Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Menghindari...


__ADS_3

Pagi yang cerah mentari pagi masuk malu malu melalui balik tirai kamar Yani di apartemen barunya. Gadis kecil itu justru menangis semalaman mengingat tragisnya kisah cinta yang menyayat hati. Bagaimana tidak, setelah dia menghabiskan malam dengan Albert, berharap akan dinikahi, ternyata pria bule somplak itu menyerahkannya pada adik kandungnya Fredy Einstein.


Entah rencana apa yang berada di kepala Albert saat ini. Hingga dia tega melukai perasaan Yani yang sangat berharap pada pernikahan mereka.


"Hmmmm hari ini aku akan ke kediaman Mba Paras, ngasih tahu! bahwa Silutak dan Sintya ada diapartemen Pejaten," batin Yani melangkahkan kaki masuk ke kamar mandi.


20 menit Yani berada dikamar mandi, menikmati guyuran shower sangat menyegarkan hati dan pikirannya. Terdengar suara pintu sayup sayup terbuka.


Deg,


"Siapa?" teriak Yani dari balik kamar mandi kamar.


Bergegas Yani keluar dari kamar mandi mencari asal suara yang membuka pintu kamarnya barusan. Mata gadis itu dikejutkan dengan kehadiran Albert yang tengah duduk di sofa menikmati sekaleng soft drink dan cemilan.


"Kamu?" kaget Yani menatap kearah Albert.


"Ngapain kamu kesini? darimana kamu bisa masuk?" teriak Yani.


Albert tak bergeming, dia hanya menikmati apa yang sedang dinikmati.


"Albert! jangan diam saja! jawab aku!" tegas Yani dengan suara lantang.


Albert merasa Yani tengah dilanda emosi yang tidak stabil hanya tersenyum mendekati gadisnya.


"Pagi sayang," kecup Albert dipipi Yani.


Yani benar benar menampar Albert yang berdiri dihadapannya.


Plaaak,


"Begitu tega kamu ngasih aku sama Fredy, trus sekarang kamu datang kesini, mau apa? mau minta maaf? sory, hati aku sudah terlalu sakit! aku tidak akan mau berbaikan dengan mu," tegas Yani.


Albert menatap lekat mata Yani, "ada apa dengan kamu? aku kesini mau menjemput mu! kita makan siang dan temani aku ke pelabuhan untuk menanda tangani berkas. Barang Langhai Group sudah tiba, kita akan mengurus ini bersama. Maaf, itulah kelemahan aku jika Fredy memohon, karena dia adikku," ucap Albert.


"Nggak, aku enggak ada urusan sama pekerjaan kamu!" ucap Yani berlalu meninggalkan Albert tampak bodoh.


"Yan, Yani come on," tahan Albert pada lengan Yani.


"Hmm come on? oogh gampang banget kamu atur atur aku? kamu pikir aku siapa? aaaagh, Albert! kau melukai aku!" tegas Yani melepaskan genggaman tangan Albert berlalu meninggalkan bule somplak itu di ruang keluarga.

__ADS_1


Braaak,


"Dia pikir dia siapa? mau ngatur ngatur aku! emang dia lupa apa yang dia lakukan kemaren?" kesal Yani menuju lemari pakaiannya.


Yani hanya menggunakan celana jeans dan baju kaos oblong berwarna putih sedikit transparan. Mengambil tas selempang ingin segera meninggalkan kediamannya.


Cekreeek,


Wajah Albert sudah berada dihadapan Yani, dengan posisi tangan kanan berada dikusen pintu.


"Naaaah, santai banget. Yuuuk, kita jalan sekarang?" ucap Albert tanpa perasaan berdosa.


"Enggak Albert Einstein! lebih baik kamu pergi tinggalkan aku! satu lagi, siapa yang izinkan kamu masuk kekediaman ku? kamu lupa nyakitin aku? kita habis bermesraan, melewati malam, tiba tiba kamu mengalah untuk Fredy? kamu pikir aku apa? piala bergilir keluarga Lo?" tegas Yani dengan nada tinggi.


Albert masih tersenyum tanpa harus meminta maaf, "kita pergi yah? sarapan. Biar kamu nggak marah marah lagi," jelasnya menarik tangan Yani.


"Uhuuugh, lepas berengsek!" kesal Yani membuat Albert tak berani berkutik.


