
Leo dan Sintya menghabiskan malam bersama untuk saling mengenal, mereka sengaja menahan hastrat yang bergelora. Bukan hal yang mudah bagi keduanya, terasa sesak bahkan menyakitkan bagi Leo. Mereka ingin melakukan semuanya setelah pemberkatan. Leo mengerti maksud Sintya, setidaknya dengan menikah semua akan terasa indah dilakukan tanpa perasaan bersalah.
Visual pemberkatan Nikah Leonal dan Sintya di Bali.
Silutak dan Maride sengaja tidak mengexpose pernikahan putra putri mereka. Perencanaan akan mengadakan pesta besar di Jakarta secara adat batak. Pasti akan menjadi sejarah bagi keduanya.
Pemberkatan keduanya sangat hikmat, harapan Maride dan Baros ingin segera memiliki cucu akhirnya terwujud.
"Terimakasih Eda, akhirnya kita bersatu padu bak membuat kerajaan yang kokoh! Bagaimana jika kita membuat Dinasti Big!" Kekeh Silutak menggoda Maride.
"Kepala kau! Langsing gini aku, kau bilang gemuk!" Jawab Maride mencium cerug leher Baros yang ada disampingnya.
"Lae, setelah acara ini, kami langsung pulang ke Singapura! Mungkin Sintya akan ikut dengan Leo ke Jakarta. Aku titip putriku yah Da!" Ucap Silutak tanpa ada tanda tanda kejahatan yang tersirat diwajahnya.
Margareta hanya menunduk mengikuti intruksi Silutak tanpa ingin berdebat. Baginya kebahagiaan Sintya paling utama.
Kedua keluarga sangat antusias menyambut kedua anak menantu mereka menghampiri orang tuanya.
Silutak menarik tangan Sintya,
"Ingat, tinggalkan Leo setelah 3 hari pernikahan, kalau bisa hari ini juga! Biar mereka tau rasa bagaimana sakitnya di tinggal orang kepercayaan." Bisik Silutak di telinga Sintya.
Sintya tak menjawab, baginya perasaan sudah mulai tumbuh harus kembali layu, batinnya menunduk. Jujur hatinya menolak perintah sang Papi, tapi tak kuasa jika menolak. Dia tak ingin melihat Papi dan Maminya benar benar bercerai. Tunduknya membatin.
"Sin, Mami permisi yah! Mami tidak ingin bergabung bersama Maride." Ucap Margareta memilih berlalu menuju villa mereka.
Margareta dan Maride tidak pernah cocok, karena mulut Maride melebihi kaleng rongsokan yang memuakkan baginya.
Sesungguhnya Maride orang yang baik, humoris, karena Baros lebih tampan dari Silutak makanya Margareta sedikit terluka.
"Iiighs, kenapa dia memiliki yang tidak aku miliki?" Batin Margareta. "Baros tampan dari Silutak, romantis, bahkan mau menenteng tas dan sepatu heels istrinya. Silutak, jangan harap! Bisa tenggelam Bali jika dia melakukan itu!" Kekehnya membatin.
Singkat cerita setelah pernikahan Leo dan Sintya.
Maride dan Baros kembali ke Bandung, karena ada beberapa pekerjaan. Begitu juga Silutak dan Margareta kembali ke Singapura.
Leonal dan Sintya memilih kembali ke apartemen Leo di Kalibata.
Maride dan Baros mempersiapkan bulan madu yang indah untuk kedua anak menantunya paket honeymoon di Maldives.
π"Makasih yah Mih!" Ucap Leo saat menelfon Maride di kamar mandi.
π"Hmmm! Udah masuk si unyun mu? Jangan lama lama! Mamak pengen kali punya cucu." Kekehnya berharap.
__ADS_1
π"Sabar Mi, Sintya period! Seminggu lagilah! Tepat kami menghabiskan waktu honeymoon." Ceritanya jujur pada Maride.
π"Pokoknya tepat sasaran yah nak! Jangan nggak tepat kau menembaknya.' Tegas Maride. Membuat Leo tertawa geli.
π"Ya Mami! Yang pasti aku akan memberi Mami cucu yang banyak." Jelas Maride merasa tenang.
π"Aku istirahat yah Mi! I love you Mami ku yang Ndut!" Kekeh Leo.
π"Iya iya, jaga kesehatan mu! Kau cium cium lah dulu gadismu itu! Sebelum kau merobek robeknya!" Tawa Maride menggoda Leo putra satu satunya.
Leo menutup telfonnya, melakukan ritualnya dikamar mandi. Setidaknya dia dapat bernafas lega. "Hmmm, walau dia sedikit liar, tapi dia masih virgin!" Batin Leo dalam hati.
Setelah melakukan ritualnya, Leo mencari keberadaan Sintya, dia tengah sibuk memajang foto pernikahannya. Leo mendekatinya, memeluk Sintya dari belakang, mencuim tengkuk istrinya dengan lembut.
"Perlahan aku mulai mencintaimu!" Bisik Leo ketelinga Sintya.
