
Part ini ada bahasa daerah, jika tidak paham, tinggalkan coment mu, hehehe. Kita jalan jalan keliling Sumatra Barat yah reader. π
Next..
β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
Leo menemui Paras diruangan Baros saat Kennedy telah meninggalkan kantor mereka. Cukup lama mereka saling bercerita. Kennedy sangat berharap bisa bertemu Berlin, tapi apa hendak dikata, Berlin lebih memilih menikmati makanan yang mereka pesan diruangan Baros.
Siang itu menunjukkan pukul 14.00 waktu Jakarta, Leo bergegas membawa Paras ke apartemen dan melanjutkan perjalanan mereka.
"Tunggu Bowl, kita belum ngabarin Mami lhoo! Nanti dia nyariin kita." Tegas Paras melepas genggaman Leo.
Leo menoleh ke arah Paras, menangkup pipi istrinya yang sangat lucu itu. "Mami dan Papi ikut kita ke kampung kamu!" Jelas Leo.
Wajah Paras berubah seketika, "rumah aku nggak sebesar rumah kamu Bowl, dan pasti nggak akan nyaman buat kalian!" Rengek Paras mulai risih dengan ide Leo.
"Hmm, jika tidak memungkinkan! Mereka bisa menginap dihotel sayang! Aku sudah menyiapkan semua kebutuhan kita disana. Kamu tenang aja!" Jelas Leo pada istrinya.
Paras tersenyum, memajukan bibirnya kearah Leo, tentu Leo mengecupnya, cup.
"Thankyou Bowl!" Ucap Paras manja. Memeluk lengan Leo membiarkan OB membawa belanjaannya.
β βοΈTepat pukul 18.00 waktu Jakarta, mereka terbang menuju Padang Sumatra Barat. Tentu sebelum keberangkatan banyak drama antara Leo dan Paras.
Paras sangat manja, tak ingin jauh dari Leo walau hanya sedetik saat diapartemen. Membuat Leo menahan babnya, karena mendengar rengekan Paras.
Saat di pesawat, Paras terus mendekap lengan Leo tanpa melepasnya. Ntahlah, ini sangat aneh. Paras yang dulu mandiri kini tiba tiba sangat manja pada Leo.
Tibalah mereka di Bandara Minangkabau Padang.
Bergegas petugas bandara membantu Leo dan Paras untuk turun dari jet pribadi mereka. Begitu juga Baros dan Maride.
"Pi, alah lamo awak ndak manginjakkan kaki kasiko yo!" Kekeh Maride merubah bahasanya semudah merubah theme di layar handphone.
Baros yang mendengar Maride faseh berbahasa minang, terkekeh geli. "Iyo iyo!" Jawab Baros menggenggam jemari Maride.
Mobil mereka sudah menunggu, tidak jauh dari pemberhentian pesawat. Dengan langkah cepat mereka memasuki mobil menuju Bukit Tinggi.
Mereka menikmati perjalanan. Lumayan jauh kurang lebih 3 jam perjalanan.
Mereka melihat keindahan Lembah Anai.
Disini lebih sering terjadi bajir bandang jika hujan tak kunjung reda. Rentan dengan longsor dan berbagai macam tragedi kecelakaan.
Menikmati makan bersama di Aie Badarun rumah makan di kawasan Padang Panjang,
Memiliki ciri khas makanan yang sangat lezat dan bermacam macam pilihan.
Gulai tamusu atau usus sapi.
Bubur kampiun khas Padang Panjang.
Beberapa makanan khas lainnya,
Dendeng batokok.
__ADS_1
Sop buntut yang menggugah selera.
Siap siap kolesterol tinggi yah pulang dari Sumatra Barat. π
Maride dan Baros sangat menikmati hidangan yang sangat menggugah selera.
"Pi, enak kali lah! Rasa rasa nggak mau pulang Mami! Paras, makan yang banyak nak! Biar semakin besar cucuku didalam perutmu itu!" Maride mengambilkan beberapa lauk untuk Paras.
"Iiighs Mami, kok Paras aja? Aku?" Rengek Leo.
