
Leo dan Paras menghabiskan malam yang indah, tentu berakhir di ranjang kamar hotel mereka. Perlahan Leo mengecup kening yang penuh peluh, membiarkan Paras terlelap sambil mendekapnya.
π³Drrrt, drrrt....
"Berlin!" Bisik Leonal.
π"Kak, lo dimana?"-Berlin.
π"Puncak!" Jawab Leo jujur.
π"Gue di villa Kak Paras, tapi kalian nggak ada! Gue berdua Luqman Kak, nggak enak, takut khilaf!" Kekeh Berlin.
π"Kak Paras udah tidur Berlin, gue emang nggak nginap di villa. Karena kami baru menghabiskan dinner romantis di hotel langganan keluarga kita." Jelas Leo.
π"Terus gimana? Nggak mungkin gue nginap di hotel, kalian pasti lagi enak enak." Rengek Berlin.
π"Di villa aja! Besok pagi kita sarapan bareng disana. Gue nggak bisa bangunin Paras." Tegas Leo.
π"Kalau gue bobo bareng Luqman lo jangan marah yah? Gue nggak kuat ni! Dingin!" Kekeh Berlin menutup telfonnya.
Leo menatap layar handphone miliknya, "dasar mesum! Bilang aja ngasih tahu pengen enak enak sama Luqman." Geram Leonal meletakkan handphone di nakas.
Paras membuka matanya, "Berlin kenapa sayang? Dia mau ngapain sama Luqman?" tanya Paras berusaha duduk.
"Dia nginap di villa kita!" Jelas Leo enteng.
"Kamu biarin? Mereka berdua?" Tanya Paras menatap iris mata suaminya masih terlihat santai.
"Iyalah, toh Berlin juga pernah ngelakuin sama Kennedy." Jawab Leo tanpa rasa berdosa.
Paras menggapai telfon miliknya menghubungi Berlin segera, agar menginap di hotel bersama mereka. Tentu membuat Leo kaget dan kesal, karena akan mengganggu kemesraan mereka berdua.
"Biarin Ndut!" Bisik Leo setelah Paras menutup telfonnya.
"Biarin gimana? Mereka belum menikah, walau Berlin pernah melakukan dengan Kennedy, jangan terulang lagi. Dia bakal kehilangan Luqman atau kecewa untuk kedua kalinya. Kamu tau, itu akan membuat dia semakin frustasi sayang." Ucap Paras tegas.
"Tapi Luqman serius sama Berlin!" Jawab Leo enteng.
"Siapa bilang? Kita belum tau sepenuhnya tentang Luqman." Rungut Paras.
"Dia sahabat aku sayang! Luqman itu baik dan dari dulu mencintai Berlin!" Jelas Leo.
__ADS_1
"Terus, kamu ngizinin dia begituan malam ini ehmm? Jika Luqman nggak mau menikahi Berlin gimana?" Tanya Paras kesal.
"Hmmm, kamu kenapa mau melakukannya sama aku? Memberikan semua pada ku? Padahal kamu tau aku duda dan kamu nggak tau siapa aku?" Leo balik bertanya.
Paras menarik nafas dalam, "itu beda Bowl, aku udah pasrah! Bahkan jika kita tidak berjodoh, mungkin aku akan pergi meninggalkan kamu. Aku justru sudah tidak berharap sama kamu kala itu."Jujur Paras.
Leo menaikkan alisnya, "kamu serius enggak berharap sama aku?" Tanya Leo.
"Iya, karena aku sadar diri, mana ada cowok yang mau sama aku! Gendut, udah berumur pula." Kekehnya.
Leo memeluk Paras mengecup bahu telanjangnya. "Mau kamu gendut, mau kamu tua, aku cinta sama kamu sebelum kita makan malam di Pekanbaru. Aku lihat tubuh kamu berbeda dengan lainnya. Bagus dan fresh by oven!" Tawa Leo menggoda sang istri.
"Kan, kamu mes*um diawal!" Kesal Paras. "Jika aku nggak seperti yang kamu harapkan saat itu gimana? Apa kamu masih mau?" Tambah Paras.
"Hmm, sepertinya akan berbeda! Mungkin juga aku mencari yang baru!" Tawa Leo memeluk Paras.
"Kamu!" Rengek Paras menggeram.
"Buktinya aku sama kamu saat ini Ndut! Aku cinta mati sama kamu karena ada baby four disini!" Bisik Leo mengusap lembut perut sang istri.
Paras memajukan bibir se*xynya membalas pelukan sang suami terbaiknya. "Walau kamu muda, tapi pikiran kamu tua banget!" Kekeh Paras.
