
Oke, lanjut. Sesuai perintah Kennedy pada Leo. Kencan sama Paras. Nikahi Sintya. Bawa pulang gadis oriental, agar Maride bahagia, hahaha.
Ingat ini hanya cerita, bukan untuk ditiru apalagi di contoh dan di masukkin ke pikiran kamu yah reader...❤️🙏🤭
Part ini sedikit bermain di perasaan dan gerakan 21+. Author rasa jika udah ada pembicaraan di Part sebelumnya, udah paham yah. Tenang author akan buat agak slow.
******************
Paras dan Leo tiba di Hotel Swiss-bell Pekanbaru, dengan sangat lelah. Cuaca terik menyinari kota minyak dan kota khas melayu itu, membuat keduanya bergegas masuk mencari kesejukan ruang ber-AC. Kotanya sepanas dede unyun Leo yang belum mendapatkan incubator penghangat dari kaum Hawa.
Swiss-bell ska Pekanbaru-Riau.
Leo dan Paras melenggok menuju kamar mereka.
"Ooogh my God! Apa kamu sengaja ingin membawa aku bulan madu Leo!" Bisik Paras tersenyum senang.
"Menurut mu?" Senyum Leo membuka pintu kamar mandi dan melihat seisi ruangan.
Room suite yang disiapkan Berlin.
Paras tersenyum tersipu malu, jujur jantung dan hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ada perasaan bahagia, dibuat seperti ratu oleh seorang Leo secretarisnya.
"Aku istirahat dulu sebentar. Nanti malam kita makan diaerah setiabudi. Disana tempat minum bir dan seafood." Jelas Leo merebahkan tubuhnya diatas ranjang kingsize kamar mereka.
Paras tersenyum, dia berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. "Uuugh, udah lama nggak ke Sumatra! Panasnya ampun." Gerutu Paras dikamar mandi.
Paras memang jarang menginjakkan kaki untuk pulang kampung, dia wanita pejuang. Bukan wanita cengeng apalagi mau diatur keluarga dengan sebuah perjodohan. Baginya, dia akan membawa pria terbaik untuk mendampinginya kelak. Lebih baik terlambat menikah dari pada gagal menyandang status janda.
Leo benar-benar terlelap, terasa badannya hari ini sangat lelah karena dehirdrasi.
Selesai mandi, Paras memakai baju piyama sedikit terbuka menunggu ajakan makan malam dari Kennedy. Membuka chanel televisi, memakan beberapa cemilan yang tersedia didalam kamar.
Paras menerima semua email dari Langhai Baros Group Jakarta. Paras selaku direktur sangat teliti. Dia memeriksa semua laporan karyawan dengan seksama, kemudian mengirim ke email Baros, tanpa menghiraukan Leo yang terlelap.
__ADS_1
Leo meraba di seputaran ranjang dengan mata masih tertutup, mengusap mencari penghangat yang tidak ada didekatnya.
"Paras!" Teriaknya langsung terduduk menatap sudut ruang kamar.
Paras mendengar suara Leo, bergegas mendekatinya. "Kamu kenapa? Mimpi kok manggil nama aku?" Ucap Paras meraih sebotol air mineral memberikan pada Leo.
Leo meneguk air dalam botol, merasa kerongkongannya sangat dahaga. Leo menarik tangan Paras agar mendekatinya. "Peluk ndut!" Rengek Leo seperti anak kecil diperut padat Paras. "Hmm! Kok nyaman gini yah?" Batin Leo.
Paras mengikuti permintaan Leo, jujur dia tak bisa menolak. Dua insan didalam kamar hotel berdua, memiliki perasaan nyaman pasti pihak ketiganya adalah syaiton. Apalagi mereka berdua sama-sama free. Tidak memiliki relationship dengan siapapun, menurut Paras.
Paras membelai lembut kepala Leo, "Kamu kenapa?" Ucap Paras dengan suara lembut.
"Duduk sini!" Leo mendongakkan kepala, menepuk posisi di depannya.
Paras menarik nafas dalam. "Hmm! What happen?" Senyum Paras menatap wajah berbulu Leo yang sangat khas.
"Nggak tau, aku keboboan trus mimpi kamu." Jelas Leo menempelkan keningnya dibahu Paras.
"Mandi gih, udah jam 18.00. Nanti Bang Kennedy jemput kita jam 19.30." Jelas Paras.
"Ndut!" Panggil Leo meletakkan dagunya di samping bahu Paras.
"Ya udah tembem!" Senyum Leo dengan dagu masih dibahu Paras.
"Iiighs! Terserah deh, nyamannya kamu aja!" Jelas Paras tentu pikirannya sudah traveling kemana mana.
