Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Bos arogan...


__ADS_3

Paras mendekati Leonal tengah duduk disofa sambil menatap layar laptop yang ada dihadapannya. Perlahan Paras menutup laptop suaminya, menyandarkan Leo kesofa, kemudian duduk dipangkuannya.


"Nduut, kamu kenapa? tumben?" tanya Leo sedikit kaget menyambut tubuh istrinya dengan sangat baik.


Paras memeluk Leo, entahlah kali ini dia sangat lelah berfikir, "aku sedih akan kehilangan Yani, Bowl, tapi kita belum menerima surat pengunduran dirinya," rungut Paras dipelukan Leo.


Leo tertegun menatap wajah cantik istrinya yang sangat menggemaskan, "kan ada Sinta, kita akan selalu berkunjung ke pabrik makan soto Bogor kesukaan kamu," pujuknya pada Paras.


Paras malah memperbaiki duduknya untuk duduk di tengah tengah Leo.


"Kamu kenapa Ndut? ruangan nggak dikunci, nanti ada yang masuk mereka pikir kita mesum," kekeh Leo.


Paras meringkuk didada Leo, dia merasakan kelegaan jika sudah berada dipelukan suaminya saat ini. Sudah berapa hari dia merasakan kekhawatiran yang luar biasa. Saat ini benar benar khawatir setelah melihat gedung perkantoran Langhai Group jaga ketat dengan beberapa pengamanan ketat. Begitu juga kediaman Leonal dan Berlin yang berada di Jagakarsa.


"Aku merindukan baby four Bowl, kita pulang yuuk? malam ini kita jalan ke Bandung, Sinta kan ada," pinta Paras manja sedikit berbisik.


Leo menarik nafas dalam, "jangan dong, kita kan dirumah Berlin ada acara makan malam, kamu mau buat udang kan?" kecup Leo pada pipi gembul istrinya.


"Hmmmm, beli udang dulu yah ditempat biasa," ajak Paras saat merasakan Leonal melepas dekapannya.


"Ya udah yuuk, kita pulang. Aku juga kangen sama anak anak, lama lama kita tinggal pada demo ntar!" kekeh Leo.


Paras mengecup bibir basah Leo, cup cup cup.


"Nduuut, kamu genit! kapan kita kontrol? sudah jadwalnya belum?" tanya Leo mengalihkan pikirannya agar tidak terpancing.


"Sama suami sendiri nggak masalah yah, sepertinya besok saja, tapi agak malam kita kesana, aku pengen ngobrol sama Dokter Fredy lebih lama," kekeh Paras beranjak dari dekapan Leonal.


Leo tersenyum, "apa mau membahas Yani atau jodoh yang lain?" tanyanya mengurangi rasa penasaran.


"Rencana nanya siapa pengganti Yani," kekeh Paras.


Leo menangkup kepala istrinya agar segera meninggalkan ruang kerja mereka, "nakal yah! sudah mulai dekat dekat sama brondong," kekehnya.


Paras melepaskan tangan Leo dari lehernya, "siapa yang brondong, Fredy lebih tua dari kamu," kesalnya melihat kelakuan suaminya.


Mereka meninggalkan ruangan, tapi tidak berpapasan dengan Maride, Baros dan Simon. Suasana kantor masih seperti biasa. Luqman tengah sibuk dimeja kerjanya, Berlin tengah sibuk dengan laporan keuangan, Sinta sibuk membalas beberapa permintaan yang sudah diacc pihak pabrik.


"Sin, saya pulang yah! jika ada yang penting hubungi saja, kirim semua berkas ke email jika urgent," jelas Paras merangkul lengan Leo.

__ADS_1


Tiwi bergegas mendekati Paras membawa beberapa laporannya, "Mba, saya minta tanda tangan deh," ucapnya.


"Hmmm, saya sudah mau pulang kamu malah suruh tanda tangan, besok saja! tarok dimeja Sinta dulu, besok saya tandatangani," jelas Paras sedikit kesal.


Tiwi mengangguk, "jadi saya ketemu sama perusahaan itu besok dong Bu," rungutnya.


"Hmmm," Paras berlalu meninggalkan Tiwi dengan perasaan kesal.


Tiwi melihat punggung Leo dan Paras yang berlalu meninggalkannya, "ternyata benar, mereka anak menantu owner yang sombong, pantas saja banyak musuh," gerutunya dalam hati kembali keruangannya berpapasan dengan Luqman atasannya.


"Mana berkasnya? sudah ditandatangani Mba Paras belum?" tanya Luqman menagih pada Tiwi.


Tiwi mendengus kesal, "Bapak saja yang minta sendiri, mereka sudah pulang," rungutnya membuat Luqman semakin kesal.


Braaaaak,


Luqman menepuk meja Tiwi dengan sangat keras, membuat gadis berdarah blesteran Jepang itu terlonjak kaget.


