
Pagi-pagi sekali Alea sudah diajak Tristan untuk berenang di kolam yang difasilitasi oleh hotel. Entah bagaimana, tapi pagi ini kolam berenang benar-benar sepi dan hanya ada mereka berdua.
Tristan sudah menceburkan diri ke dalam kolam yang kedalamannya lebih dari 1 meter, sementara Alea hanya duduk di pinggir kolam.
Tristan hanya menggunakan celana pendek ketat berwarna hitam dan bertelanjang dada, sementara Alea, ia memakai pakaian renang yang Tristan berikan semalam.
Baju itu tidak berhasil menutupi perut Alea sepenuhnya, hanya sebagian yang tertutupi, sementara untuk celananya hanya sebatas paha saja.
Kaki jenjang Alea yang putih dan mulus itu langsung terekspose.
"Alea, kemarilah. Jangan seperti udang yang terus dipinggir!" kata Tristan sedikit berteriak.
Alea menggeleng, ia takut sekali jika air nya akan sangat dingin, apalagi sekarang waktunya masih terlalu pagi untuk berenang.
Tristan tersenyum misterius tanpa Alea sadari, pria itu lantas menyelam kemudian berenang ke arah Alea, sebelum menarik kaki wanita itu hingga seluruh tubuhnya tercebur ke dalam kolam.
Alea terkejut, sementara Tristan tertawa terbahak-bahak melihatnya. Ia merengkuh pinggang ramping Alea, lalu mengusap wajahnya yang basah.
"Anda jahat!" sarkas Alea dengan wajah kesalnya.
Tristan kembali tertawa, ia hanya mengangguk sebagai balasan atas ucapan dari wanita simpanannya itu.
"Lagipula untuk apa aku ajak kamu berenang, jika kamunya saja terus di pinggir seperti itu." Ucap Tristan geleng-geleng kepala.
Alea mendengus, ia masih berusaha untuk mengatur nafasnya yang memburu karena tadi terkejut. Beruntungnya tidak ada air yang masuk ke dalam hidung.
"Ayo berenang kesana, lalu balik lagi." Ajak Tristan memberi instruksi.
"Lomba?" tawar Alea menaik turunkan alisnya.
Alea tadi berpikir bagaimana caranya agar ia terbebas dari jerat nafsu Tristan nanti. Tentu saja, tanpa Tristan bicara pun, Alea paham jika pria itu pasti ingin menyentuhnya setelah ia sudah selesai dapat tamu bulanan.
Kini, ia akan mengajak Tristan lomba dengan hadiah bahwa si pemenang bisa meminta apapun.
"Kau yakin mau mengajak ku berlomba?" tanya Tristan seraya tangannya di bawah sana terus mengusap pinggang dan bokong Alea.
Alea menggigit bibirnya, ia berusaha menahan desiran aneh yang melanda dirinya saat Tristan bukan hanya mengusap pinggangnya, tapi juga menciumi lehernya.
Alsa segera mendorong tubuh Tristan menjauh, membuat Tristan bingung namun tidak bicara apapun.
__ADS_1
"Ayo." Ajak Alea dengan berani.
Tristan dan Alea berada di ujung kolam, anggaplah itu sebagai gadis start dan finishnya.
"Siap?" tanya Alea menaik turunkan alisnya.
Tristan tersenyum remeh. Sepertinya Alea tidak tahu jika dirinya adalah perenang handal, tentu saja ia akan menang.
"Satu dua tiga!!" Setelah berkata demikian, Alea dan Tristan pun mulai berenang untuk sampai ke ujung kolam dan balik lagi.
Dipertengahan kolam, Alea tiba-tiba berdiri, ia lupa untuk mengambil nafas sehingga rasanya sangat sesak.
Alea melototkan matanya saat Tristan sudah sampai di ujung dan siap balik lagi. Alea ketakutan, ia harus melakukan cara agar dirinya tidak kalah.
"Akhhh." Alea tiba-tiba meringis.
Tristan yang mendengar tentu saja terkejut, ia buru-buru mendekati Alea.
"Ada apa, apa yang sakit?" tanya Tristan terlihat begitu khawatir.
"Kaki saya, Pak. Sepertinya luka saya terbuka lagi," jawab Alea berbohong.
Tristan berdecak, ia hendak mengajak Alea untuk beranjak dari kolam. Tristan tidak mungkin membiarkan Alea terus berenang dalam keadaan luka terbuka.
"Saya baik-baik saja, eumm … mari lanjutkan lombanya, tapi kita ubah permainannya." Ajak Alea.
Tristan menghela nafas, ia tidak tahu apa tujuan Alea ingin tetap berlomba bersamanya. Padahal tadi ia sudah akan menang, tapi tidak masalah lah.
"Apa?" tanya Tristan dengan pelan.
"Menyelam dan tahan nafas ya, siapa yang naik ke permukaan duluan dia yang kalah." Ucap Alea menaik turunkan alisnya.
"Baik. Hadiahnya masih sama kan?" tanya Tristan.
"Tentu, si pemenang bisa meminta apapun." Jawab Alea dengan sangat yakin.
"Baiklah, ayo." Timpal Tristan dengan santai.
"Eh tapi, di dalam air harus merem ya, jangan buka mata." Kata Alea lagi memberi peraturan.
__ADS_1
"Iya, Sayang." Balas Tristan lembut.
Alea dan Tristan pun mulai menyelam, keduanya menyelam dengan mata terpejam, tentu saja itu atas permintaan Alea.
Saat di dalam air, Tristan sportif dengan tidak membuka matanya, namun tidak dengan Alea. Wanita itu membuka mata dan bisa melihat wajah Tristan di dalam air.
Alea menatap Tristan dengan penuh kekaguman. Pria itu memiliki wajah yang sangat tampan, dan juga nyaris mendekati kata sempurna.
Nafas Alea hampir habis, ia merasa sesak dan buru-buru naik ke permukaan. Alea tetap di permukaan, menurutnya Tristan tidak akan melihat dirinya sudah tidak berada di dalam air, jadi tidak masalah.
"Maaf ya, Pak. Nafas saya nggak kuat," celetuk Alea tertawa kecil.
Tanpa diketahui Alea jika di dalam air Tristan sudah membuka mata dan tidak menemukan gadis itu di depannya.
"Alea." Batin Alea.
Tristan ikut naik, ia melihat Alea sedang tertawa sambil menatapnya.
"Alea, kamu menipuku!" Seru Tristan memelototi Alea.
Alea menghentikan tawanya. "Tidak, Pak. Saya tidak bermaksud!" balas Alea menggeleng berkali-kali.
Tristan menyeringai seraya mendekati Alea. Melihat itu, Alea sontak ketakutan dan segera mundur.
"P-pak, saya minta maaf. Eumm … baiklah, saya kalah." Ucap Alea mengalah.
Tristan tertawa kecil, ia mengungkung tubuh kecil Alea dengan posisi wajah yang sangat dekat.
"Baik, saya akan memintanya sekarang." Kata Tristan lalu mengajak Alea untuk naik dari kolam renang.
Saat Alea dan Tristan sudah ada di permukaan, pria itu langsung menggendong Alea ala bridal style.
"Pak, saya bisa jalan sendiri." Ucap Alea pelan.
"Diamlah." Balas Tristan kemudian membawa Alea pergi ke kamar mereka.
Alea sangat takut, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Tristan padanya. Alea hanya bisa pasrah saat ini.
Tolong doanya ya teman-teman, Alea khawatir akan di cabik-cabik oleh Tristan.
__ADS_1
TOLONGIN ALEA GUYS 😫
Bersambung....................................