balas Fade.
"Kau itu seperti sebuah barang obralan di pasar," tambah Fade dengan tidak kalah berbisik.
Linda menahan diri untuk kembali mengeluarkan amarahnya.
"Mantan kekasihmu pernah hampir tiada, jadi jaga dia baik-baik." Ucap Linda sebelum akhirnya keluar dengan senyuman jahat.
Linda keluar dari apartemen Fade, ia tidak akan mengemis di kaki pria itu karena ia tahu, bahwa dirinya bisa mendapat ribuan pria kaya seperti Tristan dan Fade diluar sana.
Ia memang mencintai Fade, karena itulah dia rela meninggalkan Tristan. Namun jika Fade pun bersikap seperti Tristan yang terus menghina dirinya, maka Linda tidak akan sudi untuk tetap berada disana.
Firda dan Alea, dua nama itulah yang telah merebut kedua cintanya. Linda tidak akan tinggal diam tentang ini.
"Aku akan membuat pembalasan untuk kalian berdua, lihat saja nanti." Gumam Linda dengan mata berkaca-kaca karena menahan amarahnya.
__ADS_1
DUUH, MELAWAN DIA GUYS. NGGAK ADA TAKUT-TAKUTNYAš°
Bersambung....................................