
Alea dibuat kelimpungan karena Alkano yang rewel usai mendapatkan imunisasi. Bocah berusia 2 bulan itu terus saja menangis dan membuat Alea tidak bisa melakukan aktivitas lain selain menggendongnya.
Waktu menunjukkan pukul 10 malam dan Alea belum sempat makan, suaminya sudah menawarkan untuk menyuapinya namun ia menolak.
Alea belum bisa makan jika putranya masih rewel, dan setelah 2 jam lebih ia susui sambil sesekali ia timang-timang, akhirnya Alkano pulas.
"Aku minta pelayan ambilkan kamu makan ya." Ucap Tristan berbisik, takut akan membangunkan putranya.
Alea menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, aku ke bawah aja. Kamu jagain Al ya," sahut Alea tidak kalah berbisik.
Tristan tersenyum hangat, ia mencium pipi istrinya lalu menganggukkan kepalanya. Akhirnya ia pun membiarkan sang istri pergi ke lantai bawah untuk makan.
Tristan tahu istrinya belum makan sejak siang karena Alkano memang benar-benar rewel sekali.
Tristan menoleh, menatap putranya yang begitu pulas di box bayinya.
"Nak, kamu kayak papi kayaknya. Suka bikin repot mami," gumam Tristan pelan.
Sementara Tristan menjaga Alkano, Alea pergi ke dapur. Ia ingin makan karena saat ini ia benar-benar merasa lapar.
"Aku harus makan apa ya, bingung." Gumam Alea membuka kulkas dan mengambil bahan-bahan untuk ia masak malam ini.
Alea berniat untuk membuat puyunghai, ia mengeluarkan telur dan sayur-sayuran untuk membuat makanan tersebut.
Alea ingin sekali makan pedas, namun tidak bisa karena ia ibu menyusui sehingga ia akan menggunakan saus tomat saja.
"Lekas sekali rasanya." Gumam Alea lalu mengambil segelas air untuk ia minum.
"Ngapain kamu disitu?" Suara tersebut berasal dari ambang pintu dapur yang memisahkannya dengan ruangan lain.
Mendengar itu, Alea lantas menoleh. Ia melihat ibu mertuanya datang membawa teko, sepertinya mama Saras ingin mengisi air.
"Mama, aku mau masak makanan." Jawab Alea jujur.
Mama Saras lalu melirik meja makan, disana memang sudah tidak ada makanan sebab makan malam akan langsung di bawa ke paviliun pelayan jika tidak habis. Tentu makanan tersebut tidak diacak meski bekas makan malam majikan.
"Kemana aja kamu jam segini baru makan." Ketus mama Saras.
__ADS_1
Alea tidak menjawab, ia tidak mengatakan jika Alkano sedang rewel usai mendapatkan imunisasi.
"Minggir kamu." Ketus mama Saras sedikit mendorong Alea.
Alea kebingungan ia melihat mama Saras meletakkan teko yang tadi di bawanya, lalu mengambil alih masakan yang hendak Alea buat.
"Ma, aku bisa kok masak sendiri." Kata Alea pelan.
Mama Saras tidak menyahut, ia tetap melanjutkan masakan menantunya itu yang untungnya tidak terlalu susah.
"Jangan makan pedas, kamu ibu menyusui." Kata mama Saras tanpa menatap Alea.
Tanpa sadar Alea tersenyum, ia merasa jika saat ini mama Saras sedang menunjukkan kepedulian padanya.
Beberapa hari ini pun mama Saras membantunya menjaga Alkano, namun hari ini tidak karena mama Saras dan papa Jaya tadi sempat pergi menemui teman-temannya.
Alea duduk di kursi meja makan, menunggu makanan selesai dimasak. Sejujurnya tidak enak hanya duduk disini, namun mama Saras akan semakin marah jika ia mengganggunya.
"Aku tahu mama itu baik dan penyayang, mungkin memang kedatanganku ke keluarga ini memang bukan dengan cara yang benar, sehingga mama sangat membenciku." Batin Alea dengan mata berkaca-kaca.
