Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Perhatian Aira


__ADS_3

Alea membantu Tristan untuk bersiap-siap ke kantor. Saat ini wanita itu tengah membantu suaminya memakai dasi dan jas kerjanya.


Tristan tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia merengkuh pinggang ramping istrinya lalu sedikit memberikan usapan lembut disana.


Tangan Tristan bahkan turun ke bagian belakang Alea dan sedikit menekannya. Alea seketika melotot mendapat perlakuan demikian dari suaminya.


"Mas, jangan aneh-aneh deh!" Tegur Alea dengan sorot mata yang tajam.


Tristan tertawa, ia gemas sekali melihat istrinya yang melotot karena marah. Sikap Alea ini tentu saja sangat jauh berbeda dengan sikap Alea di awal-awal mereka bersama.


Dulu Alea lebih banyak diam, bahkan nyaris tidak bicara padanya, namun seiring waktu istrinya itu mau membuka diri dan menerimanya.


"Sayang." Panggil Tristan dengan sedikit manja.


Alea hanya berdehem sembari merapikan dasi Tristan, setelah selesai barulah ia melingkarkan tangannya di leher sang suami.


"Apa, Mas?" sahut Alea dengan jelas.


"Kamu cantik banget, aku jadi mau ngajak olahraga." Ucap Tristan dengan jujurnya.


Alea tertawa sembari mencubit perut kotak-kotak suaminya. Mereka memang belum melakukan hubungan lagi sejak Alea menjalankan operasi kuret beberapa waktu lalu.


Alea belum berani, ia akan meminta saran dari dokter dulu. Jika memang dokter sudah mengizinkan, maka ia siap untuk melayani suaminya lagi.


"Nanti aku ke dokter dulu ya." Balas Alea lembut, tangan halusnya mengusap wajah sang suami hangat.


Tristan menunduk, ia mencium bibir istrinya dengan penuh kelembutan tanpa dibarengi dengan napsu.


"Aku antar ya, sekarang kita sarapan dulu yuk." Ajak Tristan pada sang istri.


Alea mengangguk, ia menggandeng tangan sang suami lalu keluar dari kamar mereka untuk sarapan bersama.


Alea benar-benar tidak diperbolehkan untuk bekerja berat oleh Tristan, sehingga ia tidak memasak sarapan. Para pelayan yang melakukan itu semua.


Sesampainya di meja makan, Tristan duduk di kursinya sementara Alea melayani Tristan dulu. Alea mengambilkan sarapan untuk suaminya dulu, setelah itu baru sarapan untuknya sendiri.


"Terima kasih, Sayang." Ucap Tristan seraya menggenggam tangan kanan Alea lalu menciumnya hangat.


Alea tersenyum juga. "Sama-sama, Mas. Ayo di makan," tutur Alea mempersilahkan.


Alea dan Tristan sarapan bersama sambil diiringi dengan obrolan kecil suami istri. Sesekali juga terdengar tawa dari keduanya yang membuat para pelayan ikut tersenyum.

__ADS_1


Bagaimana tidak tersenyum, suasana rumah utama menjadi lebih hidup dan ceria sejak Alea datang.


Tuan muda mereka yang selalu memasang wajah garang tanpa adanya senyuman, sangat jauh berbeda dengan Tristan yang sekarang.


Saat Linda masih menjadi nyonya di rumah utama, tidak pernah sekalipun terdengar tawa dari meja makan. Bahkan tuan dan nyonya mereka jarang sekali sarapan bersama.


"Tuan Tristan sepertinya sangat bahagia ya bersama nona Alea, aku jadi senang lihatnya." Ucap salah satu pelayan yang sedang membersihkan vas bunga.


"Iya, beda waktu sama nyonya Linda. Boro-boro ketawa, senyum aja nggak pernah." Timpal pelayan lainnya.


Sementara Tristan dan Alea sedang sarapan bersama, lain hal nya dengan pria dan seorang gadis di dalam kamar milik si pria.


Aira terlihat panik dan khawatir melihat Mondy yang kesulitan untuk bangun dari tidurnya, pria itu terus saja memegangi pinggang bagian belakangnya sambil sedikit meringis.


