Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Pujangga..


__ADS_3

Disudut ruangan rumah sakit berdiri beberapa pengawal Keluarga Baros, untuk mengamankan putra dan menantunya Paras yang masih tinggal dirumah sakit.


"Leo, Papi sama Mami pulang dulu yah? kasihan Amak sama Apak dirumah, sejak tadi meminta kita pulang untuk menenangkan baby four," kejut Baros pada pundak Leo.


Leo tersentak, karena dia baru saja terlelap di samping istrinya, sejak tadi memiliki pemikiran yang sama, agar bisa segera menemui keempat anak mereka.


"Kenapa nggak bareng saja, Pi?" tanya Leo melirik kearah Maride yang masih tertidur di sofa dengan mulut ternganga.


"Kalian pulang jam berapa?" tanya Baros melihat jam tangan yang ada dipergelangan tangan kanan.


Leo melihat kearah jam tangan Baros, menunjukkan pukul 04.30 waktu Jakarta.


"Sepertinya jam 07.00 kami sudah bisa pulang, Pi," jelas Leo kembali memeluk Paras yang masih terlelap.


"Hmmmm," Baros kembali ke sofa, tapi matanya tidak bisa terlelap.


Ada perasaan bersalah dihatinya, mengingat semua kejadian, sehingga mengorbankan kebahagiaan anak menantunya, untuk mendapatkan baby twins.


"Pi, jam berapa kita pulang? badan ku sudah rindu kasur," ucap Maride masih dengan mata tertutup.


Baros mengusap lembut punggung istrinya, "bareng Leo dan Paras saja. Jam 07.00 si Kevin masuk," jelasnya.


Maride mendengus kesal, merogoh handphone miliknya dari dalam tas tangan yang berada disamping. Mencari nomor Dokter Kevin sahabat lama dengan nada kesal dan memaksa.


📞"Kevin, kau cek menantuku sekarang juga, sebelum aku cabut saham ku dari rumah sakit mu ini," ucap Maride tegas disambut tawa oleh Kevin yang berada diruang kamarnya.


📞"Ngeri kali ancaman mu soib, tunggu setengah jam lagi aku akan segera kesana. Nggak mungkin aku keruangan menantumu menggunakan piyama saja," kekeh Kevin.


📞"Ya, sudah cepat! sudah remuk badan ku disini. Kasur ku memanggil," Maride menutup telfonnya.


Baros meremas kuat paha Maride yang padat dan berlemak.


"Suka kali mengancam Kevin. Dia itu sahabat kita lhoo, bagaimanapun dia pernah mengejarmu sampai Australia. Kau hargai itu," kenang Baros.


Maride menatap wajah Baros memiringkan senyumannya.

__ADS_1


"Ck, mana pula dia jatuh hati pada ku. Jelas jelas dia mengejar Mamak Laura," ucap Maride asal.


"Mau Mamak Laura dia kejar, mau Mamak Leonal, aku tidak peduli. Karena kau cintanya hanya sama aku," Baros merangkul tubuh gembul sang istri.


Maride hanya meringis kesakitan saat tangan kekar Baros meremas bahunya, "kau yah Pi, sukak kali remas remas aku! sakit tahu, rusak tulang ku nanti," kekehnya manja.


"Sakit sakit, tapi suka, dasar wanita. Susah ditebak," Baros menggigit lengan Maride membuat wanita berumur itu teriak kesakitan.


"Sakit Opung Baros," rengek Maride kesal.


Baros semakin tertawa mendengar celotehan Maride, karena itu yang menjadi candu baginya.


"Pesan kopi Mi, aku nggak bisa tidur. Banyak kali pikiran ku," pinta Baros pada Maride.


"Aaagh, nanti saja! dirumah kita ngopi. Aku juga pengen minum susu sama baby four. Oya Pi, tadi aku dengar Will dia pulang kerumah kita. Nggak mau pisah dia dari baby four. Kasihan aku lihat menantuku satu itu. Pengen punya anak, tapi belum dapat. Sama kali lah dengan Berlin. Aku kadang suka sedih melihat Berlin dan Laura itu. Padahal mereka sudah berusaha setiap malam buat anak, tapi belum juga," kenang Maride pada Baros.


Baros mengusap lembut kepala istrinya dengan penuh kasih sayang, "hanya Tuhan yang punya rencana untuk memberikan mereka kepercayaan. Mungkin saat ini mereka harus membantu Leo dan Paras dalam mengasuh anak mereka. Makanya kita harus sabar. Kasih suport jangan menyerah. Mudah mudahan nanti dapat apa yang mereka harapkan," jelas Baros panjang lebar.