Setelah beberapa menit, masakan pun matang. Mama Saras menyajikannya di depan Alea yang tampak sudah tidak sabar untuk mencicipinya.
"Mama, ayo makan sama aku." Ajak Alea dengan lembut.
"Aku tidak lapar, kau makan saja sendiri." Sahut mama Saras lalu mengambil teko yang tadi ia letakkan di meja.
Mama Saras mengisi air minum itu, dan langsung pergi meninggalkan dapur tanpa berkata apapun.
Alea menghela nafas, namun ia sangat senang bisa merasakan masakan ibu mertuanya. Sambil makan Alea terus menangis tanpa suara, sebuah tangisan kebahagiaan.
Alea berdoa, semoga perhatian mama Saras akan terus seperti ini padanya. Alea berharap, semoga sikap mama Saras tidak akan berubah lagi besok.
***
Keesokan harinya, Alkano sudah tidak rewel lagi sehingga Alea bisa melakukan aktivitas lain, tidak seperti kemarin.
Hari ini pun rumahnya kedatangan teman-teman sosialita mama Saras untuk sekedar bersilaturahmi.
__ADS_1
Alea awalnya enggan untuk keluar kamar, namun suaminya mengirim pesan dan mengatakan bahwa dia membeli kue dan ice cream untuk dirinya.
Alea pun terpaksa keluar dari kamar, ia melewati mama Saras dan teman-temannya dengan senyuman ramah.
"Lhoo, itu menantu mu? Dia anak keluarga siapa?" Tanya salah satu teman mama Saras.
Mama Saras tampak bingung, ia menatap Alea yang sedang menerima paket dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Bukan keluarga siapa-siapa, dia dulu sekretarisnya Tristan dan dia hidup hanya dengan kakaknya." Jawab mama Saras seadanya.
"Kau menikahkan putra tunggalmu dengan gadis yang bukan dari keluarga berada? Ya ampun, bagaimana bisa." Teman mama Saras yang lainnya berucap.
"Ada apa denganmu, Saras. Kenapa kau jadi asal-asalan memilih menantu?" Tanya teman-teman mama Saras lagi.
"Karena Tristan mencintainya, aku bisa menerima apapun asal putraku bahagia." Jawab mama Saras.
"Iya, tapi tidak gadis sebatang kara juga. Kau ini tumben sekali, Saras. Bagaimana jika wanita itu hanya mengincar harta kalian," bisik salah satu dari wanita itu diakhir kalimatnya.
Alea masih bisa mendengar, ia benar-benar sedih setiap kali mendengar orang beranggapan bahwa dirinya hanya mengincar harta, padahal ia tidak pernah berpikir begitu.
Alea melangkah cepat, ia ingin ke kamar saja daripada telinganya terus mendengar ucapan teman-teman mama Saras.
"Alea, tunggu." Ucap mama Saras.
Alea menghentikan langkahnya, ia membalik badan dan menatap mertuanya yang kini berjalan mendekatinya.
Mama Saras tiba-tiba merangkul bahu Alea, lalu mengajaknya untuk mendekati ibu-ibu sosialita itu.
"Dia Alea, menantu keluarga Kusuma. Tidak peduli dia putri keluarga siapa, tapi yang jelas dia adalah menantuku." Ucap mama Saras.
"Dan kau Mila, menantuku bukan wanita seperti itu. Tristan mencintainya karena dia gadis yang baik, dan aku tahu itu. Alea tidak pernah mengincar harta kami, dia tulus mencintai Tristan dan menjadi menantu keluarga ini. Dia bahkan telah memberikan harta tidak ternilai pada kami." Tambah mama Saras pada temannya yang tadi berucap buruk tentang Alea.
Alea menatap ibu mertuanya dengan penuh rasa terkejut, ia benar-benar tidak menyangka jika mama Saras akan mengatakan ini semua.
"Sebagai mertuanya, aku tersinggung mendengar ucapan kalian. Jadi silahkan pergi dari rumahku," ucap mama Saras lagi dengan tegas.
WOW MAMA SARAS🥺🥺
__ADS_1
Bersambung............................