
Suasana rumah sakit Jakarta Selatan sangat mencekam dan mencemaskan, Faisal dan Kirai datang karena Maride yang meminta. Berlin, Leo dan Luqman masih menunggu didepan ruangan tindakan.
Tepat pukul 22.00 waktu setempat, Faisal dan Kirai muncul dihadapan Leo. Terlihat wajah kedua mertuanya panik bahkan tidak mampu berucap.
"Bagaimana Paras, Leo?" tanya Kirai lembut.
"Lagi tindakan Mak," jujur Leo.
"Tananglah, semoga semua baik baik saja. Kalian kalau ado masalah, jan dibaok kalua," isak Kirai tak mampu menahan air mata.
Terbayang saat Paras benar benar shook karena bentakan Leo, bahkan membuat wanita gendut itu lemah tidak berdaya. Bagi Paras selama menikah Leo tidak pernah berkata kasar, bahkan membentaknya di depan semua orang. Maid dan baby sitter yang mendengar kejadian pagi itu tersentak kaget.
"Maaf Mak, Leo yang salah," ucap Leo tertunduk tak mampu berucap.
Faisal sesekali mengintip melalui kaca kecil di balik pintu. Ada perasaan takut dihati Apak Paras, mengingat kejadian mengejutkan itu.
Sudah hampir dua jam Fredy berada didalam untuk menghentikan pendarahan Paras dengan berbagai macam cara dia lakukan demi menyelamatkan jiwa yang tumbuh dirahim Paras. Baby twins harapan Maride dan Baros, harus selamat. Hanya itu yang ada dikepala Fredy saat ini, tanpa memikirkan perasaan pribadinya.
"Bagaimana dok?" tanya perawat dan asisten Fredy.
"Kita tunggu Mba Paras siuman, semoga pendarahannya berhenti. Saya sudah melakukannya dengan baik. Jika sudah siuman silahkan kasih minum dan segera hubungi saya," senyum Fredy merasa lega.
"Dokter pulang?" tanya Lili.
"Enggak, saya di ruangan bersama Bang Leo. Kalian disini dulu," perintah Fredy.
"Baik dok," tunduk Lili.
Fredy keluar dengan perasaan masih berkecamuk dikepalanya, mengingat kejadian sore tadi.
"Aaaaagh," kesalnya dalam hati.
Leo menghampiri Fredy dengan sangat cepat saat melihat pria itu membuka pintu.
"Bagaimana Paras, Fred?" tanya Leo masih melihat dari balik kaca.
"Syukurnya tidak apa-apa Bang. Bisa kita ngobrol di ruangan saya?" tanya Fredy menepuk pundak Leo.
"Oke,"
Leo menitipkan Paras pada Berlin, Luqman, Kirai dan Faisal.
Fredy melangkah sedikit lelah, membayangkan pernikahan yang gagal bersama Yani akan tampak nyata didepan mata. Saat tiba diruangan, Fredy meminta Leo untuk duduk lebih santai dan tidak perlu khawatir, karena Paras sudah melewati masa kritisnya. Baby twins mampu diselamatkan, tentu dengan berbagai macam cara dan doa dari semua keluarga.
"Maafkan Albert, Bang," ucap Fredy saat melihat Leo sedikit lega.
Leo hanya terdiam, "siapa Albert? apa kamu mengenalnya?" tanya Leo penasaran.
Fredy tersenyum sumringah, "Albert Einstein abang kandung saya, kami laki laki yang berbeda misi dan visi," jelasnya tenang.
Leo menutup wajahnya penuh penyesalan. Menyandarkan tubuh lebih dalam disofa, semakin menyesali perbuatannya.
"Dia terlalu berani menggoda Paras, aku terbakar api cemburu, kami hanya rekanan karena perusahaan di Bogor kan pabrik utama untuk airbus kita. Selama ini aku mengenalnya di Australia, karena kami satu kampus, dia kan kakak senior saya," cerita Leo.
Fredy mengangguk mengerti menatap lekat wajah Leo.
"Aku sama Albert tidak begitu seide, karena dia lebih keras dan sangat berbeda dari saya," kenangnya.
"Saya benar-benar tidak tahu kamu adiknya Albert, Fred. Nama belakang kamu tidak ada Einstein," ucap Leo.
Fredy tersenyum, "apa sudah lama Yani mengenal Albert, Bang?" tanya Fredy pada Leo penasaran.
"Jujur baru kemaren kami menyambangi pabrik bersama Paras, karena selama ini Papi dan Mami yang kesana. Makanya aku benar benar tidak menyangka jika Albert mengenal dekat istriku. Aku telah jauh berfikir, hingga melupakan semua cerita yang sebenarnya, tanpa bertanya pada Mami. Memang Albert ada ketertarikan pada Yani, tapi saya tidak menyangka dia serius, karena dia memberi kado pada Paras sebagai hadiah pernikahan. Itu yang membuat saya kecewa," jelas Leo panjang lebar.