Leo manatap kecantikan Paras yang sangat lucu, cantik dan menarik. "Siapa yang nggak tergoda." Bisik Leo.
Leo menelan salivanya, saat Paras menggigit bibir bawahnya. "Jangan kamu gigit, aku aja boleh nggak?" Goda Leo.
Gayung besambut saudara-saudara, Paras menoleh, menatap tanpa kata yang terucap. Rasanya ditenggorokan Paras ada duri atau bahkan biji kendodong yang menahan suaranya untuk keluar.
Tercium aroma maskulin dari bibir Leo. Dari bibir Paras tercium aroma manis coklat, karena Paras baru selesai memakan tobleron white coklat.
Perlahan Leo mendekatkan wajahnya, mencium bibir sang direktur dengan lembut. "Huuufgh!" Paras juga menyambut lembut bibir Leo.
"Hmmmgh! Lembut banget bibir lo! Manis kayak anak perawan!" Bisik Leo yang terbuai oleh pesona Parassani.
__ADS_1
"Hmm! Kamu suka?" Tanya Paras.
"Sangat!" Leo semakin menangkup kedua pipi Paras agar dia mendominasi ciuman itu. Dari lembut, berubah sedikit panas. Leo mendengar suara de sah an Paras sedikit menaikkan adrenalin si unyun.
Leo membawa Paras keatas ranjang mereka mulai beraksi ingin mencicipi seluruh menu sore itu. Perlahan Leo mengecup le her Paras, membuat dia semakin meng erang.
Leo memberanikan diri menyentuh gunung krakatau milik Paras. "Oogh my God, ini ukurannya gedong boo!" Batin Leo semakin tertantang ingin membuka me mainkan dengan segera.
Leo menatap wajah Paras, meminta persetujuan. Dia sebagai pria juga paham, harus sopan dalam melakukan itu. Paras tersenyum mencari kembali bi bir Leo yang ada dihadapannya. "Hhhuuufgh!" Leo benar-benar terbuai pesona Paras, melu mat, memainkan li dah mereka, menikmati de sa han dec apan yang terdengar disisi ruangan.
Ruangan semakin panas, sepanas saliva mereka yang be ra du ni k mat.
"Uuugh!" Desa han Paras terdengar **** di telinga Leo saat Leo mulai menyentuh gunung krakataunya.
"Oooogh! Kau begitu indah Paras!" Bisik Leo mulai menikmati, me mi lin pelan pu ti ng Paras. Suara de sa hannya semakin terdengar. "Aaaargh Leo I love you!" Ucap Paras tanpa sadar.
Deg, "Paras mencintai aku?" Batin Leo. "Matilah aku! Kalau ku berentikan sayang kali lah! Ini udah setengah jalan! Kalau aku lanjut, mampus aku! Bagaimana Sintya? Mami pasti mengamuk, jika makan malam tertunda." Otak Leo serasa berfikir keras setelah mendengar kalimat itu. Antara lanjut atau tidak. "Mampuuuuus gue!" Leo menghentikan lid ahnya. Menatap wajah Paras yang masih berharap menunggu lebih.
"Kita makan malam! Gue mandi dulu!" Ucap Leo menutup baju Paras yang telah dia buka lebar.
Paras tersenyum, "pasti lo takut sama Tuan Baros kan?" Kekeh Paras.
"Hmmm, ya! Gue nggak mau dipecat! Kita lanjut setelah makan!" Goda Leo di puncak hidung Paras.
"Wait! Kenapa lo berhenti?" Tanya Paras menahan tangan Leo.
Leo menghembuskan nafas dalam, menutup matanya. "Kita mau makan, gue nggak mau acara gue sama lo diganggu sama siapapun! Just you and me! Tanpa mikirin Papi atau Mami!" Tegas Leo keceplosan.
"Papi? Mami? Who?" Paras merapikan piyamanya memperbaiki posisi krakatau, menatap lekat manik hezel Leo.
"Nanti kita ngobrol!" Leo berlalu menuju kamar mandi, mengutuk diri sendiri yang hampir keceplosan. "Bibir kalau lagi ***** sangat jujur! Bajingan! Untung nggak kesebut nama! Huuuufgh!" Batin Leo.
Leo mengguyur tubuhnya dibawah shower, membayangkan adegan barusan. "Ada perasaan yang beda dibenak Leo tentang Paras. Apakah Paras? Oooogh no! Dia sangat sempurna!" Batin Leo segera bersiap untuk acara makan malam mereka.
_____________*****
Sabar yah... Author jadi deg degan buat nulis... takut kebanjiran...😂❤️
__ADS_1
Read and wait... 🤭🤗
Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...🙏🥰❤️