Aira menggigit bibirnya, ia takut sekali sejak semalam telah membuat ambruk tubuh Mondy dan mendarat mulus di lantai.


"Om, eumm … Om mau aku bantu obati?" tanya Aira menawarkan.


Mondy menoleh penuh keterkejutan, ia syok melihat Aira ada di sana dengan dirinya yang tidak memakai kaos, hanya celana pendek saja.


"Aira, sejak kapan kamu disana!!!" pekik Mondy dengan mata terbelalak.


Aira ikut terkejut mendengar suara teriakan Mondy yang cukup kencang, ia bahkan sampai memegangi dadanya sendiri.


Mondy berdecak, ia pun bangkit dan hendak memakai kaosnya, namun dihentikan oleh Aira.


"Jangan, Om!" cegah Aira lalu segera berlari kecil mendekati Mondy.


Mondy semakin membelalakkan matanya melihat Aira malah mendekat.


"Kamu ngapain masuk, saya mau pakai baju!" tegur Mondy berdecak kesal.


"Jangan pakai baju dulu, Om. Luka lebam itu harus diobatin dulu," timpal Aira.


Mondy mendengus, ia tidak mendengarkan ucapan Aira dan memilih untuk memakai bajunya.


Mondy sudah terlambat, bahkan sangat terlambat. Ia yang biasanya sudah menunggu Tristan di depan rumah, kini malah belum rapi sama sekali.


"Jangan, Om!" larang Aira lagi lalu mendorong Mondy agar kembali duduk di pinggir ranjang.


Mondy menatap Aira dengan tatapan kesal, ia hendak berucap namun Aira lebih dulu bicara.

__ADS_1


"Marahnya nanti aja, Om. Sekarang aku bantu obatin punggung Om." Potong Aira dengan cepat.


Aira membalik badan Mondy agar membelakanginya. Setelah itu Aira mengambil salep di atas meja nakas yang tadi di taruh oleh Mondy disana.


"Kan ada aku, Om. Kenapa sih nggak minta tolong dan malah milih obatin sendiri?" Tanya Aira seraya mengoleskan salep ke punggung Mondy.


Mondy meringis kecil. "Karena saya takut, takutnya nanti kamu malah buat punggung saya makin hancur." Jawab Mondy jujur.


Aira reflek menggeplak bahu Mondy. "Ah Om bercanda aja, nggak gitu juga konsepnya." Timpal Aira sambil terkekeh.


"Kamu itu benar-benar ya, Aira. Mau benar-benar saya pecat?" tanya Mondy dengan wajah serius.


Aira tersedak air liurnya sendiri, ia sekarang sadar bahwa dirinya sudah melakukan kesalahan lagi.


"Jangan, Om. Nggak mau, aku nggak mau pulang." Jawab Aira ketakutan.


Aira terus mengobati Mondy, nafas gadis itu pun menerpa punggung telanjang Mondy sehingga si pemilik sedikit merinding.


Mondy seketika memejamkan matanya ketika tangan halus Aira mengoleskan salep ke punggungnya.


"Om, sakit banget ya?" tanya Aira dan Mondy hanya berdehem.


Mondy tersadar, ia membuka matanya lalu langsung bangkit dari duduknya.


"Keluar!" usir Mondy tanpa menatap Aira.


"Tapi–" ucapan Aira terhenti.


"Keluar, sudah selesai mengobatinya kan." Potong Mondy dengan cepat.


Aira mengangguk, ia meletakkan salepnya diatas meja nakas.


"Maafin aku ya, Om. Aku keluar dulu, jangan lupa sarapan ya." Tutur Aira, lalu pergi dari kamar Mondy.


Mondy melirik Aira yang sudah keluar dari kamarnya, ia hanya menghela nafas lalu memilih untuk bersiap.


Ia yakin dirinya akan dimarahi oleh Tristan karena terlambat datang hari ini. Semua yang terjadi hari ini adalah karena dirinya yang menubruk lantai semalam.


Bukan salahnya sih, tapi salah gadis itu.


"Benar-benar menyebalkan!" gerutu Mondy seraya memakai kemeja miliknya.

__ADS_1


MAS MONDY JANGAN JUTEK-JUTEK OII😭


Bersambung.....................


__ADS_2