"Iiigh, kau pandai sendiri yah! Udah jadi bapak orang masih aja manja sama Mamak! Kau suruh mintak ambilkan sama bini kau!" Geram Maride.
Leo memajukan bibirnya, merengek ke arah Paras, "Ndut, ambilin aku itu dong!" Tunjuk Leo pada sepiring tamusu.
Paras mengambilkan, memotongkan kecil kecil diletakkan ke piring Leo. "Ini enak juga. Kamu mau Bowl?" Tunjuk Paras pada dendeng batokok lado hijau yang sangat renyah dan hmmm, lezatoos.
Leo mengangguk, melahap makanan penuh peluh. Sesekali Paras mengusap keringat yang mengalir membasahi kening Leo mengalir ke bulu bulu wajahnya dengan tisyu.
Baros tersenyum senang melihat kemesraan anak menantunya. Setidaknya walau Leo pernah kecewa dengan kegagalan pernikahan pertamanya, dia telah menemukan wanita baik walau usia terpaut jauh.
"Papi mau Mami lap juga pakai kainlap ni?" Goda Maride pada Baros sambil terkekeh geli.
"Iiighs, romantis sedikit kenapa seeeh Mih? Masak pakai kainlap, sekalian kain pel!" Jawab Baros disambut tertawa Maride yang menggelegar.
β³ Lebih kurang 1 jam mereka menikmati hidangan yang sangat nikmat itu, Maride memanggil pelayan.
"Uda, alah salasai, bilnyo yo," Pinta Maride.
Pelayan restoran mengangguk, dengan cepat menghitung memberikan kertas kecil itu pada Maride.
"Biar aku aja Mi!" Pinta Leo.
"Iiigh, biar Mamak aja! Duit Mamak masih banyak." Kekeh Maride mengeluarkan beberapa lembar uang kertas merah, memberikan pada pelayan.
Leo dan Paras serempak mengucapkan, "terimakasih Mami!" Tawa mereka.
"Hmm, nanti aja bu! Kerjaan saya belum selesai!" Jawab sopir menunduk sopan.
"Yalah, capek saketek! Ambo alah mangantuak!" Maride bergegas menuruni anak tangga restoran tentu dalam genggaman Baros.
Begitu juga Leo dan Paras. Mereka menuju Bukit Tinggi, mengantarkan Baros dan Maride ke hotel, kemudian pulang ke rumah Paras tidak jauh dari kota Bukit Tinggi.
Paras menggenggam erat tangan Leo saat tiba di depan rumah kediaman orang tuanya.
"Kenapa Ndut?" Tanya Leo.
"Aku takut Bowl!" Ucap Paras menelan salivanya.
"Tenanglah, ada aku!" Bisik Leo menenangkan Paras.
Paras memberanikan diri keluar dari mobil, menatap rumah masa kecilnya.
Rumah Paras yang jauh dari kesan mewah.
Paras memanggil Apak sama Amaknya.
"Assalamualaikum!" Teriak Paras menghilangkan perasaan takutnya.
"Waalaikumsalam!" Ucap Kirai membuka pintu rumah mereka. "Aaaagh, anak Amak! Pak, Apak, Paras pulang Pak!" Teriak Kirai ibunya Paras.
Faisal bergegas menuju pintu, "Masyaallah anak Apak! Semakin gapuak kamu nak!" Peluk Faisal ditubuh putri bungsunya.
Kirai dan Faisal saling tatap, kemudian mengalihkan tatapannya ke Paras. Meminta penjelasan dari putri bungsunya.
"Siapo ko Paras?" Tanya Kirai menatap Leo.
__ADS_1
"Hmm, i ini ehmm!" Paras menelan salivanya susah payah.
"Kenalkan Apak, Amak, saya Leonal suami Parassani!" Jelas Leo.
Kedua orang tua itu saling tatap dan bingung, "cubo ulang?" Tanya Faisal.
"Saya suami Paras Pak, nama saya Leo!" Tegas Leo mengambil tangan Faisal.
"Suami? Paras kamu sudah menikah nak?" Teriak Faisal.
