Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Terancam deportasi..


__ADS_3

Sejarah Berlin dimulai dari abad ke-13, saat kota Berlin menjadi ibu kota negara kecil Prusia. Prusia berkembang dengan pesat pada abad ke-18 hingga ke-19, yang kemudian menjadi basis bagi kerajaan Jerman pada tahun 1871. Setelah tahun 1900, Berlin menjadi salah satu kota penting di dunia, yang dikenal karena kemajuan dalam bidang ilmu alam, sosial, musik, museum, pendidikan, pemerintahan, diplomasi, serta milter. Berlin juga mempunyai tempat khusus di bidang manufaktur dan keuangan. Selama Perang Dunia ke-2, Berlin mengalami kerusakan yang signifikan karena bom, serta pertempuran di jalan. Dengan bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur pada tahun 1990, Berlin dinobatkan sebagai ibu kota Jerman yang bersatu serta menjadi kota yang terkenal di dunia.


Berlin juga menjadi pusat perkantoran setiap perusahaan besar yang ingin berkembang pesat di manca negara lainnya, seperti Jepang, Indonesia dan Singapura. Kehidupan lebih tinggi dibandingkan Hamburg atau Untertuerkheim. Namanya ibu kota Jerman pasti biaya hidup lebih tinggi.


Malam itu Leo dan team sudah selesai menghadiri acara penutupan bersama pihak pabrik dan beberapa petinggi lainnya, tentu dengan busana mewah menghiasi tubuh ke enam karyawan Langhai Group.


Leo menggukan tuxedo hitam di hiasi dasi kupu kupu.


Begitu juga Luqman sangat tampan dengan jas hitam membalut tubuhnya membuat Berlin yang menggunakan gaun hitam senada dengan Paras, Yani dan Sinta, terlihat anggun dan menawan. Perhiasan yang menghiasi tubuh wanita Langhai menandakan bahwa perusahaan Baros sangat menjamin kesejahteraan karyawan mereka.


Mereka menginap di salah satu hotel mewah pusat kota Berlin, dimana acara penutupan di adakan. Makan malam hangat bersama beberapa pengusaha internasional dan musisi ternama turut hadir dalam mengisi acara tersebut.


Paras terlihat anggun dengan gaun panjang yang terbelah hingga paha bak pramugari pesawat.


"Makasih Ndut, kamu cantik sekali, aku jadi kebayang incubator," goda Leo saat mengecup leher jenjang Paras.


"Aaaagh jangan mesum deh Bowl, nanti aku mau kamu bingung," cubit Paras.


Leo tertawa bahkan ingin sekali mencium bibir istrinya itu lebih lama di depan khalayak ramai. Dia mengurungkan niatnya karena Paras selalu mencubit perut sispack milik Leo.


"Bu Paras, ada tamu di luar?" ucap pelayan bule berbisik di telinga Paras.


Paras menoleh kaget, menatap penuh penasaran ke arah luar.


"Siapa?" tanya Paras penasaran.


Pelayan hanya tersenyum mengarahkan tangannya menuju pintu.


Paras berdiri dari duduknya, perasaannya berkecamuk, darahnya benar benar mengalir kencang memompa dengan cepat menuju jantung.


Eng ing eeeeng.....


Luna sudah berdiri berkacak pinggang di hadapan Paras, seperti ingin memakan wanita gendut itu bulat bulat hingga tidak bersisa.


"Uni?" tanya Peras mencoba mendekat.

__ADS_1


Luna langsung emosi saat Paras mendekati menuruni anak tangga.


"Oooogh kau bilang tidak memiliki uang pada ku, tapi lihat busanamu, perhiasanmu, sepatumu, bahkan tas tanganmu Paras. Ini bernilai lebih dari 2000 euro. Aku hanya ingin 2000 nggak lebih, kenapa kau pelit sekali," bentak Luna di depan loby hotel dengan tangan di pinggang.


Paras semakin terkejut mendengar perkataan Luna, "so what? apa masalahnya jika aku tidak mau memberikan pada mu?" jawabnya.


"Aku akan membuat malu di sini, agar tidak ada satu orang pun yang percaya padamu," ejek Luna tanpa ada perasaan bersalah dan malu.


Leo dan Berlin berlari mendekati Paras dan Luna. Beberapa tamu hotel menyaksikan keributan mereka di loby hotel dan sangat menggangu.


"Call police," perintah Leo kepada security.


"Baik Tuan," tunduk security melaksanakan perintah Leo.


