
Suasana lumayan sejuk, kota metropolitan di turunin gerimis saat tanda tangan akta jual beli apartemen Leo pada sahabatnya Yani. Harga yang sangat murah dengan kondisi sudah di lengkapi furniture yang sangat bagus, membuat beberapa bibir menyayangkan keputusan Leo telah menjualnya dengan harga murah. Itu semua Leo lakukan karena kecewanya atas pernikahan pertama yang gagal.
Pelukan hangat Yani pada Paras dan Leo saat semua telah ditandatangani membuat Frans tersenyum sumringah.
"Semoga bermanfaat setelah kau tinggal disana, cepat menikah dan hidup bahagia seperti Leo dan Paras," ucap Frans.
Fredy menunduk, bagaimana tidak, saat ini hubungan keduanya masih mengambang antara akan lanjut atau bersama, karena ternyata Fredy telah di jodohkan dengan seorang gadis cantik dari negaranya. Kejujuran itu membuat Yani mundur secara perlahan, karena tidak mau kecewa.
"Mba Paras, aku pulang yah? kasih tau saja kapan Berlin pindah dari sana. Biar aku siap siap untuk angkat barang dari kosan," peluknya pada Paras.
"Berlin udah pindah deh, tapi masih ada sedikit perbaikan di rumahnya. Jadi barang masih ada disana. Untuk sementara waktu kamu udah bisa angkat barang barang kamu kok. Kamar utama kan udah kosong, Berlin ngisi kamar sebelahnya," jelas Paras.
Yani mengangguk, dia menggandeng tangan Fredy dan berlalu menuju mobil sang dokter kandungan.
Mereka saling melambaikan tangan, meninggalkan kediaman Leo.
.
Yani tersenyum puas, uang yang di beri keluarganya bisa membeli apartemen walau masih kurang 450 juta lagi.
"Hmmmm itu kamu beli dari jual ginjal?" goda Fredy.
"Iiighs," geramnya memukul bahu sang dokter yang telah mencuri hatinya.
Fredy terkekeh, dokter muda itu berusia 31 tahun itu justru senang menggoda Yani agar tidak kaku dekat dengannya.
"Nikah," ucap Fredy.
"Jodohnya diambil orang semua bro," kekehnya.
"Oya, sory banget. Jangan marah!" ucap Fredy ragu.
"Hmmm apaan?" tanya Yani melirik ke arah Fredy.
"Hmmmm tadi aku dengar kamu belum lunas kasih ke Bang Leo? gimana kalau pakai uang tabungan aku dulu. Setidaknya kamu hutang bukan sama Leo dan Paras, tapi sama aku. Kamu bisa cicil, nggak aku kasih bunga deh. Aku bantu saja sebagain sahabat," jelas Fredy menawarkan diri dengan tulus.
"Eehhhm nggak aaagh, ntar Lo bantu gue, terus gue di pompa," rungut Yani.
Fredy menaikkan kedua alisnya, menghentikan laju kendaraan memarkirkan dipinggir jalan.
"Maksud kamu?" tanya Fredy menatap lekat wajah gadis yang sangat menyebalkan jika bicara.
"Ya iyalah, kamu nawarin aku buat bayar apartemen Leo, habis itu nanti kamu nawarin anu dong, karena balas budi. Gue nggak mau, mending gue bayar sama Mba Paras, toh mereka nggak butuh butuh banget. Mereka itu baik, palingan kalau aku nggak bayar potong gaji," kekehnya.
"Tapi aku ikhlas bantu kamu, setidaknya biar kita lebih deket dan hmmmm,"
Fredy enggan melanjutkan.
Yani tertegun, "gue bukan menolak, tapi gue nggak mau Lo bantu karena kasihan," senyumnya.
__ADS_1
"Lo tahu gue jauh dari keluarga, cuma punya temen yang bisa jadi keluarga di perusahaan Langhai. Selebihnya gue habisin untuk mengabadikan diri sebagai mahasiswa bisnis," jelasnya.
"Kuliah Lo udah selesai?" tanya Fredy.
"Tinggal dikit lagi, magister deh," senyum Yani.
"Kita balik ke negara aku yah? nikah disana," jelas Fredy membuat tubuh Yani lemah tak bertulang.
Yani menatap penuh rasa heran, "gimana perjodohan kamu dengan gadis itu? kan nggak di bolehin sama keluarga kamu menikah dengan gadis seperti aku," jelasnya.
"Nanti aku bisa alihkan ke adik ku," senyum Fredy.
Yani mengerutkan keningnya, "mana bisa! emang perjodohan bisa di alihkan kesini kesitu kesana, kamu aneh deh," kesalnya nggak percaya.
Fredy tertawa terbahak-bahak, "Mami ku ingin kami menikah dengan gadis yang berprofesi sama, tapi aku jatuh hatinya sama kamu! gimana dong," kekehnya.
