Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Pasrah...


__ADS_3

Siang di kediaman Leo sangatlah panas bahkan mampu membangkitkan emosi Yani jika sudah mengingat perkataan Albert.


"Yang penting aku enggak mau menikah dengan keluarga mereka Mba," ucapnya penuh emosi pada Paras.


Paras termenung, ada perasaan bersalah dihatinya karena telah memberi ruang pada Albert untuk merayu secretarisnya.


"Maafin saya yah? jika saya sudah sembuh, saya akan membantu untuk menyelesaikan dengan Albert," jelas Paras.


"Hmmm enggak usah Mba, aku sudah ikhlas kok, aku yang bodoh, mau percaya sama laki laki yang baru aku kenal. Kalau aku ikutin hati pengen banget nerima lamaran Fredy, tapi itu nggak mungkin Mba," jujur Yani.


Paras menggenggam jemari Yani, "jangan, bicarakan saja baik baik dengan Albert. Fredy itu adiknya, pasti dia akan membalas kamu dengan pengkhianatan jika sudah memiliki kamu. Albertlah yang harus bertanggung jawab, bukan Fredy. Nanti aku akan kasih tahu Mami, jika belum ada jalan keluar untuk hubungan kalian," jelasnya.


Yani menolak keras, dia tidak ingin Albert menikah dengannya hanya karena perasaan bersalah. Lebih baik dia begini.


"Jangan Mba, aku memang udah ilfil deluan. Lebih baik aku begini dulu. Jika terjadi sesuatu, baru aku bicara sama Mami Maride. Aku nggak sudi menikah dengan pria yang otaknya setengah gila," gerutu Yani.


Paras terkekeh geli mendengar ucapan Yani, "dia bukan gila Yan, tapi otaknya setengah, karena efek sering oral. Cowok kalau mesummeker gitu kan lebih ke fantasi, terus ngomong suka suka dia. Dia pikir kita nggak bisa hidup tanpa cintanya. Justru kamu harus lihat kesungguhan hatinya. Biarkan saja dulu. Nikmati proses, jangan menyesali apalagi meratap. Saya juga hampir gagal sama Leo, ternyata berjodoh," kenang Paras.


"Berarti aku harus pasrah Mba?" tanya Yani bego'.


Paras semakin lucu melihat wajah imut itu, mendengar celotehannya bahkan sangat menyedihkan dan harus bertahan demi perasaan.


"Bukan pasrah Yan, tapi pikirkan lebih matang. Kamu sudah dewasa, bukan 17 tahun yang mesti diarahkan. Sikap dalam memilih yang terbaik untuk masa depan kamu. Tenangkan saja dulu, nanti jika sudah tenang, ada solusi. Ingat, jangan berharap, yang penting kita menata hati agar selalu bahagia. Jangan kelihatan kita lemah, walau sebenarnya kita sangat lemah, bahkan hancur saat mereka mengatakan begitu. Tapi kita juga harus realistis, mereka yang mendekati kita sangat baik dan royal. Apalagi Albert sudah memberikan perhatian kecil sama kamu. Walau sikapnya mengecewakan, setidaknya dia sangat peduli," jelas Paras.


"Bener Mba, tapi dia sudah menginjak injak harga diriku. Aku kecewa disitu. Masak dia menyerahkan aku pada Fredy, sementara aku sama dia. Gimana aku mau balik Mba? jika aku menikah dengan Albert, pasti akan menjadi hal lucu bagi Fredy. Itulah yang menjadi beban pikiranku," cerita Yani.


"Hmmmm, tenanglah. Fredy hanya emosi sesaat sebelum bertemu dengan tambatan hati yang benar benar tulus sama dia. Oya, Berlin dulu sempat jalan juga sama Fredy? kenapa mundur?" tanya Paras menyantap sajian yang dihidangkan Maid kembali.


Soto Padang khas Indonesia yang menjadi makanan kesukaan keluarga kecil mereka.

__ADS_1


"Hmmmm setahu aku, Berlin malas karena Fredy hanya mementingkan kepentingan sendiri. Dia dokter, nggak full time buat kita. Bahkan sangat sulit dokter kandungan itu membagi waktu. Nanganin Mba terus, ada beberapa pasien yang menjadi prioritas kala Berlin berharap, Fredy meminta adik ipar Mba meneruskan kuliah sampe S3 alasannya untuk menunjukkan ke keluarga mereka. Berlin keberatan, karena nggak ada waktu. Magister aku aja masih ngalur ngidul," kekehnya.


Paras membulatkan bibir sexsehnya. Memahami bagaimana sebenarnya Fredy. Pria kaku itu hanya memiliki pemikiran sendiri, sangat berbeda dengan Albert yang hanya memikirkan pekerjaan tanpa melihat pendidikan.