Leo dan Paras saling tatap, "Berlin." Ucap mereka serempak.
Bergegas Leo mengambil baju istrinya, begitu juga dengan dirinya. Dia memakai baju seperti awal. Perlahan Leo membuka pintu terlihat Barlin dan Luqman hadir dihadapannya.
"Hmmm, masuk!" Ucap Leo menyambut Luqman.
Berlin memberi senyuman kudanya. Memeluk Leonal saat memasuki kamar suite yang di huni Leo. "Mana Kak Paras? Bawel banget ngalahin Mami!" Kekehnya.
Leo mengusap lembut kepala sang adik, "ada tuh di dalam, masuk aja!" Jelas Leo.
Berlin menemui Paras, sementara Leo dan Luqman duduk di ruang televisi.
"Bagaimana? Berapa unit Pt. Sumbawa ambil air bus kita?" Tanya Leo pada Luqman menyodorkan sekaleng bir dan beberapa makanan ringan.
"10 unit. Mereka ngasih giro, tadi udah di cek Berlin oke kok! Giro mundur 2 hari." Jelas Luqman pada Leo.
"Hmm, bagus deh! Lo nginap sini kan? Mau ambil kamar nggak?" Tanya Leo menyeruput bir, memasukkan kentang goreng ke mulutnya.
"Ck, di sini aja! Kalau lo nggak keberatan!" Kekeh Luqman merebahkan tubuhnya di sofa.
__ADS_1
"Butuh kasur tambahan? Gue panggilin ni, mumpung lagi baik otak gue!" Tanya Leo sambil terkekeh.
"Hmmm, boleh deh! Biar Berlin bobo sama gue!" Godanya tanpa perasaan malu.
"Hmm." Leo menghubungi pihak hotel agar memberi kasur tambahan ke kamar mereka. "Setidaknya apa yang di omongin Paras ada benernya. Berlin tidak sekuat Paras!" Batin Leo.
Berlin menemani Luqman atas izin Leo dan Paras, tanpa mengganggu privasi sang kakak.
Leo kembali ke ranjang, memeluk istri terbaiknya setelah melakukan tugas sebagai kakak pertama Berlin.
Paras tidur didekapan Leo, tanpa ada canggung saat Leo menepuk bok*ong adik bungsunya. "Kamu suka banget mukul bok*ong aku dan Berlin. Kebiasaan!" Sungut Paras.
Leo hanya terkekeh mendengar omelan sang istri. "Tidurlah! Besok kita makan durian." Leo mengecup kening Paras memejamkan mata masuk kedunia mimpinya.
Luqman dan Berlin malah sibuk bercerita hingga dini hari.
"Aku mencintai kamu Berlin!" Jujur Luqman saat akan memejamkan mata.
Berlin tersenyum mendengar curahan hati Luqman. "Aku belum bisa, tapi aku mencoba untuk mencintai kamu!" Bisik Berlin memberi harapan pada Luqman.
"Apakah kamu belum bisa melupakan Kennedy? Atau kamu masih ingin bersamanya?" Tanya Luqman mengusap wajah mulus Berlin.
Berlin terdiam. "Jujur dalam hati aku masih berharap! Tapi aku nggak bisa terima pengkhianatannya pada ku! Dia selingkuh sama Sintya jelas jelas mantan kakak ipar ku! Walau dia yang pertama, tapi aku tak ingin dia melukai ku lagi! Aku hanya ingin menikmati kebebasanku. Dekat dengan mu mengajarkan ku banyak hal tentang kesetiaan persahabatan!" Jelas Berlin panjang lebar.
"Sampai kapan kamu begini sama aku, manja, pengennya deket tapi enggak ada status hmmm?" Tanya Luqman masih menatap wajah cantik adik sahabatnya itu.
Berlin menatap wajah Luqman yang sangat tampan, "aku nyaman sama kamu! Kamu baik banget sama aku! Tapi jika kamu mau coba kamu minta aku sama Papi dan Mami." Senyum Berlin.
Luqman merasa seperti ada harapan untuk hidup bersama Berlin. Walau tidak mudah tapi Berlin memberi peluang padanya. "Makasih yah? Aku akan minta kamu pulang dari sini ke Leo dan Papi. Jika itu syaratnya." Kecup Leo pada kening pujaan hati.
Berlin mengangguk memeluk Luqman untuk tidur di dekapannya.
B e r s a m b u n g....
ππππππ
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Setidaknya kalian penyemangatku!
Tarimokasih, khamsiah, hatur nuhun....π€π₯
__ADS_1