Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Pernikahan tanpa perdebatan.


__ADS_3

Leonal menatap layar handphone miliknya, terpampang jelas wajah Sintya yang dikirm oleh Maride melalui pesan whatshApp. "Sangat menggoda, cantik, sepertinya sangat lembut." Batin Leo.


Alicia memeluk Leo secara tiba tiba dari belakang. "Haaaii, foto siapa itu?" Kecup Alicia pada pipi Leo yang terkejut dan tidak menutup layar ponsel pintarnya.


"Hmm, kamu kapan datang?" Tanya Leo menyambut kehadira Alicia yang tiba tiba muncul dibelakang.


Alicia memutar tubuhnya duduk disamping Leo, "foto siapa itu sayang? Kamu belum menjawabku!" Senyum Alicia menatap manik mata Leo.


"Ooogh, seseorang mengirimkan pada ku! Bukan siapa siapa!" Senyum Leo. "Oya, sayang mungkin aku akan pulang ke Jakarta, bisa jadi agak lama disana! Nggak apa apa kan?" Kecup Leo pada punggung tangan Alicia.


Alicia memeluk tubuh Leo menghirup aroma maskulin yang selalu membangkitkan gairahnya. "Kamu pergi, aku gimana?" Rengek Alicia manja.


Leo mengecup kepala Alicia, "selama ini kita tidak ada ikatan dear! Kita hanya nyaman!" Senyum Leo menjelaskan status hubungan mereka.


Alicia mengangguk setuju, "baiklah! Jika kamu pergi aku bebas melakukan apapun! Setidaknya aku tidak ingin menunggu yang tak pasti sayang!" Jalas Alicia lagi.


"Ya! Lakukan yang terbaik! Jangan menungguku!" Senyum Leo kembali mengecup kepala Alicia.


Alicia dan Leo menganggap hubungannya hanya karena nyaman, mereka saling menyayangi bahkan saling membutuhkan, tapi tidak untuk mencintai. Bagi mereka menjalani hubungan dengan komitmen karena nyaman lebih baik. Tanpa membawa perasaan lebih jauh. Mereka juga tidak pernah membicarakan tentang pernikahan.


Alicia memiliki saham emas di salah satu bursa saham di Malborne. Dia gadis mandiri dan sangat baik. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, hanya untuk mengisi kekosongan waktu dan hati.


Yah, sebatas komitmen tentu Leo bermain juga dengan aman. Selalu menggunakan pengaman agar tidak ada Leo junior yang tercecer, sesuai aturan Maride, hehehe.


Leo tak ingin berdebat saat Maride menawarkan Sintya anak Silutak. Dia berfikir, setidaknya pilihan orang tua selalu tepat, batinnya.


Leo mempersiapkan semua untuk kebutuhan pernikahannya. Walau dia tidak mengenal atau bahkan belum menjalin komunikasi dengan calon istrinya akan menjadi sesuatu yang baru baginya mendekati seorang gadis. "Urusan cinta belakangan! Kali aja setelah hidup bersama kami lebih bahagia dan bisa menjalankan perusahaan keluarga dengan baik!" Batin Leo menatap langit kamarnya.


Leo sengaja tidak memberi tahu tentang pernikahannya dengan Alicia. Dia tak ingin menyakiti gadis itu lebih dalam lagi. Walau mereka tidak ada perasaan, tapi mereka saling menjaga agar tidak saling menyakiti.


Pagi itu Leo terbang menuju Bali, tanpa memberi kabar pada Alicia tentang keberangkatannya. Lucunya Alicia juga tidak mencari atau merasa kehilangan. Berarti Alicia juga menjalin relationship dengan pria lain selain aku, batin Leo saat menunggu pemberitahuan keberangkatannya.


Leo terus menatap foto Sintya, membandingkannya dengan Alicia. Tidak buruk, setidaknya keluarga ku mengenal keluarga Silutak dibanding keluarga Alicia yang memang dari awal tidak pernah dikenalkan ke Leo.


Penerbangan yang cukup melelahkan bagi Leo, dari Malborne menuju Bali. Leo mendarat pukul 18.45 waktu Denpasar di Bandara Ngurahrai. Leo merasakan aroma Bali yang sangat khas saat turun dari pesawat.


"Sudah lebih dari 7 tahun aku tidak menginjakkan kaki di Indonesia! Ternyata suasana hangat masih kental di sini!" Batin Leo berjalan keluar bandara.


Leo hanya membawa satu travel bag, dan tas ransel. Barang lainnya dia kirim melalui expedisi ke Jakarta. Mata Leo tertuju pada seorang gadis berambut blondy, seperti wajah yang berada di foto kiriman Maride beberapa waktu lalu padanya.

__ADS_1


Sintya memegang sebuah kertas bertuliskan nama Leonal yang dia sejajarkan didada.


Leo mendekat, "Saya Leonal!" Ucap Leonal membuat mata Sintya membelalak kaget.


Sintya berulang kali mengusap matanya, meyakinkan bahwa dihadapannya benar Leonal anak dari sahabat Papinya.


"Siapa nama Ibumu?" Tanya Sintya meyakinkan. "Maklum zaman sekarang banyak orang yang mengaku!" Sintya menatap lekat mata Leo.


"Mami, bukan Ibu!" Jawab Leo menegaskan panggilannya.