Yani terdiam, sepertinya sangat sulit menerima tawaran Bule Jerman ini, batinnya.
"Kita pulang saja, aku capek,"
Yani tidak mampu berucap yang lain lagi. Baginya hari ini dia merasakan kelegaan atas kepemilikan satu unit apartemen sesuai keinginannya.
"Tinggal fokus cari mobil city car," batin Yani tersenyum senang.
Fredy menurunkan Yani didepan kosan. Berlalu meninggalkan Yani menuju apartemen yang terletak di Pejaten. Satu gedung dengan apartemen Paras tapi berbeda lantai. Kepalanya sang dokter sedikit berdenyut jika mengenang permintaan orang tuanya.
"Kenapa mesti aku yang di jodohin? kenapa bukan dia?" batin Fredy menghubungi adik somplak yang sangat berbeda dengan dirinya.
π"Kan gue bilang besok bro, santai kenapa seeh!" kesal adik Fredy.
π"Ya udah, kita ketemu dimana?" tanya Fredy.
π"Hmmmm gue kebetulan ada janji sama partner bisnis, Lo jemput gue kesana aja besok. Rencana di Rich Carlton restoran," jelasnya.
π"Oke, see you! susu jangan lupa, sekalian coklat coklat yah," tegas Fredy.
π"Iya Pak Dokter, susu vanilla 10 botol original 10 botol, strawberry 10 botol. Gue pikir Lo mau buka gerai deh," kekehnya.
π"Buat di bagiin sama calon istri," jelas Fredy.
π"Yeeee, oya gue juga mau ngenalin calon istri sama Lo, kali aja Mami bolehin kan? jadi Lo lanjut tuh perjodohan sama Lauren," kekehnya.
π"Ya udah, besok selesai praktek kita ketemu, gue bawa sekalian yah, bye bro..."
Mereka menutup telfon dan kembali ke ranjang pemikiran masing-masing tanpa mau fokus dengan perjodohan.
Berbeda dengan Yani, gadis itu justru tengah bahagia. Bagaimana tidak dia memiliki sebuah apartemen dan siang tadi di cium oleh orang nomor dua di perusahaan cabang Marsedez Benz. Siapa yang nggak kelojotan, jika ciuman pria itu masih membekas di pipinya.
"Hmmmm tapi dia sangat mencintai Mba Paras, terus dia sudah ada pacar. Cantik pula, aku mana laku," rengek Yani di ranjang kosannya.
__ADS_1
π²Drrrt drrrrt,
"Bu Dirut," batin Yani.
π"Ya Mba," jawab Yani males.
π"Kamu dimana?" tanya Paras.
π"Kosan Mba!" jujur Yani.
π"Hmmm Albert minta nomor kamu aku kasih yah?" izin Paras.
Jedeeeer β‘
Bagaikan disambar petir jantung Yani mendengar nama Albert yang dia pikirkan sejak tadi.
π"Yan," panggil Paras di seberang sana.
π"Ooogh iya Mba, enggak apa apa, kasih saja. Biar mudah juga komunikasi kalau unit beres. Mba kan lagi hamil, jadi aku bisa bantu sepenuhnya lah," jelas Yani merasa senang.
π"Oke,"
Paras menutup telfon mereka, sementara Yani masih diselimuti kabut bahagia. Entahlah, baginya ciuman Albert walau sedikit sangat berkesan.
"Oooogh indahnya,"
Yani meringkuk diranjang, membayangkan wajah tampan Albert dan juga Fredy yang menawarkan pernikahan.
"Dua duanya aku suka Tuhaaaan, siapa yang harus aku pilih? aku menginginkan hati yang bahagia dan tenang seperti Mba Paras," kekehnya.
Tidak mesti menunggu lama untuk Yani menghayal, masuk panggilan telepon dari nomor yang tidak di kenal. Dengan senyum sumringah dan wajah bahagia gadis Manado Sunda itu mengangkat panggilan telepon yang meributkan gendang telinga sendiri.
π"Hmmm ya," Yani.
π"Yani?" sapa pria di seberang.
π"Ya, siapa?" tanya Yani pura pura belum tahu.
π"Fredy, masak nomor aku yang satu nggak di save," geram Fredy garing.
π"Oooough sory, aku fikir siapa tadi," kekeh Yani.
π"Sepertinya menunggu telepon dari orang lain ni," goda Fredy.
π"Iiiighs nggak, cuma heran aja kamu nelfon pake nomor lain, biasa pakai whatsApp," bela Yani.
Fredy tertawa, mengalihkan pembicaraan mereka mengenai pernikahan dan pertemuan besok dengan adik kandungnya, tentu Yani menolak karena ada tawaran makan malam yang menjadi harapan gadis oriental itu.
Semoga jadi yah Fredy dan Yani, atau malah memilih yang lain...π€§
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...β€οΈβ€οΈ