Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Terpaksa menerima..


__ADS_3

Suasana pagi dikediaman Berlin, sepasang suami istri enggan membuka mata, karena sejuknya suasana diluar sana. Kicauan burung dan lalu lalang kendaraan area kompleks kediaman Berlin terdengar sayup sayup dari kamar bernuansa cream itu. Wanita bertubuh sintal itu masih mendekap sang suami dengan perasaan nyaman.


Drrrt drrrrt,


Handphone milik Berlin bergetar, tentu wanita yang sudah berstatus istri Luqman sahabat Leo, meraih telpon genggamnya, yang terletak dinakas.


Berlin meletakkan handphone ditelinga.


πŸ“ž"Hmmm, ngapa?" Berlin.


πŸ“ž"Belum bangun Lo?" Leo.


πŸ“ž"Dingin, malas gue untuk bangun. Kenapa Kak?" tanya Berlin masih menutup mata.


πŸ“ž"Emmmm, Mami mana? kok handphone nggak aktif?" Leo balik bertanya.


πŸ“ž"Ooogh, tidur kali. Mereka pulang jam 23.00 malam, Nantulang Linslei juga nginap disini. Kenapa?" Berlin penasaran.


πŸ“ž"Ini, anak Sintya ditarok polisi dirumah gue! ngapain coba? jelas jelas kita diserang habis-habisan oleh mereka, masih punya nyali dia ngantar anaknya kesini," kesal Leo.


πŸ“ž"Anak?" mata Berlin membulat sempurna.


πŸ“ž"Ya," jawab Leo tegas.


πŸ“ž"Buat gue aja. Cewek cowok?" tanya Berlin penasaran.


πŸ“ž"Buat gue, orang tuanya masih ada! lagian ngapain Lo mau anak dia?" Leo masih mendengus kesal.


πŸ“ž"Eeeh, Kak! denger yah, anak itu tidak bersalah. Yang salah itu orang tuanya. Lo jangan campur adukkan dong! gue mau jika Lo nggak mau mengasuh tuh anak. Titik," tegas Berlin.


πŸ“ž"Yeeee, emak bapaknya masih ada. Lo lupa dia anak siapa? anak Kennedy mantan pacar Lo! kalau Lo mau rawat silahkan saja. Gue nggak mau!" ucap Leo kesal.


πŸ“ž"Ya udah, sini kasih gue! mau itu anak Kennedy, anak orang mana, atau anak siapapun, gue nggak peduli. Gue rawat anaknya, biar kelak jadi anak baik, nggak kayak Mama Papanya. Lagian tuntutan kalian kan lama sama mereka. Jadi gue akan rawat anak dia. Gue yakin pasti Luqman dan keluarga juga nggak keberatan," jelas Berlin yakin.


πŸ“ž"Oke, cepet ambil! gue ogah," tegas Leo menutup telfonnya.


Berlin penasaran ingin melihat hasil karya Kennedy dan Sintya, "setidaknya aku terpaksa menerima, walau kedua orangtuanya jahat pada keluarga kita Leonal," ucapnya membuat Luqman duduk menatap istrinya.


"Kenapa wife?" tanya Luqman penasaran.

__ADS_1


"Hmmm, ada anak Sintya dan Kennedy dirumah Kak Leo. Kita rawat yah sayang? buat aku dan kamu. Kali saja jika kita merawatnya, akan mendapatkan baby lebih cepat," ucap Berlin meringkuk dalam pelukan Luqman.


Luqman menaikkan kedua alisnya, "kamu yakin? mau merawat anak mereka?" tanyanya sedikit ragu.


Berlin mengangguk.


Luqman mencium puncak kepala istrinya, "aku ikut saja, tapi ingat, jangan terlalu sayang, karena dia bukan anak kita. Mereka hanya menitipkan, bukan memberikan," tegasnya pada Berlin.


Berlin semakin tersenyum bahagia, dia sangat menginginkan keturunan, walau usia pernikahan masih seumur jagung, tapi sudah beberapa rumah sakit mereka kunjungi untuk berkonsultasi agar segera memiliki keturunan.


"Terimakasih hubby. I love you. Kak Leo nggak mau mengasuhnya. Jadi biar kita saja," jelas Berlin masih mendekap.


"Ya sudah, mandi. Nanti kita kasih tahu Mami dan Mama. Aku nggak mau kita ceroboh ambil keputusan, ini kita lakukan hanya karena rasa kasihan kemanusiaan. Bukan rasa sayang seperti sama Baby Stevie," ucap Luqman.


"Iya, mandi berdua. Aku kangen," rengek Berlin menggoda suaminya.