Faisal dan Kirai saling berpelukan membuat Paras dan Leo semakin bingung.
"Serius iko laki kau Paras?" Tanya Kirai meyakinkan.
Paras mengangguk takut.
"Baralek gadang awak Pak! Ndak nio tau Amak do! Suruah Luna pulang. Baralek gadang, potong jawi awak!" Ucap Kirai salah tingkah menyambut menantu baru yang macho menurut Kirai.
"Ternyata anak kito suko yang babulu yo Mak?" Kekeh Faisal menggoda Kirai.
Kirai mengangguk, menyambut Leo dengan hangat. "Masuak menantu! Bisuak awak undang niniak mamak untuak membicarakan baralek awak!" Titah Kirai menggiring keduanya memasuki rumah mereka.
Leo merasa lega, ternyata tak sehoror pikirannya. Sopir menurunkan semua barang bawaan Paras dari mobil, menghampiri Leo.
"Tuan muda, saya bawa mobil atau tinggal disini?" Tanya sopir.
"Kamu nginap saja disini! Kalau mau pulang sebentar silahkan, ini bawa bingkisan buat keluarga kamu!" Ucap Leo pada sopirnya, memberi beberapa lembar uang. "Atau besok pagi juga nggak apa apa! Saya nggak butuh mobil, saya butuh kamu!" Kekeh Leo.
"Baik Tuan! Terimakasih. Besok pagi saya jemput Nyonya besar dulu baru kesini yah Tuan!" Jelasnya kemudian berlalu.
"Terimakasih banyak!" Usap Leo pada bahu sopirnya.
Paras dan Kirai masih berpelukan dikursi tamu. Entah berapa purnama terlewatkan bagi keduanya tidak bertemu. Hanya menghabiskan waktu melalui telfon dan pesan singkat.
Faisal menghampiri Leo yang tengah menikmati kesejukan Kota Bukit Tinggi itu.
"Bagaimana? Indah nggak disini?" Tanya Faisal menepuk bahu Leo dengan ramah.
Leo kaget tersenyum sopan, "suka pak! Sejuk!" Jawab Leo.
"Kamu merokok?" Tawar Faisal pada Leo.
Leo menggeleng, "saya nggak ngerokok Pak!" Jawab Leo sungkan.
"Silahkan, jangan sungkan! Inilah rumah kami, anggap seperti rumah sendiri." Jelas Faisal.
"Iya Pak," Leo sesekali melirik kearah Paras.
Jujur jantungnya masih belum stabil, ada perasaan was was bahkan takut.
Akhirnya Paras melepas pelukannya dari Kirai, memanggil Leo suaminya. "Paras ajak suami ke kamar dulu yah Mak! Ini ada oleh oleh kesukaan Amak sama Apak. Besok pagi keluarga Leo akan berkunjung kesini. Nggak usah pesta pesta. Paras nggak mau! Lagian saat ini Paras lagi hamil muda. Nggak mau capek capek." Jelas Paras pada Kirai agar memahami keadaannya.
Kirai mengangguk, "syukurlah, yang penting kamu bahagia! Amak nggak mau kamu kecewa lagi! Sekarang istitrahatlah. Kamar kamu baru Amak bersihkan! Rupanya kamu pulang!" Ucap Kirai mengusap lembut lengan Paras.
Paras membawa Leo memasuki kamarnya. Leo membawa travel bag. Saat tiba dikamar, Leo memeluk Paras.
"Makasih yah Bowl, kamu mau pulang ke kampungku!" Paras menangis haru dibahu Leo.
"Heii, kenapa mesti nangis? Cup cup cup, besok pagi kita jalan jalan yah! Aku pengen berenang di air dingin!" Goda Leo pada puncak hidung Paras.
Paras mengangguk setuju. "Hmm, kamu mandi duluan atau aku?" Tanya Paras.
"Berdua gimana?" Goda Leo.
Tak menolak, Paras menerima twaran suaminya, tentu Leo semakin bahagia walau berada di kamar yang biasa saja, jauh dari kesan mewah.
πππππππ
Happy reading...ππ₯°
__ADS_1
Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...ππ₯°β€οΈ