"Hmmm, ya! Siapa Mami mu Tuan?" Sintya tersenyum tipis.


"Ehm, setidaknya ini foto kamu kan?" Tunjuk Leo pada Sintya di layar ponsel miliknya.


Sintya tersenyum senang, "oke, kita jalan sekarang." Sintya menggandeng lengan Leo tanpa canggung, menuju parkiran.


Deg, mata Leo melirik jemari halus milik Sintya di lengannya, "kenapa dia berani sekali padaku? Kami baru berjumpa! Sepertinya dia wanita yang terbiasa menyentuh pria!" Batin Leo mulai kurang nyaman dengan Sintya.


Leo lebih banyak diam, menikmati perjalanan menuju penginapan mereka. Sintya sibuk menjelaskan beberapa tempat makan dan club malam. Leo bertanya dalam hati, "apakah gadis ini yang akan menjadi istriku?" Batinnya kurang yakin.


Leo pria yang tidak suka mengunjungi club, dia lebih baik menghabiskan waktu minum bir di temani music live atau dia akan memilih tempat privasi lebih tenang. Dia tidak menyukai dunia malam, karena dunianya bekerja disiang hari, hehehe.


"Bisa kita bicara berdua?" Tanya Leo melirik Sintya.


Sintya menaikkan alisnya, "bukankah kita dari tadi berdua?" Sintya tersenyum mengingatkan.


Leo tersenyum, "Ya, aku dari tadi kepikiran tentang kamu setelah kita bertemu hingga kita tiba disini! Apa kamu yakin akan menikah dengan ku? Karena kita baru kenalan, tak mudah aku mengungkapkan cinta." Jelas Leo jujur pada Sintya. "Pernikahan kita akan dilaksanakan besok! Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?" Tambah Leo lagi.



Sintya tertegun, dia membuka tapak tangannya meminta Leo meletakkan tapak tangannya disana. "Bisa kamu letakkan tapak tangan mu disini?"


Leo mengikuti ucapan Sintya, mereka bergenggaman sama sama menikmati desiran darah antara satu dengan yang lainnya. "Ini apa?" Tanya Leo setelah mendapatkan kenyamanan disana.


Sintya tersenyum tipis menatap hezel mata milik Leo, "Mendekat lah, kiss me!" Ucap Sintya kembali.


Leo tersenyum, menatap mata manja gadis cantik dihadapannya.


__ADS_1


"Setidaknya dia lebih cantik dari foto yang dikirim Mami!" Gumam Leo dalam hati.


Leo mendekat, memberanikan diri mencium bibir Sintya. Ada perasaan takut dihati Leo, ini pertama kalinya dia mencium gadis asing yang baru dikenal dan besok akan menjadi istrinya. "Apa kamu tidak marah?" Tanya Leo saat sudah semakin mendekat.


Sintya langsung melu*mat bibir Leo yang sudah berada di hadapannya.


"Huuufgh, sepertinya dia wanita agresif dan akan lebih hot diranjang!" Batin Leo membalas ciuman Sintya.


Sangat lembut dan menggunakan perasaannsemakin dalam, Leo semakin gelisah karena dibagian lain si unyun mulai memberontak.


⏳ Lebih kurang 15 menit mereka menikmati ciuman, Leo menahan tangannya untuk tidak menyentuh bagian kenyal yang sejak tadi diarahkan Sintya padanya.


Leo melepas ciuman mereka, "Maaf aku masih kurang nyaman! Mungkin karena di mobil jadi aku takut!" Kekeh Leo menyentuh pipi Sintya dengan lembut.


"Kita turun dan lanjutkan ke kamar? Papi sudah menyiapkan kamar untuk kita!" Jelas Sintya tanpa malu.


Leo menautkan alisnya, "hmm, ya!" Leo tersenyum licik.


Keluar dari mobil, memasuki villa yang sepi tidak ada siapa siapa. Leo menaikkan alisnya kembali, "kemana keluarga kita Sin? Bukannya Mami dan Papi aku sudah tiba disini?" Tanya Leo celingak celinguk mencari Maride ataupun Baros.


"Ya, mereka sedang makan babi guling di salah satu restoran di nusa dua. Apa kamu lapar?" Tanya Sintya pada Leo.


Leo menggelengkan kepalanya, "nanti saja! Aku mau kenalan dulu sama kamu!" Leo memberanikan diri memeluk Sintya dari belakang, mencium aroma parfum yang sangat menggairahkan dede unyunnya.


Sintya membalikkan tubuhnya, menatap lebih dalam pada Leo. "Apa kamu sudah merasa nyaman?" Tanya Sintya dengan lembut.


"Setidaknya pilihan orang tua tidak pernah salah sayang!" Bisik Leo menghembuskan nafasnya di leher Sintya. Tangannya menyentuh pipi Sintya yang mulus. "Berjanjilah! Setelah kita menikah, kita akan tinggal di apartemenku di Kalibata, tanpa keluarga kita! Aku ingin hidup berdua dengan mu meraih mimpi kita!" Bisik Leo di telinga Sintya membuat bulu halus gadis itu meremang.


"Ya, kita akan hidup bersama!" Sintya yang sudah tergoda oleh pesona Leo sejak awal mencuri bibir Leo kembali.


Hap, cup,


"Huuumgh!"


______________********


Read and wait... 🤭🤗


Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...🙏🥰❤️

__ADS_1


__ADS_2