Luna semakin menggila, emosi tidak bisa terkontrol, semua isi kepalanya keluar membludak seperti orang kesetanan bahkan kesurupan. Membuat Paras tidak kuasa melawan. Dia hanya menangis menanti tangan Leo yang sudah mendekapnya.


"Usir dia Leo, aku tidak mau melihatnya. Dia bukan Luna kakak kandungku. Dia setan yang menjelma menjadi kakakku," isak Paras di dada Leo.


Leo semakin menggeram mendengar kata kata kasar Luna, hingga membawa bawa nama Silutak bahkan perjodohan keluarga dulu. Ada dendam Luna yang tersirat di setiap kata yang keluar dengan sangat lantang.


Plaaaak,


Juan menatap penuh amarah dan malu atas perbuatan istrinya. Bagaimanapun akan mencoreng nama baik Keluarganya.


"Pulang," bentak Juan menyeret tangan Luna.


"Nggak lepaskan aku, jangan kau bawa aku pulang. Karena aku belum mendapatkan uang," teriaknya membuat Juan menggendong tubuh Luna menuju mobil mereka.


Leo mengejar Juan ke mobil mereka, meminta waktu untuk segera bertemu sebelum mereka kembali ke Jakarta. Tentu Juan tidak menolak, tapi menunggu Luna tenang atau bahkan sadar dari perbuatannya.


Juan juga tidak menolak jika Luna di laporkan ke polisi, agar dia sadar akan kesalahannya. Pria Jerman itu sangat baik dan mencintai Luna, dia sangat paham bagaimana kejiwaan istrinya semenjak kegagalan pernikahan pertama.


Luna lebih tempramen dan sangat egois, lebih kasar jika keinginannya tidak terpenuhi. Sangat buruk dan menyebalkan.


Leo kembali menemui Paras yang tengah terduduk lemas di sofa loby hotel, beberapa pelayan memberikan air mineral pada Paras. Polisi juga sudah ada disana bertanya pada Berlin dan para saksi. Luna terancam deportasi jika dia tidak membayar denda.

__ADS_1


Paras terdiam, ada perasaan bersalah di hatinya, bagaimana pun Luna adalah kakak kandungnya.


"Bowl, aku akan membayar denda Luna, jangan di deportasi," bisiknya pada Leo.


Leo memeluk Paras penuh perasaan sedih, begitu banyak luka diantara Paras dan Luna semenjak pertikaian mereka memperebutkan seorang Silutak Panjaitan.


"Aku akan memberikan semua apa yang kamu inginkan. Kita ke kamar?" ucap Leo membelai lembut rambut istrinya.


Paras mengangguk, "kita undur pulang, biarkan anak anak nonton MotoGP dulu, kita nggak usah ikut. Kita bereskan urusan Luna, agar aku bisa pulang dengan tenang."


Leo mengangguk, harapan ingin berlibur di negeri panser sangat mengecewakan karena sebuah perasaan iri dan tidak mau bersyukur.


Leo dan Paras menuju kamar mereka, di temani Luqman dan Berlin. Sementara Yani dan Sinta sibuk dengan pikiran mereka.


"Ada yah kakak seperti itu?" tanya Yani pada Sinta.


"Iya, padahal bersyukur seharusnya punya adik menikahi pengusaha kaya, tampan, baik, penyayang, mau memberikan apa saja untuk adiknya bahagia. Kakak yang aneh," ucap Sinta sepanjang perjalanan menuju kamar mereka.


"Aku jadi sedih sama Mba Paras, pantes dia nggak mau pulang kampung bertahun tahun karena keluarga sendiri seperti itu padanya," tambah Sinta.


"Tapi memang Mba Paras tuh beda banget semenjak menikah dengan Leo, dia lebih keibuan, cantik, bahkan sangat baik. Mungkin karena Leonal selalu membuat dia menjerit-jerit setiap malam kali yaaaah," kekeh Yani.


Sinta mendengus kesal, "Lo kalau nggak mikir mesum emang nggak bisa apa? gemes gue," rungutnya.


Yani semakin tertawa keras membuat mata pria bule tampan memperhatikan dua gadis berwajah Jepang itu.


"Haaaai," sapa pria muda yang berada satu lift sama mereka.


Yani dan Sinta terdiam mematung.


"Jangan di jawab, nanti kita terancam deportasi," bisik Yani ke telinga Sinta.


Sinta mengangguk, menatap kedua pria itu dengan tatapan kaku.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2