Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Kehilangan baby twins...


__ADS_3

Rumah sakit Jakarta Selatan milik Dokter Kevin sahabat Maride semasa sekolah, sedang berusaha menyelamatkan nyawa Paras dan baby twins. Dokter kandungan mereka Fredy Einstein datang menangani Paras segera.


"Gue akan buat perhitungan jika menemukan bukti bahwa pelakunya adalah Silutak atau Sintya," geram Leo menangis dipelukan Berlin.


Ada kekhawatiran dihati Leo dan keluarganya, jika terjadi sesuatu pada baby twins mungkin inilah takdir yang harus mereka ikhlaskan.


"Tenang dulu bro, Lo nggak usah panik, nanti anak anak Lo rewel dirumah. Mengingat kedua orang tuanya," jelas Luqman.


Leo menggenggam jemari tangan Berlin, "gue nggak ada masalah sama orang, selain yang mengancam keselamatan kita beberapa waktu lalu saat makan malam di Rich Carlton. Itupun melalui Sinta. Gue shoock, Paras hampir stress," kenang Leo.


"Iya, Lo tenang dulu. Lain kali Lo jangan pakai mobil itu kalau udah diancam. Lo ganti mobil apa kek, yang mereka nggak tahu," ide Luqman.


Leo hanya meringkuk dipelukan Berlin, dia sangat khawatir dengan keadaan Paras mendadak kehilangan kesadaran, karena banyak mengeluarkan darah.


Cekreeek,


Tampak Fredy keluar dari ruang operasi mendekati Leonal dan Berlin.


"Bagaimana Paras, Fred?" tanya Leo panik.


Fredy menarik nafas dalam, "maaf bang, baby twins tidak bisa dipertahankan," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Leo terduduk lemas, begitu besar harapan dia pada baby twins untuk menjadi anak terakhir mereka. Seketika dunianya runtuh, membayangkan Paras akan merasa kehilangan baby twins yang dia jaga beberapa bulan ini.


"Kami tidak bisa menyelamatkan twins, karena harus mempertahankan Kak Paras, Bang," jelas Fredy.


"Darah yang banyak keluar membuat kontraksi pada janin, ditambah obat obatan anastesi yang tidak bisa dikurangi karena kondisi Kak Paras menurun," tambah Fredy.


Leo benar benar berteriak kencang, karena mendengar kedua anaknya menjadi korban Silutak dan Sintya.


"Anjiing mereka, aku akan mencari tahu keberadaan Silutak dan Sintya," isak Leo menangis sekencang kencangnya.


"Sabar bang, saya turut berdukacita, semoga Kak Paras segera siuman. Berlin, nanti jika terjadi sesuatu tolong kabari saya. Albert sudah menanggung semua biaya kelahiran baby twins, aku rasa bisa dialihkan kesini," Fredy berpamitan berlalu meninggalkan rumah sakit.


"Terimakasih Fred," balas Berlin melihat Fredy berlalu.


Leo benar benar frustasi, tidak menyangka akan kehilangan janinnya. Dia menganggap Paras aman, justru dialah yang menjadi bulan bulanan Silutak dan Sintya untuk membalas dendam mereka kepada Leonal.


Dokter Kevin keluar dari ruang operasi, melihat raut kesedihan diwajah Leonal yang terpancar sangat jelas.


"Sabar yah? sudah takdir dan kondisi Paras menurun, dia mengalami shock luar biasa sehingga kami sulit memberikan obat," jelas Kevin.

__ADS_1


Leo menangis dipelukan Berlin, dia tidak ingin mendengar semua penjelasan dokter, baginya sangat sakit cobaan yang harus dia terima, dengan kehilangan buah cinta mereka yang sudah berusia 20 minggu.


"Saya permisi, Nyonya Paras sudah dibawa keruang pemulihan. Semoga cepat siuman. Hanya dua orang yang boleh menemani kedalam," jelas Dokter Kevin kemudian berlalu meninggalkan Leo dan Berlin.


Mereka mengangguk, tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Dokter Kevin..


Leonal dikejutkan dengan kehadiran Laura dan Willion. Tampak dari kejauhan pasangan termehek-mehek itu mendekati Leo dan Berlin.


"Bagaimana Paras, Leo?" tanya Willion.


Leo memeluk Will yang tampak ketakutan, "baby twins nggak bisa diselamatkan," isaknya membuat tubuh Will bergetar.


Harapan Will mengasuh baby lucu Paras dan Leo pupus seketika. Mereka berencana akan merawat baby twins setiap hari, untuk memancing agar segera memiliki keturunan.