Cekreeek,


Dokter Kevin masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Melihat sahabatnya tengah berpangku mesra dengan suami tercinta disofa ruangan.


Plaaaak,


Maride melempar sendalnya kearah Dokter Kevin, tapi tidak mengenai dokter kocak itu.


Kevin tertawa terbahak bahak melihat sahabatnya tersulut emosi karena ulahnya.


"Nggak bisa kau gedor pintu itu Kevin setan," kekeh Maride.


Kevin semakin tertawa geli mendengar celotehan Maride. Dia bergegas menuju Paras dan Leo yang masih tertidur.


Perlahan suster yang menemani Kevin membangunkan Leo dan Paras.


"Bu, Bu Paras, Dokter Kevin mau visit. Katanya Ibu mau pulang pagi ini?" tanya suster.

__ADS_1


Leo bergegas turun dari ranjang rumah sakit, memperhatikan Dokter Kevin memeriksa luka dalam pada bahu Paras.


Suster mengganti perban atas perintah Kevin, memberi antiseptik agar luka cepat mengering.


"Kita sudah kasih plaster anti air, saya harap jangan terlalu banyak gerak. Nanti jika lukanya sudah mengering, kita lakukan untuk menggerakkan otot otot bahu. Biar tidak kaku. Leo, kamu bantu istrimu untuk membersihkan diri. Jangan lupa minum obatnya yah? semoga dapat pengganti lagi," jelas Kevin pada Paras dan Leo.


"Sepertinya enggak Om, kami mau fokus membesarkan baby four dulu. Kasihan mereka," sanggah Leo.


Paras mengangguk setuju, saat ini dia hanya merindukan baby four, yang ternyata belum ikhlas memiliki adik kembali.


"Maride, kapan kau undang aku makan malam kekediaman mu?" goda Kevin saat memandang dua sejoli yang selalu menjadi bahan candaannya sejak dahulu.


"Kepala kau! nggak mau aku ngundang perjaka tua makan malam! takut jatuh hati nanti pembantu ku sama mu," kekeh Maride.


"Aaagh, aku masih menunggu Linslei untuk menjadi bagian hidupku," jujur Kevin membuat Paras dan Leo saling tatap, begitu juga Baros dan Maride.


Deg,


Maride menatap lekat wajah pria tampan yang menjadi sahabat sejak dulu, "apa kau mau dengan status Linslei yang janda dan memiliki anak? kebetulan dia sudah menuju Jakarta, untuk mengunjungi kami," jelasnya pada Kevin.


Kevin mendekati Maride, "serius sepupumu janda? dari kapan Mar? kenapa kau tidak memberitahu padaku? apa aku tidak pantas untuk menjadi pendamping hidupnya?" tanyanya sedikit curhat.


Maride menarik nafas panjang, melirik kearah Baros, "suaminya meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan. Jadi dia sibuk sama kegiatannya sebagai seorang single fighter disana. Laura juga sudah dewasa dan menikah. Jadi dia hanya menghabiskan waktu untuk diri sendiri, tanpa memikirkan perasaannya. Dia sepupuku yang paling sulit jatuh hati. Kau tahu dia," jelasnya panjang lebar.


Kevin seperti mendapat durian runtuh, kembali bersemangat untuk bertemu cinta lamanya beberapa tahun lalu.


"Kapan aku bisa menemuinya? aku akan mengajak dia menikah. Seperti janji ku beberapa waktu lalu," kenang Kevin dengan wajah berseri-seri.


Maride menaikkan kedua alisnya, "serius kau Opung? sudah tua mau cinta cinta kayak abege? tak yakin aku. Ooogh Pi, sudah tidak ada wanita lain dihati laki laki pujangga ini selain Linslei, geli pula aku mendengarnya," kekehnya disambut senyuman oleh Baros.


"Aku memang masih berharap, Mar. Hanya Linslei, tidak ada yang lain. Makanya aku fokus pada rumah sakit ini. Biar aku bisa menemukan dia kembali. Ternyata Tuhan mendengar doa doa ku selama ini," senyumnya membayangkan wajah Linslei.


Maride yang muak mendengar celotehan Kevin, hanya mendengus kesal, "pergilah kau, muak aku dengar celotehan mu. Kalah pula si Baros oleh mu," tawanya semakin kencang.


Leo dan Paras hanya tersenyum geleng-geleng kepala mendengar tawa Maride yang mampu membangunkan penghuni rumah sakit termasuk roh halus, ha-ha-ha.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2