Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Lagi ngidam...


__ADS_3

Maride tengah sibuk menghidangkan makan malam untuk Baros dan Faisal. Sementara Paras masih memasak udang dan capcay sesuai permintaan suaminya.


Maride mendekati Paras dan Yani yang tengah sibuk berbisik bisik menceritakan semua kisah yang belum tahu ada akhirnya. Kedua alis mertua Paras naik saat mendengar kalimat yang membingungkan dari Yani.


"Kenapa kamu? apa Albert melukaimu? ku telfon dia yah?" tegas Maride mengambil handphone miliknya dari kantong celemek yang dia kenakan.


Yani langsung memeluk Maride, "jangan Bu! saya nggak mau berharap menikah sama dia," rungutnya membuat Maride semakin mencari nomor telepon Albert.


"Kau diam!" gertak Maride meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


"Hmmmm,"


Yani mengangguk pasrah menerima kenyataan yang akan terjadi. Jujur dia enggan bertemu dengan Albert.


Tidak mesti menunggu lama, Maride tersenyum melihat Yani dan Paras bergantian, "sudah, Albert kesini. Jangan terlalu banyak mikir kau, nanti tua wajahmu!" kekehnya berlalu membawa masakan buatan Paras.


Leo keluar dengan wajah sangat tampan dan segar menghampiri Paras yang tengah membuat susu hamil rasa strawberry. Tangan kekar itu melilit perut istrinya yang tampak membuncit.


"Aaaaugh, Bowl," rengek Paras menikmati ciuman yang mendarat dilehernya.


"Makasih yah, kamu masih mau memasakkan aku," bisik Leo membuat Yani menelan salivanya melihat kemesraan kedua insan bar bar dihadapannya..


Paras membalikkan tubuhnya, menatap lekat mata Leonal, "aku istri kamu, bagaimanapun kamu sama aku, tetap kamu suamiku," ucapnya pelan.


"Emmm,"


Leo mengecup bibir Paras dengan penuh perasaan, tanpa berfikir orang diruang makan menatap kearah mereka.


Maride dan Baros hanya bisa menggerutu, mengutuk Leonal, karena tidak tahu malu melakukan itu dihadapan mertua dan orang tuanya.


"Eheem," Maride mendehem.


Paras melepaskan ciumannya, "makan, Mami nungguin," kekehnya menepuk pelan dada Leo seperti akan menerkamnya.


Leo mengecup kening Paras, entahlah apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Semenjak pagi Leo lebih sering merasa sesuatu, terkadang mual, terkadang sangat manja bahkan benar benar ingin menghabiskan waktu hanya dengan Paras, Paras dan Paras.


Beberapa kali dia merasa mual saat dimobil sehingga Baros harus memijat leher putranya. Apakah Leo mengalami ngidam? entahlah, yang pasti saat ini Leo merasa tidak nyaman karena kehamilan baby twins. Kepalanya seperti berputa putar bahkan kurang sehat. Paras justru lebih sehat dan semakin sehat dalam melakukan apa saja. Sehingga dia mampu memasakkan makanan kesukaan Leonal.


"Kau kenapa Leo?" tanya Maride menatap wajah putranya sedikit pucat.


Leo menggerakkan leher kiri dan kanan, "entahlah Mi, tadi dijalan aku merasa nggak enak saja! padahal aku sarapan sebelum pergi, dimobil aku pengen nenas dan nangka. Sampe kesal Papi mesti menunggu sopir membeli nangka di supermarket," jelasnya diangguki oleh Baros.

__ADS_1


Kirai memberikan teh manis hangat untuk Leo, "mungkin kamu lagi ngidam, cubo minum teh iko," senyum mertuanya.


Leo menatap wajah Kirai menunduk hormat menerima gelas dari tangan Kirai.


"Emang ada suami yang ngidam Mak?" tanya Leo penasaran.


"Ya adalah, waktu mamak hamil Berlin, Papi kau yang pingsan karena nggak bisa ngelihat Mami makan durian. Ya kan Pi?" potong Maride.


"Itu biasanya karena suami kualat sama istri! ya, kan Pi?" kekeh Maride semakin keras.


Yani dan Paras hanya saling tatap, melihat Leo yang benar benar kelihatan tidak sehat. Biasanya dia paling hot daddy, kali ini dia seperti pria melow bahkan tidak mampu berucap.


Teh manis hangat buatan Kirai tak mampu menghilangkan rasa mualnya, sehingga Leo harus mengeluarkan semua isi perutnya.