"Kenapa Bang? ada apa?" tanya Laura.


"Kami dikejar oleh mobil Fortuner seri terbaru, saat aku berhenti ditembak, aku fikir nggak kena. Rupanya Paras kenak dibahu pas dekat lipatan ketiak," jelas Leo.


"Siapa pelakunya? aku yakin ini ide orang dekat kita. Musuh dalam selimut," jelas Willion pada Leo.


Leo mendengus kesal, "siapa lagi kalau bukan Silutak dan Sintya," jelasnya.


Willion mencari nomor telepon Sintya, "aku akan bertemu dengannya. Akan aku habisi dia dengan caraku, beberapa waktu lalu dia menghubungiku. Aku malas mengangkatnya," geramnya.


Perubahan yang tidak tampak dalam keseharian oleh orang lain. Namun dapat dirasakan oleh Laura perubahan yang terjadi pada diri Will.


πŸ“ž"Halo Sin," sapa Will melalui telefon.


πŸ“ž"Ya Will, apa kabar? aku merindukan mu," ucap Sintya.


πŸ“ž"Kamu dimana? bisa kita bertemu?" tanya Will.


πŸ“ž"Boleh, kapan? besok yah? kebetulan malam ini aku baru pulang dari puncak, ada kejadian mengerikan hari ini. Mobilku kecelakaan Will," cerita Sintya.


πŸ“ž"Oke, besok kita bertemu dimana? apartemen mu atau hotel?" tanya Will.


πŸ“ž"Hmmm, aku rindu suasana hotel," jelas Sintya.


πŸ“ž"Oke," Willion menutup telfon, meninju dinding rumah sakit sekuat tenaga.


Bhuuug,

__ADS_1


"Will," teriak Laura.


Wajah Will berubah seketika, mata elang itu memerah, "aku akan membalasnya, mereka yang menabrak mobil Leo. Sintya barusan mengatakan padaku. Selama ini dia tidak tahu istriku adalan keponakan Maride. Aku akan mencekik leher wanita murahan itu," geramnya berlalu meninggalkan rumah sakit.


Laura yang sangat memahami bagaimana suaminya menahan Willion agar tidak bertindak ceroboh.


"Will, tenanglah," pujuk Laura lembut.


Perlahan Laura mengusap punggung Will agar tenang. Wanita cantik nan tinggi semampai itu membawa Will dalam pelukannya.


"Apa yang akan kau lakukan padanya aku tutup mata, tapi jangan sakiti dirimu sendiri," ucap Laura penuh kasih sayang dan cinta.


"Tapi dia telah menghilangkan nyawa baby twin, harapan kita Laura," isak Will dipelukan istrinya.


Laura mencium bibir suaminya, "aku akan membawa Steiner ke Australia bersama Mami disana. Kita akan menetap disana, tenanglah sayang. Aku akan bicara pada Paras dan Leo. Aku lihat kau sangat menyayangi baby Steiner," hiburnya untuk menenangkan Will.


Willion menggelengkan kepalanya, "tidak mungkin Paras akan memberikan salah satu baby four pada kita. Mereka itu kembar sayang, makanya aku berharap pada baby twins, tapi mereka membunuh harapan ku. Aku merindukan baby Laura, baby," isaknya membuat Laura semakin tidak kuasa membendung air matanya.


"Tenanglah sayang, aku akan berusaha demi mendapatkan keturunan. Aku sedang berusaha Will, kamu tahu kita terus berusaha. Sama seperti Berlin," tangis Laura.


Willion dan Laura kembali berkumpul bersama Berlin dan Luqman, karena Leo masih menemani Paras pasca operasi.


"Aku masuk," pinta Will tegas.


Laura mengangguk, "masuklah Will," ucapnya tenang.


Berlin dan Luqman yang mendengar isak tangis Laura dan Willion, dapat merasakan apa yang berkecamuk dibenak keduanya.


"Mami sudah berangkat ke Jakarta Berlin?" tanya Laura.


Berlin mengangguk, meringkuk dibahu Luqman penuh kesedihan, "begitu sayangnya kalian pada baby Steiner," bisiknya.


Laura tersenyum, "Will menginginkan anak laki laki Berlin, sama seperti kalian sangat menyayangi Stevie. Apakah kita boleh merawat mereka?" kenangnya tersenyum sendiri.


Berlin memeluk Laura.


"Kita sama sama mencintai baby four," ucap Berlin sambil menangis.


Mereka berdua terlarut dalam kesedihan, karena telah kehilangan baby twins.😭


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❀️❀️


__ADS_2