__ADS_1
Fredy tertegun, menarik nafas dalam.
"Sepertinya saya akan pulang ke Jerman menerima tawaran perjodohan Mami saya. Kecewa seeh sama Yani, mungkin karena saya tidak terlalu mampu meyakinkannya. Hingga dia lebih memilih pergi bersama Albert dari pada mesti ikut sama saya ke sini,"
Dikepala Fredy hanya ada wajah Yani yang sangat lucu dan menggemaskan, tapi masak dia harus bersaing dengan Abang sendiri, batinnya. Luka terdalam tertoreh jelas diwajah Fredy. Dokter kandungan tampan mesti mengalami gagalnya percintaan diambang karier yang meroket.
.
.
Berbeda suasana hati Albert dan Yani yang penuh tanda tanya. Dua kali bertemu dengan Yani sangat berkesan baginya, dia juga tidak menyangka akan menyakiti Paras sahabat lama yang saling menghibur dan menghormati.
Paras tidak pernah menjadge Albert walau dia melakukan kesalahan. Pertikaian dengan Leonal kali ini hanya bentuk kekesalannya karena berani merebut sahabat lamanya.
"Kamu udah lama dekat dengan Mba Paras?" tanya Yani penasaran saat mereka sudah sedikit tenang walau merasa khawatir dengan keadaan sang direktur Langhai.
"Aku hanya senang sama wanita dewasa, dia lebih baik dari wanita yang aku kenal. Tidak ada maksud lain. Kami memang selalu memuji dan mengagumi," jelas Albert.
Yani memahami bagaimana perasaan Albert saat membalas pukulan Leo, pria Jerman itu hanya tidak ingin Paras tersakiti oleh kecemburuan suaminya.
"Kamu kenal juga sama Bang Leo?" tanya Yani penuh selidik.
Albert tertawa mendengar pertanyaan Yani.
"Kan sudah aku bilang, aku tahu Leonal anak Mami Maride. Dia adik kelas aku di Australia. Leo itu anak pintar, dia memahami sistem, tapi tidak mampu menguasai lapangan," jelasnya.
Yani mengangguk mengerti, "ternyata dunia ini sempit," kekehnya.
"Ya sudah, aku pulang yah? enggak enak berduaan diapartemen adik kamu. Nanti dia berfikir aneh aneh lagi," jelas Yani.
Albert menahan tangan Yani, "jangan pulang, temani aku disini," tegasnya tanpa ingin dibantah.
Yani menelan salivanya, seumur hidup dia tidak pernah berduaan di satu ruangan bersama seorang pria. Ada perasaan takut bahkan kepalanya menjadi traveling entah kemana.
"Hmmmm kamu besok enggak kerja yah?" tanya Yani.
"Eeeh emang kerja mesti full satu minggu gitu? besok itu libur Yan, hari Sabtu," jelas Albert menggoda puncak hidung Yani.
Yani menepuk jidatnya, "berarti besok kita jenguk Mba Paras yah?" ajaknya.
"Hmmmm,"
Albert menghubungi Fredy melalui whatsApp, mentransfer biaya rumah sakit sebagai bentuk tanggung jawabnya pada Paras. Dia tidak ingin siapapun tahu bagaimana dia mengagumi Paras dalam diam, termasuk Fredy adiknya sendiri. Biarlah itu menjadi kenangannya sendiri yang akan dia simpan sebagai kenangan terindah.
Ruangan apartemen Fredy hanya memiliki dua kamar, pria Jerman itu biasa menghabiskan waktu dirumah sakit, dan jarang menghabiskan waktu bersama wanita. Albert juga merasakan, Yani memberi harapan pada Fredy adiknya.
Albert menarik lengan Yani agar lebih dekat dengannya. Menatap wajah cantik yang masih berwajah anak SMA.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Albert serius.
Yani menunduk malu ditatap penuh pertanyaan dan tatapan yang berbeda. Jika ingin dikatakan jantung Yani berdegup lebih kencang dari biasanya. Ingin rasanya dia kabur dari pandangan Albert yang sangat membius hatinya.
"Hmmmm aku baru beli apartemen milik Leo di Kalibata," jelas Yani tersenyum tipis.
"Ooogh kamu beli cash?" tanya Albert semakin penasaran.
Yani mengangguk. Masih tertunduk, tidak berani menatap.
Albert tersenyum sumringah, "bisa lihat aku nggak? biar lebih dihargai gitu," senyumnya mengarahkan tubuh Yani agar duduk mereka saling berhadapan.
Dug dug, dug, dug...