"Kamu dari tadi saya suruh untuk minta tanda tangan Mba Paras kan? kenapa nggak kamu ikutkan kata kata saya? mereka diruangan seharian, saya tahu gerak gerik kamu Tiwi," kesal Luqman menatap gadis itu dengan tatapan tajam.


Tiwi mundur seketika dari tatapan tajam Luqman, "tadi saya ke toilet dulu Pak, lagian kan besok kita bisa kasih lewat email ke perusahaan mereka, saya sudah titip sama Sinta," jelasnya sedikit gugup.


Luqman benar benar kesal karena berkas itu harus segera dikirim ke pihak PT dan pabrik sebelum pukul 16.00 sesuai yang dijanjikan oleh dirinya sendiri.


"Dasar anggota urakan, berkali kali diajarin pintar pintar malah malas aja," kesal Luqman menghampiri Sinta.


Sinta melihat Luqman masih dengan wajah kesal, hanya bisa menjaga jarak, "napa Lo? mukanya kayak nampan nggak berbentuk gitu?" godanya pada suami Berlin.


"Mana berkas yang dikasih Tiwi tadi? minta Mba Paras balik dong! aku sudah janji sama Pt. Bima akan mengirim jam empat sore ini. Jika telat beberapa detik alamat kita dibilang nggak komit sama waktu. Itu yang gue jaga dari perusahaan yang kerja sama dengan kita," jelas Luqman.


Sinta meraih handphone miliknya menghubungi Paras saat itu juga. Dia menjelaskan dengan sangat baik, membuat Paras yang belum meninggalkan kantor naik kembali ke lantai 28.


Sinta menutup telfon, menatap kearah Luqman, "Mba Paras masih dibawah sama Ibu Maride dan Tuan, ada Bang Willion dibawah bersama Kak Laura. 10 menit lagi mereka naik, sabar jangan marah marah, ntar susah dapat momongan!" kekenya menggoda Luqman.


"Aaagh, elu! makanya cari suami! tembak tu Dokter Fredy yang masih jomblo karena kecewa sama Yani sahabat Lo," jawab Luqman berlalu meninggalkan Sinta menuju ruangan Berlin istrinya.


Sinta hanya mendengar tanpa mau menjawab celotehan sahabatnya yang tengah dilanda emosi.


Luqman masih memegang divisi pemasaran dengan Tiwi didalamnya sebagai team hore horenya. Beberapa ketidak cocokan yang dia rasakan saat gadis itu bergabung dengan mereka. Hanya karena cantik dan memiliki data base yang banyak, makanya dia diterima di Langhai Group.

__ADS_1


Tok tok tok,


Ketuk Luqman pada pintu ruangan Berlin.


Cekreeek,


Luqman masuk ke ruangan Berlin sebelum istrinya mengizinkan, dia masih terlihat murung dengan wajah garang.


"Eeeeh sayang, sini! aku ada makanan dari Sinta. Oleh oleh dari Kalimantan," cerita Berlin membuka paper bag berisikan makanan.


Luqman duduk disofa enggan untuk mendekat pada Berlin.


Berlin menautkan kedua alisnya, menatap lekat wajah suaminya, "sayang kamu kenapa?" tanyanya penasaran.


"Kesel," jawab Luqman asal.


Berlin membulatkan bibir sexseh, tersenyum tipis, "pasti kesel sama Tiwi," kekehnya mendekati Luqman.


Luqman masih diam tanpa expresi, "malas bahas dia, cari topik lain yah? aku kesel sama dia! budek, bukan dia ngeduluin buat ngejar Mba Paras, malah alasan sakit perut masuk toilet, alasan apa itu! kan bisa titip ke Sinta!" curhatnya membuat Berlin terdiam.


Berlin sangat paham bagaimana suaminya jika sedang emosi, akan sulit meredamnya sampai yang dia inginkan tercapai.


Perlahan Berlin menarik nafas panjang, mengusap lembut punggung suaminya, "jangan marah marah, nanti aku sedih," bisik Berlin ketelinga Luqman.


"Please honey, not now! jangan goda aku! lagi nggak mood, please!" tolak Luqman membuat Berlin menjaga jarak dari suaminya.


"Hmmm, kamu mau kopi? aku buatkan?" tanya Berlin agar dapat menenangkan pikiran Luqman.


"Ya."


Luqman hanya menyandarkan tubuhnya lebih dalam disofa, menatap langit-langit ruangan Berlin.


"Sabar, gimana mau jadi bos besar kalau arogan," kekeh Berlin mendekat pada Luqman dengan secangkir kopi.


"Hmmm," pria Netherland itu hanya mengusap punggung tangan istrinya tanpa melepaskan tangan itu dari genggaman.


Sabar Bang Luqman, sabaaar....🤧


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2