
Perusahaan Langhai Group yang dipimpin langsung oleh Baros, mengetuk palu, meng-sahkan keputusan untuk penempatan cabang mereka. Disambut tepuk tangan dan ucapan selamat pada Ina dan Loide yang menjadi Direktur di Kalimantan, Bali dan Sulawesi
Paras dan Leo menyambut Ina yang sangat berbeda saat persentase perencanaan pekerjaannya selama 30 menit dihadapan karyawan dan para petinggi lainnya. Baros dan Maride tersenyum puas.
"Ternyata dia butuh posisi dan uang," kekeh Maride dalam hati.
Baros menanda tangani SK yang di keluarkan langsung untuk melakukan perjalanan 2 hari lagi.
"Leo, kamu mau pergi bersama Luqman?" bisik Baros.
"Hmmmm nanti aku rembukan dulu sama Paras yah Pi? karena kami rencana mau ke Bogor, nyari tanah atau villa yang mau kita beli," jelas Leo jujur.
"Ya udah, berarti Luqman saja. Permintaan Kennedy semakin banyak, dia mengirim ke email Papi lebih kurang 20 unit penambahan. Minta Paras tindak lanjut segera. Mumpung mereka masih di Swiss dan akan mengirim dana ke account perusahaan," jelas Baros.
"Iya Pi,"
Leo menyusul Paras mengajak istrinya menuju ruangan, karena waktu sudah deadline tidak mungkin harus berbasa-basi. Handphone miliknya dari tadi bergetar, memberi pesan melalui email meminta jawaban segera.
"Ndut, ada beberapa perusahaan yang minta unit segera di kirim. Oya, Papi minta aku sama Luqman ke Kalimantan dan Bali. Bareng sama Ina dan Sinta. Boleh nggak? kita pending dulu ke Bogor," jelas Leo saat menunggu lift mereka menjemput.
"Ehm, jangan pergi Bowl. Aku ikut boleh?" tanya Paras.
"Cuma sebentar, keteteran kalau kamu ikut aku. Karena kondisinya perusahaan ada 5 yang deadline," jelas Leo membuat Paras mengangguk.
"Iya seeeh, ya udah! tapi kalau kamu pengen kayak tadi gimana? aku kan jauh?" rengek Paras di lengan Leo.
Lift terbuka, Leo dan Paras masuk menuju lantai 28, di susul oleh Maride, Berlin, Ina dan Laura. Baros dan Loide memilih menggunakan lift yang berbeda.
Paras masih meringkuk di bahu Leo, membuat pria berbulu itu mengecup kepala istrinya berkali kali. Mata yang melihat adegan mereka melalui pantulan dari pintu lift yang tertutup membuat Maride, Laura dan Berlin hanya geleng-geleng kepala.
Berbeda dengan Ina, wanita itu justru menelan salivanya kasar, seakan akan dia juga menginginkan hal itu.
"Nggak bisa kalian ngelendot di ruangan, jangan di lift, bisa berhenti lift ini nanti," sindir Maride.
"Dasar pasangan mesum," kekeh Laura.
"Jangan bilang Lo cemburu," sindir Leo.
"Idiiiih, sejak kapan gue cemburu Leonal! gue maaah merasa mupheeeng aja keleezz," kekeh Laura jujur.
"Oya, Will mana Laura?" tanya Leo.
__ADS_1
"Tadi ngerokok di luar, habis itu nggak balik lagi," jawabnya.
Leo mengusap kepala Paras dengan lembut, entahlah keduanya seperti sedang jatuh cinta lagi setelah beberapa kali melakukan manuver membuat keduanya tak ingin berjauhan. Apalagi jika pergi berhari hari. Itu akan menyesakkan bagi keduanya.
Lift terbuka, mereka berlalu menuju ruangan Paras. Begitu juga Laura dan Maride lebih memilih duduk membawa Ina di ruangan Baros, karena Paras akan menandatangani kontrak dan butuh waktu lama.
Yani mempersiapkan semua berkas yang di butuhkan Paras, Leo merevisi sebelum di tandatangani sang direktur.
Lebih dari 2,5 jam Paras, Yani dan Leo mempersiapkan semua berkas. Akhirnya mereka bisa bernafas lega. Bagaimana tidak, semua perusahaan yang meminta telah menunggu lama agar permintaan mereka segera di proses karena akan memasuki libur sekolah.
