
Pagi yang indah keluarga menyambut kedatangan Paras di Kota Jam Gadang itu. Perlahan Paras membuka mata, terdengar suara Kirai dan beberapa keluarga inti dari luar kamarnya. Perlahan Paras turun dari ranjang yang tidak begitu besar, menatap wajah Leo masih terlelap.
Jam dinding menunjukkan pukul 06.00 waktu kota itu. "Masih gelap," batin Paras mengintip keluar jendela kamarnya.
"Ndut," rengek Leo mengusap ranjangnya.
"Hmm!" Jawab Paras mendekat pada Leo.
"Mau kemana? Jangan tinggalin aku!" Rengeknya seperti anak belia.
"Aku siapkan sarapan kamu dulu yah? Mau sarapan dikamar atau sama sama?" Tanya Paras mengusap lembut rambut Leo.
"Hmm, aku mandi dulu! Kamu udah mandi?" Tanya Leo meringkuk dipaha padat istrinya.
"Belum, aku mandi dulu yah? Baru keluar!" Paras mengecup lembut kepala Leo, tapi Leo malah mencuri bibir istrinya.
"Hmmmfh," Paras menikmati ciuman lembut sang suami yang sangat mebangkitkan ga*irah pagi ini.
Saat Leo mulai liar, Paras menahannya. "Kan tadi malam udah Bowl!" Rengek Paras manja.
"Aku mau sering sering ngunjungin baby biar sehat!" Ucapnya menj*ilati leher, d*ada dan bagian incubator milik Paras.
Paras semakin tak kuasa menolak Leo, baginya sentuhan Leo mampu membangkitkan ga*irahnya yang selama ini dia tahan. Dia benar benar men*ikmati dan memberikan ruang pada Leo. "Aaaagh!" Des*ahan itu keluar dari bibir se*xy Paras.
Leo tak ingin bermain lama, dia segera mengunjungi baby didalam sana.
Bleez...
"Aaaagrh!" Des*ahan keduanya saling menyapa saat penyatuan cinta mereka.
Perlahan Leo meminta Paras untuk lebih dominan diatas tubuhnya. Paras mengikuti keinginan Leo. "Bowl, aaaagh, aku akan cepet sam*pai kalau begini!" Er*angnya.
Leo tersenyum, men*ikmati hidangan pay*udara yang super besar di depan matanya. Leo memainkan lidahnya diput*ing indah itu, menj*ilati hingga Paras meng*erang ni*kmat diatas tubuh Leo. "Aaaaugh, aaaagh!" Paras mel*umat bibir Leo terus mem*ompa siunyun yang semakin mengeras diincubator miliknya.
Seketika, "Oooogrh, aaaaagrh!" Leo memeluk tubuh istri yang ada diatasnya. "Ni*kmat banget sayang! I love you!" Leo mengecup meninggalkan stempel spidermen di le*her Paras.
"I love you too Bowl! Iya, eeegh siunyun semakin nakal didalam!" Bisik Paras diatas tubuh Leo.
"Karena incubator kamu enak sayang, enaaaak banget! Buat aku pengen lagi!" Goda Leo.
"Aaagh, udah dulu! Udah siang. Mandi yuuuk!" Ajak Paras perlahan melepas siunyun yang sudah tertidur.
Leo menuruti keinginan istrinya untuk mandi bersama. Mereka saling menggoda, tertawa mesra dikamar mandi. Tak mendengar panggilan Maride dan Kirai dari balik pintu.
"Hmmm, biasolah anak mudo supo itu kan Bu!" Ucap Maride pada Kirai berbisik.
Kirai tersenyum, "tapi suaminyo alun makan jeng! Bekko pingsan anak jeng didalam!" Kekeh Kirai, membuat keduanya semakin akrab.
Baros dan Faisal duduk di teras menikmati segelas teh talua dan katan goreng pisang.
Katan goreng pisang.
Teh talua.
__ADS_1
β³Lebih 1 jam Leo dan Paras keluar dari kamar. Tentu dikejutkan dengan kehadiran Maride dan Baros.
"Mami kapan sampai?" Kejut Leo menghampiri Maride.
"Uuuugh, udah dari tadi Mamak disini! Dari 2 jam lalu! Kalian nggak keluar keluar!" Omel Maride pada Leo.
"Iiighs Mami kok nggak gedor kamar!" Kekeh Leo mencium pipi tembem sang ibu.