"Ternyata perbedaan mereka sangat nyata yah Yan?" kekeh Paras.


"Hmmm gitulah Mba, mereka dua pria aneh yang lahir dari rahim yang sama."


Tawa keduanya pecah, bahkan sangat menggelitik hati mereka jika mengingat kakak beradik yang memperebutkan satu gadis seperti Yani.


"Padahal dokter muda banyak dirumah sakit aku lihat, kenapa dia malah sukanya sama aku coba Mba? perawat Lili asistennya, ada dokter spesialis anak yang baik banget sama Fredy. Malah naksirnya sama aku yang hanya karyawan Langhai," kekeh Yani mengenang kebodohan Fredy.


Paras hanya geleng-geleng kepala mencubit perut Yani yang tampak ramping karena ucapannya terdengar bodoh dan lucu.


"Kamu pikir karyawan Langhai bukan orang hebat? Dila, Sinta, Luqman itu orang orang hebat yang dipilih khusus oleh Tuan Baros dan diseleksi Maride," jelas Paras.


"Kayak kamu, rata rata kan pilihan Mami pasti wanita magister. Cuma Berlin saja yang sarjana keuangan. Dia justru nggak mau melanjutkan kuliah, karena pikirannya hanya mengabdikan hidupnya untuk Langhai Group," tambah Paras.


"Serius wanita bohai itu magister Mba? kok dia reseptionis? kenapa nggak di lantai 28?" tanya Yani penasaran.


Paras mengangguk, meletakkan mangkok soto yang sudah bersih tidak bersisa, menyeka keringat dengan tisyu basah agar terasa adem pada wajahnya.


"Resepsionis bergaji 15 juta, hanya Dila," jelas Paras membuat Yani menganga.


"What? saya juga mau kalau kerja resepsionis gaji segitu," kekeh Yani menatap Paras.


Paras tertawa, "kamu pikir gampang kerajaan Dila ngadepin orang iseng dan mesti hati hati menerima tamu untuk naik ke lantai 28. Jika terjadi kesalahan langsung pecat bahkan pindah divisi dengan gaji standar," jelasnya.


Yani mengangguk mengerti, "berarti berat kerja di Langhai Mba, banyak tantangannya, kayak aku, harus pandai mengatur jadwal Mba sama Leo. Kadang salah juga!" Yani menyandarkan tubuhnya di kursi.

__ADS_1


Mereka saling bertukar pikiran dan informasi, tanpa sengaja Leo dan Baros sudah kembali.


Leo menghampiri Paras, mencium bibir istri gendutnya, mengusap lembut perut Paras yang masih sehat setelah kejadian beberapa hari lalu.


"Darimana Bowl?" tanya Paras pada Leo membukakan kursi untuk suami tercinta..


"Ada urusan, Silutak datang ke Jakarta mencari keberadaan Ina istri keduanya. Ternyata Ina dibawa Loide ke Kalimantan. Papi takut terjadi sesuatu sama Loide, makanya mengerahkan seluruh orang kepercayaan di sana," cerita Leo melirik Yani yang tampak lesu.


"Eeeh, Lo mau nikah harus bahagia, nggak lesu gini," goda Leo.


Paras menggeleng kearah Leo, agar meninggalkan mereka tanpa harus ikut campur. Leo memilih berlalu meninggalkan Paras dan Yani, karena ingin melakukan ritual setelah menghabiskan waktu beberapa jam diluar rumah.


"Ndut, tolong buatin udang yah? aku pengen banget, sama sayur capcay, mesti buatan kamu bukan Maid. Pengeeen banget. Dari tadi pagi hanya ingin yang kamu buatin aja, sampe malas makan di luar," jelas Leo mengecup kepala Paras.


"Iya, mandi yah. Nanti aku buatin, biar nggak ileran kamunya," goda Paras.


"Kok aku yang ileran? ini ni, baby twins yang membuat aku mabuk dari tadi di mobil," usap Leo pada perut Paras.


Paras hanya tersenyum membiarkan Leo mengelus perutnya, kemudian berlalu meninggalkan mereka.


"Mesra banget Mba, aku jadi iri," ucap Yani menutup wajahnya.


"Sabar, ada masanya. Yuuk, temenin saya ke dapur, biar baby four dijagain baby sitter," ajak Paras pada Yani.


Yani mengangguk setuju, menemani Paras memasak permintaan Leonal.


"Ternyata Mba Paras sangat memahami brondongnya. Semoga nggak berantem lagi mereka," batin Yani.


Hmmm, sepertinya Leo yang ngidam...🙄

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2