"Semoga tepat waktu. Bagaimana besok kita ke Bogor mampir ke pabrik sambil melihat daerah mana yang mau kita beli Bowl,"
Paras mengingatkan Leonal.
"Hmmmm baiklah, jadi aku lusa pergi yah?" tanya Leo.
Paras mengangguk.
"Oya Yan, kamu ambil apartemen Leo yang di Kalibata saja, karena saya berubah pikiran," jelas Paras.
"Hmmmmm serius Mba? aku memang mau disana? emang Lo jual berapa bro?" tanya Yani menatap lekat wajah Leo.
"Naaaah, segitu gue setuju! kalau 2,5 milyar agak berdegup kencang jantung gue," kekeh Yani.
"Ada duit Lo?" tanya Leo.
"Jujur warisan gue baru di kasih 600 juta sama keluarga. Jadi itu dulu lah yang gue setor, sisa gue KPR saja," polos Yani.
"Good, Lo transfer ke rekening Paras, kapan mau transaksi?" tanya Leo.
"Hari ini juga bisa!" jelas Yani.
"Hmmmm, surat ada di brankas. Gue hubungi Bang Ben dulu," ucap Leo menggapai handphone miliknya yang berada di meja menghubungi notaris keluarga berlalu meninggalkan Paras dan Yani.
Yani sedikit bingung, karena memikirkan Berlin dan Luqman.
"Emang Berlin pindah ke rumah Mama Alpa, Mba?" tanya Yani penasaran.
"Nggak, Berlin pindah ke rumah baru mereka. Mungkin besok mereka udah pindahan. Mami beliin rumah di Jagakarsa biar deket," jelas Paras.
"Ya ampun, enak banget yah Luqman. Nikah sama Berlin bergelimang harta, sama kayak Mba Paras. Naaah gue! mesti kerja ngarep harta warisan baru bisa hidup enak," kenang Yani.
__ADS_1
Ketapaaaak,
Map merah dilayangkan Paras ke bahu Yani sambil menggeram.
"Kamu fikir saya nggak kerja selama ini?" tanya Paras membungkam bibir Yani.
"Kerja Mba, tapi kan nikahnya sama duda kaya," jawab Yani mengejek Paras.
"Gue cabein bibir Lo yah! biar pintar," geram Paras melihat gadis pecicilan itu sudah ada di depan pintu ruangannya.
"Maaf Mba, becanda! oya Mba, hati hati sama direktur Kalimantan. Dari tadi karyawan lain ngegosipin dia, sepertinya doi menarik perhatian Bang Leo. Dila yang ngasih tahu, pokoknya hati hati saja! jangan jangan ada yang mengirim dia untuk merusak kebahagiaan Keluarga Baros, bisa jadi dia orang Silutak. Itu yang di bicarakan anak anak, coba cek lagi deh data beliau, lacak sebelum berangkat. Kalau saran aku, cukup Sinta saja. Kan masih di awasi Leo dan Tuan," jelas Yani panjang lebar.
Sheeeer,
Ucapan Yani ada benarnya, batin Paras mencari keberadaan Leonal. Mendengar nama Silutak saja hati Paras terasa mendidih, apalagi jika dia mengirim seseorang untuk menjadi mata mata keluarganya.
Paras meminta Luqman dan Leo ke ruangannya, menurut Yani mereka sedang bersama.
Tok tok tok,
"Ya Ndut,"
Leo mengetuk sedikit berirama.
"Kamu tau Ina dari salon kan Bowl?" tanya Paras melihat Luqman menutup pintu ruangan mereka pelan.
Leo yang sudah duduk dihadapan Paras tampak sedikit bingung.
"Kenapa? apa dia mengganggu?" tanya Leo menaikkan kedua alisnya.
"Luqman, coba kamu lacak keabsahan magisternya Ina, asli atau palsu?" ucap Paras sedikit berbisik.
Leo mengangguk, karena beberapa kali Dila sang gadis sexseh membisikkan tentang Ina padanya, tapi di acuhkan, karena tak ingin kejadian tadi pagi terulang lagi.
Mereka menyesiasati semua yang Maride terima, tanpa sepengetahuan Baros. Jujur Maride memang melupakan untuk melacak keabsahan semua tentang Ina. Dia hanya menerima sebatas rasa kasihan dan sedikit simpatik. Ternyata dia sangat piawai dalam bertutur kata, seperti sudah di poles oleh seseorang untuk menjadi penyusub di Langhai Group.
Bener juga, siapa Ina ? 😏
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️
__ADS_1