"Ku dobrak aja yang belum!" Kekeh Maride dihadapan besannya.
Kirai terkekeh geli mendengar anak dan ibu itu saling menggoda.
"Nggak di Jakarta, nggak disini in the hoii aja kerjamu! Nggak bosan apa? Lagi hamil menantuku ini!" Geram Maride mencubit paha putranya yang semakin genit menurutnya.
"Iiighs, Mami kayak nggak pernah muda, enak lhoo Mi," kekeh Leo mencubit hidung Maride.
"Hmm, udah sarapan nak?" Tanya Maride lembut.
"Belum! Mami suap yah?" Rengek Leo.
"Aaaagh, dari tadi malam manja kali kau! Mana sini katan tu! Aku suapkan!" Perintah Maride.
Perlahan Leo mengambil hidangan yang sudah tersedia dimeja tamu, memberi pada Maride. Tentu Maride menyuapkan putra pewaris Pardede itu.
"Maaf yah Bu! Leonal ini masih manja!" Jelas Maride.
Kirai tersenyum mengerti, "anak kalau dekat kita akan lebih manja Jeng! Belum tau aja Paras manjanya gimana sama Apaknya." Jujur Kirai.
Bener saja, belum kering bibir Kirai berucap, Paras sudah mendekat kearah Faisal yang berada di teras.
"Pak, balian Paras makanan! Siang ko kito makan nasi kapau yo!" Rengek Paras pada Faisal.
"Hmm, kamu mau kemana hari ini? Tadi etek tibo mananyoan kamu nak!" Jelas Faisal.
Faisal mengangguk mengerti, perlahan mengusap perut anak bungsunya, "gimana cucu kakek didalam? Sehat nak?" Kekeh Faisal.
"Sehat Kek!" Kekeh Paras menggoda.
"Kamu udah makan? Makanlah dulu!" Pujuk Faisal mengecup punggung tangan sang putri.
Paras mengangguk memeluk Apak yang sangat dia rindukan dihadapan Baros. "Makasih yo Pak, Apak alah nio manarimo keluarga suami Paras." Bisiknya.
Faisal mengangguk, "Sarapanlah dulu! Beko kito makan nasi kapau di Jam Gadang." Senyum Faisal.
Paras mencium pipi sang ayah, berlalu mendekati Leo, baru saja mendudukkan bok*ongnya dia sudah menerima suapan dari tangan Maride.
"Apa ini Mi?" Tanya Paras membuka mulutnya ragu.
"Katan jo randang talua!" Kekeh Maride.
Seketika Paras merasa mual, dia segera berlari ke toilet kamarnya, bener saja. "Huweeek, huweeek, huweek!" Perut Paras seketika bergejolak menerima telor.
Leo bergegas mendekati Paras, "Kamu baik baik saja Ndut?" Tanya Leo.
"Hmm, ya! Aku nggak bisa makan telor Bowl! Semenjak usia ku 10 tahun." Jelasnya.
Maride kaget mendengarnya. "Kenapa Ibu siapkan rendang telor?" Tanya Maride pada Kirei.
"Rendang telor ini buat jeng dan keluarga." Senyum Kirai.
__ADS_1
"Ooogh, maaf kalau gitu! Saya nggak tau kalau Paras tidak mekan telor! Tapi yang mengandung telor dicampur gitu nggak apa apa jeng?" Tanya Maride semakin penasaran.
"Nggak apa apa! Dia hanya nggak bisa, telor bulat dan mata sapi ini jeng!" Jelas Kirai lagi.
Maride mengangguk mengerti, "ternyata istrimu hanya suka telormu Leo!" Goda Maride pada Leo sambil berbisik.
"Ya iyalah Mi!" Tawa Leo pecah, memeluk tubuh Paras yang semakin berisi semenjak kehamilannya.
Kirai kembali menghidangkan beberapa makanan yang menggugah selera.
Katupek gulai tunjang.
"Sarapan dulu Paras, biar ada pengganti yang keluar barusan!" Pujuk Kirai pada Paras.
Paras mengangguk, itu adalah makanan kesukaan Paras. "Makasih yo Mak! Lapeh salero Paras disiko!" Kekehnya.
Maride sangat lahap menikmati hidangan sang besan, "Ibu sangat pantas buka kuliner! Rasanya endees pisan!" Puji Maride.