Jantung Yani seperti tidak berhenti memompa darah lebih kencang.
__ADS_1
"Iya, aku beli baru dua hari. Mungkin besok atau lusa pindahnya," senyumnya.
Albert menatap hezel mata Yani, "kamu bisa jawab jujur?" tanyanya masih menatap.
Yani hanya bisa menahan nafas, mencuri cara menelan saliva sendiri, mengangguk tanpa berani untuk berbohong.
Mata Albet yang sangat memikat hati Yani, benar benar mampu meluluh lantakkan perasaan jomblo yang dia jaga agar tidak terpesona pada pria yang baru dia kenal.
"Bisa ceritakan hubungan kamu dengan Fredy? apakah kamu juga ada rencana untuk menikah dengannya?" tanya Albert menatap semakin dalam.
Yani menarik nafas panjang, "bisa kasih aku nafas? kita ngobrol lebih santai, jujur aku gugup," jujurnya.
Albert tertawa, mengusap asal rambut lurus yang hitam. Dia bergegas menuju kulkas, mengambil beberapa minuman kaleng untuk mereka. Membawa kedepan meletakkan diatas meja agar gadis dihadapannya lebih santai menjawab pertanyaan.
"Tenang, aku santai kok," ucap Albert meneguk soft drink dalam genggaman.
Gluk gluk gluk,
Jakun Albert yang turun naik membuat Yani berfikir sedikit jorok.
"Iiiighs kenapa otak gue jadi mesum," batinnya mengutuk diri sendiri.
"Hmmmm kami memang dekat, cuma Fredy kan mau di jodohkan sama dokter di kampungnya. Naaah aku enggak berani maju. Bagaimana dengan kamu? apa kamu tidak dituntut untuk menikah dengan wanita cerdas atau bahkan dokter juga?" tanya Yani meyakinkan.
Albert mendengarkan dan menghormati kejujuran gadis kecil dihadapannya, "good girl," senyumnya.
"Fredy memang dijodohkan dengan gadis bernama Lauren, usianya nggak jauh beda dari kamu," senyum Albert menjelaskan.
"Tapi, itu keinginan Mami, bukan keinginan Fredy. Enggak tahu juga setelah kecewa dari kamu, mungkin dia akan kembali ke Jerman dan menerima perjodohan keluarga. Jika itu terjadi, kita akan kesana," jelas Albert santai.
Yani kembali melongo dihadapan Albert, akan membawanya kembali ke negara panser itu.
"Serius? kamu serius sama aku?" tanya Yani masih tidak percaya.
Albert menaikkan alisnya menatap aneh pada Yani, "kamu pikir aku bohong? aku enggak pernah main main, jika dekat dengan wanita. Aku serius ingin menikah dengan kamu, kalau perlu besok pagi biar orang ku mengurus semua legalitas kita," jelasnya duduk dengan tenang.
Yani menepuk pipinya, harapan akan memiliki pria bule tampan walau somplak akan menjadi kenyataan, ditambah akan membawanya kembali kenegara panser itu.
Albet menahan tangan Yani, mencium bibir Yani dengan lembut secara mendadak agar gadis itu tahu bahwa ini tidak mimpi. Dia benar benar serius dengan Yani.
"Hmmmmfgh,"
Yani menutup matanya menikmati ciuman lembut itu perlahan. Tangan yang kaku melemaskan setiap persendiannya. Cukup lama mereka saling mendecap tanpa ingin melepas ciuman terlembut itu.
Albert menahan tengkuk belakang Yani, agar gadis itu mau bermain lama dengannya.
"Bibir kamu manis sekali girl," ucap Albert saat melepas ciumannya menyatukan kening mereka.
Yani tersenyum menangkup wajah Albert yang mampu memberikan kesan yang berbeda. Kembali gadis itu me lu mat bibir merah nan basah dengan sedikit liar. Lidah saling bermain membakar gairah keduanya, ingin melakukan hal yang lebih.
Albert melepas ciuman mereka yang semakin panas, membuat nafas keduanya saling tidak beraturan, "maaf, aku tidak akan berhenti jika sudah seperti ini dan aku tidak ingin melakukannya, tanpa persetujuan kamu," ucapnya mengusap kasar wajah tampan itu.
Yani semakin penasaran, tidak sanggup menghentikan bahkan menahan rasa penasarannya. Mata menatap tajam pada Albert, "apa aku salah jika menginginkan itu?"
Albert menatap penuh, hezel mata Yani.
"Kamu yakin?"
Tatapan mata penuh menantang Albert mencari jawaban yang pasti pada Yani.
Yani semakin salah tingkah, nafsu yang memuncak, sangat sulit dia tahan, hingga mereka memutuskan meninggalkan apartemen Fredy menuju salah satu hotel bintang lima kota metropolitan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️