"Uweeeek uweeeek uweeeek," Leo berlari ke wastafel dapur tidak jauh dari keluarga duduk.


Paras mendekati Leo, mengurut pundak suaminya pasti terasa menyesakkan, airmatanya mengalir, wajah bulu itu berubah lusuh. Pelan Paras mengusapkan minyak kayu putih ditengkuk Leonal, agar suaminya merasa lebih tenang.


"Hirup Bowl, jangan terlalu banyak makan yang aneh aneh dulu. Aku suapin yah?" tanya Paras masih mengusap punggung dan kuduk Leo.


"Hmmmm, huuuufgh, nggak enak banget, iiighs," Leo merinding sendiri.


Leo meminum teh buatan Kirai dari tangan Paras, meletakkan keningnya dibahu Paras. Dia sedikit kesal karena tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.


"Kita makan yah? atau kamu istirahat di kamar?" tanya Paras masih mengusap bahunya.


"Hmmm, disini saja," bisik Leo pelan.


Paras membawa Leo kembali ke kursi makan, mengambilkan makanan yang diinginkan Leo.


"Sedikit aja Ndut," ucap Leo menahan tangan Paras tengah menyendokkan nasi.


"Hmmm, udangnya? sayur capcaynya mau banyak?" tanya Paras.


"Iya, udang semuanya bawa sini, sama sayurnya. Aku mau makan semua masakan kamu," Leo meraih piring udang dan sayur capcay.


Paras dengan telaten menyuapkan kemulut Leo, dengan sepenuh hati. Mereka benar benar sedang sibuk dengan duanianya, tanpa menghiraukan Yani dan lainnya.


Maride dan Baros saling tersenyum tipis, "kemaren dimarahinya Paras, sekarang disayang macam kita ni tidak ada artinya bagi mereka," bisik Maride dapat didengar Faisal, Kirai dan Yani.


Faisal tertawa, mendengar celotehan Maride, "namanya lagi hamil jeng," ucapnya.

__ADS_1


"Macam kami nggak pernah hamil saja Pak, emang mereka keluar dari kentut, tanpa hamil dan mual," kekeh Maride.


Mereka tertawa, Leo malah tidak peduli dengan bullian dari keluarganya.


"Enak banget Ndut, masakan kamu! besok kamu buatin udang saos kecap yah! biar aku bawa kekantor," jelas Leo.


Paras tersenyum, masih mengurus baby bignya yang kembali manja seperti dulu.


Disela sela kebersamaan mereka di ruang makan, Albert hadir dengan wajah melebih kain pel. Wajah tampan bule itu tampak lusuh bahkan tidak ceria.


"Selamat malam semuanya," ucap Albert.


Maride dan Yani saling tatap. Melihat Albert tak kalah kusutnya dari Leo.


"Oooo amang, kenapa kalian macam lemang tepijak gini?" ucap Maride mendekati Albert.


Albert memeluk Maride menangis sesenggukan karena sudah menunggu sejak sore, tapi Yani tidak kunjung pulang, bahkan telfonnya di rijek oleh Yani. Ada perasaan bersalah dihatinya, saat Maride nelfon suruh kekediaman Leonal, berarti Yani ada disana, batinnya.


"Lemah saya Mi," isaknya menangis dipelukan Maride.


"Hmmmm, lemah gimana? udah kuat nya pun kau aku lihat? udah sampai kau dikediaman Leonal, anakku mabuk, kau gagal kawin meraung!" tawa Maride pada Albert melirik Leo.


Paras hanya mengusap punggung Leo yang masih meringkuk di meja makan menahan rasa mualnya.


"Kita kerumah sakit?" tanya Paras.


"Nggak aagh, aku baik baik aja kok! besok sembuh ni, kupasin aku jeruk Ndut?" rengek Leo.


"Hmmm," Paras meraih satu jeruk manis, mengupaskan kulitnya, memberikan pada Leo.


Sementara Maride memanggil Yani membawanya ke taman belakang dekat kolam renang. Tentu ditemani Baros dengan berbagai macam makanan yang dihidangkan oleh Maid.


"Mampus Lo, pasti Mami mau ngegorok leher Lo kan?" kekeh Leo dalam hati melirik kearah Albert.


"Anak orang di rusaknya, tapi nggak mau tanggung jawab, laki laki somplak. Tampang aja keren, otak setengah gila," bisik Leo membuat bola mata Paras membulat.


Leo... tahan yah...🤧


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2