Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Maafkan aku...


__ADS_3

Disela sela makan siang yang hangat bersama Keluarga Baros di ruang makan. Mereka dikejutkan dengan kehadiran Fredy yang mematung melihat Albert Einstein sudah lebih dahulu berada disana. Matanya seketika memerah, wajah tampan rupawan itu seperti sedang memendam amarah yang sulit terucap.


"Dokter Preeed," sapa Maride mendekati pria bule nan tampan rupawan.


Fredy berusaha tenang walau ada gejolak amarah yang berkecamuk dalam kepalanya.


"Kita ke kamar Paras yah? kamu sudah makan?" tanya Maride merangkul bahu Fredy.


Fredy mengangguk, "sudah Bu, tadi sebelum kesini saya makan dirumah sakit. Kebetulan ada pasien yang harus mendapatkan tindakan," jelasnya melangkahkan kaki menuju kamar Paras.


Leo hanya tersenyum tipis melihat kakak beradik yang sedang perang dingin karena ulah secretarisnya Yani.


"Hmmmm semoga kau baik baik saja Fred," batin Leo.


Leo mengambil tisyu, menyeka bibirnya, meninggalkan Baros dan Albert yang masih menikmati hidangan.


"Pi, aku ke dalam dulu, nemanin Paras," jelas Leo.


Baros mengangguk setuju, dia menemani Albert bercerita tentang Airbus mereka.


Dikamar, Yani dan Paras saling melirik saat Fredy dan Maride masuk kedalam.


Yani mematung bahkan tidak mampu menyapa. Baginya dia telah melukai hati dan perasaan Fredy, tapi dia merasa Albert lebih romantis daripada Fredy yang hanya fokus pada pasien. Maklum profesi yang berbeda, membuat keduanya tampak sempurna dengan perbedaan itu.


Fredy hanya menyapa Paras tanpa melihat pada Yani. Jika ditanya perasaan Fredy saat ini, ingin dia meremas wanita dihadapannya karena telah memberi harapan palsu walau hanya dengan candaan ringan mereka.


"Masih goyang mba?" tanya Fredy memeriksa kondisi tubuh Paras.


"Udah enggak, kemaren doang saat darah banyak keluar," jelas Paras.


"Iya, aku langsung minta transfusi 3 kantong malam itu. Syukurnya darah yang sama ready di rumah sakit. Makanya penanganan agak lama, karena takut Mba alergi," senyum Fredy.


"Sekarang mendingan seeh, semoga enggak apa apa sama janinku," rundung Paras.


Fredy mengangguk, "janin Mba kuat banget, darah yang keluar karena shook dan terhempas saja,"


Fredy melanjutkan pemeriksaannya. Sengaja lama dia lakukan karena ingin melihat reaksi gadis yang masih diam membisu memperhatikannya.

__ADS_1


Leo masuk kekamar, sementara Maride memilih keluar daripada harus berhadapan dengan putranya. Saat ini Maride belum bisa sepenuhnya memaafkan Leonal. Hanya wajah kaku yang dimunculkan Maride jika berhadapan dengan pewaris Opung Pardede itu.


Leo menyaksikan tingkah mereka tanpa mau ambil pusing. Kesehatan Paras dan baby twins paling utama baginya.


"Bang, seminggu lagi bawa kakak ke rumah sakit buat kontrol, kita cek kondisi janin didalam lagi. Semoga semakin sehat dan kuat, Mba Paras jangan banyak pikiran, harus banyak makan dan minum air putih. Kurangin yang manis dulu, karena Mba sudah sangat manis," goda Fredy tersenyum tipis.


Sheeeer,


Paras dan Leo hanya bisa terkekeh geli mendengar ucapan Fredy barusan.


"Makasih yah Fred. Oya, semua aku transfer atau cash?" tanya Leo.


"Hmmmm sudah ada yang membayar, nggak usah dipikirkan, yang penting Mba Paras dan baby twins sehat,"


Fredy memasukkan kembali alat alatnya, tanpa menyapa Yani.


Yani harus memulai lebih berani untuk jujur pada Fredy walau mungkin akan mengalami kemarahan dari sang dokter kandungan itu.


"Sudah? bisa kita bicara sebentar?" ajak Yani mendekati Fredy yang enggan menatapnya.


"Hmmmm," Fredy hanya mendehem.


Leo dan Paras memberi izin pada kedua insan yang hanya diam membisu itu, untuk menyelesaikan semua masalah mereka, agar tidak berlarut-larut.