"Apa sekecewa ini dia pada ku?" batin Albert.


"Enggak bisa kita bicara baik baik Yan? tanpa mesti kasar! aku nggak pernah mau di posisi mengecewakan Fredy karena dia benar benar mencintai kamu. Aku kesini memang mau bertanya sama kamu, apakah benar kamu mau menikah dengan ku? agar aku bisa kasih alasan dengan Fredy," jelas Albert amburadul membuat Yani semakin membencinya.


Plaaak,


"Aaaaugh, Yan! tega banget kamu! ini kekerasan dalam rumah tangga sayang! oke, aku minta maaf. Aku ngelakuin ini karena aku menyayangi Fredy dan tidak ingin mengecewakannya. Aku mohon mengertilah, dari jawaban kamu kemaren aku mengerti bahwa kamu tidak mencintai Fredy. Aku mohon mengerti aku!" mohon Albert.


Yani menatap jijik ke wajah Albert, "hmmm, ini baru sedikit. Lebih baik kamu pergi tinggalkan aku sendiri, aku tidak ingin melanjutkan hubungan ini," tegas Yani.


Albert terkejut, "apa? kita sudah melakukannya Yan!" kenang Albert.


"I don't care!"


Yani berlalu meninggalkan apartemen meninggalkan Albert yang masih berdiri mematung menatap lekat pungung kecil itu dengan perasaan bersalah.


Yani masih sakit dengan penghinaan yang di berikan Albert malam itu. Dia seperti di permainkan oleh laki laki yang telah menidurinya.


"Yan, bagaimana jika kamu hamil anak kita?" teriak Albert mengejar langkah Yani dari belakang dengan jarak enam meter.


Tiiiing, pintu lift terbuka.

__ADS_1


"**** you boy!" Yani mengacungkan jari tengah pada Albert tanpa peduli pada pria bajingan itu.


Sementara Albert Einstein menjerit kesal karena lebih cepat wanitanya menutup pintu lift.


"Damn!!" Albert terpaksa harus menunggu lift sebelahnya sebelum Yani berlalu lebih jauh.


"Yan, maafkan aku!" teriaknya frustasi.


"Jika kamu hamil aku akan bertanggung jawab, aku yakin karena kita melakukannya lebih dari sekali," batin Albert lagi.


"Segitunya dia menghindar dari ku, jika aku tidak tahu password apartemennya, mungkin dia tidak akan memberikan aku waktu untuk memohon maaf."


Albert mencari keberadaan Yani di loby dan seluruh parkiran, tapi tidak kunjung menemukan kekasih terlucunya.


"Hmmmm Yan, maafkan aku," bisik Albert.


Albert segera menuju pelabuhan peti kemas dan berencana menunggu Yani kembali diapartemen wanita itu. Dia ingin meminta maaf tanpa menggagalkan rencana pernikahan mereka.


"Tapi sepertinya agak sulit, karena dia masih emosi padaku, bodoh bodoh bodoh!" rutuknya dalam hati.


.


Yani justru tengah menikmati secangkir teh hangat dan kue buatan Maid di kediaman Leo. Paras dan Yani duduk di pinggir kolam bermain bersama baby four.


"Mba, Leo kemana?" tanya Yani penasaran.


"Hmmm, lagi sama Bang Simon dan Papi. Nggak tahu kemana. Ada apa Yan? kamu besok mau menikah, harus bahagia dong. Albert sangat mencintai kamu," senyum Paras masih bermain dengan baby four.


"Ck, aku udah putus Mba! masak dia suruh aku nerima lamaran Fredy dihadapannya? emang aku wanita apaan coba? udah Mba, jangan bahas pernikahan. Aku nggak mau nikah. Biarin begini, lebih baik sendiri daripada harus menerima kenyataan bule somplak itu," rungut Yani.


Paras tersenyum, "sabar yah? semoga ada jalan keluar yang terbaik untuk kamu, Albert dan Fredy. Kamu harus sabar hmmm," nasehatnya.


Yani mengangguk, menunduk menangis. Air matanya mengalir deras membasahi kedua pipinya. Entahlah, jika ingin dia meratapi nasibnya, mungkin gadis itu akan mengambil rantai kapal untuk menggantung lehernya. Ternyata memiliki hubungan dengan bule itu tidak semudah yang Yani pikirkan.


Hmmm, semoga ada jalan keluar,🤔


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2