
Maride tengah menikmati secangkir kopi susu kesukaan Paras yang dia pesan melalui Dila. Suasana loby Langhai masih terlihat sangat sibuk. Baros dan Simon tengah masuk keruang meeting yang berada diloby, dengan berbagai macam hidangan yang disuguhkan Dila, sesuai permintaan Baros.
Kehadiran seseorang yang berpengaruh penting dari pihak kepolisian untuk mengusut tuntas bagaimana Silutak Panjaitan bisa keluar secepat itu dari balik jeruji besi.
"Siapa itu Mi?" tanya Leo saat megintip para pria tua itu.
"Mereka sahabat Papi, masak cucuku diancam, tentu panik kami serumah. Kennedy datang kekediaman, ngomong sama security tadi malam. Jadi aku hubungi kalian, tahunya nggak diangkat. Nggak kalian pikirkan baby four itu. Atau aku bawa mereka ke tempat Nantulang di Melbourne yah? kasihan juga mereka nggak ngembang gara gara Laura nggak hamil hamil," jelas Maride.
Paras menautkan kedua alisnya, "nggak aaagh Mi, kami mau di Kuningan dulu. Mungkin setelah Yani masuk, kami akan ke Bandung dan menetap di Kuningan. Biar Apak sama Amak di Jagakarsa," ucap Paras.
"Hmmm, bagus juga. Kalau ada apa apa hubungi Simon, jangan takut. Anjing laknat itu Silutak sama Sintya. Kenapa mereka? hingga mau menyakiti kita lagi dan lagi. Aku bakar lah dia nanti," kekeh Maride.
Paras terkekeh geli mendengar celotehan Maride, lambe mertuanya sangat menyenangkan baginya jika dalam kondisi mengancam seperti saat ini.
"Baby four gimana tadi Mi?" tanya Paras sedikit khawatir.
"Aman mereka, masih main sama Opung Faisal," kekeh Maride.
"Cucu ku itu aktif sekali, banyak kepandaian mereka. Sangat bahagia aku. Kami masih disini sampai lusa. Mungkin nanti malam aku akan menginap dirumah Berlin. Mpok Alpa dan Brandon undang makan malam untuk kita. Kalau kau mau ikut, kita pergi sama sama. Sudah lama aku nggak makan smur jengkol, pasti enak," tambah Maride.
Paras tersenyum, "bisnis keluarga Luqman apa Mi? kok kita nggak pernah dengar," tanyanya.
"Hmmm, mereka kan banyak tanah, mereka jual bangun rumah petak, kos kosan, jadi juragan kos Brandon itu. Makanya tenang kali dia di Indonesia ini punya istri kaya raya, Tuan Takur," kekeh Maride.
Paras mengangguk, "iya Mi, Luqman juga baik banget, mirip Papanya. Nggak banyak cerita," jelasnya.
"Luqman dari dulu memang pintar makanya diambil Papi, tapi aku heran, kok belum hamil Berlin itu? aku takut sepeti Laura dia," rundung Maride sedikit khawatir.
Paras menenangkan Maride, "sabar Mi, mungkin saat ini mereka sedang menikmati masa indah kebersamaan. Mereka tidak pernah pacaran, makanya kita harus bisa saling memahami dan bersyukur saja," jelasnya mengusap lembut punggung ibu mertua.
"Iya seeh, Berlin itu sangat menikmati kehidupannya sebagai seorang istri, lihatlah mereka nggak pernah berantem, paling Luqman saja yang iseng sama dia," jelas Maride.
"Cara kalian sangat berbeda dalam menjalani rumah tangga," ucap Maride tersenyum.
Paras mengangguk, "Mami udah kenyangkan? Paras keatas dulu yah? mana tahu ada yang mau ditandatangani," izinnya.
__ADS_1
"Hmmm, kau Leo mau kemana? kau bantu itu Paras seperti biasa, dari pada ku lempar kau keteras depan!" tegas Maride.
Leo menghampiri Maride, memeluk tubuh gendut ibunya, "jangan marah marah, Mami kayak nggak pernah muda saja, maafkan aku yah?" kecupnya pada kedua pipi Mami tersayang.
"Hmmm, dimaafkan! tapi jangan bilang Luqman dan Berlin. Jangan lupa nanti malam kita kerumah mereka bawa baby four, Mama Luqman mau bawa smur jengkol," perintah Maride tegas.
"Siap Komandan, laksanakan!" kekeh Leonal.
Paras dan Leo meninggalkan Maride menuju lantai 28.
"Kamu pandai banget sama Mami yah Ndut, jadi saja nggak diomelin," kekeh Leo.