Sintya berbalik, mengalungkan tangannya dileher Leo, "ya, aku bahagia menikah dengan mu! Walau kita dijodohkan, setidaknya kita bisa menikmati semua prosesnya. Ternyata semua tidak seperti yang aku bayangkan! Kau begitu baik pada ku!" Jawab Sintya seperti mendapat bius baru bagi Leo untuk melangkah lebih jauh menata masa depan kedua insan yang sudah sah menjadi sepasang suami istri itu.
Leo menggendong tubuh Sintya masuk ke kamar peraduan mereka ala bridal, Sintya sangat manja dipelukan Leo.
"Aku masih period sayang!" Ucap Sintya mengingatkan Leo.
"Ya, aku akan menunggu mu! Kita akan menghabiskan waktu di Mardives, Mami memberi kado terindahnya. Aku ingin menikmati hal indah itu disana!" Goda Leo saat telah sampai di kamar, kemudian membaringkan Sintya di ranjang baru mereka.
"Apa kau kuat jika kita hanya bercumbu?" Tanya Sintya dengan lembut.
"Hmm! Aku akan menjepitkannya ke pintu malam ini!" Membuat Sintya tertawa geli mendengar rungut sang suami.
Mereka hanya berciuman, sesekali Leo meremas d*ada Sintya, mengecupnya, memainkan put*ing indah itu. Tapi apapun alasannya, mereka tidak bisa melakukannya sekarang.
Leo memeluk Sintya, membawa istri sahnya dalam dekapan. Usia pernikahan mereka baru dua hari terasa indah dan akan menyusul hari hari indah lainnya dalam benak Leo.
Mereka terlelap, dengan tubuh setengah telanjang, ditutupi selimut tebal, karena AC sangatlah dingin hingga menusuk ke kulit dua insan yang belum melakukan serangan fajar.
Pagi yang cerah, suasana hati Leo sudah mulai terasa bahagia dan tenang atas pernikahannya. Leo mengusap sisi sebelahnya, Sintya tidak ada dalam dekapannya.
"Sayang!" Panggil Leo dengan suara manja dan berat.
Leo berfikir bahwa gadisnya ada dikamar mandi atau didapur sedang mempersiapkan sarapan. Leo melirik jam dinakas menunjukkan pukul 08.00 waktu Jakarta.
"Hmmm, kemana dia?" Dengan wajah masih sedikit mengantuk Leo beranjak dari ranjang kingsizenya, menuju kamar mandi. Setelah dari kamar mandi, Leo mencari keberadaan Sintya.
"Sayang!" Leo celingak celinguk mencari keberadaan Sintya di tiap tiap sudut apartemennya.
"Sintya! Honey!" Leo membuka kamar sebelah, kamar mandinya, dapur, ruang kerja dan kamar pembantu, tapi tidak menemukan istri tersayangnya.
__ADS_1
"Kemana dia?" Batin Leo, dia memeriksa kulkas, perlengkapan semua masih komplit, batinnya lagi.
"Sintya!" Teriak Leo mulai kesal.
Leo menarik nafas dalam, menuju kamar mandi, membersihkan diri.
β³10 menit kemudian dia keluar dari kamar mandi. Menggunakan baju kaos dan celana levis selutut.
Menunggu kehadiran Sintya, ada perasaan cemas. Leo mengambil handphone miliknya, menghubungi Sintya tapi operator yang menjawab. "Kemana dia? Kenapa dia tidak memberi pesan atau surat padaku?" Bisik Leo.
β³1 jam
β³2 jam
β³5 jam, hingga
β 12 jam,
Sintya tidak kembali, dia menghilang bak ditelan bumi. Membuat Leo menjadi khawatir. Menghubungi orang kepercayaan keluarganya dan Baros.
Maride hysteris, Berlin ikut merasa khawatir.
"Kemana istriku? Kenapa dia pergi meninggalkan ku?" Bisik Leo mulai frustasi.
"Tadi malam baik baik saja, bahkan kami sangat mesra! Aku rasa aku tidak menyakitinya, bahkan aku menikmati keindahan payu*daranya yang kenyal!" Tambahnya mengenang.
Leo benar benar kehilangan Sintya dihari ketiga pernikahannya. Pertemuan yang singkat sesingkat pernikahannya, batinnya.
"Sintyaaaaaaaaa!" Teriak Leo frustasi.
Hari itu Leo tidak sanggup melakukan apapun, pikirannya traveling menuju hal terburuk.
Sementara di kediaman Baros dan Maride di Bandung, mereka panik seketika bergegas mengunjungi Leo. Tentu setelah mendengar penuturan Silutak yang tengah tertawa puas setelah putrinya meninggalkan putra mereka.
π"Nikmati saja dosa kau eda!" Kalimat terakhir itu yang terdengar dari bibir Silutak, sangat menusuk di relung hati paling dalam bagi Maride melalui sambungan telfon.
"Bangsaaaaaat! Beraninya dia menyakiti putraku Leonal, Papi!" Isak Maride larut dipelukan Baros.
"Tenang sayang! Kita akan menemui Leo! Bertanya padanya! Tenanglah! Putraku kuat itu." Bisik Baros mengusap bahu gembul sang istri sepanjang perjalanan.
Maride terus menangis terisak, tak menyangka perlakuan Silutak sangat memalukan keluarganya.
Kita nangis dulu yah....π
_______________*******
__ADS_1
Read and wait... π€π€
Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...ππ₯°β€οΈ