Dikamar Leonal yang sejuk, lumayan jauh dari ranjang peraduan pasangan termesum di Langhai Group terdapat kursi tamu yang sangat nyaman. Bahkan memberi kenyamanan bagi siapa yang duduk disana.


Mereka duduk berseberangan, Fredy enggan memulai percakapan lebih dahulu. Dia hanya memperhatikan gerak-gerik Yani yang terlihat salah tingkah dihadapannya.


"Aku akan menikah dengan Albert, maaf kan aku," ucap Yani memberanikan diri.


Jedeeeer, jedeeeer...⚡


Jantung Fredy terasa dicabut sang penguasa semesta, bunga yang dia pupuk selama ini harus patah bahkan terasa tercabut hingga ke akarnya. Pelan pria Jerman itu menatap Yani, menelan salivanya menahan diri agar amarah yang bergemuruh tidak meledak dengan sangat hati hati bibirnya berucap.


"Maaf? selamat kamu sudah menentukan sikap terhadap saya. Jujur saya kecewa sama kamu, tapi saya harus menerima kenyataan bahwa bunga yang saya tanam di rebut oleh Abang saya sendiri. Apakah maaf saja cukup?" tatapan mata Fredy yang teduh terlihat memerah berkaca kaca berusaha membendung air mata dan hati yang lara.


"Tapi kita tidak ada komitmen sejak awal Fredy," ucap Yani membela diri.

__ADS_1


Fredy menarik nafas dalam, bahkan sangat dalam, "hmmmm apakah dua insan dewasa harus berucap? kita jalan bersama, menghabiskan waktu hingga larut apa itu bukan bentuk komitmen? apakah aku terlalu jujur dengan perjodohan membuat kamu mundur? apakah semua yang aku katakan sama kamu tidak dapat meyakinkan hati kamu untuk menerima aku, sehingga tega kamu tidur dengan pria yang baru kamu kenal dua hari dan memutuskan menikah dengannya? apa kamu tahu masa lalunya? keluarganya? pantes kamu enggak mau nerima bantuan aku! ternyata Albert lebih dulu membeli diri kamu, Yan,"


Mata Yani menatap tajam ke arah Fredy, merasa terhina bahkan direndahkan oleh calon adik iparnya.


"Aku tahu Albert Abang kamu!" tegas Yani.


"Hooooh bagaimana jika Albert Einstein bukan Abang saya? apakah kejadian akan berubah? kamu akan memilih saya hmmmm?" Fredy menatap lekat mata Yani.


"Disini sakitnya Yan, disini," tunjuk Fredy pada dada bidang itu.


Yani menunduk, enggan untuk membela diri. Dia telah melukai perasaan Fredy dengan pikirannya sendiri.


"Aku menganggap kamu enggak serius sama aku," ucap Yani menatap nanar pada hezel mata Fredy.


Fredy justru mendengus kesal mendengar kalimat bodoh yang keluar dari bibir mungil gadis cantik berwajah imut itu.


"Kita pernah bicara melalui telefon, apa kamu lupa? setelah kamu mendapatkan semua apa yang kamu inginkan hmmm? oooogh come on Yani, kamu gadis pintar, bagaimana dengan magister kamu! aku justru ingin kamu belajar hingga S3, aku mengutamakan pendidikan untuk kamu! bahkan aku sudah menghubungi Mami untuk memutuskan perjodohan ku dengan Lauren, tapi apa? apa Yan? kamu ngecewain aku!"


Fredy mengusap kasar wajahnya, tampak frustasi dan enggan bersahabat dengan keadaan.


"Oke, jangan pernah bertemu aku lagi, aku tidak ingin melihatmu! pergilah. Selamat siang,"


Fredy berdiri, berlalu meninggalkan Yani yang tak bisa berkata apapun juga. Saat ini Fredy memiliki pemikiran dan pemahaman sendiri untuk Albert dan Yani.


"Aku tidak memaafkan mu Yan," batin Fredy.


Fredy menatap kearah Leo dan Paras mengatur wajah dan nafas dari kegundahan hatinya, "Bang Leo, makasih yah! saya permisi," tunduknya.


Leo menemani Fredy yang ingin segera meninggalkan kediaman Leonal, tanpa berpamitan dengan Maride dan Baros apalagi Albert.


Albert merasakan atmosfer permusuhannya dengan Fredy saat melihat punggung adiknya berlalu meninggalkan kediaman Leonal.


"Aku akan menemuimu setelah ini Fred," batin Albert masih mendengar racauan merdu lambe Maride.


Sabar yah Dokter Fredy... sini Tante peluk...🤧


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2