Kirai tersenyum, menatap senang pada besan yang tak pernah sungkan dirumahnya.
Mereka sangat bahagia bisa menjadi keluarga yang baik. Ada satu pertanyaan dihati Faisal yang belum iya tanyakan pada Paras, pertama keyakinan Leo, kedua tentang pernikahan mereka, ketiga hubungan Paras dengan Luna.
Faisal akan bertanya pada Paras, jika besannya sudah kembali ke hotel mereka. "Kenapa Paras tidak ingin bertemu dengan keluarga dikampung?" Batin Faisal. "Apakah perjodohan dulu masih menjadi bomerang bagi Paras? Hingga dia benar benar menutup dirinya." Faisal menatap dari kejauhan putri bungsunya, yang terlihat sangat bahagia dengan pernikahannya saat ini.
"Maafkan Apak, Paras! Ndak bisa memberi kebahagiaan pada mu!" Batin Faisal menahan air mata yang jatuh kedalam.
Baros menatap wajah Faisal, setidaknya dia bisa membaca raut wajah seseorang. "Hmmm, maafkan putra ku! Karena telah merebut putrimu!" Bisik Baros dengan wajah serius.
"Bisa kita bicara?" Tanya Faisal pada Baros, membawanya kebelakang rumah kekawasan persawahan.
Baros mengikuti langkah Faisal, saling bercerita sepanjang jalan. Agar mengenal adat istiadat keduanya.
"Ambo menikahi Kirai di Bali! Jujur ambo dibuang dari keluarga saat itu! Ambo pulang ke Bukit Tinggi setelah Kakek dan Nenek Paras ndak ado didunia ko. Akhirnya Kirai memutuskan ikut keyakinan Ambo. Kini Ambo maraso kedua anak Ambo memilih menikahi pria yang beda. Ambo ndak bisa malarang, karena anak Ambo yang tuo telah gagal dalam perjodohan. Hingga dia merebut kekasih Paras beberapa tahun silam. Akhirnya dia menemukan suami yang baik dan memilih menetap di Jerman menjadi guru. Kini Paras! Ambo harap Leo bisa memutuskan!" Jelas Faisal pada Baros panjang lebar.
Baros menyimak setiap ucapan Faisal, "kekasih Paras yang mana Pak?" Tanya Baros.
"Silutak Panjaitan! Ambo yang menghajar inyo di Jakarta kala itu! Karena dia hampir meniduri Paras, saat itu dia juga menjalin hubungan denga Luna Uni Paras berstatus jando." Jelas Faisal membuat Baros ternganga.
"Dimana kejadiannya? Saya kok nggak tau? Tanya Baros menatap serius.
"Apartemen dima tu, lupo ambo. Inyo ngaku duda samo duo anak gadis Ambo.
"Ooogh, pantas Silutak dendam banget sama aku! Karena aku mengambil Paras ternyata, hmmm!" Baros menelan salivanya. Berfikir keras bagaimana untuk membalas Silutak bajingan ini.
"Saya akan menyelesaikan semua jika Bapak jujur seperti ini! Paras ikut sama saya diperusahaan kami sudah 8 tahun. Dia menjadi tangan kanan saya, dan akhirnya mereka saling mencintai. Saya saja nggak menyangka putra saya jadi seperti ini dengan putri anda! Setidaknya, Paras akan aman di Jakarta. Masalah keyakinan, saya serahkan sama mereka! Karena jujur kami penganut kepercayaan. Tidak perlu kita bahas disini. Saya harap, saat ini kita sembunyikan dulu status anak anak kita dari keluarga bapak. Karena saya menjaga nama baik anda!" Jelas Baros menenangkan Faisal.
Faisal mengangguk setuju, membawa Baros ke peternakan sapinya. Ada 5 ekor, yang dibelikan Paras untuk kedua orang tuanya.
"Bagaimana dengan putri anda Luna? Apakah dia jarang pulang?" Tanya Baros penasaran.
"Sebelum Paras memaafkannya, dia tidak akan kembali." Jelas Faisal.
Baros mengangguk mengerti. "Datanglah ke Jakarta Pak!" Pinta Baros.
Faisal tersenyum tipis. Tidak memberi jawaban yang berarti. Baginya Jakarta tidak menarik, hehehe.
πππππππ
__ADS_1
Happy reading...ππ₯°
Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...ππ₯°β€οΈ