Tentu Luqman sangat senang, jika mendapat sinyal dari sang istri untuk melakukan hal itu dipagi hari yang sejuk.


.


.


"Bowl, kok anak ini lucu sekali yah? aku jadi gemes, pengen banget menjaganya, tapi kamu nggak mau," bisik Paras dibahu Leo saat melihat anak Sintya tengah tertawa bersama baby four.


"Berlin yang menjaga, jangan kita. Aku nggak mau," tegas Leo menatap kearah Baby Alea dan baby sitter Kennedy.


"Iya," senyum Paras mengusap lembut punggung suaminya.


Paras mendekati Baby Alea, membawa baby sitter Kennedy berbicara agar lebih mengenal, "siapa nama kamu?" tanyanya.


"Tina Bu," tunduk baby sitter Kennedy.


"Sudah menikah? atau?" Paras menaikkan alisnya.


"Hmmm, saya masih single Bu, Tuan Kennedy mengambil saya dari yayasan," jelasnya.


Paras mengangguk, "sudah berapa lama ikut keluarga mereka?" tanyanya hanya sekedar ingin tahu.


Tina berusaha mengingat, "sudah hampir tujuh bulan ikut Tuan dan Nyonya. Saya nggak tahu masalah mereka Bu, karena saya hanya fokus merawat baby Alea," jelasnya sedikit takut karena Paras enggan tersenyum.

__ADS_1


Wajah Tina yang benar benar lugu, membuat Paras lebih hati hati saat dia menyentuh baby four walau baby Alea sangat cerewet dibanding baby Stela.


"Kamu nanti ikut sama adik saya saja, jangan disini. Apa kamu paham?" tanya Paras tegas.


Tina mengangguk, dia melihat tangan Paras masih menggunakan perban dan jalan sedikit tertatih, membuat dia paham bagaimana wanita gendut itu.


"Bagus," Paras meninggalkan Tina, dalam pengawasan Kirai dan beberapa baby sitter keempat anaknya.


Faisal bergegas membantu putrinya yang ingin duduk dimeja makan, "bagaimana keadaanmu, Paras?" tanyanya.


Paras mengangguk, "baik Pak, cuma luka ini masih sakit. Tadi Leo yang membantu bersih bersih, mengikuti saran dokter," jelasnya tersenyum tipis.


Faisal tersenyum, "kuat yah? Apak samo Amak masih disiko," ucapnya untuk menenangkan pikiran sang putri bungsu.


Maid mempersiapkan semua sarapan untuk Paras dan Leo dengan sangat sigap, sesekali melirik kearah Tina dan Baby Alea.


"Mba, tolong dijaga itu orang, jangan sampai dia menyakiti baby four," ucap Leo mengingatkan.


Maid mengangguk mengerti, "tapi mereka baik Bang. Kasihan saja, dia baby sitter dari Ambon. Saya sudah introgasi saat dia memandikan baby Alea. Saya juga sudah banyak bertanya tentang kedekatannya dengan keluarga Silutak. Mereka memang hanya pembantu dan majikan. Sama seperti saya dan Abang," jelasnya panjang lebar.


Paras melirik kearah Leo dan Faisal, "kamu beda dong Mba. Kamu tuh sudah lama ikut kami, saya lebih percaya sama kamu untuk mengurus semua kebutuhan rumah ini," tegasnya diangguki senyuman oleh Maid.


Mereka sarapan bersama seperti biasa, tentu saja ini agak asing bagi mereka tanpa kehadiran Maride dan Baros.


Kirai tengah sibuk berbicara menggunakan bahasa planet baby four yang tengah menikmati makanan kecil yang diberikan orang tua Paras pada keempat anaknya. Baby Alea yang sudah mengerti siapa yang melindunginya dengan nyaman, bergegas mendekati Kirai. Meminta sesuatu yang ada ditangan kanan wanita paruh baya itu masuk kemulut mungilnya.


"Hmmm, mau yah! sini sama Oma," goda Kirai menyambut tubuh baby Alea tentu ditangisi oleh baby Stela.


Mereka berdua menangis merebut perhatian Kirai, karena perasaan cemburu seorang baby mungil.


Baby Steiner, Stevie dan Stefan tengah sibuk bermain bersama dengan merangkak ke seluruh ruang keluarga dengan berkejaran sesuai usia mereka yang sudah berusia tujuh bulan.


Suara teriakan, tangis, tawa dari kelima baby yang memiliki insting dan keceriaan sangat meramaikan suasana rumah Leo.


Kesempurnaan terlihat jelas, saat berada dikediaman musuh majikan Tina yang rela menerima kehadiran keduanya walau dengan terpaksa, 🀧


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2