"Sudah hampir 10 tahun aku sama keluarga kamu bahkan sekarang sudah semakin dekat dengan pernikahan kita. Yaah, tentu aku sudah hapal bagaimana keluarga kamu," jelas Paras memasuki lift.
"Kamu baik baik ajakan? obat yang Maid kasih ternyata keren Ndut, kita beli yah? kali aja nanti muntah muntah lagi," kekeh Leonal.
"Oya, siapa nama baby twins nanti Ndut?" tambah Leonal.
"Kalau cewek dua duanya, aku kasih nama Natali dan Natasya, kalau cowok Nathan dan Natael, jika cowok cewek kita kasih namanya Leo dan Paras Junior," jawab Paras asal.
"Kok Bestie, kayak wanita galak kedengarannya," tawa Paras.
"Iya, biar jadi Polisi atau TNI," tawa keduanya pecah saat pintu lift terbuka dan keluar menuju ruangan mereka.
Tampak ruangan divisi utama sangat sibuk, ada yang masih meeting team, ada juga yang mempersiapkan semua dokumen untuk diserahkan kemeja Paras.
Ternyata Sinta duduk dikursi Yani untuk mengganti posisi wanita cantik itu.
"Sinta, ngapain kamu disini? bukannya kamu balik ke Kalimantan," tanya Paras sedikit penasaran.
Sinta mengerutkan keningnya, "kan Ibu bilang saya gantiin posisi Yani Mba, karena Yani akan di bawa Albert ke Bogor," jelasnya.
Paras sedikit kaget, "bukannya nunggu dia bereskan kerjaan dulu?" tanyanya.
"Nggak Mba, Bang Albert udah ngomong sama Ibu Maride, akan membawa Yani ke Bogor, tinggal dimess, kadang kembali kesini. Mereka nggak mau jauhan. Menghindari Fredy juga," jelas Sinta.
__ADS_1
Paras mengangguk, "undang Yani, kita ngopi bareng sebelum dia lepas dari Langhai, saya mau ngerasain duit dia buat traktir kita kita satu kantor," kekehnya pada Sinta.
Sinta mengangguk setuju, "nanti aku kirim pesan Mba, masak dia udah dapat suami kaya, apartemen bagus malah resign," rundungnya.
"Hmmm, jiwa misquen kamu meronta-ronta kah?" kekeh Paras menggoda Sinta.
"Saya mau cari bule Jerman juga Mba, atau coba deket sama dokter Fredy," Sinta meletakkan telunjuknya didagu.
Paras semakin tertawa melihat ekspresi wajah Sinta membuat Leo melihat keluar ruangan.
"Kenapa siih? rame banget!" tanya Leo penasaran.
"Ssssst, cowok nggak usah ikut campur, sana kerja lagi," kekeh Paras.
Leo kembali masuk kedalam ruangan mengikuti perintah Paras, baginya harus tetap profesional jika sudah berada dikantor walau terkadang sedikit beleng beleng.
"Kalau saya sama Dokter Fredy Mba, mesti jadi wanita berpendidikan tinggi, titel mesti S3 syarat minimum menjadi istri. Naaah nyelesain S2 aja dicambuk Ibu Maride dulu baru beres, gimana S3 ya khan," jelas Sinta pada Paras.
Paras mengangguk, "tapi sebenarnya bagus tujuannya, agar kamu menjadi wanita yang bijak dalam menangani rumah tangga, karena kita ngedidik anak juga mesti pakai ilmu, ya kan?" jelasnya memberi pengertian.
Sinta mengangguk, "iya Mba, tapi saya nggak mau sama Bang Freed, nanti saya jadi ipar Yani dong!" tawanya membuat mata divisi lain melirik kearah mereka.
"Udah aaagh, mana berkas yang mau saya tandatangani," pinta Paras berlalu masuk ke ruangannya.
Mereka melakukan kegiatan seperti biasa sebelum istirahat siang, Sinta melakukan pekerjaannya sebaik mungkin karena enggan untuk dibawa ke Kalimantan lagi oleh Maride dan Baros.
Salah satu karyawan Langhai menghampiri Sinta. Gadis Betawi yang biasa akrab disapa Tiwi itu berusaha mendekati diri pada Yani, Sinta dan Berlin, tapi belum berhasil sepenuhnya, karena dia hanya di pemasaran.
"Ciiee, asyik yah. Bisa deket sama anak owner. Jadi dapat tawaran naik jabatan dong buat jadi secretaris Langhai Group," niatnya Tiwi bercanda menerima jawaban sinis dari Sinta.
"Masalah sama Lo? kalau kita deket? orang kita dapat promosi mulu," jawab Sinta membuat gadis itu kesal.
Ha-ha-ha.... Ayak ayak wae...🤧
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️